
Hari ini Diana ada panggilan wawancara di sebuah perusahaan tekstil di kotanya.
"Good Luck ya Di...maaf mas gak bisa nganter," pesan masuk dari Farhan.
"Makasih mas...iya gak apa-apa, aku naik taksi online saja."
"Kalau sudah selesai kabari, nanti mas usahakan jemput !."
"Siap mas..."
"Sudah siap Di..?, berangkat sekarang meskipun jadwal wawancaranya jam 09.00 WIB, lebih baik kamu menunggu disana daripada terlambat." Perintah mamah.
"Iya mah, ini lagi nunggu taksi online."
"Ok Di, yang tenang ya pada saat wawancara, semoga ini rejeki kamu...mamah berangkat duluan ya, mang Ujang sudah menunggu di depan."
"Iya hati-hati, doakan yang terbaik buat Di ya mah."
"Pasti sayang...doa mamah selalu untuk kamu dan Dimas !!."
Tepat pukul 08.00 WIB, Diana tiba di perusahaan tekstil yang di maksud, ada sekitar 5 orang calon pelamar yang akan diwawancara untuk posisi staf HRD.
Setelah semua pelamar melaksanakan psikotes, selanjutnya waktunya wawancara yang akan dilakukan oleh manager HRD.
Diana mendpaat giliran terakhir dipanggil keruangan manager HRD
"Alhamdulillah selesai juga ." Bathin Diana.
Waktu menunjukan pukul 12.30 WIB. Farhan sudah menunggu diparkiran, bergegas Diana menghampiri mobil Farhan.
"Gimana , lancar Di ?, " tanya Farhan setelah Diana duduk disampingnya.
"Begitulah mas, pengalaman pertama diwawancara, jadi masih gugup...tapi no bad lah...kalau diterima akan dihubungi lewat telepon dalam waktu 3 hari ke depan."
"Ya sudah di tunggu saja...makan siang dulu ya Di."
"Emang mas gak ke kantor lagi? "
"Ke kantor lagi nanti malam jam 19.00 WIB, ada giat patroli."
Meraka makan disalah satu warteg langganan, dengan menu-menu rumahan.
"Nengok rumah cluster bentar ya Di, sekalian bawa sepatu mas buat kerja nanti malam.!."
"Jangan lama-lama ya mas, tadi aku ijin ke mamah hanya makan siang saja."
"Ok Di...mamah sudah pulang dari sekolah ?."
"Belum, kalau hari senin mamah ngajar full sampei sore, karena lanjut di sekolah swasta."
Tiba di rumah Farhan, Diana tidak mau turun dari mobil.
"Turunlah sebentar, istirahat dulu !!." Ajak Farhan.
"Katanya cuma sebentar." Diana merajuk.
"Iya..ngadem dulu sebentarr saja." Bujuk Farhan.
Akhirnya Diana mengalah masuk ke rumah.
__ADS_1
"Kasian juga sih, mungkin mas Farhan lelah, nanti aku pulang pake gojek saja," pikir Diana.
"Di tolong buatin kopi yaa, sedikit saja, setengah cangkir...!."
Dianab beranjak ke dapur membuatkan kopi untuk Farhan, kemudian kembali ke depan menyimpannya di atas meja.
Farhan sedang tiduran di atas karpet depan TV sambil main game, setelah menyimpan kopi Diana rebahan di sofa.
"Makasih ya Di..."
Farhan pindah ke sofa sambil membawa kopi dari atas meja, menyeruputnya dengan nikmat kemudian menyalakan sebatang rokok.
"Dii... mas setuju saja kalau kamu bekerja, tapi ingat ya kalau nanti kita sudah menikah keluarga harus selalu menjadi prioritas !!."
"Iya pasti mas..."
"Jangan terlalu membuka diri kepada orang lain, apalagi kepada lawan jeni..kamu tahu kan mas pencemburu, kalau sudah cemburu kadang mas gak bisa mengontrol diri !!."
" Mas harus terus belajar menahan diri, mengendalikan emosi...karena kalau kita bekerja tidak mungkin 100% bisa menghindari berhubungan dengan sesama rekan kerja, baik laki-laki maupun perempuan, intinya kita harus saling percaya. Dari dulu aku gak pernah cemburu berlebihan, karena aku sadar pekerjaan mas adalah melayani masyarakat dan pasti akan selalu bersinggungan dengan banyak orang !!."
"Beda kasus nya Di...mas akui mas pencemburu, sedangkan kamu tidak!!."
"Bukan begitu mas, Dii juga punya rasa cemburu tapi berusaha memilah-milah mana yang harus dicemburui, mana yang tidak."
"Mas terus berusaha supaya bisa lebih baik..."
"Mas sudah banyak berubah dibanding 5 tahun lalu..sangat banyak perubahannya ,semua butuh proses ." hibur Diana.
