POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 71 Asisten Manager Accounting


__ADS_3

Usia kandungan Diana sudah 3 bulan, perutnya masih terlihat rata. Teman-teman kantornya tidak ada yang tahu Diana sedang hamil lagi. Kehamilan kedua ini Diana tidak mengalami mual hebat, lebih nyaman menjalaninya. Mungkin karena sudah pengalaman juga.


Hari ini Diana berangkat kerja menggunakan taksi online, karena Farhan sedang pendidikan kejuruan selama tiga hari di Bandung.


Hari minggu sore sebelum berangkat ke Bandung Farhan mengantarkan dulu anak dan istrinya untuk menginap di rumah mamah Diana. Mereka akan menginap selama Farhan dikjur di Bandung.


Pukul 07.45 WIB Diana sudah tiba di kantor, masih di bagian yang sama dengan perusahaan sebelumnya yaitu dibagian HRD. Di perusahaan ini posisi Diana sebagai Supervisor HRD.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Diana masih berjibaku dengan pekerjaannya. Ada data yang diminta oleh kantor pusat.


"Di, sudah sampai rumah mamah?" pesan masuk dari suaminya.


"Belum mas, kayaknya aku lembur sampai jam 19.00 WIB.


"Kenapa lembur ?, jangan capek-cepek Di !" suara Farhan khawatir di sebrang sana.


"Gak usah khawatir mas, aku dibantu sama Rani staff HRD, mas sudah di mess ?"


"Baru sampe di sini hujan gede banget."


"Disini mendung banget, udah banyak petir bersahutan, sebentar lagi kayaknya hujan turun.' sahut Diana.


"Pulang di jemput mang Ujang aja, jangan pake taksi online !" perintah Farhan khawatir.


"Iya mas, ya udah aku lanjut kerja dulu ya biar cepet selesai."


"Iya, hati-hati kalau pulang, nanti malam mas video call mau ngobrol sama Ami juga ."


"Ok mas, baik-baik di sana ya."


"Kamu juga baik-baik, jaga diri dan jaga kesehatan. Inget lagi hamil."


"Iya mr. Posesif...Love you!"


"Love you too Di."


Waktu menunjukkan pukul 19..00 WIB. Pekerjaan Diana sudah selesai, sementara Rani sudah dijemput oleh bapaknya, rumahnya tidak terlalu jauh dari kawasan industri ini.


Diana memesan taksi online melalui aplikasi, tidak ada satupun yang menerima. Mungkin karena hujan besar.


Di lobi kantor Diana di temani securiti dan 3 orang anak produksi yang sedang menunggu hujan reda.


"Aduh bagaimana ini hujan besar sekali, mana pabrik sudah mulai sepi, taksi online tidak ada yang mau menerima orderan." Bathin Diana.


Mang Ujang tidak bisa menjemput Diana sekarang karena hujan besar, ruangan paviliun yang ditempati mang Ujang bocor ada genteng yang bergeser tertiup angin. Tunggu hujan agak reda sedikit baru mang Ujang bisa menjemput karena sekarang lagi sibuk nembersihkan paviliun yang banjir.


"Pukul 19.30, hujan masih saja belum berhenti.


"Sudah sampai rumah Di ?" pesan masuk dari suaminya.


"Belum mas..hujan besar banget, taksi online gak ada yang menerima orderan"


Diana menceritakan kepada Farhan kenapa mang Ujang belum bisa jemput.


"Aduh Di mas jadi khawatir, kepikiran kamu di sana."


"Santai aja mas, masih banyak karyawan yang berteduh kok. Aku ini nunggu di lobi ditemenin securiti dan resepsionis, mudah-mudahan sebentar lagi hujan reda.


"Ya sudah hati-hati kabari mas kalau ada apa-apa!"


"Siap komandan !"


Tiba-tiba ada yang menyapa Diana ketika sedang membalas pesan darI Farhan.


"Diana belum pulang ?" tanya seseorang yang baru keluar dari lift.

__ADS_1


'Belum pak, nunggu di jemput."


"Di Jemput suami?."


"Bukan, sama supirnya mamahku ."


"Ya udah bareng sama saya saja, arah kota kan pulangnya?"


"Gak usah pak, saya nunggu di jemput saja." jawab Diana sungkan.


""Sudah sepi loh dikantor!"


Diana ragu, kalau nunggu mang Ujang ini udah malam, kantor juga mulai sepi.


Lelaki yang menawarkan tumpangan itu bernama Pak Ganjar, Assisten Manager accounting yang terkenal misterius karena statusnya yang tidak jelas antara bujangan, duda atau mempunyai istri.


"Ayo ikut saya aja, dijamin selamat sampai rumah. Kabari supirnya gak usah jemput."


Akhirnya Diana memilih untuk menerima tawaran Pak Ganjar.


Diana sudah mengabari mang Ujang untuk tidak menjemputnya.


Diana mengeluarkan payung kecil dari dalam tasnya, berjalan menuju mobil pa Anjar yang diparkir tidak jauh dari lobi kantor. Sedang Pak Ganjar dipayungi oleh securiti.


Mobil.Pak Ganjar tampak bersih dan wangi sekali, sesuai dengan penampilan pa Ganjar yang bersih dan perlente. Usianya sekitar 50 tahunan terlihat masih bugar. Wangi maskulin menguar dari tubuhnya begitu Diana duduk di depan di samping Pak Ganjar.


