Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
25. Kehidupan Di Lapas


__ADS_3

Kavi terdiam menatap punggung Karin yang berjalan semakin jauh masuk ke dalam rumahnya. Sebesar itukah rasa cinta Karin terhadap adiknya, hingga membuat perempuan itu benar-benar terpuruk dan memutuskan untuk menghindar. Bukan hanya Mirza yang dihindari, melainkan dirinya dan juga kedua orang tuanya.


Entahlah, saat ini Kavi merasa ada yang aneh dengan dirinya. Melihat Karin yang sakit hati akibat pemutusan hubungan yang dilakukan oleh adiknya secara sepihak membuat Kavi merasa kasihan dengan perempuan itu. mengingat sosok Karin adalah perempuan dengan pemikiran yang dewasa dan hidup mandiri. Rasanya tidak adil bagi Karin. dan Mirza sebagai laki-laki menurutnya sangat egois.


“Apa kamu nggak merasa menyesal, Za karena telah membuang sebuah berlian?” gumamnya lirih.


Tak lama kemudian Kavi menyalakan mesin mobilnya dan melaju pulang.


***


Sudah satu bulan Mirza menjadi seorang narapidana. Selama itu juga dia mengalami banyak perubahan dalam hidupya. Pria berusia dua puluh empat tahun itu sebelumnya hidup sesuka hatinya tanpa ada aturan yang mengikat, kini harus benar-benar patuh dengan segala aturan dalam lapas.


Tinggal di dalam lapas bukan berarti mendapat berbagai macam siksaan. Justru para narapidana mendapatkan bimbingan, khususnya bimbingan moral dan spiritual agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang dilakukan. Para narapidana juga diajarkan tentang kedisiplinan, kerjasama, dan juga diberi keterampilan kerja.


Mirza yang termasuk tipe orang yang mudah bergaul, dia cukup nyaman menjalani hari-harinya di sana. Dia mudah beradaptasi dengan orang-orang baru yang senasib dengannya. mungkin awal-awalnya saja dia masih merasa kesulitan karena tidak mendapatkan fasilitas apapun seperti yang ia dapat sebelumnya.


Di dalam lapas Mirza bertemu dengan seorang teman napi yang cocok dan membuatnya nyaman. Bisa dikatakan kalau orang itulah yang pertama kali Mirza kenal dan mau memberitahu semua hal tentang kehidupan di lapas. Dan yang membuat Mirza terkejut, pria yang bernama Samuel sekaligus menjadi teman baiknya itu adalah anak buah salah satu mafia yang cukup berpengaruh di negara ini. Dan itu pun menjadi rahasia antara Mirza dan Saamuel.


Entah suatu kebetulan atau memang Mirza sengaja dipertemukan dengan Samuel yang merupakan anak buah seorang mafia. Karena sampai saat ini Mirza masih sangat penasaran tentang kasus yang menjeratnya. Dia tidak percaya kalau kasus yang menimpanya bukan murni karena kesalahannya. Namun untuk kasus penyalah gunaaan narkoba, dia akui memang mengkonsumsinya. Dan untuk kasus penggelapan barang illegal itu Mirza ingin mencari tahu dalangnya melalui bantuan Samuel.


“Kamu tenang saja, Za! Aku akan meminta temanku untuk menyelidiki kasusmu itu. biasanya sebulan sekali temanku akan datang ke sini untuk menjengukku.” Ucap Samuel membawa angin segar buat Mirza.


“Kamu serius, Sam?” tanya Mirza memastikan.

__ADS_1


“Tentu saja, tapi nanti saat kamu keluar dari lapas ini kamu harus ikut bekerja dengan Bang Jo.” Jawab Samuel.


Mirza berpikir sejenak. Tak lama kemudian ia mengangguk setuju dengan syarat yang diberikan oleh Samuel.


Mirza sendiri hanya menduga kalau kasus yang dialaminya itu masih ada sangkut pautnya dengan partner bisnisnya yang tak lain adalah Deo. Tapi dia tidak ingin menuduhnya kalau belum ada bukti yang akurat.


Selama menjalani hukumannya di lapas, sampai saat ini Deo belum juga datang untung menjenguknya. Bukankah itu cukup membuat Mirza menyimpan tanda tanya besar.


Tiba-tiba saja, ada seorang sipir datang memanggil nama Mirza karena ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Mirza sangat malas untuk keluar. Dia beranggapan yang datang adalah mantan kekasihnya, yaitu Karin. namun sipir itu mengatakan kalau yang datang adalah seorang laki-laki.


“Siapa Pak nama orang itu? bukankah saya sudah bilang kalau sementara waktu tidak ingin bertemu dengan siapapun.” tanya Mirza penasaran.


“Atas nama saudara Deo. Ayo cepatlah, sebelum jam kunjungan habis.” Jawabnya dan segera pergi.


**


“Bagaimana kabar kamu, Za? Maafkan aku yang baru sempat datang ke sini.” ucap Deo dengan raut muka sedih.


“Aku baik-baik saja, De. Nggak masalah kamu baru ke sini.” jawab Mirza degan tenang.


Deo menceritakan kalau selama ini ia berusaha memperbaiki usaha yang sudah dibangun dengan Mirza. Pria itu mengatakan kalau sangat sibuk. Terlebih sangat sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari beberapa perusahaan yang ingin memakai jasanya. Bahkan Deo juga mengatakan kesungguhannya untuk membuat usahanya itu bisa kembali normal seperti biasa. Dan Mirza melihat kesungguhan itu dari mata Deo.


“Sepertinya kasus yang kamu alami ini ada dalangnya, Za. Kamu jangan khawatir, aku akan membantumu.” Ucap Deo.

__ADS_1


 


“Nggak apa-apa, De. Sudah, kamu nggak perlu seperti itu. cukup dengan membuat usaha kita kembali seperti semula saja sudah membuatku sangat bersyukur dan aku sangat berterima kasih banyak denganmu.” Jawab Mirza. Bahkan Mirza sempat menyesal karena telah menuduh Deo.


“Tapi aku tidak terima, Za. Maaf, kalau kamu marah denganku. Ini hanya dugaanku saja.” ucap Deo menjeda kalimatnya.


“Apa maksud kamu?” tanya Mirza tidak mengerti.


“Aku curiga penyebab semua ini adalah kakak kamu sendiri.”


Deg


Mirza terkejut. Lebih tepatnya tidak percaya sekaligus marah kalau Deo menuduh kakaknya. Meskipun hubungannya kurang baik akhir-akhir ini, tapi tidak mungkin jika Kavi yang menyebabkan ia harus dipenjara.


“Tidak hanya itu saja. bahkan aku sempat melihat kakak kamu berduaan dengan Karin.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2