
"Kok arahnya ke sini mas?, mau kemana dulu ?" tanya Diana karena mobil bukan berjalan menuju arah pulang.
Farhan tidak menjawab pertanyaan istrinya, tetap fokus menyetir sambil kembali ke mode wajah dinginnya.
Akhirnya mobil parkir di pinggir danau besar yang terkenal di kota ini. Tempat yang biasa dikunjungi oleh Farhan dan Diana ketika sedang ada masalah dari saat pacaran sampai sekarang.
"Ada apa sih mas, kok dari pagi kayaknya bete aja?" akhirnya Diana bertanya dengan lembut setelah selama perjalanan ke tempat ini tidak ada obrolan.
Farhan menurunkan sandaran kursinya, diikuti oleh Diana.
"Gak ada apa-apa!" jawab Farhan.
"Terus mau apa kita ke sini ?"
"Owh kamu gak mau jalan berdua sama suami?, mau nya kumpul sama teman-teman kamu terus kayak tadi ?" ucap Farhan dengan suara agak tinggi.
"Apaan sih mas?, kalau kemana-mana aku juga minta ijin sama mas. Kalau memang gak boleh tinggal bilang saja, gak usah pura-pura kasih ijin !"
Diana merubah posisi duduknya hendak membuka pintu mobil yang kebetulan tidak dikunci.
Dengan cepat Farhan menarik tangan kanan Diana sambil mengunci pintu mobil.
"Mau kemana?" tanya Farhan datar.
"Buka kuncinya !!" perintah Diana dengan wajah merah menahan kesal.
"Enggak !!"jawab Farhan tidak mau kalah.
Akhirnya Diana menyandarkan lagi tubuhnya dengan posisi agak menyamping membelakangi suaminya sambil memainkan ponsel.
"Diana simpan ponselnya !" perintah Farhan.
Diana pura-pura tidak mendengar membuat Farhan semakin emosi.
"Diana Prameswari, mau kamu apa ?"
"Aku yang harusnya bertanya mau mas apa?, dari pagi cemberut saja, gak mau nyapa, gak pamit pergi ke kantor, gak balas pesan. Tiba-tiba datang ke toko mau nganter pergi makan siang!. Apa salah aku mas ?" tanya Diana dengan suara pelan merasa putus asa.
Diana menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Merasa kesal dengan sifat random suaminya.
Farhan meraih jemari Diana, mengelusnya lembut sambil membalas tatapan mata istrinya.
"Maafkan mas!"
"Minta maaf untuk apa ?, sering banget bersikap seperti ini. Padahal mas yang bilang kalau ada apa-apa dibicarkan, jangan disimpan sendiri !"
"Maafkan, mas cemburu !"
"Cemburu kepada siapa?, aku gak pernah komunikasi dengan laki-laki manapun, gak pernah keluar rumah tanpa seijin mas !" ucap Diana pelan.
"Sini mas pinjem ponsel kamu!" pinta Farhan.
__ADS_1
Dengan perasaan bingung Diana menyerahkan ponselnya.
"Baca ini, maaf mas lancang membukanya tadi malem waktu kamu sudah tidur !"
Diana membaca satu persatu obrolan di grup team basket yang diperlihatkan oleh Farhan.
"Kalau mas cemburu karena ini, baik aku keluar dari semua grup Whatsapp, karena setiap obrolan teman-teman tidak bisa aku kendalikan, mereka berhak bercanda, berhak mengenang masa lalu, hanya bagaimana kita bersikap terhadap becandaan mereka!"
"Gak begitu juga Di...gak usah keluar dari grup!" pinta Farhan lembut.
"Kenapa?, kan biar mas tenang biar mas gak cemburu lagi terhadap masa laluku !!"
"Maafkan mas Di !"
"Selalu berulang seperti ini. Aneh ada ya yang cemburu terhadap masa lalu, yang jelas pada masa-masa itu kita belum saling kenal mas !!"
"Maafkan mas Di, mas juga gak tahu kenapa seperti ini." Ucap Farhan penuh sesal sambil mencium punggung tangan Diana.
"Kalau aku yang seperti mas, yang cemburu sama masa lalu, kayaknya aku bisa gila. Masa lalu kamu yang sangat luar biasa, dikelilingi wanita-wanita cantik, muda dan mungkin mereka dengan sukarela menyerahkan diri sama kamu, who know kan?. Tapi aku gak peduli, semua itu masa lalu kamu, yang penting mereka tidak hadir disaat kita sudah bersama !"
"Di...gak sejauh itu juga !"
"Mas, aku bahagia memiliki kamu, bahagia memiliki suami yang begitu mencintai aku seperti ini. Kamu tidak berubah walaupun usia pernikahan kita sudah 17 tahun. Tapi please jangan cemburuan seperti ini, kasian kamu capek sendiri !"
"Aku gak rela kamu pernah di sentuh orang, aku gak mau ada orang yang lebih mencintai kamu. Pokoknya otak mas suka error kalau sudah berpikir itu."
