Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
63. Menghabisi Deo Part 2


__ADS_3

Mirza masuk ke dalam rumah. sedangkan Samuel ikut, namun ia tidak ikut menunjukkan wajahnya di depan Deo. Cukup menyaksikan Mirza saja, bagaimana temannya itu menghabisi mantan sahabatnya.


Derap langkah kaki terdengar jelas di telinga Deo yang sedang duduk di sebuah kursi kayu dengan tangan dan kaki terikat. Keadaan pria itu sangat mengenaskan. Apalagi orang suruhan Samuel memberikan makan Deo dua hari sekali. Jelas sekali tubuh Deo sangat lemah.


Dengan pandangan mata yang sedikit buram, dan cahaya dalam ruangan itu yang temaram, membuat Deo kesulitan untuk melihat siapakah seseorang yang sedang datang.


Deo menggelengkan kepalanya dengan mengerjap-ngerjapkan mata. Dia sangat hafal pada sosok yang sedang berdiri tepat di hadapannya. dia tidak ingin percaya kalau itu adalah Mirza. Namun kenyataannya dia memang Mirza.


“Za? Akhirnya kamu datang menolongku.” Ucap Deo dengan suara lemah.


Deo tidak ingin berburuk sangka pada Mirza. Jadi ia menganggapkedatangan Mirza karena ingin menyelamatkannya.


“Apa kabar kamu, penghianat?” tanya Mirza dengan menyeringai.


“Za? Ap..apa maksud.. kamu?” tanya Deo dengan raut wajah ketakutan.


Baru kali ini Deo melihat tatapa mata Mirza yang sangat mengerikan. Kenapa Mirza bisa bicara seperti itu. apakah sahabatnya itu sudah mengetahui kebusukannya selama ini. jadi, yang menyekapnya selama beberapa hari ini adalah orang suruhan Mirza.


“Ck, kedatanganku ke sini bukan untuk memnjawab pertanyaanmu yang tidak bermutu itu. aku hanya ingin mengantarmu pergi secepatnya menemui ajal.” Jawab Mirza dengan tersenyum sinis.


Deo semakin ketakutan. Dia bergerak resah untuk melepas tali yang menjerat kaki dan tangannya, setelah itu pergi melarikan diri. Namun smeua itu sangat mustahil. Apalagi Mirza yang tampak asyik menikmati pergerakannya yang jelas tidak bisa kabur lagi.


Plakkkk


Mirza mendekati Deo dan menampar pipinya sangat keras. Bahkan sudut bibir Deo sampai mengeluarkan darah.


“Maafkan aku, Za! Kumohon, lepaskan aku!”


Plakkkk


Mirza kembali menampar pipi Deo. Kali ini dia sangat marah mendengar kata maaf dari bibir Deo. Apakah kata maaf cukup menghapus kesalahan yang telah dilakukan Deo padanya. Sampai ia harus mendekam di penjara selama dua tahun.


“Kamu kira cukup dengan minta maaf semua urusan kita selesai, hah? Kamu tahu betapa menderitanya aku selama dua tahun terkurung dalam penjara? Dan semua itu kamu yang melakukannya.” Ucap Mirza sambil mencengkeram kuat kerah baju Deo.

__ADS_1


“Maaf, Za! Aku salah, aku akan memperbaiki semua kesalah,-“


Brakkk


Mirza yang sudah muak mendengar permintaan maaf Deo segera menendang kursi yang diduduki oleh Deo. Pria itu terjungkal kesakitan. Ditambah lagi tangan dan kakinya yang masih terikat kuat.


Srekk


Srekkk


Mirza melepas ikatan tali pada tangan dan kaki Deo menggunakan pisau. Dia sengaja melepasnya agar lebih mudah menghajar Deo. Sedangkan Deo menganggap Mirza sudah memaafkannya.


“Bangun, kamu!”


Mirza menarik kuat tubuh Deo. Lalu dia melayangkan beberapa pukulan tepat mengenai wajah Deo.


Bugh


Bugh


Bugh


“Za.. ampuni aku!” lirih Deo dengan mata yang hampir terpejam.


“Nggak akan! Dan aku tidak akan membiarkan kamu mati dulu sebelum aku puas menyiksamu, sebagai balasan atas semua perbuatan jahatmu padaku.” ucap Mirza dan disusul dengan beberapa bogeman di seluruh tubuh Deo.


“Rasakan ini, Baj***an!!”


Bugh


Bugh


Bugh

__ADS_1


Mirza memukuli Deo dengan membabi buta. Dia tidak hanya menggunakan tangan saja, melainkan kakinya juga ikut menendang tubuh ringkih Deo.


“Gara-gara kamu juga, aku harus kehilangan perempuan yang aku cintai!” ucap Mirza dengan nafas tersengal. Lalu ia kembali melayangkan pukulannya lagi ke tubuh Deo.


Deo menyeringai tipis di antara nyawanya yang sebentar lagi juga akan melayang. Setidaknya, setelah Mirza berhasil membalaskan dendamnya dan mengantarnya pada gerbang kematian, ia akan membuat Mirza menyesal.


Mirza menatap aneh pada Deo yang tiba-tiba tersenyum sinis.padahal nyawanya sudah berada di ujung tanduk.


“Syukurlah kamu kehilangan Karin. setidaknya dia sekarang berada di tangan pria yang tepat daripada di tangan seorang psikopat seperti kamu.” Ucap Deo dengan terbata.


Mirza sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Deo baru saja. memangnya selama ini Deo tahu siapa pria yang telah menggantikan posisinya di hati Karin.


“Apa maksud kamu, Baj***an?” Mirza mencengkeram lagi baju Deo yang sudah penuh dengan noda darah.


“Ck, menyedihkan sekali nasib kamu, Za! Selama ini diperlakukan tidak adil oleh Ayah kamu, kamu juga harus masuk penjara, dan kini justru Karin telah dimiliki oleh kakak kamu sendiri. Kasihan sekali!” ucap Deo dengan nafas yang sudah tidak beraturan karena sebentar lagi nyawanya melayang.


Bugh


Bugh


Mirza tidak terima dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Deo. Jelas saja dia tidak percaya. Namun kenapa hatinya terbakar saat mendengar itu semua.


“Suatu saat kamu akan membuktikan sendiri!”


“Diam kau! Mati sekarang juga!” mirza mengambil pisau yang tergeletak di lantai tadi lalu menusuk punggung dan perut Deo beberapa kali sampai pria itu benar-benar tidak bernafas.


“Mati kau, Baj***an!!” teriak Mirza menggelegar seisi ruangan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2