
“Karin!”
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang tidak asing, Karin pun segera menoleh. Betapa terkejutnya Karin saat melihat Mirza, mantan kekasihnya sudah berdiri tepat di belakangnya.
Sedangkan Mirza sendiri seperti sedang menemukan durian runtuh. Ternyata tanpa bersusah payah lagi dia mencari Karin, karena perempuan itu kini ada di depan matanya. Jelas Mirza sangat senang bisa bertemu kembali dengan Karin. apalagi dari penampilannya, Karin sudah banyak berubah sekarang. dia terlihat lebih cantik.
“I.. iya, Za!” jawab Karin dengan gugup.
“Bagaimana kabar kamu, Rin?” tanya Mirza yang kini sudah mendekati Karin sambil mengulurkan tangannya. sebenarnya dia ingin memeluk perempuan itu, tapi takut dengan reaksi Karin nanti.
“Baik. Kamu bagaimana?” tanya Karin balik.
Karin sangat cemas. Dia takut jika Kavi sudah sampai restaurant dan mengetahui hal ini. atau seharusnya dia bersyukur karena Kavi belum datang. bagaimana jadinya jika Mirza melihat kebersamaannya dengan Kavi.
Tanpa dipersilakan, Mirza langsung mengambil tempat duduk bersama Karin. kemudian ada seorang pelayan datang untuk mencatat beberapa menu makanan untuk berdua.
Karin benar-benar speechless saat Mirza langsung memesankan makanan kesukaannya seperti duu saat mereka bersama. Setelah pelayan itu selesai mencatat beberapa pesanan makanan, kini hanya ada Mirza dan Karin saja.
“Aku sangat merindukanmu, Rin!” ucap Mirza tiba-tiba, lalu meraih kedua tangan Karin. memegangnya dengan lembut.
Tanpa Karin sadari, ternyata Kavi sudah tiba di sana beberapa menit yang lalu. Ia melihat dengan jelas saat Mirza memanggil nama kekasihnya. Namun Kavi berusaha untuk tetap tenang. Dan kini, ia melihat adiknya memegang tangan Karin. darah Kavi mendidih. Ingin meluapkan marahanya saat ini juga. tapi sekali lagi dia sadar dengan posisinya sekarang dimana.
__ADS_1
Cukup lama Kavi melihat adegan itu. Karin juga tak kunjung melepas genggaman tangan Mirza. Entah apa pun itu alasannya, hati Kavi sangat sakit. Akhirnya ia memilih untuk pergi meninggalkan restaurant.
Karin segera melepas genggaman tangan Mirza saat tak sengaja melihat sekelebat bayangan Kavi. Ingin sekali dia mengejak kekasihnya itu, tapi bagaimaana nanti jika Mirza tahu semuanya.
“Kenapa, Rin?” tanya Mirza dengan tatapan kekecewaan.
“Maaf, Za! Tidak seharusnya kamu seperti ini. bukankah sudah lama kita tidak memiliki hubungan apa-apa lagi? tolong jaga sikap kamu.” Ucap Karin.
“Maafkan aku, Rin. Aku akui memang aku bersalah. Saat itu aku memang yang memutuskan hubungan kita, tapi sekarang, setelah aku bebas, aku ingin kita memperbaiki hubungan ini lagi. please, Karin! beri aku kesempatan sekali lagi.”
Karin sama sekali tidak mengerti dengan Mirza yang seenaknya sendiri bilang seperti ini. sudah lama ia melupakan pria itu, dan kini kembali hadir dan mengharapkan cinta yang seperti dulu. Tidak semudah itu.
“Maafkan aku, Za! Sekarang keadaannya sudah berbeda. Akut ikut senang mendengar kamu sudah bebas. Tapi, sekali lagi aku minta maaf. Kita tidak bisa seperti dulu lagi.” pungkas Karin sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Mirza dan akan mengejar Kavi.
“Aku sudah mempunyai kekasih.” Jawab Karin lalu ia pergi saat cekalan tangan irza melemah.
Mirza benar-benar terkejut mendengar kenyataan bahwa Karin sudah mempunyai kekasih lagi. secepat itu kah Karin move on darinya? Kenapa Karin bisa dengan cepat melupakan cintanya? Padahal selama di dalam Lapas, tak pernah sedikit pun Mirza bisa melupakan sosok Karin.
Sementara itu Karin yang kini sudah berlari keluar restaurant, ia sudah tidak lagi menemukan keberadaan mobil Kavi. Pria itu pasti marah dan salah paham atas apa yang teah dilihatnya tadi.
Berulang kali Karin menghubungi no ponsel Kavi, namun tidak ada jawaban sama sekali. Mengirim pesan juga tidak di balas. Karena jam makan siang yang hampir habis, akhirnya Karin memutuskan untuk kembali ke kantor. bahkan dia belum menyentuh makanan sama sekali.
__ADS_1
Sore harinya Karin melihat ponselnya tetap tidak ada panggilan atau balasan pesan dari Kavi. Biasanya pria itu akan menghubunginya kalau sudah stand by di depan kantor. alhasil hari ini Karin pulang ke apartemennya naik taksi.
***
Hingga sampai tiga hari sejak kejadian itu, Kavi juga tak kunjung menemui Karin. entah apa yang sedang dilakukan Kavi sampai ia mengacuhkan Karin tanpa meminta penjelasan lebih dulu. Sedangkan Karin sendiri juga sangat tersiksa saat tak mendapatkan kabar apapun dari Kavi.
Pagi ini tubuh Karin sangat lemah sekali. Kepalanya sangat pusing saat baru saja bangun tidur tadi. kalau dipaksa untuk bekerja, ia pasti akan pingsan. Akhirnya Karin meminta ijin untuk cuti kerja dulu.
“Ayo, Kak! Angkat dong telepon aku!” gumam Karin yang sedang menghubungi Kavi namun tidak pernah ada jawaban.
Tiba-tiba saja perut Karin terasa mual-mual. Dia segera berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Ternyata rasanya masih sama. Kini ditambah rasa pusing yang pada kepalanya yang semakin membuatnya susah untuk berjalan. Akhirnya..
Bruk
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!