
1 Tahun kemudian
Ami putri sulung Farhan dan Diana sudah duduk di kelas 1 SMAN 1. Sekolah yang sama dengan Diana dulu.
" Ami masuk team basket di sekolahnya, walaupun tidak menonjol seperti mamahnya. Secara akademis juga biasa saja, tapi cara dia berkomunikasi dan act service kepada orang lain sangat bagus, itu juga salah satu sifat yang menurun dari Diana. Sangat gampang berbaur juga berkepribadian menyenangkan. Satu lagi Ami mempunyai hobi menulis fiksi ataupun ilmiah.
Sabtu pagi Ami ijin kepada ayahnya untuk pergi ke ulang tahun temannya.
"Ayah, nanti malam mbak minta ijin ya pergi ke ulang tahun Mala teman satu kelas mbak di cafe mawar?" pamit Ami kepada ayahnya pada saat sarapan pagi di meja makan.
"Kenapa acaranya malam?, di cafe lagi ?" tanya balik Farhan.
"Mbak gak tahu yah, kan dia yang punya acara !" jawab Ami ketus.
Sebagai seorang Ayah, Farhan sangat over protektif kepada anak-anaknya. Sampai urusan menggunakan motor ke jalan raya saja harus menunggu Ami berusia 17 tahun.
"Gak usah pergi kalau acaranya malam." Perintah Farhan.
Ami beranjak dari duduknya di meja makan, kemudian berlari ke arah tangga menuju kamarnya dengan mata berkaca-kaca.
"Mas..jangan terlalu keras gitu. Ami sedang menghadapi masa puber." Guman Diana sambil berdiri hendak menyusul Ami ke kamar.
"Mbak jangan nangis ya, nanti mamah coba ngomong lagi sama ayah. Sekarang mbak Mandi, kan mau berangkat eskul!" perintah Ami sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"Kenapa sih ayah tuh apa-apa
serba gak boleh. Pake motor ke sekolah gak boleh, sementara teman-teman aku sudah banyak yang bawa motor ke sekolah apalagi kalau eskul !" Ucap Ami sambil menangis dibalik bantal.
"Bukan gak boleh sayang, tunggu mbak berusia 17 tahun dan sudah punya SIM. Itu karena ayah sayang sama mbak." Bujuk Diana.
"Tapi aku mau pergi ke ulang tahun Mala nanti malam mah !" rajuk Ami.
"Sekarang mandi terus berangkat eskul, udah siang nanti terlambat. Mamah mau coba ngomong sama ayah." Bujuk Diana.
Diana turun dari lantai 2 rumahnya menuju meja makan. Memastikan Maya dan Radith sudah selesai sarapan. Sudah tidak nampak suaminya di sana"
" Ayah kemana kak ?" tanya Diana kepada Maya.
"Lagi cuci mobil di garasi." Jawab Maya.
"Ya sudah kakak naik ke atas mandi terus siap-siap pergi les kumon. Adek juga siap-siap ya, mandi di kamar mandi bawah saja, ini baju karatenya udah mamah siapkan !" perintah Diana.
Pukul 07.50 mang Ujang sudah datang menjemput Radith latihan karate.
Anak-anak sudah keluar rumah semua untuk beraktivitas. Farhan baru saja selesai mandi. Ditemani secangkir kopi menonton berita di TV. Diana duduk disamping suaminya.
"Mas harusnya gak bersikap begitu sama Ami. Remaja yang lagi puber hatinya sensitif, apalagi mas menegurnya di depan adik-adiknya !" Ucap Diana lembut, sebagai sarjana psikologi tentu saja Diana lebih mengerti tentang kejiwaan anak yang sedang beranjak remaja.
__ADS_1
"Terus mas harus bagaimana ?, harus mengijinkan anak gadis mas pergi ke pesta ulang tahun malam-malam?, dunia luar itu seram Di, apalagi malam-malam di cafe lagi !!" ucap Farhan datar.
" I know mas, apalagi mas seorang polisi tentu lebih faham dengan situasi diluar sana. Tapi bisakan melarang dengan menjelaskan alasannya, diajak ngobrol dari hati ke hati. Tidak to the point seperti tadi, apalagi di depan adik-adiknya."
"Mas hanya takut Di."
"Aku faham, tidak ada yang salah dengan mas, semua mas lakukan karena sayang sama Ami. Hanya cara memperlakukan Ami yang salah."
"Mas harus gimana sekarang?, Ami kelihatan marah banget sama mas !"
"Nanti siang kalau Ami pulang eskul, mas minta maaf. Jelaskan alasan melarang dia pergi. Atau tawarkan pilihan lain, boleh pergi tapi dianter mas atau aku, selesai tidak selesai acaranya jam 22.00 WIB harus sudah pulang. Nanti kita jemput lagi.!"