"Iwan hanya cinta monyet waktu SMA, no touching, no kissing. Hanya bertemu di lapang basket, nonton bioskop bareng-bareng, berkirim pesan saling support. Hanya seperti itu, tidak ada sesuatu yang intim, lagian kita hanya dekat satu semester saja. Harus sedetail inikan aku jelaskan, biar mas puas !"
"Di...gak seperti itu maksud mas!"
"Semua karena mas mencintai kamu." Ucap Farhan sambil tetap mengelus jemari Diana.
"Aku tahu dan terima kasih untuk cinta yang besar ini. Ada lagi yang perlu aku jelaskan tentang masa lalu?, tentang Adrian, tentang Aldo mungkin ? Atau tentang apa saja yang masih mengganjal di hati mas !" ujar Diana kesal.
"Cukup Di, sekali lagi maafkan mas!"
Farhan menarik lembut tubuh Diana, memeluknya dengan erat kemudian mengecup lembut pucuk kepalanya.
"Sudah jam 5 sore, kita cari mesjid dulu belum sholat ashar!" pinta Diana.
Farhan menjalankan mobilnya dengan pelan menuju mushola yang berada di kawasan danau itu.
Adzan Maghrib berkumandang ketika mobil Farhan tiba di depan rumah.
Maya keluar membukakan pintu garasi.
Farhan bergegas masuk ke kamar untuk berganti baju koko karena Radith sudah menunggu untuk pergi sholat Maghrib di Musholla.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, mereka telah selesai sholat isya dan makan malam.
"Yah, besok adek mau berenang ya ?" pinta Radith kepada ayahnya.
__ADS_1
Mereka sedang berkumpul di ruang keluarga tanpa Diana di sana. Diana pamit duluan masuk kamar karena kurang enak badan.
"Boleh, tapi ayah gak bisa nganter besok harus ke kantor."
"Sama mamah aja." Jawab Radith.
"Adek, mamahkan lagi kurang sehat!" Ujar Maya.
"Sama mbak Ami aja dek, mau kan?, Maya mau ikut gak ? tanya Ami kepada kedua adeknya.
"Mau mbak." Jawab Radith.
"Aku gak ikut mbak, mau nemenin mamah di rumah.
"Ya sudah besok minta tolong di anter sama mang Ujang aja, jangan jauh-jauh renangnya di dalam kota saja." Perintah Farhan.
"Ok yah, aku mau ngajak Sisil sama Anita, biar seru ada teman."
"Besok pagi-pagi ayah mau ambil mobil mamah dulu di toko." Ucap Farhan.
"Pake motor aja sama mbak yah, nanti dari toko Ayah bawa mobil mamah, motor mbak yang bawa." Pinta Ami.
"Emang sudah bisa ke jalan raya?" tanya Farhan ragu.
"Bisa dong yah, nanti kan ayah ngikutin dari belakang pakai mobil. Please dong yah, sebentar lagi kan aku 17 tahun sudah bisa punya SIM."
"OK mbak...ya udah sekarang semua istirahat sudah jam 9 !" perintah Farhan.
Di kamar Diana tengah berbaring dengan tubuh hampir tertutup selimut semua.
"Masih pusing Di ?" tanya Farhan sambil memeluk Diana dari belakang.
"Udah enggak." Jawab Diana berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Masih marah ya ?, mas udah minta maaf, janji gak mengulangi !"
"Enggak, lagi capek aja!"
"Jam 23.00 WIB mas harus ke kantor ada operasi, biasa malam minggu. Tapi kalau kamu masih marah begini mas mau minta ijin diwakili sama anggota saja !"
"Terserah !" jawab Diana singkat masih dengan posisi membelakangi Farhan.
"Diana, jangan membuat mas menjadi serba salah seperti ini. Marahin saja mas, bentak mas atau pukul mas, jangan didiamkan seperti ini !"
"Tidur mas sudah malam atau kalau mau ke kantor bawa kunci seperti biasa !" perintah Diana.
Farhan keluar dari kamar tanpa bicara apapun. Kemudian duduk di teras rumah sambil menghisap sebatang rokok.
Farhan menelepon salah satu anggotanya untuk mewakili kegiatan operasi malam ini.
Waktu menunjukkan pukul 22.30 WIB. Farhan masuk ke dalam kamar, terdengar dengkuran halus istrinya dibalik selimut. Dipeluknya perlahan tubuh Diana.
__ADS_1
"Di, semenjak mengenal kamu duniaku berubah. Semakin hari cinta ini semakin besar. Berada dititik ini karena support dari kamu. Bukan tidak pernah ada godaan wanita lain. Ada, bahkan banyak sekali godaan yang datang. Sejauh ini, sampai detik ini dan mudah-mudahan untuk selamanya hati ini tetap terjaga. Pesonamu masih tetap menjadi benteng pertahanan yang besar dari setiap godaan. Tidak ada alasan untuk berpaling, bukan karena kamu sempurna, tapi kamu telah menyempurnakan hidupku, I love you Diana." Guman hati Farhan sambil terus menatap Diana yang semakin terlelap dalam tidurnya.
******