POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 84 Aku Cemburu Diana


__ADS_3

Hari Sabtu yang cerah.


Semua anggota keluarga sudah berada di meja makan. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB.


"Mau nasi goreng atau nasi putih yah ?" tanya Diana kepada suaminya yang datang terakhir ke meja makan.


"Ayah gak sarapan, minum kopi aja !" jawabnya datar.


"Kenapa gak sarapan yah?, nanti laper loh di kantor." Ucap Radith.


"Ayah masih kenyang, kalau di kantor laper kan tinggal beli makan!"


Diana merasa heran dengan sikap suaminya pagi ini.


"Apa karena semalem gak dapet jatah ya ?" bathin Diana.


"Kalau makan di kantorkan harus beli yah. Mah bawain bekel sarapan aja buat ayah !" ucap Maya.


"Gak usah, minum kopi aja ayah udah kenyang."


"Udah lanjutin sarapannya." Potong Diana.


"Mbak, kaka, Radith kalian Ujian akhir semester kapan?" tanya Farhan kepada anak-anaknya.


"Bulan depan yah, minggu pertama."Jawab Ami.


"Kalau aku sama adek bulan depan minggu ke 2." Jawab Maya.


"Berarti mbak Ami satu minggu lagi, kaka sama adek 2 minggu lagi ya ujiannya. Belajar yang bener jangan kebanyakan main ponsel !"


"Iya yah.." Jawab anak-anaknya kompak.


"Setelah hari terakhir Kaka dan adek ujian, sore nya kita berangkat ke Solo. 3 hari kita di sana, ayah ada urusan pabrik sama tante Fera dan tante Fanni!"


"Kenapa gak akhir bulan aja yah sesudah pembagian raport, jadi bisa sekalian liburankan di sana?" tanya Ami.


"Kalau akhir bulan berarti akhir tahunkan ?, ayah sibuk gak bisa kelur kota, lagian ini urusannya urgent. Kalau kalian gak mau ikut ya sudah ayah berangkat sendiri, nanti pas liburan kalian berangkat dianter supir!"


"Ya udah nanti akhir tahun aja kalau liburan kita ke Solonya, dianter supir biar lama disana. Kalau Ayah ada urusan bisa berangkat minggu ini sama mamah, kita sama bi Nur aja di rumah!" ucap Ami.


"N.anti ayah bicarakan dulu sama mamah !"


Dari tadi Diana hanya diam menyimak obrolan suami dan anak-anaknya.


"Mas Farhan gak pernah ngomong tentang rencana ke Solo." Guman Diana dalam hati.


"Ayah berangkat duluan ya !" Pamit Farhan sambil mengecup kening anaknya satu persatu.


Sementara Diana dilewati begitu saja.


Setelah Farhan berangkat Diana masuk ke kamar, Ami dan Radith kembali ke atas untuk bersiap-siap.


Tiba-tiba Maya sudah duduk di samping Diana yang sedang rebahan di tempat tidur dengan posisi membelakangi pintu.


"Mamah sama Ayah berantem ya?" tanya Maya si pendiam yang perhatian.


"Enggak, kok kaka ngomongnya gitu ?"


"Kok tadi di meja makan ayah sama mamah gak ngobrol ?"


"Kan ayah ngobrol sama kalian, mamah mendengarkan saja ." Jawab Diana.


"Tapi ayah juga gak cium kening mamah waktu mau berangkat ke kantor ?"


"Mungkin ayah lupa karena harus buru-buru ke kantor. Udah sana kaka mandi siap-siap pergi les !"


"Iya mah."

__ADS_1


Maya percis ayahnya. Sensitif, perasa tapi perhatian.


Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Diana bersiap untuk pergi ke toko.


"Mas, aku ke toko ya sekarang. Sekalian minta ijin nanti siang mau makan siang di luar sama Imel dan Lina."


Pesan langsung dibaca oleh mas Farhan tapi tidak dibalas.


Tiba di toko seperti biasa Diana mengecek stok barang, memeriksa pembukuan bersama Ina.


"Untuk pengiriman ke Kalimantan besok sudah di packing Na ?" tanya Diana kepada Ina.


"Sudah teh dari kemarin dibantu sama Desi juga packingnya."


Sekarang di tokonya Diana mempunyai 2 karyawati, Ina anaknya bi Nur yang dipercaya oleh Diana memegang semua urusan toko. Sementara Desi bertugas melayani pembeli dan membersihkan toko sebelum buka dan pada saat mau tutup.


Pukul 11.30 WIB, Diana mengecek ponselnya. Belum juga ada balasan pesan dari Farhan.


"Mah, pulang eskul aku mau liwetan di rumah Sisil ya ?" pesan masuk dari Ami.


"Ijin dulu sama ayah !" perintah Diana.


"Udah mah, kata ayah boleh jangan lupa sholat terus harus ijin sama mamah."


"Ya sudah hati-hati!"


"Fix mas Farhan marah. Pesan Ami aja langsung di balas, tapi pesan dari aku cuma dibaca aja. Tapi marah kenapa yaa?"tanya hati Diana bingung.


