
Diana sudah merasa mengantuk sekali, tapi harus ditahannya karena menunggu telepon dari suaminya.
Ddrrttt...ddrrtt...dddrrttt
Panggilan video masuk dari Farhan.
"Assalamualaikum mas..."
"Waalaikumsalam...jelaskan semuanya Di" jawab Farhan dengan suara pelan tapi penuh penekaanan.
Nampak wajah datar menahan marah di sebrang sana.
"Aku pulang nebeng Pak Ganjar Asmen accounting yang mengontrak rumah di daerah kota. Di kantor sudah mulai sepi sementara hujan besar dan mang Ujang masih sibuk membersihkan paviliun. Kalau nunggu hujan reda dan dijemput mang Ujang aku gak ada temen di kantor. Awalnya aku juga gak mau pada saat beliau menawari tumpangan, tapi hari semakin malam dan dikantor sudah sepi. Maaf aku gak minta ijin dulu sama mas, aku gak sadar juga kalau ternyata ponsel kehabisan daya setelah terakhir bertukar pesan dengan mas. Maafkan Di ya.!!"
"Dia sudah berkeluaga?, Dia tahu kamu sudah menikah dan sudah punya anak?" berondongan pertanyaan dari Farhan.
"Dia sudah berkeluarga..ya tahu dong mas. Seantero kantor juga semua tahu aku udah nikah dan udah punya anak. Bahkan mereka tahu suamiku polisi ganteng berwajah dingin."
Farhan merasa tidak nyaman mendengar nama Pa Ganjar. Feelingnya sebagai seorang in**l bekerja dengan baik. Tidak bisa dibayangkan kalau Farhan tahu pak Ganjar mengatakan sebagai pengagum rahasia istrinya dan memuji-muji Diana secara terang-terangan.
"Jangan becanda Di, mas serius. Kamu tahu mas paling gak suka alasan habis batrei. Itu sesuatu yang bisa diantisipasi sebelumnya."
"Iya maaf mas !" ujar Diana lagi.
"Ngobrol apa saja selama diperjalanan hampir setengah jam ?. Gak ada yang baperkan berduaan di dalam mobil ditengah hujan deras ??"
"Ya ngobrol masalah kerjaan aja. Beliau juga nanya mas dines dibagian apa, nanya anak kita usia berapa..gitu-gitu aja."
"Gak ada yang kamu sembunyikan Di ?" tanya Farhan dengan suara parau.
"Mas gak percaya sama aku ?, seberapa lama mas mengenal aku ?."
"Mas percaya sama kamu. Tapi mas gak percaya sama laki-laki itu. Justru karena mas sangat mengenal kamu Diana Prameswari wanita cantik, smart, ,menarik. Siapapun akan betah berlama-lama ngobrol dengan kamu !"
"Itu hanya penilaian mas, karena mas sayang sama Di, karena mas suami Di."
"No Di, Andre, Rangga menilai kami juga seperti itu. Kamu jangan naif. Kamu juga menyadari pesona yang ada dalam diri kamu. *** appeal kamu tuh tinggi.!!" suara Farhan sedikit meninggi.
"Maafkan aku mas. Besok-besok apapun yang terjadi gak akan pernah nebeng sama orang lain !"
Diana mulai terisak menahan tangisnya. Gak tahu harus bagaimna menghadapi suaminya. Di jawab salah, gak dijawab apalagi tambah salah.
Farhan mulai tidak tega melihat Diana menangis.
"Kamu tahu mas sayang banget sama kamu. Mas bisa gila kalau sampai kehilangan kamu. Mas posesif semua ada alasannya !. Mas percaya sama kamu, tapi gak percaya laki-laki itu. Feeling mas jelek tentang dia. Tapi sudahlah salah mas juga gak berada di dekat kamu saat kamu butuh!" sesal Farhan.
"Di sayang sama mas, jangan marah-marah terus. Trust me !!".
__ADS_1
"Ya udah maafkan mas juga ya, sudah makan malam? minum susu dan vitaminnya ?"
"sudah mas..hati-hati disana ya. Cepat pulang. We miss you". Ucap Diana.
"Miss all of you too." Balas Farhan.
"Di, jangan pake baju tidur kayak gitu kalau gak ada mas.!"
"Iya maaf mas salah bawa baju tidur. Besok mau pinjam daster mamah saja."
"Ada yang gak bisa diajak kompromi nih kalau udah bahas baju tidur." Goda Farhan
"Sabar mas, 2 hari mah sebentar dibanding masa nifas 40 hari...wkwkwkwwk."
"Diana awas ya, malah ngeledek !"
