Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
58. Bertemu Deo


__ADS_3

Mirza membenarkan ucapan Samuel. Bahkan saat mendengar nama Deo disebut, darah Mirza sangat mendidih. Mengingat apa yang sudah dilakukan oleh temannya itu. sungguh tega sekali. Deo yang selama ini banyak ia bantu. Dia juga merupakan partner kerja yang baik, ternyata diam-diam telah menusuknya dari belakang.


Malam itu juga Mirza dan Samuel menyusun rencana untuk menghabisi Deo. Sebelumnya Mirza ingin bertemu dulu dengan Deo dulu. Setidaknya ia akan bersandiwara dulu. Bersikap pura-pura baik dan seolah-olah ia tidak tahu apa-apa.


“Jam segini biasanya dia sedang di pelabuhan. Kamu masih ingat kan kalau Deo sedang bekerjasama dengan salah satu temanku. Tentu saja untuk menjebak Deo.” Ucap Samuel.


“Baiklah. Aku ingin bertemu dia di sana sekarang juga. dan pastikan saat itu juga ia langsung mendapatkan masalah tentang pekerjaannya yang berhubungan dengan teman kamu itu. aku ingin tahu reaksi dia bagaimana saat ada aku.” ucap Mirza.


Samuel mengangguk setuju. Setelah itu mereka segera pergi ke pelabuhan. Samuel juga sudah menghubungi temannya sesuai dengan perintah Mirza baru saja.


Tidak butuh waktu lama, Mirza dan Samuel sudah sampai pelabuhan. Ia meminta Samuel untuk menunggu di mobil agar Deo tidak curiga dengannya. sedangkan ia akan masuk ke sebuah tempat yang menyerupai Bar yang berada di area pelabuhan. Biasanya memang sering dipakai untuk transaksi barang-barang illegal.


Mirza melihat ke sekeliling mencari keberadaan Deo. Di tempat paling sudut, akhirnya Mirza melihat mantan sahabatnya itu sedang menunjukkan raut kebingungan sambil sibuk dengan ponselnya. Mungkin teman Samuel sudah melakukan tugasnya.


“De!” panggil Mirza.


Seketika itu Deo langsung terkejut bukan main. Bahkan ia beberapa kali mengucek matanya berharap orang yang ada di hadapannya itu bukanlah Mirza.


“Za? Benarkah kamu Mirza?” tanya Deo dengan gugup.


“Ck, kamu ini masak lupa dengan sahabat baik kamu ini? apa kabar kamu?” tanya Mirza pura-pura kesal. Kemudian ia bertos ria ala dirinya dan Deo seperti dulu.

__ADS_1


Kini Mirza sudah duduk di samping Deo. Deo pun segera memesankan minum untuk Mirza demi menutupi keburukannya.


“Aku tidak menyangka kalau kamu sudah bebas, Za. Bukankah kamu akan bebas tiga bulan lagi?” tanya Deo.


“Jadi, kamu suka kalau aku dipenjara terus?” goda Mirza. Padahal ia sangat geram dengan sikap Deo yang terlihat jelas mengharapkan dirinya tidak bebas.


“Bukan seperti itu. aku hanya terkejut saja. aku sangat senang akhirnya kita bisa bekerja bersama-sama lagi.” jawab Deo.


“Bagaimana kabar kantor selama aku di penjara? Aku tadi ke sana, tapi kantor tutup. Jadi aku langsung ke sini saja. aku sangat rindu suasana pelabuhan.” Ucap Mirza berbohong.


Deo langsung memasang wajah sedih. Sebenarnya dia sedang dalam masalah berat. Rekan bisnisnya, atau lebih tepatnya bisnis illegal, telah menipunya. Dan baru saja Deo mendapat kabar kalau rekannya itu sedang tertangkap polisi. Otomatis akan membawa nama Deo juga sebagai partner bisnis di dunia gelap itu.


“Maafkan aku, Za! Setelah kamu masuk penjara, keadaan kantor semakin memburuk. Banyak perusahaan yang tidak percaya lagi untuk memakasi jasa kita. Aku sudah berusaha mati-matian mengembangkannya lagi, tapi tetap saja. sekarang ini aku sedang ada janji temu dengan seseorang yang ingin meminjami kita dana besar untuk membangkitkan usaha kita lagi. apa kamu bisa menemaniku untuk bertemu dengannya?” taya Deo.


Deo baru saja mendapat pesan dari salah satu karyawan rekan bisnisnya untuk datang ke kantor. dia diminta untuk melihat beberpa dokumen atas barang-barang yang dikirim ke luar negeri yang menggunakan jasanya. Deo sepertinya sudah tahu kalau semua itu hanya jebakan. Jadi, jika dia datang ke sana, otomastis polisi akan meringkusnya saat itu juga. beruntung sekali Mirza datang, jadi ia bisa menjadikan Mirza sebagai umpan.


“Bagaimana bisa seperti itu, De? Kenapa selama ini kamu tidak datang menemuiku dan menceritakan semuanya?” tanya Mirza pura-pura ikut sedih.


“Maafkan aku. selama itu juga aku sangat sibuk dan hampir tidak ada waktu walau hanya sekadar datang ke Lapas menjengukmu. Lalu bagaimana? Apa kamu mau menemaniku untuk mengantar bertemu orang itu sekarang juga?” Deo berkata dengan mata berkaca-kaca.


“Baiklah. Sebelumnya aku minta maaf padamu, De! Apapun kesulitan kamu selama ini, aku akan berusaha menebusnya, agar kita bisa membangun usaha kita lagi.” jawab Mirza cukup meyakinkan.

__ADS_1


Hati Deo bersorak senang. Sepertinya memang dewi fortuna sedang berpihak padanya. Tak perlu menunggu lama, Deo segera mengajak Mirza pergi dari Bar itu. Deo akan mengirim Mirza laagi ke penjara.


Beberapa saat kemudian Deo dan Mirza tiba di sebuah tempat. Tempat yang biasanya Deo lakukan untuk bertransaksi barang illegal itu. dan dia yakin kalau tempat itu pasti sudah dikepung oleh beberapa anggota kepolisian yang siap menangkapnya. Dan selama dalam perjalanan tadi, tangan Deo juga sibuk mengganti data pada dokumen yang semula atas nama Deo, kini menjadi nama Mirza.


“Za, kamu masuk dulu ya? Aku ada panggilan mendesak sebentar.” Ucap Deo dengan pura-pura menempelkan ponsel pada telinganya.


Mirza pun mengangguk saja tanpa menunjukkan rasa curiga pada Deo. Sedangkan Deo melirik ke arah Mirza yang sudah masuk ke rumah itu, ia segera melarikan diri dari kejaran polisi. Namun naas.


Bugh


Seseorang menghantam tengkuk Deo menggunakan balok kayu cukup keras.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2