Ddrrttt...ddrrttt


Panggilan masuk dari Maya


"Assalamualaikum mah, kaka sama adek sudah di rumah. Ini mau makan siang lagi di siapin sama bi Nur."


"Iya Ka, minta di gorengin ayam aja sayur asemnya udah mamah buatin dari tadi pagi."


"Ya udah hati-hati di rumah, jangan lupa sholat duhur. Adek suruh sholat duhur di Musholla ya !" perintah Diana.


Diana sholat duhur dulu di toko sebelelum bertemu sama Imel dan Lina untuk makan siang di cafe Hutan Cemara.


Keluar dari toko Diana melihat ada mobil Farhan yang sedang parkir tepat di sebelah mobilnya.


"Masuk..!" perintah Farhan kepada Diana sambil menurunkan kaca mobil.


"Aku bawa mobil mas !" ucap Diana.


"Masuk..!" Perintah Farhan lagi dengan wajah dingin.


"Ini orang kesambet apa sih, apa gak cape dari pagi gak senyum, datar terus wajahnya " Bathin Diana sambil masuk ke dalam mobil suaminya.


"Mau makan siang dimana?"


"Di Cafe Hutan Cemara."


"Sama siapa saja ?"


"Imel, Lina..gak tahu siapa lagi, kata Lina sih ada beberpa anak team basket juga yang diundang. Ini kan Lina yang traktir karena lagi ulang tahun."


"Aku anter !"


"Dengan senang hati, terima kasih ya mas." Ucap Diana berusaha bersikap biasa tidak terpancing oleh Farhan yang sedang marah.


Mobil melaju ke arah Cafe.


"Kamu gak peka atau pura-pura gak peka sih Di ?, gak nanya gitu kenapa aku gak bales pesan, kenapa aku gak cium kening kamu, kenapa gak sarapan di rumah...ini kirim pesan cuma minta ijin mau makan siang!" racau Farhan dalam hati.


"Sudah sampai, pulang jam berapa?, mana teman-teman kamu nya ?"

__ADS_1


"Kayaknya udah pada di dalem."


"Ya udah sana masuk, aku tunggu di dalem mobil aja. Mau pulang juga tanggung !"


"Ya udah masuk aja, sekalian ikut makan bareng sama teman-teman Di!"


"Gitu kek dari tadi." bathin Farhan.


 Tapi karena gengsi Farhan pura-pura menolak.


"Gak enak sama teman-teman kamu, kasian nanti gak bebas ngobrolnya. Masuk aja duluan nanti mas nyusul duduk di meja lain, ini lagi chat Fikri anggota mas biar nyusul ke sini buat temenin makan.


"Beneran gak apa-apa mas?"


"Iya gak apa-apa udah masuk sana!"


"Ya udah aku masuk ya." pamit Diana.


Farhan juga cukup tahu diri, gak enak kalau harus gabung sama teman-temannya Diana.


Dia hanya ingin memastikan yang namanya Iwan tidak ikut makan siang.


Gara-gara membaca chat di grup basket semalem mood Farhan terjun bebas.


Di dalam chat itu teman-temannya Diana membahas tentang Diana dan Iwan di masa lalu. Pasangan serasilah, pasangan romantislah, sama-sama bintang lapangan dan banyak lagi obrolan yang membuat Farhan merasa kesal, marah dan cemburu.


Akhirnya Fikri datang dengan motor antiknya.


"Siang komandan."


"Temenin saya makan siang." Ucap Farhan sambil berjalan masuk ke dalam cafe.


Terlihat dari jauh Diana dan beberapa orang teman perempuannya yang lebih memilih tempat makan outdor di gazebo halaman samping cafe.


"Di sini Fik, !" perintah Farhan kepada anggotanya.


Sengaja dia memilih meja yang bisa melihat ke arah gazebo Diana dengan leluasa meskipun lumayan jauh jaraknya.


"Diana, kenapa sih aku selalu cemburu berlebihan seperti ini?.


Padahalkan itu chat hanya bercanda, bahkan kamupun belum membacanya. Hanya si Iwan aja yang menanggapi dengan icon ketawa atau love."


Bathin Farhan.


Makanan sudah terhidang di meja, Farhan dan Fikri sudah mulai makan. Begitupun Diana dan teman-temannya terlihat sedang makan sambil bersenda gurau.


1 jam sudah berada di cafe.


"Kamu lagi piket ya?"


"Iya ndan."


"Ya sudah kembali ke kantor sekarang."


"Siap komandan !"


Fikri tidak tahu kalau sang komandan sedang menunggu istrinya.


"Pulang jam berapa?" pesan dikirim kepada Diana.


"Wait, aku pamit dulu. Mas nunggu dimana?"


"Di dalem mobil."


Sebenarnya Farhan kasian sama Diana, gara-gara kekesalan dan rasa cemburunya, Diana tidak bisa lama-lama ngobrol sama teman-temannya.


Pukul 14.30 WIB mobil yang dikemudikan Farhan sudah keluar area parkir Cafe.

__ADS_1


******


__ADS_2