POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 74 Akhirnya Menyerah


__ADS_3

Jumat pagi yang cerah, Ami sudah siap dengan seragam sekolahnya, begitupun Farhan sudah siap dengan seragam olah raganya. Sebentar lagi mang Ujang akan tiba untuk mengantar Diana ke kantor. Hari ini Farhan tidak bisa mengantar Diana karena ada acara olah raga bersama yang dimulai pukul 07.30 WIB. Sambil menunggu Diana bersiap-siap di kamar, Farhan menemani Ami menonton Film kartun.


"Mbak, berangkat sekolah dianter ayah saja ya ?"


"Iya yah." Jawab Ami.


"Nanti pulang sekolah pulang ke rumah nenek seperti biasa."


"Di jemput mang Ujang kan yah?"


"Iya, jangan nakal di rumah nenek ya!" pesan Farhan.


"Siap komandan." Jawab Ami menggoda ayahnya.


Farhan mencium pipi gembul putrinya dengan gemas.


"Sebentar ayah ke kamar dulu ya , mamah lama banget dandan nya !" ucap Farhan sambil berjalan ke kamarnya.


"Di, belum siap ?, sebentar lagi mang Ujang sampai loh !"


"Udah mas, tinggal pake lipstik."


Farhan memeluk Diana dari belakang yang sedang berdiri di depan meja rias.


"Wangi banget istri mas, jangan cantik-cantik dandannya!" Ujar Farhan posesif sambil mengecup leher Istrinya.


"Apaan sih mas, cuma pake bedak sama lipstik tipis aja !"


Tit..tit..tit terdengar suara klakson mobil.


"Mamah mang Ujang sudah datang." Teriak Ami dari ruang tengah.


"Iya sayang, suruh tunggu sebentar!"


Ada notifikasi pesan masuk di ponsel Diana.


"Mas lepas dong, udah peluk-peluknya !" ucap Diana sambil memasukan ponselnya ke dalam tas.


Farhan melepas pelukannya.


"Pesan dari siapa?, kenapa gak di baca dulu ?" tanya Farhan curiga.


Diana tidak mau ribut pagi-pagi begini. Kemudian kembali mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Sini biar mas yang buka pesannya !" pinta Farhan.


Wajah Farhan langsung memerah, rahangnya mengeras.


"Kenapa mas ?" tanya Diana.


"Baca sendiri!" perintah Farhan sambil memberikan ponsel kepada Diana.


"Selamat pagi bu Diana, sudah bersiap ke kantor?, barangkali mau pergi bareng ?, saya baru mau keluar rumah...(Ganjar)."


"Kamu janjian Di ?" tanya Farhan pelan namun penuh amarah.

__ADS_1


"Enggak mas, udah biarin aja gak akan aku balas !"


"Balas, katakan kamu dianter suami !!" perintah Farhan.


Diana membalas pesan itu sesuau perintah Farhan.


Mereka keluar kamar beriringan.


'Mbak Ami berangkat sekolah sama mang Ujang aja yah, ayah harus mengantar mamah ke kantor."


"Ok ayah, aku berangkat dulu ya." Ami menyalami ayah dan mamahnya sebelum berangkat.


Farhan dan Diana mengantar sampai ke mobil.


" Diana pergi sama saya mang, tolong anter Ami saja, hati-hati ya mang !"


"Baik mas, saya jalan duluan ya ." Pamit mang Ujang.


Sementara Diana berdiri terpaku di belakang suaminya.


" Mas apa-apaan sih?, mas kan harus ikut olah raga di kantor?"


"Gak apa-apa bisa ijin, bukan kegiatan urgent juga. Dari pada kamu pergi bareng dia, mendingan mas gak ikut olah raga, ayo berangkat !"


Marah, cemburu, kesal menjadi satu dalam hati Farhan.


"Br*****k kamu Ganjar, terangan-terangan menggoda istriku." Bathin Farhan sambil tetap fokus menyetir.


"Mas, jangan marah ya. Aku gak pernah ngasih nomor telepon sama dia !"


"Ya udah balik arah aja mas, gak nyaman kalau kerja suami dalam keadaan marah seperti ini !"


Farhan tidak menghiraukan permintaan istrinya. Dia tetap fokus menjalankan mobilnya sambil berusaha meredam gemuruh dalam hatinya.


"Mas..denger aku gak ?!"


Farhan menepikan mobilnya di jalanan yang agak sepi. Meraih jemari Diana sambil menatap manik mata Istrinya.


