Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
35. Pekerjaan Kotor


__ADS_3

Sudah seminggu ini Kavi bekerja di kantor pusat setelah perjalanan bisnisnya di luar kota. Semenjak pertemuan terakhirnya dengan Karin, lebih tepatnya tentang ungkapan perasaannya, Kavi kini merasa lebih lega karena sudah tidak ada beban apapun di hatinya. Dia juga berusaha tidak peduli mau Karin membalasnya atau tetap menganggapnya sebagai seorang kakak. Kavi juga tahu kalau Karin tidak mungkin menerimanya karena dirinya adalah kakak dari orang masa lalunya. Tentu saja Karin tidak ingin terjadi hal buruk. Atau bisa jadi Karin masih mencintai Mirza.


Selama itu pula komunikasi antara Kavi dan Karin masih lancar. Mereka berdua masih berhubungan baik, bahkan komunikasi mereka sama sekali tidak membahas masalah perasaan.


***


Hari ini Kavi ada janji dengan Mamnya untuk mengantar ke Lapas menjenguk Mirza. Kavi juga sudah lama tidak bertemu dengan adiknya.


Kavi menyerahkan pekerjaannya pada Orion. Setelah itu dia akan pulang menjemput Mamnya. Sedangkan Sean sendiri juga sangat sibuk di kantor cabang yang harusnya menjadi tanggung jawab Mirza.


***


Setelah melalui proses panjang yang diikuti untuk bisa masuk ke dalam Lapas, kini Kavi dan Lidia sudah berada di ruang kunjungan sambil menunggu Mirza datang.


Lidia seperti biasa, wanita itu sudah tidak sabar ingin melihat anak bungsunya. Beberapa makanan kesukaan Mirza pun tak pernah absen dibawa olehnya.


“Sayang! Anak Mama apa kabar?” Lidia langsung memeluk Mirza saat baru saja Mirza keluar dari ruangan para napi.


“Mirza sehat, Ma.” Jawab Mirza dengan membalas pelukan Lidia.


Setelah itu giliran Kavi yang memeluk Mirza. Dia tidak peduli meskipun mendapat sambutan dingin dari adiknya. Asal di depan Mamanya tetap terlihat baik-baik saja. namun Kavi tidak menyangka. Sebelumnya Mirza tidak membalas pelukan darinya, tapi kali ini Mirza membalas pelukan kakaknya. Bahkan saat Kavi mengurai pelukan itu, terlihat senyum samar dari bibir Mirza.


“Bagaimana kabar, Mama, Kak Kavi dan Ayah?” tanya Mirza setelah mereka bertiga duduk.

__ADS_1


“Kami semua sangat sehat, Sayang. Mama senang bisa melihat kamu lagi. maaf dua minggu ini Mama tidak datang. Kakak kamu sibuk, apalagi Ayah kamu.” Sesal Lidia.


“Nggak apa-apa, Ma. Mirza paham kok. Kalian sudah datang seperti ini saja sudah membuat Mirza senang. Mirza janji setelah ini tidak akan berbuat macam-macam lagi yang akan merugikan banyak orang. Mirza menyesal dulu tidak menuruti ucapan Ayah. Hingga akhirnya Mirza seperti ini.” Jawab Mirza dengan raut wajah kecewa.


Memang sejak dulu Sean kurang suka dengan bisnis yang digeluti oleh anak bungsunya itu. hanya saja saat itu Mirza yang sangat keras kepala, tidak peduli dengan larangan ayahnya. Dia hanya ingin membuktikan pada semua orang kalau dirinya bisa berusaha sendiri tanpa melibatkan campur tangan orang tuanya. Dan setelah mendapat kasus yang membuat dirinya harus berakhir di balik jeruji besi, Mirza sangat menyesal. Tapi sayangnya, dalam tubuh Mirza menyimpan dendam membara pada seseorang yang telah membuat hidupnya seperti ini. tentu saja dia tidak ingin semua keluarganya tahu tentang hal ini.


Cukup lama mereke bertiga berbincang-bincang, hingga akhirnya jam kunjungan habis. Lidia kembali menunjukkan raut kesedihannya saat akan berpisah dengan Mirza. Namun Mirza sebisa mungkin meyakinkan dan menenangkan Mamanya kalau dirinya baik-baik saja di sini.


“Titip Mama, ya Kak!” ucap Mirza pada Kavi sebelum mereka berpisah.


Kavi mengulas senyum bahagia mendengar ucapan adiknya. “Kamu jangan khawatir! Jaga diri kamu baik-baik, Za!” balasnya dengan menepuk pelan pundak adiknya.


***


Deo menjabat tangan seseorang seolah menunjukkan rasa keberhasilannya atas kerjasama yang dilakukan oleh orang tersebut.


“Ingat, sebelum kapal itu sandar, kamu harus berhenti dulu dan menunggu kapal yang sudah aku tunjuk tadi. lalu cepatlah turunkan barang-barang itu.” bisik Deo pada salah satu awak kapal yang akan pergi melaut.


“Tenang saja, bos! Nanti akan aku kabari secepatnya. Jangan lupa bonusnya juga!” ujar pria itu tersenyum senang.


“Kamu jangan khawatir! Asal pekerjaanmu beres, bonus kamu akan menyusul segera.” Pungkas Deo kemudian pergi meninggalkan pria itu.


Deo pergi meninggalkan bandara menggunakan mobilnya. Mobil yang baru saja ia beli setelah beberapa bulan mengambil alih jabatan Mirza. Bagaimana bisa secepat itu Deo menjadi pria kaya? Tentu saja dari pekerjaannya yang kotor itu. bahkan sampai saat ini tidak ada yang mengetahui tentang pekerjaan kotornya itu. sudah berulang kali ia menyelundupkan barang illegal ke luar negeri dan dijual dengan harga fantastis.

__ADS_1


“Tuan, tunggu!” panggil seseorang dan terpaksa membuat Deo berhenti.


“Apa anda yang bernama Tuan Deo Alvino?” tanya seorang pria yang sangat asing bagi Deo.


“Ya, ada apa?”


“Saya ingin melakukan kerjasama dengan anda. saya ingin mengirim beberapa paket sabu untuk teman-teman saya yang ada di negara J. tapi anda tahu sendiri bukan kalau itu tidak mudah.” Ucap orang itu sambil berbisik takut ada seseorang yang mendengarnya.


“Gila kamu! Kamu kira aku menyediakan jasa pengiriman barang illegal seperti itu apa?” sentak Deo dengan amarah. Tentu saja dia terkejut dengan ucapan pria itu. bagaimana mungkin ada orang yang mengetahui praktik kejahatannya. Atau orang itu sengaja ingin menjebaknya.


“Maaf, saya kira anda bisa. Padahal untungnya sangat besar. Ya sudah, saya akan mencari yang biro pengiriman yang lain saja.” ucap pria itu kecewa, lalu pergi meninggalkan Deo.


“Tunggu!” Deo mencegah pria itu pergi.


“Ini kartu namaku. Kamu bisa datang langsung ke kantor.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2