Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
Extra Part 2


__ADS_3

Sementara itu malam ini Mirza tampak termenung di rooftop apartemen miliknya. Dia tidak sendiri melainkan ditemani oleh seorang perempuan cantik yang tadi diajak menghadiri acara pernikahan kakaknya dengan Karin.


“Dev, kamu masuklah ke unitmu sekarang! ini sudah malam. tidak baik untuk kesehatan kamu.” Ujar Mirza tanpa menoleh pada sosok perempuan yang bernama Devina.


Mirza sejak tadi hanya diam dan sudah menghabiskan beberapa batang rokok. Dan Devina juga dengan sabar menemani Mirza.


Perempuan itu cukup tahu dengan kondisi hati Mirza saat ini. melepas perempuan yang telah lama mengisi hatinya agar bahagia dengan kakaknya itu sangat tidak mudah. Hubungan persahabatan yang terjalin antara Mirza dan Devina kurang lebih selama dua tahun ini sudah cukup membuat Devina tahu sekaligus mengenal dekat tentang sosok Mirza.


“Ck, diam seorang diri di luar ruangan dan malam yang dingin seperti ini, ditambah lagi dengan beberapa batang rokok yang sudh kamu habiskan justru lebih tidak baik buat kesehatan kamu.” Sahut Devina.


Perempuan yang menyandang gelar dokter kandungan itu berdiri agak jauh dari Mirza, demi menghindari asap rokok yang sejak tadi mengebul dari hidung pria itu. kedua telapak tangannya juga digosok-gosokkan demi mengurangi rasa dingin.


“Ayolah, Za! Kamu harus bisa move on. Bukankah kamu bilang kalau hati kamu sudah merelakan dia bahagia dengan kakak kamu sendiri. Tapi kenapa kamu jadi galau lagi sih?”


Mirza terdiam mendengar ucapan Devina. Pria itu segera mematikan rokoknya lalu membuang putungnya begitu saja. dan berjalan mendekati Devina.


Devina mendadak gugup saat dipandang begitu intens oleg Mirza sambil berjalan mendekat ke arahnya. Apakah pria itu akan marah setelah mendengar ucapannya baru saja.


“Za, ehm.. aku turun dulu ya? Aku ssu..sudah ngantuk.” Devina memundurkan langkahnya pelan sebelum Mirza berhasil mendekatinya.


“Kamu mau kemana, hem? Bukankah sejak tadi kamu tidak mengantuk dan setia menemaniku di sini?” Mirza tiba-tiba saja menarik pinggang Devina hingga jarak keduanya sangat dekat.


“I..iya. tapi sekarang aku sudah nagntuk. Tolong jangan seperti ini, Za!” ujar Devina dengan gugup dan berusaha lepas dari Mirza.


“Kamu tidak bisa pergi begitu saja sebelum bertanggung jawab atas ucapanmu baru saja. katakan, memangnya wajahku terlihat menyedihkan hingga kamu mengira aku gagal move on dari Karin, hem?” Mirza semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Devina.


“Maaf.. ma..afkan aku, Za. Bukan seperti itu maksudku. Aku.. aku hanya ingin kamu bahagia.” Jawab Devina dengan gugup.


“Jangan pikir diamku sejak tadi karena masih belum rela atas kebahagiaan Karin dan Kak Kavi. Jangan pikir aku gagal move on dari Karin. aku diam karena aku,-“

__ADS_1


“Oh syukurlah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya. Ya sudah lebih baik kita turun saja dan beristirahat.” Potong Devina tanpa mendengar lanjutan kalimat Mirza.


“Kalimatku beleum selesai, Dev. Apa kamu tidak ingin mendengarnya, hem?” tanya Mirza semakin mencondongkan wajahnya ke wajah Devina. Namun perempuan itu terus menghindar.


“Baiklah, cepat katakan!” ujar Devina merasa tak nyaman dengan posisi seperti sekarang ini.


“Karena aku ingin mengatakan kalau aku cinta kamu, Devina.”


Devina terdiam memaku sambil mengerjapkan matanya berulang kali. Apakah dia tidak salah dengar kalauMirza baru saja bilang cinta padanya. Namun belum sempat ia menanyakan lagi tentang ungkapan perasaan Mirza, tiba-tiba saja ia merasakan bibirnya terasa basah dan juga hangat. Apalagi dia sekarang melihat sorot mata Mirza yang saling bersitatap dengan matanya.


“Aku mencintaimu Devina.” Ucap Mirza lagi setelah melepas ciumannya.


