
"Aargghhh....sialan, kemana sih kamu Dii..?."
Farhan terus melajukan mobilnya menyusuri kota, satu persatu rumah sahabat-sahabat Diana sewaktu SMA di datangi oleh Farhan, tapi tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Diana.
Berkali-kali menghubungi ponsel Diana, puluhan pesan sudah dikirim tapi tidak ada satupun yang di baca.
"Dii...dimana kamu?, mas kan gak selingkuh, gak mengkhianati kamu..mas gak jujur tentang Utami hanya karena ingin menjaga perasaan kamu, supaya kamu gak berpikir yang aneh-aneh !!."
Waktu menunjukan pukul 23.50 WIB...Farhan masih berputar-putar di dalam kota bersama mobilnya, Diana belum bisa dihubungi.
Pikiran yang sedang kacau, membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Farhan berpikir Diana pulang lagi ke Bandung.
"Dii, mas sangat faham sifat kamu, kalau dalam keadaan marah seperti ini, kamu akan sangat gampang membuka hati buat orang lain, kamu akan mencari kesenangan sendiri seolah-olah tidak ada penyesalan kalaupun harus berpisah dengan mas....mas sangat tahu itu !!" ,Farhan bicara dalam hatinya.
Pukul 00.30 WIB, Farhan menelepon Andre sahabatnya
"Hallo Bro...ada apa?"
"Kamu lagi dimana Dre?".
"Biasa lagi billiard...ayo sini gabung!!, ajak Andre.
"Ok..aku merapat " , Jawab Farhan
Tanpa pikir panjang, karena pikiran lagi kacau dan tidak baik-baik saja, Farhan langsung menyusul ke tempat billiard.
Hanya butuh waktu 15 menit, Farhan tiba di tempat itu, Andre sudah menunggu di depan pintu masuk.
"Bro, tumben lo mau menginjakan lagi kaki di tempat ini?", tanya Farhan
"Ssttt..sudah gak usah banyak nanya, aku lagi suntuk banget!!."
"Hati-hati bro, banyak mantan-mantan lo di dalem !!", goda Andre.
Ya..dulu jauh sebelum mengenal Diana, Farhan hampir tiap malam masuk ke tempat ini, bahkan cewek-cewek yang bekerja di sini hampir semua mengenal Farhan bahkan ada beberapa orang yang pernah dekat dengan Farhan.
Farhan duduk di sofa yang berada di sudut sambil menunggu minuman yang dia pesan, sementara Andre meneruskan bermain billiard.
"Hai mas Farhan apa kabar?." Seorang wanita menghampiri Farhan dan duduk tanpa permisi di samping Farhan.
"Kabar baik.." jawab Farhan singkat sambil berdiri hendak menghindari wanita itu.
"Eeh mau kemana mas..?"
Wanita tersebut menarik tangan Farhan dengan cepat, sehingga tubuh Farhan limbung terjatuh di sofa dengan jarak yang sangat dekat dengan wanita itu.
Tanpa disadari, ada sepasang mata mengabadikan moment itu dengan mengambil spot foto yang sangat intim antara Farhan dan wanita itu.
__ADS_1
Farhan segera menggeser posisi duduknya, menjauh dari wanita itu.
"Masih ingat saya?", tanya wanita itu.
Farhan hanya tersenyum tipis sambil berlalu pergi menghampiri Andre.
"Aku cabut bro...", pamit Farhan pada Andre.
"Baru juga sampe...mau kemana.lagi?."
"Pulang..ngantuk" jawab Farhan sambil berlalu.
Mood Farhan benar-benar hancur, tadinya dia ingin bermain billiard sebentar setelah menghabiskan minumannya, untuk menghilangkan rasa suntuk, tapi kedatangan wanita itu membuat Farhan merasa gak mood berada lagi disana
Ya, wanita itu adalah teman Farhan di masa lalu, yang pernah dekat walaupun tidak ada hubungan khusus
Farhan tidak mau memperparah keadaan, kalau sampai Diana tahu Farhan datang ke tempat ini dan ngobrol dengan perempuan lain, tambah panjang urusannya.
Pukul 01.30 Farhan tiba di asrama, setelah bersih-bersih Farhan merabahkan tubuhnya dikasur.
Kembali membuka whatsapp, berharap Diana mrmbalas pesan-pesannya.
Kali ini pesan-pesan dari Farhan sudah centang biru, berarti Diana sudah membacanya. Farhan segera menelepon Diana tetapi ponsel Diana tidak aktif lagi.
Farhan penasaran, mencoba membuka status Whatsapp.
" Malam yang damai, sunyi sepi....aku bahagia karena kamu menemani disini."
"Diana...kamu dimana?, bersama siapa?."
Farhan berdiri kemudian berjalan keluar kamar, rahang Farhan mengeras, kedua tangannya mengepal.s
"Berarti ponsel Diana aktif pada saat aku berada di tempat billiard." bathin Farhan.
Farhan semakin kacau, dibantingnya ponsel ke atas sofa, kemudian menyalakan sebatang rokok.
"Dii. Kamu membuat mas gila kalau seperti ini!!."bathin Farhan sambil mengacak kasar rambutnya.
Entah sudah berapa batang rokok yang dihabiskan sampai pada akhirnya Farhan tertidur di sofa.
