Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
24. Hatinya Yang Aneh


__ADS_3

“Tidak, Kak. Maaf, aku harus pulang sekarang.” Jawab Karin singkat lalu segera pergi meninggalkan Kavi.


Kavi yang melihat Karin pergi begitu saja, ia langsung masuk ke dalam restaurant dan membeli makanan. Bukan untuk dimakan di tempat itu, melainkan dibawa pulang. setelah itu dia segera pergi dan menyusul Karin yang terlihat sedang berdiri di tepi jalan seperti sedang menunggu angkot.


“Rin, masuklah! Aku antar pulang sekalian. Sebentar lagi akan hujan.” Ucap Kavi melalui kaca mobilnya.


Belum sempat Karin menolak, tiba-tiba saja rintikan air hujan itu turun. Karena memang angin besar tiba-tiba datang. dan sepertinya hujan akan turun dengan lebat. Kavi pun segera membukakakn pintu mobilnya untuk Karin. dengan terpaksa Karin masuk, duduk di samping Kavi.


Sebenarnya Karin tidak ingin lagi dekat dengan orang-orang yang berhubungan dengan Mirza. Bukan sengaja menghindar. Tapi itu akan lebih baik buat hatinya. Meskipun tempo hari Mirza mengatakan kalau hubungannya tetap baik meskipun status sudah membedakan, nyatanya itu semua tidak terbukti.


Sudah dua kali Karin datang mengunjungi Mirza. Namun dua kali itu juga Mirza menolak kunjungannya dengan alasan tidak ingin bertemu dengan siapapun. Jelas hati Karin sangat sakit. Akhirnya dia akan mulai perlahan melupakan Mirza sekaligus menjauhi orang-orang terdekat dari mantan kekasihnya itu.


Mobil Kavi tidak bisa melaju dengan pelan, karena di luar hujan sangat deras. Jalanan juga tidak begitu jelas terlihat.


Kruk kruk


Tiba-tiba saja perut Kavi berbunyi. Dan Karin mendengarnya. Sedangkan Kavi berusaha untuk tidak peduli, walau sebenarnya dia sangat malu. Kemudian Karin melihat box makanan yang sepertinya dibeli oleh Kavi dari restaurant tadi.


“Kak Kavi belum makan?” tanya Karin akhirnya.


“Belum. Nanti saja. ini juga masih di jalan.” Jawab Kavi masih fokus dengan kemudianya.


“Minggir dulu saja, Kak! Hujannya juga sangat deras. Kak Kavi lebih baik makan dulu.” Lanjut Karin.


Kavi akhirnya menurut dengan ucapan Karin. perutnya juga sudah sangat kelaparan. Kini dia sudah mencari tempat menepi yang lumayan nyaman. Meskipun tidak keluar dari mobil.

__ADS_1


“Aku tadi beli dua, Rin. Nihm buat kamu satu.” Kavi menyodorkan satu box buat Karin. Entah Kavi sengaja membeli dua box nasi memang untuk Karin atau untuk dirinya sendiri.


Karin hendak menolak makanan itu, tapi Kavi sudah meletakkannya di pangkuan perempuan itu.


“Aku nggak enak kalau makan sendirian. Kamu temani aku makan, ya? Maaf, meskipun kamu pasti sudah bosan dengan makanan itu.” ucap Kavi.


“Ehm, nggak kok Kak. Terima kasih.” Jawab Karin.


Akhirnya mereka berdua kini menikmati makan malam di dalam mobil di tengah hujan deras yang masih mengguyur. Suasana yang tadi sempat canggung diantara keduanya, perlahan menghangat saat Kavi mulai mengajak Karin ngobrol dengan santai.


Dari interaksi itu Karin merasa bahwa Kavi adalah sosok pria yang pemikirannya sangat dewasa. Bahkan terlihat sangat tenang. Bukan niatnya ingin membandingkan, tapi Karin memang merasakan dengan jelas perbedaan Kavi dan Mirza.


“Kamu ini makan kok masih seperti anak kecil sih, Rin!” gerutu Kavi sambil mengelap bibir Karin dengan tisu.


“Maaf, Kak! Biar aku sendiri saja.” ucap Karin mengambil tisu dari tangan Kavi dan membersihkan mulutnya sendiri.


Kavi baru sadar kalau perbuatannya terasa sangat aneh. Tidak. Bukan perbuatannya. melainkan hatinya yang aneh setelah tak sengaja bertatap mata dengan Karin tadi.


“Apa kamu masih datang mengunjungi Mirza, Rin?” tanya Kavi mencari topik pembicaraan lain.


Karin terdiam. Kenapa hatinya sakit saat Kavi menyebut nama Mirza. Benar dia sudah dua kali bertemu dengan Mirza seorang diri. Namun tidak mendapat sambutan baik dari pria itu. apa sebaiknya dia jujur saja pada Kavi.


“Iya, Kak.” Jawab Karin menjeda sejenak kalimatnya.


“Sudah dua kali aku mengunjungi Mirza setelah sama Kak Kavi waktu itu. tapi sayangnya Mirza tidak ingin bertemu denganku lagi.” ucap Karin dengan menahan air matanya agar tidak sampai keluar.

__ADS_1


Kavi sangat terkejut mendengarnya. Ternyata adiknya benar-benar ingin putus dari Karin. bahkan sudah tidak ingin bertemu dengan perempuan itu lagi.


“Kamu yang sabar ya, Rin! Maaf, aku tidak bisa membantu banyak kalau masalah perasaan.” Ujar Kavi menepuk pelan punggung Karin.


“Nggak apa-apa, Kak. Kak Kavi tidak perlu repot-repot seperti itu. Mungkin Mirza sudah yakin dengan keputusannya. Aku juga tidak mau berharap banyak lagi pada dia. Sebisa mungkin aku akan menghapus perasaan itu. walau kenyataannya sangat sulit.”


Kavi hanya diam. memang berat jika berada di posisi Karin. tapi lebih berat lagi berada di posisinya. Kavi yang tidak tahu menahu apa alasan pasti yang membuat adiknya sangat membenci dirinya, sampai saat ini sikap adiknya masih dingin padanya.


Setelah cukup lama berdiam diri di dalam mobil. Hujan mulai mereda. Meskipun tidak sederas tadi. Kavi mulai menyalakan mesin mobilnya untuk mengantar Karin pulang.


Sesampainya di depan rumah kontrakan Karin, perempuan itu tak langsung turun. Sepertinya memang ada yang ingin ia sampaikan pada Kavi.


“Terima kasih banyak, Ka katas tumpangannya. Dan maaf, sudah merepotkan Kak Kavi selama ini.” ucap Karin.


“Dan, satu lagi Kak. Maaf sebelumnya. Lebih baik sekarang kita tidak berinteraksi seperti ini lagi. bukan untuk menjauhi, tapi ini lebih baik buat kita. Terima kasih sudah menjadikan aku seperti adik kakak sendiri. Sampaikan permintaan maafku pada Tante Lidia dan Om Sean. Maaf!” ucap Karin lalu segera keluar dari mobil Kavi dan masuk ke dalam rumahnya tanpa menunggu jawaban dari Kavi.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2