***


Sementara itu sepasang pengantin baru semalam sangat menikmati tidurnya yang sangat nyenyak. Pagi-pagi sekali Karin sudah terbangun lebih dulu karena merasa kandung kemihnya penuh. Akhirnya ia terpaksa berlari ke kamar mandi dulu. Setelah itu akan melanjutkan tidurnya.


Usai dari kamar mandi, Karin masuk ke dalam selimut lagi. Kavi juga masih terlelap dalam mimpinya. Namun saat Karin sudah berhasil masuk ke dalam selimut yang sama digunakan oleh suaminya, tiba-tiba perempuan itu terpekik saat merasakan benda keras menempel di punggungnya.


“Tapi, Kak! Apa itu? kenapa seperti itu?” tanya Karin dengan polosnya.


Kavi tidak peduli dengan pertanyaan istrinya. Justru dia kini malah menggesekkan senjata keramatnya pada punggung Karin. pagi-pagi seperti memang moment paling menyenangkan. Tapi apakah Karin mau melakukannya sekarang.


Karin mengubah posisinya berhadapan dengan Kavi. Setelah lama mencerna ucapan suaminya sekalugus merasakan gesekan benda keras itu, dia cukup paham kalau senjata suaminya sedang bereaksi.


Kavi perlahan membuka matanya saat menyadari istrinya berbalik badan menghadapnya. Padahal dia masih ingin menikmati kegiatan yang menyenangkan tadi.


“Tidurlah lagi! maaf!” ujar Kavi dan menarik istrinya ke dalam pelukan. Namun sayangnya Karin menahan tubuh suaminya dengan menatap intens mata Kavi.


“Aku siap melakukannya sekarang, Kak!” ucap Karin dengan yakin. Setelah itu dia memberanikan diri mengecup bibir suaminya.

__ADS_1


Kavi memang awalnya terkejut. Namun ia berusaha bersikap biasa saja dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu dengan cepat menahan tengkuk Karin untuk memperdalam ciumannya. Ciuman yang sudah lama mereka rindukan. Ciuman yang begitu memabukkan dan membuat candu. Akhirnya setelah sekian lama, keduanya bisa mereguk kembali kenikmatan bibir masing-masing.


Kavi melepas ciumannya dimana nafas Karin masih tersengal. Pria itu mengusap bekas saliva pada bibir Karin lalu meninggalkan kecupan di kening Karin.


“Ijinkan aku menunaikan kewajibanku sebagai suamimu, Karin. telah aku serahkan hati ini untuk kamu sekarang, besok, dan selamanya.” Ucap Kavi dengan sungguh-sungguh dan berhasil membuat Karin terharu.


“Aku juga sangat mencintaimu, Kak!” balas Karin dengan tangan yang sudah bergerak merayap pada dada bidang suaminya.


Kavi pun melakukan hal yang sama. Dia membuka kancing piyama istrinya hingga nampak dua bongkahan besar milik Karin yang masih tertutup kain penyangga berwarna hitam.


Mereka kembali berciuman. Ciuman yang penuh cinta yang awalnya penuh kelembutan kini berubah semakin liar. Apalagi bagian tubuh atas dari pasangan suami istri itu sudah tidak tertutup apapun. Kavi juga sudah berhasil melepas kait penyangga aset besar milik istrinya.


Bak bayi yang sudah lama menahan dahaga, Kavi menghisap pucuk aset istrinya bergantian dengan tangan sibuk mere_mas salah satunya.


“Mas…!” suara desa_han Karin lolos begitu saja saat suaminya semakin aktif bermain pada dua buah itu.


Kavi menatap mata sayu Karin sambil terus melanjutkan aksinya. Pria itu sangat gemas dengan pucuk buah yang menyerupai kismis itu semakin mengeras. Sedangkan Karin ingin meminta suaminya mengakhiri kegiatan itu tapi semakin lama rasanya semakin nikmat.


Puas dengan bagian atas, Kavi segera menarik celana piyama istrinya sekaligus kain segitiga yang menutupinya. Inti Karin yang masih tampak ranum itu seketika membuat Kavi menelan salivanya susah payah. Ia mencium aroma khas milik istrinya sebelum akhirnya mengobrak-abrik inti itu dengan lidahnya penuh kelembutan.


Karin yang terkejut sontak merematt rambut suaminya. dia tidak menyangka kalau Kavi akan melakukan hal yang menurutnya sangat memalukan itu. namun lagi-lagi, dia sangat menikmatinya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Tahan dulu ya pemanasannya!😂😂😂✌


__ADS_2