Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
31. Penuh Ambisi


__ADS_3

Usai keduanya menyelesaikan makan malam dalam diam itu, Kavi mulai menatap Karin yang masih setia menundukkan kepalanya.


“Rin, kamu ingin melanjutkan ucapanmu tadi yang belum selesai?” tanya Kavi.


Karin akhirya mendongakkan kepalanya. Dan bersamaan itu juga dua pasanga mata saling bertemu. Saling menatap beberapa detik. Kavi mencoba untuk tetap biasa saja, walau jantungnya saat ini tidak baik-baik saja. begitu juga dengan Karin, yang menatap mata hazel milik Kavi. Bola mata yang sama dimiliki oleh Mirza. Namun kenapa ada yang berbeda dengan bola mata Kavi itu. terlebih ingatannya kembali pada sosok laki-laki yang telah menyelamatkan nyawanya dulu.


“Rin!” Kavi melambaikan tangannya tepat di depan wajah Karin karena melihat perempuan itu justru melamun.


Karin yang tersadar langsung salah tingkah. Seketika itu dia membuang muka dengan wajah memerah karena malu. Sedangkan Kavi yang melihatnya hanya tersenyum tipis.


“Aku… lebih baik aku pulang saja, Kak. Terima kasih atas traktirannya makan malam ini.” ucap Karin dan langsung beranjak.


“Tunggu, Karin! kita belum selesai bicara.” Cegah Kavi hingga mau tak mau Karin kembali duduk.


Karin duduk kembali. Ia menghembuskan nafasnya pelan. Sungguh posisi seperti ini membuatnya sangat tidak nyaman. Terlebih pada kesehatan jantungnya.


“Bukankah aku sudah mengatakan kalau hubunganku dengan Mirza berakhir, Kak?” ucap Karin dengan sedikit penekanan.


“Iya, aku tahu Rin. Tapi tidak dengan kita, kan? Ah, maksudku seperti ini. sejak dulu saat kamu masih menjadi kekasih adikku, aku juga menganggap kamu sebagai adikku sendiri. Lantas jika kamu sudah putus dengan Mirza, bukan berarti kamu sudah bukan adikku lagi. jadi, jangan menghindariku lagi.” ucap Kavi panjang lebar.


Sekali lagi Karin dibuat terperangah dengan ucapan Kavi baru saja. begitu juga dengan Kavi. Entah kenapa dia bisa bicara seperti itu. bahkan ia mengatakannya dengan sangat lancar seperti tidak ada beban sama sekali.


“Tolong, Rin! Aku benar-benar khawatir dengan keadaan kamu setelah putus dengan Mirza. Jadi biarkan kita tetap menjalin hubungan baik seperti sebelumnya.” Ucap Kavi tanpa sadar memegang tangan Karin.

__ADS_1


“Maaf, Kak!” Karin segera melepas genggaman tangan Kavi. Setelah itu Karin merasa speechless. Tidak tahu lagi mau bicara apa.


Melihat Karin hanya diam, Kavi merasa lega. Itu tandanya Karin setuju dengan ucapannya baru saja.


Kini mereka berdua sudah beranjak dari tempat makan itu. Karin akan pulang ke rumah kontrakannya. Tentunya diantar oleh Kavi. Meskipun hanya jalan kaki.


Sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan Karin, Karin diam saja. lebih tepatnya bingung dengan perasaannya sendiri.


Kini Kavi dan Karin sudah sampai di depan rumah kontrakan Karin.


“Aku ada pekerjaan di sini tiga hari, Rin. Setelah itu aku akan pulang.” ucap Kavi.


“Iya, Kak. Semoga lancar urusan pekerjaannya.” Sahut Karin bingung.


“Terima kasih. Besok kita bertemu lagi. cepat istirahat!” ucap Kavi sambil mengacak pelan rambut Karin.


Kavi berbalik badan meninggalkan Karin yang masih terdiam. Bahakn Karin sempat terpaku dengan perlakuan Kavi baru saja. perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan.


“Tidak! Jangan sampai.” Gumamnya lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


***


Sementara itu Mirza yang kesehariannya hidup di dalam Lapas sama sekali tidak merasa terbebani. Mungkin karena sudah terbiasa. Namun semenjak tahu penghianatan yang dilakukan oleh teman baiknya sendiri, dalam hati Mirza kini dipenuhi oleh dendam. Dia sudah bertekat kalau saatnya nanti tiba, dimana ia bebas dari hukuman ini, Mirza akan membalas semua perbuatan Deo.

__ADS_1


Mirza masih saja terus memantau apa yang dilakukan Deo selama ini. tentunya melalui teman Samuel. Pria itu benar-benar bisa dipercaya. Bahkan semenjak kedatangan Deo saat itu hingga saat ini, pria itu sudah tidak lagi datang menemui Mirza. Hal itu cukup membuktikan kalau memang Deo sudah sejak lama ingin menghancurkan Mirza.


Sedangkan hubungan Mirza dengan sang Kakak perlahan membaik. Meskipun Mirza masih terkesan dingin pada Kavi tiap kali pria itu datang ke Lapas dengan Mamanya. Mungkin karena saat ini hati Mirza sedang dipenuhi dendam pada Deo, jadi ia sudah tidak peduli dengan posisinya di perusahaan.


“Ngapain ngelamun terus kamu, Za?” tanya Samuel yang tiba-tiba saja datang.


“Aku hanya tidak sabar ingin secepatnya keluar dari sini.” jawab Mirza dengan tatapan menerawang jauh.


“Pasti kamu sudah tidak sabar ingin membalas dendam kamu itu, kan? Tenang saja, jika nanti aku sudah keluar dari sini, aku akan membantumu, Za.”


Samuel memang masuk ke dalam Lapa situ lebih dulu daripada Mirza. Dia terlibat dalam kasus penculikan anak di bawah umur. Jadi dia menjalani hukuman selama tiga tahun. Jadi nanti ia akan keluar lebih dulu daripada Mirza.


“Terima kasih banyak, Sam! Kamu sudah banyak membantuku selama ini. aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas budi baikmu ini.” ucap Mirza menoleh pada Samuel.


“Tenang saja! nggak perlu terlalu dipikirkan. Bukankah aku sudah mengatakan kalau kamu cukup ikut bekerja denganku nanti setelah kamu bebas. Bang Jo pasti sangat senang mempunyai anggota baru, apalagi seperti kamu. Pria yang Tangguh dan penuh ambisi.” Ucap Samuel.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2