Farhan kembali menyeruput kopinya, kemudian menghisap rokoknya dalam.
"Di...Sebentar lagi kita akan menikah, masih ada sedikit yang mengganjal di hati mas, boleh kan mas bertanya?!."
"Harus jujur ya, mas tidak akan marah kalau kamu jelasin sejujurnya."
"Apa sih mas...?."
"Dulu, kamu kan pernah dekat sama yang namanya Adrian, Iwan dan entah siapa lagi yang mungkin mas gak tahu, menurut kamu sih waktu kita putus padahal mas tidak pernah menganggap putus !!."
"Ya terus kenapa ?."
"Sejauh mana kedekatan kalian ?."
"Maksudnya gimana mas?." Tanya Diana bingung.
"Hhhmmmm...apa kalian melakukan sesuatu seperti yang kita lakukan Di ?."
"Mas, apa maksudnya?." Suara Diana meninggi.
"Kalian bukan anak kecil, dua manusia dewasa sering jalan berdua, pergi berdua dalam satu mobil...apa mungkin hanya ngobrol saja?, jujur saja mas hanya ingin tahu Di !!."
"Mas, serendah itu menilai aku !!."
"Bukan begitu Di..mas hanya ingin kamu jawab jujur biar gak ada ganjalan di hati mas ."
"Terus kalau aku jawab jujur tidak pernah berbuat macem-macem, kamu percaya mas?." Mata Diana mulai mengembun.
"Di..jangan marah, mas kan bertanya baik-baik, daripada menjadi ganjalan terus di hati mas !!."
"Iya mas, tapi pertanyaan mas menandakan ketidak percayaan mas sama aku...dan lebih sakitnya seperti merendahkan aku!!."
__ADS_1
Diana tidak bisa menahan lagi air matanya.
"Di, maafkan...tidak ada maksud merendahkan kamu, mas hanya tidak mau ada satu orangpun yang pernah menyentuh kamu !!."
Diana bangkit dari duduknya, mengambil tas selempangnya di atas meja dengan cepat, kemudian bergegas keluar dari rumah Farhan.
"Di..Diana..mau kemana?."
Diana tidak menghiraukan panggilan Farhan, terus berjalan dengan cepat ke arah jalan raya kemudian naik angkutan umum.
Sementara Farhan bergegas menggunakan baju dan menyusul Diana menggunakan motornya.
Farhan kehilangan jejak Diana
"Aarrghhhh.....brengsek !!." guman Farhan dalam hati sambil menepikan motornya diparkiran sebuah mini market.
Berulang kali mencoba menelepon Diana, tapi ponselnya tidak aktif.
Kemudian Farhan membawa motornya ke arah rumah Diana, tapi ternyata menurut mang Ujang Diana tidak ada di rumah.
"Kemana kamu Di, maafkan mas!!." Bathin Farhan.
Satu persatu sahabat-sahabat Diana sewaktu SMA di datangi oleh Farhan, tetapi Diana tidak ada di rumah mereka.
Dengan rasa menyesal, Farhan pulang ke rumah cluster. Farhan merebahkan tubuhnya di sofa.
"Apakah salah yang aku tanyakan kepada Diana..?, aku hanya ingin Diana jujur saja !!", Farhan bertanya dalam hatinya.
Sementara di tempat lain, Diana sedang berada di sebuah mall.
Setelah lelah berputar-putar di mall tersebut, sebelum pulang Diana memutuskan istirahat sebentar di sebuah cafe untuk sekedar membeli minuman dan cemilan.
Sambil duduk menikmati minuman dan camilan, Diana mengaktifkan ponselnya.Puluhan misscall dan pesan masuk dari Farhan.
Hanya dibaca dan tidak berniat untuk membalasnya. Diana sengaja mengunggah status di Whatsapp nya.
Farhan yang sejak tadi menunggu pesan-pesannya dibaca oleh Diana, langsung menelepon begitu melihat pesannya kepada Diana sudah centang biru, tapi sayang Diana tidak merespon panggilannya.
"Dimana kamu Di...?."
Farhan mengirim pesan di status Whatsapp Diana.
Ya, Diana mengunggah foto 2 gelas minuman di atas sebuah meja.
"Di..angkat telepon mas, maafkan mas..!!'. Kembali Farhan mengirim pesan.
Hatinya semakin terbakar cemburu melihat status whatsapp Diana.
"Arrghhhh..Diana...kamu selalu berhasil membuat hati mas kacau !!."
Farhan melempar ponselnya ke atas sofa, melemparkan semua bantal sofa ke segala arah.
"Kamu dengan siapa Di..?." Pesan dikirim lagi oleh Farhan.
Tidak ada satupun pesan dari Farhan yang dibalas oleh Diana.
Pukul 17.00 WIB, Diana sudah tiba dirumah.
*****
__ADS_1
"