
Kini Kavi tidak jadi pulang. dia menemani Karin menghabiskan makanan yang sudah dibelinya tadi. ada rasa bahagia dalam hati Kavi saat bisa melihat Karin seperti ini. seminggu tidak bertemu kekasihnya itu jujur saja membuat Kavi tersiksa.
“Kak Kavi yakin sudah makan? Ini banyak sekali loh, Kak. Dan aku sudah kekenyangan.” Ucap Karin melirik makanannya yang masih banyak.
“Sudah. Jangan dimakan lagi kalau sudah kenyang.” Jawabnya lalu memberikan minuman untuk Karin.
Karin selalu saja dibuat meleleh dengan perhatian yang diberikan oleh Kavi. Mungkin dari situ lah awal mula dia jatuh cinta pada sosok Kavi. Atau jangan-jangan perasaan itu sudah ada tanpa ia sadari saat measih menjalin hubungan dengan Mirza. Entahlah. Karin juga tidak tahu. Karena baginya, cinta itu sangat misterius.
“Kamu tadi cari lowongan pekerjaan dimana? Kenapa sampai malam begini?” tanya Kavi.
Karin pun menceritakan semuanya. Mulai dari kesulitannya mencari pekerjaan, karena kebanyakan membutuhkan lulusan sarjana. Lalu akhirnya dia menemukan sebuah restauran yang sedang membutuhkan karyawan baru. Akhirnya itu yang dia ambil.
Kavi sebenarnya tidak ingin melihat kekasihnya bersusah payah bekerja. Tapi dia juga tidak punya hak untuk melarangnya. Lagi pula statusnya masih kekasih. Belum suami istri.
“Ya sudah, apa kamu senang dengan pekerjaan itu? atau kamu terpaksa memilih pekerjaan itu? aku nggak mau kamu merasa tidak nyaman dan pastinya hari-hari kamu akan terbebani jika kamu tidak mencintai pekerjaan kamu itu.” tanya Kavi.
Sebenarnya Karin mengambil pekerjaan itu setengah hati. Selain dia bosan bekerja sebagai pelayan restaurant, dia juga membutuhkan uang untuk biaya hidupnya. Tapi tidak mungkin dia mengatakannya pada Kavi. Yang ada nanti pria itu melarangnya bekerja.
“Tentu saja aku senang dan mencintai pekerjaan itu, Kak.” Jawab Karin meyakinkan.
Kavi pun lega mendengar jawaban Karin. setelah itu ia meminta Karin untuk segera beristirahat, karena Karin mengatakan kalau besok juga langsung bekerja. Dirinya akan pulang.
“Jangan tidur malam-malam. kalau ketahuan kamu begadang, aku akan nyamperin kamu ke sini.” ancam Kavi sebelum pulang.
“Ish, nggak lah Kak. Serius setelah ini langsung tidur.” Jawab Karin.
__ADS_1
“Ya sudah aku pulang dulu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku. Ok?” ucap Kavi.
“Terima kasih banyak, Kak. Ya sudah hati-hati di jalan! Selamat beristirahat juga, Kak!” balas Karin lalu membukakan pintu untuk Kavi.
Kavi melambaikan tangannya pada Karin setelah keluar dari unit apartemennya. namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat Karin kembali memanggilnya.
“Ada ap-“
Cup
Karin mencium pipi Kavi dengan cepat. Setelah itu dia langsung berbalik badan masuk ke dalam unit apartemennya. Kavi dibuat melongo oleh sikap Karin baru saja. namun dia sangat senang setelah dapat kecupan singkat di pipinya. Bahkan dia sampai memegangi pipinya yang baru saja dicium oleh Karin.
***
Berulang kali Kavi meminta maaf pada Karin mengenai hubungan mereka yang belum diketahui oleh Sean dan Lidia. Karin sama sekali tidak mempermasalahkannya. Tapi tetap saja Kavi merasa bersalah.
Akhirnya hari ini Kavi memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya. Dia juga sudah siap dengan reaksi yang diberikan oleh Mama dan Ayahnya. Tapi kalau tidak dikatakan secepatnya, Kavi juga tidak enak dengan Karin.
Saat ini Kavi sedang duduk bersantai dengan Mama dan Ayahnya di ruang keluarga. Beberapa saat yang lalu mereka bertiga baru saja menyelesaikan makan malamnya.
“Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan, Kav? Benarkah?” tanya Lidia mengawali obrolan.
Lidia sangat tahu kalau Kavi jarang sekali ikut bersantai seperti ini setelah makan malam. terlebih setelah Mirza mendekam dalam penjara. Kavi lebih sering menghabiskan waktunya di ruang kerja atau di luar rumah, yakni bertemu dengan Karin.
Kavi menarik nafasnya dalam. Kenapa dia merasa gugup seperti ini. tapi dia berusaha menyemangati dirinya sendiri kalau dia harus mengatakannya dengan jujur dan secepatnya.
__ADS_1
“Ma, Yah. Ada sesuatu yang ingin Kavi sampaikan.” Ucap Kavi dengan tenang.
“Katakan saja, Kav! Kenapa kamu terlihat aneh sih.” Ucap Lidia benar adanya.
Sedangkan Sean hanya diam saja. sebenarnya dia juga sependapat dengan istrinya. Dia melihat raut wajah tak biasa dari Kavi. Entah apa yang ingin anaknya itu sampaikan. Dan masalah apa yang sedang terjadi.
“Kavi sebenarnya sudah mempunyai kekasih, Ma, Yah!” ucap Kavi dengan menghembuskan nafasnya dalam.
“Benarkah? Mama dan Ayah sangat senang mendengarnya. Akhirnya anak Mama punya kekasih. Lalu kenapa nggak kamu kenalkan sama Mama dan Ayah?” tanya Lidia dengan mata berbinar.
“Itulah yang ingin Kavi sampaikan. Tentang siapa perempuan yang menjadi kekasih Kavi.”
“Memangnya siapa? Kenapa kamu aneh begitu sih, Kav? Kalau kamu sudah mempunyai kekasih harusnya senang dong.” Ujar Lidia semakin penasaran.
“Maafkan Kavi sebelumnya, Ma, Yah! Perempuan yang menjadi kekasih Kavi adalah Karin.” ucap Kavi dengan menundukkan kepalanya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1