
"Brengsek, kenapa dia gak angkat teleponku, gak balas pesanku !!" rutuk Debi.
Debi sudah berada di hotel tempatnya menginap. Pertemuannya tadi sore di PT.XX membuka kembali kenangannya dengan Farhan.
Waktu itu lebih kurang 10 tahun yang lalu, Debi pernah sangat dekat dengan Farhan, katakanlah pacaran walaupun tidak ada komitmen yang terucap. Kebersamaan hampir 6 bulan sangat berkesan dihatinya. Hanya karena sikap Farhan yang dingin dan rasa cemburu yang menguasai hatinya akhirnya memutuskan untuk menjauh dari Farhan untuk merantau ke yogyakarta melanjutkan kuliah.
"Bahkan dia tidak bertanya kenapa aku berada di PT.XX tadi siang." Bathin Debi.
Debi seorang asisten manager HRD PT.XX yang bertugas di pusat. Selama 2 hari ditugaskan cabang perusahaan karena ada masalah unjuk rasa karyawan.
Debi menginap di salah satu hotel yang berada dikawasan industri kota ini.
"Kayaknya aku harus stay di kota ini sampai hari minggu, sampai bisa bertemu dulu dengan Farhan. Besok aku akan datang ke kantornya." bisiknya dalam hati.
Sementara di tempat lain Farhan sedang membeli bubur ayam permintaan istrinya.
Sambil menunggu pesanannya dibuat, Farhan membuka aplikasi Whatsapp dan membaca pesan yang dikirim Debi.
"Assalamualaikum, Farhan aku menginap di hotel Citra di kawasan industri sampai hari minggu, tolong temui aku kalau kebetulan gak sibuk, ngopi-ngopi sebentar gak masalahkan sambil melepas rindu."
Farhan hanya membaca pesan itu, kemudian menghapusnya, khawatir terbaca oleh Diana.
"Dari mana dia tahu nomor teleponku ?" tanya Farhan dalam hati.
Pesanan bubur sudah selesai, Farhan kembali ke rumahnya.
Seperti biasa tempat favorit pasangan suami istri ini adalah ruang keluarga. Mereka sudah selesai makan bubur.
Farhan sedang mengelus lembut perut Diana yang sedang merasa mual.
"Makan obatnya dulu ya Di biar gak mual lagi." pinta Farhan.
"Iya mas, tolong ambilin ya obatnya di meja makan."
"Apa harus jujur menceritakan tentang Debi kepada Diana ?" bathin Farhan sambil kembali mengelus perut Diana.
"Mas, kenapa melamun aja?, ada yang dipikirkan?" tanya Diana.
"Siapa yang melamun sih Di, ini kan lagi ngelus perut kamu."
Diana merasa suaminya sedang menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk di ponsel Farhan.
"Pasti pesan dari Debi lagi."Pikir Farhan.
"Mas, itu ada pesan masuk."
Farhan mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan membaca pesan yang masuk.
"Baiklah Farhan, kamu gak angkat telepon aku, gak balas pesanku. Sampai ketemu ya besok di kantor kamu !" isi pesan dari Debi.
"Brengsek kamu Debi !" rutuk Farhan dalam hati.
__ADS_1
Wajah Farhan merah dengan rahang yang mengeras.
Diana melihat perubahan wajah suaminya.
"Ada apa mas ?" tanya Diana gusar.
"Gak apa-apa Di, seperti nya pesan nyasar !"
"Mas...ada apa sih?, gak mau cerita sama istri sendiri ya ?"
Farhan menarik nafas kasar dan menghembuskannya kembali, kemudian berpindah duduknya yang asalnya di atas karpet sekarang duduk di sofa dekat Diana.
"Di, mas mau cerita, tapi janji jangan marah ya. Ini sebenarnya tentang masa lalu jauh sebelum mengenal kamu. Tapi karena kemarin mas bertemu dengan orang yang pernah ada di masa lalu, jadi mas harus cerita."
"Insya Alloh aku gak akan marah asal mas jujur."
Farhan duduk berhadapan dengan Diana, sambil menggenggam erat tangan istrinya, mengalirkah semua cerita tentang masa lalunya bersama Debi sampai akhirnya bertemu kembali tadi siang di PT.XX. Tentang panggilan telepon yang berulangkali dan isi pesan-pesan yang dikirim oleh Debi.
"Begitu ceritanya Di, tadinya mas merasa tidak perlu menceritakan tentang dia, karena itu hanya masa lalu dan tidak berarti apa-apa buat mas. Pertemuan kembali dengan dia tadi siang dan ancamannya yang akan datang ke kantor membuat mas harus bercerita sama kamu. Takutnya nanti menjadi salah faham, dan kamu malah mendengar ceritanya dari orang lain. Please jangan marah ya Di, mas ga angkat teleponnya bahkan tidak satupun pesannya dibalas."
"Dia tahu nomor ponsel mas dari mana?" tanya Diana lirih.
"Mas juga gak tahu, waktu bertemu di kantin juga kita ngobrol rame-rame bersama 3 teman mas. Bahkan mas pun tidak bertanya mengapa dia ada di perusahaan itu. Setelah dia menjelaskan lewat pesan yang dikirimnya, mas baru tahu ternyata dia bekerja di perusahaan itu sebagai asmen HRD yang di tempatkan di kantor pusat Jakarta, 2 hari ini dia sedang di tugaskan disini."