Farhan berpikir sejenak sambil menghisap dalam rokoknya.
"Ok, mas akan minta maaf. Nanti pulang eskul mas yang jemput Ami, biar bisa ngobrol dimobil."
"Emang mas gak ke kantor?"
"Enggak , hari ini landai. Nanti malam jam 23.00 WIB ada operasi malam.".
"Ok, terima kasih ya mas sudah mau mendengarkan pendapat aku !" ucap Diana sambil mengecup singkat bibir suaminya.
"Jangan mancing-mancing Di !" tatap Farhan sayu.
"Bye, aku mau ke dapur mau masak buat makan siang anak-anak."
"Kasian bi Nur hari ini nyetrika banyak banget di atas.!"
"Pesan online saja, gak usah masak !" perintah Farhan.
"Sayang mas aku udah belanja lauk dan sayuran tadi pagi-pagi."
Diana mengerti suaminya minta ditemenin dan sangat faham akan berakhir seperti apa.
Akhirnya Farhan rebahan di sofa sambil main game di ponsel, dan sesekali mengecek laporan dari anggotanya yang sedang piket di kantor hari ini.
Diana berjibaku di dapur memasak untuk makan siang.
"Nanti siang aku mau ke toko ya mas. Radith mau diajak, udah beberapa hari toko gak dikontrol!" Ucap Diana setelah selesai masak.
"Iya..." Jawab Farhan singkat
"Udah setengah 12 mas, katanya mau jemput Ami."
"Jam berapa selesai eskulnya ?"
"Biasanya jam 12 kurang sudah selesai."
__ADS_1
Ami mengikuti 2 eskul setiap hari Sabtu. Jam 8 pagi eskul basket. Jam 10.30 dilanjut eskul menulis karya ilmiah sampe jam 12 an. Tapi eskul menulis jadwalnya hanya 2 minggu sekali.
"Ya udah mas berangkat sekarang ya." Pamit Farhan sambil mengambil kunci mobil di meja.
"Iya hati-hati, inget ajak ngobrol baik-baik !" pesan Diana.
Sementara Maya dan Radith sudah pulang pada saat Diana di dapur tadi. Mereka sekarang sedang istirahat di atas sambil nonton TV.
Ada Notifikasi pesan di ponsel Diana.
"Mah, mbak sama ayah gak makan siang di rumah. Kita mau makan bakso mas kumis."
"Owh gitu ya, gak ajak-ajak mamah sama adek-adek makan baksonya !" Jawab Diana pura-pura marah.
"Kata ayah, kalau mamah sama adek-adek diajak sayang masakan mamah nanti gak ada yang makan."
"Hhhmmmmm, baiklah jangan lupa bungkusin ya baksonya, buat nanti sore !"
" Ok mah.." Jawab Ami
Diana sebenarnya merasa senang mendapat pesan itu. Artinya Ami sudah tidak marah kepada ayahnya dan pastinya sudah ada solusi untuk masalah pesta ulang tahun nanti malam.
"Anak gadis sedang quality time dengan ayahnya." Bathin Diana.
"Kak Maya, Radith ayok turun kita makan siang dulu. Ajak bi Nur turun juga, kita makan bareng."
"Adek setelah makan siang ikut mamah ke toko ya?" ajak Diana setelah mereka semua duduk di meja makan.
"Kakak kok gak di ajak mah ?" rajuk Maya.
"Biasa nya juga gak mau ikut, katanya bosan di toko !'
"Sekarang mau ikut mah, mau jajan ice cream "mi**u."
"Ya udah habisin makannya, terus sholat duhur kita langsung berangkat ke toko."
"Mah, mbak sama ayah baru selesai makan bakso, sekarang mau ke mall dulu nyari sepatu buat ke pesta ulang tahun Mala nanti malam." Pesan masuk dari Ami.
"Emang nanti malem boleh berangkat ?" tanya Diana pura-pura.
"Boleh mah, tapi nanti dianter sama ayah. Pulangnya juga dijemput, tapi gak boleh malam-malam. Kata ayah kalau acara belum selesai juga mbak harus pulang jam setengah 10."
" Ya udah mamah mau ke Toko sekarang sama Maya dan Radith, tolong sampaikan sama ayah."
"Siap mah, hati-hati ya!" pesan Ami.
"Alhamdulillah clear masalah Ayah sama mbak Ami, begitulah liku-liku mempunyai anak yang sedang beranjak remaja, ditambah lagi sifat suaminya yang agak kaku." Bathin Diana.
__ADS_1
********