Perlahan mobil berjalan keluar parkiran perusahaan.


Di dalam perjalanan banyak hal yang mereka bicarakan. Pak Ganjar orang yang asyik diajak ngobrol.


"Suami kamu kemana kok gak jemput ?" tanya Pak Ganjar.


"Sedang dinas keluar kota pak." jawab Diana pelan.


"Iya pak, kok bapak tahu sih?" tanya Diana polos.


"Tahulah, semua tentang kamu saya tahu." Ucap Pak Ganjar sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih serem, genit banget nih bapak-bapak." Bathin Diana.


"Suami kamu polisi namanya Farhan, anak kamu 1 perempuan dan dimana kamu tinggal saja saya tahu."


Degggg...


Diana semakin merasa tak karuan.


"Saya tuh penggemar rahasia kamu, pertama melihat kamu saya pikir masih single!"


"Bapak sudah berapa lama bergabung diperusahaan ini ?" Diana mengalihkan pembicaraan karena sudah merasa tidak nyaman.


"Sudah hampir 20 tahun. 15 tahun di kantor pusat Jakarta dan


5 tahun di sini."


"Wah lama juga ya pak, sekarang tinggal dimana ?"


"Saya ngontrak rumah di cluster Melati, tiap hari saya lewat cluster tempat tinggal kamu."


"Ternyata benar beliau tahu dimana aku tinggal, cluster melati tidak jauh dari rumahku." Bathin Diana.


Hujan sudah mulai reda, sebentar lagi Diana akan sampai di depan gerbang perumahannya.


"Saya berhenti di depan gerbang saja pak, gak jauh kok masuknya tinggal jalan kaki."


"No Diana, saya harus pastikan kamu sampai dengan selamat di rumah kamu."

__ADS_1


Diana serba salah, tidak enak kalau memaksa turun di depan. Akhirnya tiba juga di depan rumahnya.


Sengaja Diana mampir dulu ke rumah karena ada yang harus di bawa, satu stel baju seragam kerja untuk besok ketinggalan di rumahnya, sementara Diana sedang menginap di rumah mamahnya.


Diana membuka pintu mobil Pak Ganjar, sebelum turun tidak lupa mengucapkan terimakasih.


"Sama- sama Diana, senang bisa ngobrol dengan kamu. Kapan-kapan aku bolehkan telepon kamu?"


"I-iya pak boleh, saya turun ya pak!"


Diana masuk ke rumah untuk mengambil baju. Kemudian mengeluarkan ponsel nya sekedar ingin mengeceknya.


Ya Tuhan mati, batereinya habis. Nanti saja di charge di rumah mamah


Hujan sudah reda sama sekali tidak menyisakan rintiknya.


 Diana mengambil kunci motor maticnya kemudian melajukan motornya ke rumah sang mamah.


"Neng, mas Farhan telepon mang berulang kali, katanya ponsel neng gak bisa dihubungi."Ucap mang Ujang sambil membukakan pintu pagar untuk Diana.


"Iya mang ponsel aku habis batreinya."


"Tadi mang bilang neng pulang bareng temannya. Neng di suruh menghubungi mas Farhan secepatnya."


"Iya mas, nanti aku langsung teelepon mas Farhan. Makasih ya mang!"


Di ruang tengah mamah masih nonton TV sambil tiduran di sofa. Diana menyalami mamahnya.


"Ami sudah tidur mah?" tanya Diana sambil mengisi daya ponselnya di dekat meja makan.


"Sudah tadi waktu hujan besar mamah ajak tiduran di kamar, eeh beneran tidur."


"Ya udah Di angkat ke kamar sekarang ya."


"Gak usah, biarin saja tidur di kamar mamah. Kasian nanti kebangun."


Diana masuk ke kamar mamahnya, mencium lembut kening puteri kesayangannya.


"Maafkan mamah ya nak pulangnya kemaleman." bisik Diana di telinga putrinya.


"Sudah sana mandi dulu, sholat Isya langsung istirahat. kalau mau makan minta bi Nur hangatkan sup ayam nya."


Tiba-tiba mamah sudah berada di dalam kamar.


"Udah makan tadi di kantor, Di ke kamar dulu ya."


"Tunggu Di....jangan sering-sering pulang nebeng teman kantor, apalagi yang ditebengi laki-laki. Mamah takut Farhan salah faham, dia kan cemburuan."


"Iya mah, tadi karena terpaksa saja, Selamat malam mah."


Diana sudah wangi dan segar. Kenudian menyalakan ponselnya yang sudah terisi daya setengahnya.


Ya Tuhan puluham miss call dan puluhan pesan dari suaminya.


"Bakalan perang dunia ini mah" guman Diana dalam hati.


"Maaf mas, ponsel aku tadi mati kehabisan batrei. Jam 20.20 aku sampai rumah mamah, langsung isi daya ponsel. Ini baru selesai mandi dan sholat isya." Pesan terkirim dan sudah dibaca.


Setelah 20 menit menunggu Farhan baru membalas pesan Diana.


"Jam 22.00 WIB mas baru keluar ruangan. Tadi jam 20.30 WIB tiba-tiba suruh kumpul di aula. Jangan tidur dulu nanti mas telepon. Kamu hutang penjelasan, udah membuat mas seperti orang gila di sini !"


jreng..jreng..jreng


*******

__ADS_1


__ADS_2