"Di, kalau mas ada kekurangan ngomong ya biar mas bisa perbaiki. Kalau kamu tidak bahagia hidup bersama mas katakan apa yang bisa membuat kamu bahagia.!"


Farhan merasa insecure, karena pada saat ini ada seorang laki-laki mapan yang sedang mencari perhatian istrinya.


"Ada apa sih mas, aneh banget ngomongnya. Aku bahagia bahkan sangat bahagia hidup bersama kamu."


"Mas gak mau kamu pergi dalam kehidupan mas hanya karena tidak bahagia !"


"Jangan ngaco ah, jangan berpikiran yang aneh-aneh."


Farhan kembali melajukan mobilnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, setengah jam lagi waktunya Diana masuk kantor.


"Kenapa sih Di, orang itu sebegitu perhatiannya sama kamu?" tanya Farhan.


Diana mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Farhan.


"Ya gak tahu...udah dong mas yang penting aku gak membalasnya. Lama - lama juga dia bosan sendiri !"

__ADS_1


"Janji ya jaga hati. Kamu harus tahu Di, bagaimana susahnya mas menjaga hati ini hanya untuk kamu, begitu banyaknya godaan diluar sana apalagi dengan profesi mas ini. Kamu tahu kenapa alasannya mas mati-matian selalu berusaha menjaga hati ini ?"


"Karena mas mencintaiku, menyayangi kami." Jawab Diana.


"Itu udah pasti, ada satu hal lagi... Mas tidak mau kelak anak-anak mas merasakan apa yang pernah mas rasakan dulu. Mempunyai orang tua berpisah itu sangat tidak enak Di !" Ucap Farhan dengan mata berkaca-kaca.


Diana meraih jemari tangan kiri Farhan, menggenggamnya erat mengalirkan kehangatan dan kekuatan. Kemudian mengecupnya lembut.


"Insya Alloh Di akan selalu menjaga hati, apapun yang terjadi Di akan berada di samping mas, tapi harus janji kurangi posesifnya dan percaya sama Di ya !"


"Terima kasih ya, mas akan selalu berusaha menjadi lebih baik. Tapi kalau posesif mah udah bawaan orok." Ucap Farhan balas mengecup lembut tangan kanan Diana.


Tiba di parkiran kantor pada pukul 07.50 WIB.


"Hati-hati mas, aku turun ya." Pamit Diana sambil mencium takjim tangan suaminya.


Diana sudah berada di ruangannya, Menyapa dua orang rekan kerjanya yang sudah datang duluan.


Ada paper bag kecil di atas meja kerjanya.


"Punya siapa ini?" tanya Diana dalam hati.


Karena berada di meja kerjanya, Diana pun mengintip isi paper bag itu. Tampak 3 batang coklat di dalamnya dan secuil kertas.


"Selamat pagi ...semoga coklat ini bisa membuat mood bu Diana menjadi lebih baik, bagus juga buat cemilan ibu hamil...selamat bekerja ..(G)."


Isi tulisan dalam secarik kertas kecil dari dalam paper bag.


"Tuhan apalagi ini....haruskan aku kembalikan coklat ini ?" gumannya dalam hati.


"Rasanya tidak sopan mengembalikkan pemberian orang. Apapun alasan orang tersebut memberinya" Lirih Diana.


"Apakah harus cerita juga sama mas Farhan ?" bathin Diana.


Akhirnya coklat itu dibagikan ke teman-teman di ruangan HRD.


Ting..ting..notifikasi pesan masuk di ponsel Diana.


"Semoga suka dengan coklatnya." Isi pesan yang masuk ke ponsel Diana.


"Terimakasih." Jawab Diana singkat.


Waktu menunjukkan pukul 17.15 WIB, sudah waktunya pulang.


Di salah satu ruangan lantai 3, seseorang yang sedang berdirii dekat jendela kaca yang langsung menghadap ke parkiran kantor, sedang mengawasi Diana yang berjalan ke arah parkiran menuju mobil warna putih.


"Cantik dan menarik, tapi sayangnya kamu istri orang !" gumannya dalam hati.


Dia adalah Ganjar, laki-laki berusia sekitar 50 tahunan yang sedang mengamati Diana dari ruangannya di lantai 3.


"Sepertinya aku harus menghentikan kegilaan ini. Dia begitu dicintai oleh suaminya."


Ganjar menarik nafas kasar dan membuangnya pelan. Dari ruangannya di lantai 3, dia melihat bagaimana suami Diana memperlakukan istrinya seperti ratu ketika hendak masuk ke dalam mobil.


*****

__ADS_1


__ADS_2