Pukul 05.30 WIB Farhan terbangun karena suara alarm di ponselnya.
Dengan perasaan malas karena masih ngantuk, Farhan masuk ke kamar mandi mengambil air wudhu.
"Harus ke Bandung pagi ini, pasti Diana ada di Bandung." bathin Farhan.
Pukul 07.40 WIB, Farhan sudah bersiap akan pergi ke Bandung.
Ada pesan masuk di ponselnya, perintah dari atassnnya untuk pengamanan sebuah acara partai politik.
__ADS_1
"Aarggghhh.. sialan..bagaimana bisa ke Bandung kalau begini !!."
Farhan dan beberapa orang temannya termasuk Andre sudah berada di lapangan, melaksanakan pengamanan sebuah acara partai politik
Pikiran Farhan melayang kemana-mana, tidak bisa fokus terhadap pekerjaan, untung saja pekerjaannya hari ini hanya memantau berjalannya acara.
"Hhhmm segarnya pagi ini....sedikit memperbaiki moodku yang kemarin kacau...terimaksih yaa".
Status Diana yang diunggah pukul 05.00 WIB.
"Diana...kamu dimana, bersama siapa?."
Status-status yang ambigu, seolah-olah Diana sedang bersama seseorang disana membuat Farhan ingin marah ingin berteriak, tapi tidak bisa dilakukan.
Hanya rahangnya yang mengeras dan wajah yang memerah menahan amarah.
"Bro..kenapa sih, dari semalem kayaknya kacau banget?." tanya Andre
"I'm Oke..." jawab Farhan.
"Jangan bohong....kalau gak mau cerita ya gak masalah, cuci muka sana, kusut banget !!". Perintah Andre.
*****
Pukul 10.00 WIB, setelah Farhan sedikit bisa mengendalikan perasaannya, ada telepon masuk ke ponsel Farhan.
"Utamii....", guman Farhan
Ponsel bergetar terus di saku celananya, tidak ada sedikitpun niat Farhan untuk mengangkatnya.
" Mas, aku sudah keluar gerbang tol, kayaknya langsung ke danau...nanti kita bertemu di pusat kota saja yaa sambil makan siang, tolong temenin kuliner yaa...kita mau makan siang di tempat sate yang terkenal itu..please jangan menolak...anggap saja ini adalah permintaan teman lama, yang juga adik mas, toh kita tidak berdua kan?".
Farhan hanya membaca pesan tersebut, tidak tahu harus menjawab apa.
Semakin rumit pikiran Farhan.
Ada sedikit perasaan tidak enak kalau menolak permintaan Tami, bukan karrna dia mantan pacar, Farhan hanya menganggap Tami seperti adiknya. Cinta Farhan kepada Tami dulu hanya sekedar cinta monyet yang berlalu begitu saja tanpa ada kesan yang mendalam.
Tapi kalau menemuinya, Farhan takutnya Tami salah mengartikan sikap Farhan, lebih jauhnya Farhan juga harus menjaga perasaan Diana, apalagi Tami pasti akan mengunggah moment pertemuannya kedalam medsos.
"Aku harus bicara dengan Tami, supaya Diana tidak terus-terusan mencurigai aku." Bathin Farhan
Akhirnya Farhan memutuskan untuk membalas pesan dari Tami yang sejak beberapa menit lalu hanya dibacanya.
"Tami..mohon maaf banget, aku mau bertemu dengan kamu siang ini, tapi tolong berhenti mengunggah di sosial media, foto-foto atau apapun yang ada hubungannya dengan masa lalu kita, semua sudah selesai dan itu hanya cinta monyet. Semenjak dulu sampai sekarang, kamu adalah adik mas, karena kamu adalah sahabat Fera. Kalau mengajak berteman Diana hanya karena ingin memanas-manasi Diana.....kamu salah orang, Diana bukan tipe wanita lemah yang gampang menyerah atau terintimidasi, semua unggahan-unggahan kamu di sosmed yang mungkin (maaf kalau salah), kamu tujukan untuk aku dan supaya dibaca Diana, semuanya di perlihatkan Diana sama mas, tanpa marah Diana hanya bertanya secara baik- baik. Hari inipun tadinya mas akan menemui kamu ditemani Diana, tapi mendadak Diana ada keperluan keluarga. Jadi kalaupun mas datang menemui kamu nanti siang, ini sudah ada ijin dari Diana. Kalau kamu bisa memenuhi permintaan mas, Insya Alloh mas akan temui kamu di rumah makan itu, kabari saja kalau sudah tiba disana, mudah-mudahan kerjaan sudah selesai. Maaf Tam, bukan mas sombong, arogan atau percaya diri, semua karena mas menghargai perasaan Diana, dan mas juga harus tetap menjaga silaturahmii dengan kamu..makasih yaa!."
Tami membaca pesan dari Farhan. Ada rasa malu, kesal sekaligus tidak terima. Semenjak diputuskan oleh Farhan dulu, Tami pernah menjalin hubungan beberapa kali dengan teman kuliah dan juga teman kerjanya, tapi semua selalu berakhir dengan tidak baik, karena jauh dilubuk hatinya, hanya ada nama Farhan.
*****
__ADS_1
"