Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
37. Sangat Merindukan


__ADS_3

Seharian penuh Karin menghabiskan waktunya di dalam kamar. dengan kondisi hati yang masih sama. Tidak baik. Sepanjang sejarah hidupnya Karin tidak pernah mengalami hal seperti ini. mengharapkan kehadiran seseorang yang masih abu-abu dalam hatinya. Atau bahkan Karin sudah jatuh cinta pada Kavi, tapi masih berusha mengelak.


Hingga sore menjelang, Karin baru keluar dari kamarnya. Dia ingin pergi keluar sejenak untuk membeli makan. Sekalian mencari hawa segar di luaran sana. Namun ternyata tiba-tiba ponselnya berdering. Ada panggilan dari pihak restaurant hotel yang memintanya masuk sekarang juga. Karin jelas sangat terkejut dan merasakan hal tak biasa. Kenapa tiba-tiba dia diminta untuk bekerja di saat waktunya libur. Apalagi jam kerjanya sangat tidak lazim, tapi Karin juga tidak bisa menolaknya saat mendengar ancaman dari manager restaurant akan memecatnya kalau tidak datang saat ini juga.


Karin akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar. Dia hanya membuat susu hangat untuk mengisi perutnya yang sejak tadi kelaparan. Setelah itu berganti pakaian kerjanya.


Karin berjalan dengan buru-buru supaya cepat sampai restaurant. Memang restaurant sedang ramai. Mungkin salah satu pengunjung hotel sedang mengadakan acara di sana.


“Karina? Kamu nggak sedang bermimpi kan?” tanya teman Karin yang tampak terkejut saat melihat perempuan itu datang ke restaurant di saat hari liburnya.


“Maksudnya?” Karin tampak bingung dengan pertanyaan temannya.


“Karin, kamu sudah datang? lebih segera bantu teman kamu yang lain mengantar makanan di meeting room hotel. Di sana sedang ada meeting dari perusahaan besar yang menanamkan saham di hotel ini.” ucap manager hotel saat melihat Karin sudah datang.


Karin hanya mengangguk lalu segera memulai pekerjaannya. Sementara itu teman Karin yang bertanya tadi dibuat terkejut saat mendengar langsung manager hotel menyuruh Karin masuk kerja hanya demi membantu mengantar makanan di ruang meeting hotel. Bukankah masih banyak pelayan lain. Kenapa sampai mengambil jatah libur Karin.


Karin menyemangati dirinya sendiri. Dia mulai mengantar beberapa makanan dan minuman bersama temannya ke ruang meeting. Memang benar, di ruangan itu sedang ada rapat penting yang dihadiri kurang lebih lima belas orang. Karin hanya menundukkan pandangannya saat meletakkan beberapa makanan yang dibawanya.


Karin menghembuskan nafasnya lelah saat jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. dan pekerjaannya belum selesai. sebentar lagi dia akan membereskan ruang meeting itu. meskipun pihak manager restaurant bilang akan memberikan bonus, tapi ini bukan masalah uang yang Karin harapkan. Entahlah. Hatinya sungguh lelah. Mau sampai kapan dirinya seperti ini. dan di saat seperti ini, ingin sekali ada seseorang yang merelakan bahunya untuk bersandar dan dia bisa berkeluh kesah. Lalu siapa lagi orang yang diinginkan kehadiarannya kalau bukan Kavi.


Mustahil rasanya mengharapkan pria itu tiba-tiba datang saat ini juga. dengan langkah gontai Karin memasuki ruang meeting tadi. tentunya setelah memastikan orang-orang yang berada di dalam sana sudah keluar.

__ADS_1


Cklek


Karin memasuki ruangan itu dengan membawa nampan kosong siap untuk membereskan piring dan gelas. Namun ternyata di dalam ruangan itu masih ada satu orang yang tersisa. Dan orang itu tampak menghadap ke jendela sambil memandangi keramaian di luaran sana.


“Maaf, Tuan. Saya ijin membersihkan meja.” Ucap Karin dengan sopan.


Pria itu tidak menyahut sama sekali. Diam dan membiarkan Karin melakukan pekerjaannya.


Karin yang sedang fokus dengan pekerjaannya tiba-tiba saja hidungnya seperti mencium bau parfum yang sepertinya dia kenali. Tapi setelah itu dia menggelengkan kepalanya. Memang hanya ada satu parfum itu di dunia ini. jelas tidak mungkin.


“Kalau bekerja yang serius. Jangan kebanyakan melamun.” Ucap pria itu yang bisa melihat Karin dari pantulan kaca jendela.


Deg


Betapa bodohnya Karin sampai tidak mengenali postur tubuh itu. Ya, itu memang tubuh Kavi. Benarkah pria yang tanpa sadar ia rindukan kini ada di depan matanya.


“Kak…Kak Ka…vi!” ucap Karin dengan suara beregetar.


Kavi yang masih membelakangi Karin, dia mengulas senyum tipis saat mendengar suara Karin. tapi kenapa suara perempuan itu terdengar bergetar. Akhirnya Kavi pun berbalik badan dan menatap Karin. perempuan yang selama ini sangat ia rindukan.


“Benarkah Kak Kavi saat ini ada di hadapanku?” tanya Karin lagi dengan suara lebih serak menahan tangis.

__ADS_1


“Iya. apa kabar kamu, Karin?” jawab Karin.


Karin perlahan melangkahkan kakinya mendekati Kavi. Setelah itu tanpa disangka-sangka oleh Kavi, Karin langsung menubruk tubuhnya dan memeluknya dengan erat.


Kavi bingung dengan sikap Karin. memang dia sengaja mengatur semua ini. meminta pihak manager hotel untuk memanggil Karin agar bekerja. Dia ingin bertemu dengan Karin dengan cara seperti ini. karena memang Kavi sangat merindukan Karin, jadi pertemuannya kali ini harus berkesan. Meskipun respon Karin nanti tidak sesuai yang diharapkan.


Tiba-tiba saja Karin mendengar suara isak tangis Karin yang masih memeluknya. Kavi pun akhirnya ikut membalas pelukan itu. tapi, bukannya tangis Karin mereda, justru semakin terdengar dengan jelas.


“Karin? ada apa? Kamu baik-baik saja?” tanya Kavi berusaha mengurai pelukan Karin.


Air mata Karin masih terus mengalir. Kavi mengusapnya dengan lembut. Merasa sangat bersalah karena telah membuat perempuan yang dicintainya menangis.


“Sudah, Rin!” pinta Kavi agar Karin menghentikan tangisnya.


Karin memang menghentikan tangisnya. Tapi dia kembali memeluk Kavi dengan erat sambil berucap, “Aku sangat merindukan Kak Kavi!”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2