Diana bingung, mau marah, marah sama siapa. Suaminya tidak salah. Hanya ada rasa cemburu dihati Diana.
Cemburu atas pesona suaminya dimata wanita lain. Bahkan sang mantan yang baru bertemu lagi setelah 10 tahun berlalu sepertinya masih tergoda oleh pesona seorang Farhan.
Farhan mengambil ponselnya dan langsung memblokir nomor ponsel Debi.
"Jangan marah ya Di, please." Pinta Farhan sambil mengusap lembut tangan Diana dan menciumnya berulang kali.
"Lupakan, yang penting kamu sudah jujur. Kita juga gak bisa berburuk sangka sama dia, siapa tahu hanya benar-benar ingin bersilaturahmi saja dengan mas. Hanya caranya saja yang salah." Ucap Diana mencoba bijaksana.
"Makasih ya Di, I love you."
Farhan memeluk erat Diana. Tapi Farhan merasakan Diana menanggapi pelukannya dengan Dingin.
Farhan melerai pelukannya, kemudian mengangkat pelan dagu Diana, menempelkan bibirnya ke bibir Diana dan ********** dengan lembut. Tidak ada balasan sama sekali dari Diana sampai akhirnya Farhan melepaskan pagutan bibirnya.
"Sayang...kenapa diam saja ?, please maafkan kalau mas salah !"
"Gak ada yang salah mas. Aku hanya kesal aja dengan sikap Debi."
"Kamu cemburu Di ?" tanya Farhan lembut.
"Masalahnya bukan cemburu atau tidak. Mas suami aku, gak suka aja ada wanita yang bersikap seperti itu, kesannya tidak menghargai posisi istrinya."
"Mungkin dia gak tahu kalau mas sudah menikah Di." ucap Farhan hati-hati.
" Hei mas, kamu sedang membela dia ?" suara Diana meninggi sambil menarik tanganya yang sedang digenggam oleh Farhan.
"Bu-bukan begitu sayang, maafin mas."
__ADS_1
"Dari isi pesannya aja keliatan dia masa bodoh dengan status kamu. Kalau memang dia mengenal kamu 10 tahun lalu, harusnya dia tahu donk berapa usia kamu sekarang dan harusnya sudah bisa memperkirakan kalau kamu sudah berkeluarga. Jangan-jangan memang mas yang mengaku belum menikah pada saat bertemu tadi siang !"
"Enggak Di, mas gak banyak ngobrol dengan dia. Teman-teman mas yang banyak ngobrol dengan dia."
"Itulah, sikap dingin mas yang mungkin membuat dia masih penasaran sama mas!" ujar Diana kesal.
"Ya Tuhah, salah lagi. Kalau aku bersikap ramah salah, aku bersikap cuek salah, bahkan sudah jujur saja masih salah." Bathin Farhan.
Diana bangkit dari duduknya kemudian berjalan cepat masuk ke dalam kamar sambil menutup pintu kamar dengan keras.
Farhan kaget dengan sikap Diana.
Tapi Farhan membiarkan istrinya untuk menenangkan diri di dalam kamar.
Farhan keluar sambil membawa rokoknya yang berada di atas meja. Duduk di teras rumah sendiri sambil menyesap rokoknya dalam-dalam.
Setelah menghabiskan beberapa batang rokok akhirnya Farhan masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya mengunci pintu pagar.
Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB. Farhan masuk ke kamar mandi belakang untuk mengambil air wudhu karena belum melaksanakan solat isya.
Perlahan Farhan membuka pintu kamarnya, terlihat Diana sedang melipat mukena baru selesai melaksanakan sholat isya.
Setelah selesai sholat, Farhan naik ke atas kasur masuk ke dalan selimut yang digunakan Diana dan memeluknya dari belakang.
"Di, maafkan mas..hukum mas kalau salah. Jangan bersikap seperti ini. "
Diana tidak menjawab, hanya isak tangis yang Farhan dengar.
Farahn membalikkan tubuh Diana, sehingga posisi mereka berhadapan. Dihapusnya air mata Diana secara perlahan oleh ibu jarinya.
"Sayang..jangan nangis dong, maafkan mas, kalau kejujuran mas membuat kamu sakit hati maafkan yaa !"
Farhan memeluk tubuh Diana, membawa kepalanya untuk berada di dadanya. Dielus kepala istrinya sampai suara isak tangisnya tidak terdengar lagi.
"I love you Di, mas akan selalu berusaha jujur dalam hal apapun." Bisik Farhan di telinga Diana
"Jawab dong... kamu udah gak sayang mas ?, gak percaya lagi sama mas?, gak mau menghargai kejujuran mas ?"
"Bagaimana kalau besok dia benar-benar ke kantor?, mas mau menemuinya?" tanya Diana pelan sambil mengangkat kepalanya.
"Besok mas gak ke kantor pagi-pagi, mau minta ijin menemani kamu di rumah karena lagi kurang sehat. Paling pergi kerja jam 2 siang langsung ke lapangan bareng sama Andre pake motor.
"Kalau dia nekad datang ke rumah bagaimana?" tanya Diana lagi.
" Ya gak apa-apa, kita temui bareng-bareng. Biar sekalian mas kenalin istri mas yang cantik yang sekarang lagi hamil ." jawab Farhan sambil tersenyum.
"I love You mas." bisik Diana di telinga Farhan.
Malam panas yang indah mereka lalui setelah drama panjang merajuknya Diana.
******
"
__ADS_1