"Benarkan, dulu pas sudah melahirkan Ami kuat kok 40 hari, masa 2 hari aja gak kuat.!"
"Kamu gak tahu aja bagaimana tersiksanya melewati masa-masa 40 hari itu." Guman Farhan dalam hatinya.
"Iya-iyaa sabar, udah ya mas tutup vidcall nya."
"Ok mas, happy nice dream. Jangan bersolo karir yaa...hahhahaa."
Tuttt...tutt..tutt
"Awas ya Di kalau mas pulang !" rutuk Farhan dalam hatinya.
"Kok aku gak lihat Ami di tempat tidur Diana ya?, saking emosimya sampai gak sempat nanyain putri kesayanganku. Kayaknya Ami tidur dikamar mamah. Untung tadi selesai sholat isya sempat video call sama Ami." Bathin Farhan.
***
3 hari sudah Farhan di Bandung.
Hari ini hari terakhir Farhan pendidikan kejuruan.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB, Mobil yang dikemudikan Farhan sudah memasuki gerbang tol menuju kota tempatnya tinggal.
Sebelumnya Farhan sudah memberi kabar kepada mang Ujang untuk tidak menjemput Diana. Dia akan memberi kejutan kepada istrinya.
Setahu Diana hari ini Farhan akan pulang malam dari Bandung.
Pukul 16.50 WIB Farhan sudah tiba di kantor istrinya. Dia sengaja parkir mobil di luar kantor. Turun dari mobil langsung menuju pos securiti
"Sore pak, mohon maaf bisa pinjam korek api?" pinta Farhan kepada salah seorang securiti yang sedang berdiri di depan pos.
Farhan berbincang santai dengan securiti tersebut sambil menyesap rokoknya.
__ADS_1
"Akhirnya dapat juga informasi tentang pak Ganjar. Now, I Know Who Is He !!" guman Farhan dalam hati.
Tentu saja sangat mudah bagi Farhan mencari informasi apapun. Hal seperti itu pekerjaannya sehari-hari.
Dari kejauhan terlihat Diana keluar dari lobi kantor menuju parkiran. Dibelakangnya nampak seorang laki-laki berjalan cepat berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Diana sambil memanggil nama Diana.
Mereka terlihat ngobrol sebentar diakhiri dengan Diana yang menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan kemudian laki-laki itu kembali masuk ke dalam kantor.
Farhan mengawasi mereka dari pinggir pos securiti.
"Mana ya mang Ujang, biasanya sudah ada diparkiran jam segini." Lirih Diana sambil mengedarkan matanya ke seluruh penjuru tempat parkir.
Diana mengeluarkan ponsel dari tasnya hendak menelepon mang Ujang.
Tiba-tiba ada tangan yang menyentuh bahunya dari belakang. Reflek Diana membalikkan badannya.
"Mas...?, kok ada di sini?" tanya Diana kaget.
"Iya, tadi acara terakhir selesai sampai jam 14.00. Mas dari Bandung langsung kesini.
"Owh gitu, pantesan mang Ujang belum sampe sini, pasti udah dikabari sama mas ya?!"
"Iya Di..ayo pulang, mas udah kangen sama Ami."
"Sama mamahnya gak kangen?" tanya Diana menggoda.
"Kangen banget!" jawab Farhan singkat.
Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kita ke rumah dulu ya Di, nanti udah isya kita jemput Ami. Mas mau mandi dulu lengket banget badan. Kabari mamah bilang kita jemput Ami setelah Isya."
Sebenarnya Farhan tidak sabar ingin bertanya tentang laki-laki yang tadi mengikuti Diana. Tapi berusaha di tahan menunggu waktu yang tepat.
"Sepertinya itu tadi yang namanya pa Ganjar." Bathin Farhan sambil mencengkram kuat stir mobil. Rahangnya mengeras dengan wajah yang merah.
"Ada apa mas?, kok kayak yang lagi kesel gitu." Tanya Diana menyadari perubahan sikap Farhan.
"Gak apa-apa Di, hanya agak capek saja, makanya kalau mandi seger kayaknya.
Sebenarnya kesabaran Farhan setipis kertas, ditambah informasi yang di dapat dari securiti tadi. Demi menjaga terjadinya keributan Farhan berusaha sabar menunggu waktu yang tepat.
"Mas maaf, menurut Di sih mendingan langsung jemput Ami saja, biar sekalian capek dan nanti malam mas bisa istirahat gak usah keluar rumah lagi."
"Iya benar juga sih Di." jawab Farhan.
Tepat pukul 18.00 WIB mereka sudah sampai di rumah setelah sebelumnya menjemput dulu Ami.
__ADS_1
****