
Kavi sangat terkejut mendengarnya. Apakah dia salah dengar, atau memang itu benar. Tapi kenapa Mirza melakukan itu pada Karin. tak lama kemudian Kavi mengurai pelukan Karin. dia menatap sendu wajah Karin yang masih berlinang air mata. Namun dia juga penasaran dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Karin.
“Apa yang kamu katakan baru saja, Rin?” tanya Kavi.
“Mirza memutuskan aku, Kak. Dia memilih mengakhiri hubungan ini.” jawab Karin.
“Sudah, kamu jangan terlalu memikirkan hal itu. mungkin emosi Mirza sedang tidak stabil karena masalah yang menimpanya. Aku yakin dia tidak serius mengatakannya. Kalian sudah lama menjalin hubungan, dan tidak semudah itu Mirza ingin mengakhiri hubungan kalian.” Kavi mencoba menenangkan Karin.
Karin hanya diam saja. entah dia mau percaya dengan ucapan Kavi atau tidak. Namun saat teringat di ruang persidangan tadi, Mirza sama sekali tidak melihatnya. Bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk menghampiri Mirza.
“Sudah, jangan dipikirkan lagi. besok aku akan menjenguk Mirza. Apa kamu mau ikut?” tanya Kavi.
“Baik, Kak. Aku ikut. Terima kasih banyak Kak Kavi sudah banyak membantuku selama ini. kalau begitu aku masuk dulu. Dan maaf sudah merepotkan.”
“Nggak apa-apa. Kamu jangan sungkan-sungkan untuk meminta tolong padaku. kamu sudah aku anggap seperti Mirza, yaitu seperti adikku sendiri.”
Setelah memastikan Karin masuk ke rumahnya, Kavi pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Karin. dia akan pergi ke kantor sejenak, karena beberapa hari ini jarang datang ke kantor.
Kabar tentang Mirza yang terseret kasus hukum hingga membuatnya harus menjalani hukuman penjara dua tahun telah sampai ke telinga karyawan perusahaan. Apalagi beberapa waktu yang lalu Mirza sudah diresmikan menjadi CEO di kantor cabang. Hal itu membuat beberapa investor meragukan kinerja Mirza. Bahkan Kavi juga ikut terkena dampaknya. Hal ini menjadi PR bagi Kavi agar segera menyelesaikan masalah ini.
Sean jelas sudah mendengar kabar ini dari Kavi. Di saat itu juga ia mengadakan meeting dengan beberapa investor yang menanamkan saham di perusahaannya. Dia ingin meminta maaf dan meluruskan semua kesalah pahaman itu. termasuk dengan meyakinkan kembali pada mereka agar kembali percaya dengan perusahaannya. Bahkan Sean rela terjun lagi ke perusahaan. Tepatnya menggantikan posisi Mirza sementara waktu.
__ADS_1
***
Sesuai dengan niatnya, hari ini Kavi akan berkunjung ke rutan untuk menemui Mirza. Sebenarnya Lidia juga ingin melihat keadaan anak bungsunya itu. hanya saja Sean melarangnya, selama emosi istrinya itu masih belum stabil.
Sedangkan dua anak Lidia dari pernikahannya terdahulu sangat terkejut mendengar kabar buruk tentang Mirza. Chandra dan Viana akan segera pulang untuk menemui adiknya itu.
“Ma, Kavi akan menjenguk Mirza. Apa ada sesuatu yang ingin Mama titipkan?” tanya Kavi sebelum pergi.
Lidia segera beranjak dari duduknya lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia siapkan sejak tadi. meskipun Lidia belum sanggup untuk bertemu dengan Mirza, setidaknya dengan memasakkan makanan kesukaan Mirza bisa sedikit membuat hatinya lega.
“Bilang pada adik kamu kalau Mama pasti akan datang. sampaikan permintaan maaf Mama padanya kalau Mama belum bisa menemuinya sekarang.” ucap Lidia dengan menahan kesedihannya.
“Mama tenang saja. Mirza pasti mengerti. Dan dia pasti sangat suka dengan makanan yang Kavi bawakan ini, apalagi ini makanan kesukaannya dan hasil olahan Mama sendiri.” Jawab Kavi dengan berusaha menghibur Mamanya.
Kavi sudah tiba di depan rumah Karin. dia melihat ada seberkas senyuman tergambar pada wajah Karin. mungkin perempuan itu sedang bahagia karena akan bertemu dengan sang pujaan hatinya. Walau pertemuannya dilakukan di rumah tahanan.
Sepanjang perjalanan Karin diam saja. dia akan bicara jika menjawab pertanyaan Kavi. Selebihnya dia akan diam lagi. entahlah, perempuan itu merasa tak tentu hatinya. Ada rasa sakit dalam hatinya jika nanti bertemu dengan Mirza dan mendapat penolakan dari pria itu.
“Kak, maaf aku nggak bawa apa-apa untuk Mirza.” Ucap Karin setelah mobil Kavi tiba di depan rutan.
“Nggak apa-apa. Mirza nggak butuh apa-apaselain support dari kamu.” Jawab Kavi.
__ADS_1
Kini mereka sudah keluar dari mobil. Kavi dan Karin ikut mengantri di depan rutan dengan pengunjung lainnya. Mereka berdua juga melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dulu sebelum diijinkan untuk masuk.
“Kak, aku nanti saja bertemu Mirza. Kak Kavi saja dulu!” ucap Karin saat Kavi hendak masuk menemui adiknya.
Kavi seolah mengerti tentang perasaan Karin saat ini, akhirnya ia mengangguk dan memilih untuk masuk terlebih dulu. Mungkin Karin butuh waktu berdua saja dengan Mirza.
**
“Inia da makanan kesukaan kamu, Za! Mama yang memasaknya.” Ucap Kavi dengan menyodorkan paper bag yang dibawanya tadi.
Mirza membuang mukanya malas. Dia enggan menatap wajah kakaknya. Entah ada masalah apa antara dirinya dengan sang Kakak. Kavi jug belum mengerti sampai saat ini. sekarang ditambah dengan makanan yang dibawakan oleh kakaknya. Makanan yang dibuatkan oleh Mamanya. Lantas kenapa Mamanya menitipkan makanan itu. kenapa tidak ikut datang. semarah itu kah Mamanya.
“Kamu janga berprasangka buruk dulu, Za! Mama sengaja memasak ini untuk kamu. Mama bilang minta maaf belum bisa jenguk kamu, karena-“
“Aku tahu kalau Mama pasti sangat marah dan benci denganku kan? Dan Kak Kavi sekarang puas bisa menjadi anak kebanggaan Mama dan Ayah?” sahut Mirza dengan tatapan sinis tertuju pada sang kakak.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!