
Hari Rabu pagi yang cerah.....
Mentari sudah menampakkan sinarnya, menerobos menembus jendela kamar utama di rumah ini.
"Mas bangun, udah jam 7 loh adek juga udah berangkat sekolah ." Ucap Diana sambil menepuk lembut tangan suaminya.
Farhan bergerak merubah posisi tubuhnya dengan mata yang tetap terpejam.
"Mas ihh, ke kantor gak? biasanya juga pagi-pagi joging ini malah tidur lagi!" cerocos Diana seperti biasa.
"Mas capek Di, semalem ada yang ngajak lembur kerja keras sampai jam 2 dini hari. Udah selesai lembur ada yang minta dipeluk terus gak mau lepas." Racau Farhan sambil matanya tetap terpejam.
"Mas ih, kebiasaan suka memutar balikan fakta !!"
Farhan tertawa lebar sambil menarik tangan Diana yang sedang berdiri di pinggir tempat tidur sehingga tubuh Diana jatuh tepat di atas Farhan.
"Mas lepas, mandi sana !!"
"Ya Tuhan Di, mas udah mandi tadi sebelum sholat subuh, bahkan sudah minum kopi sepulang dari mushola !" ujar Farhan sambil membiarkan Diana menggeser posisi tubuhnya ke samping.
Diana menyandarkan kepala di dada bidang suaminya.
Di, lusa hari Jumat kita ke Solo, mau gak ?" tanya Farhan sambil memainkan rambut istrinya.
"Ada apa mas kok mendadak banget ?"
"Teman mas waktu SMA namanya Hendro menikahkan anaknya hari Sabtu. Dulu kita lumayan dekat, jadi gak enak kalau mas gak menghadiri undangan darinya. Sekalian cek usaha di Solo, harusnya kan bulan Juli kemarin mas sama Fera dan Fanni audit keuangan usaha konveksi. Karena kita sibuk persiapan Ami dan Maya jadi gak bisa ke Solo bulan kemarin. Kebetulan di kantor juga lagi gak sibuk.".
"Tapi kan minggu ini jadwalnya menjenguk Maya, Ami juga masih Ospek jurusan minggu ini, jadi gak bisa ikut ke Solo."
"Kita pergi bertiga saja, hari Jumat bada sholat Jumat. Nengok dulu Maya ke Pondok, sekitar jam 5 sore baru kita jalan ke Solo. Ami Ospek jurusannya di luar kota Bandung kan ?"
"Ya udah kita berangkat dari sini tepat bada sholat Jumat, biar lumayan lama bertemu Maya di pondok. Iya mbak Ami baru selesai Ospek jurusan hari minggu malam."
Alhamdulillah usaha konveksi pakaian batik di Solo yang diwariskan oleh bapaknya Farhan masih berjalan dengan baik. Ada 100 orang karyawan yang bekerja di sana termasuk Fera dan suaminya juga Fanni. Sedangkan untuk operasional usaha itu ada seorang karyawan kepercayaan bapak sejak dulu namanya mas Handoko. Lelaki berusia 50 tahunan itu sudah bekerja dengan bapak sejak masih bujangan. Dia yang membantu dan mendampingi bapak berjuang membesarkan usaha konveksi ini. Orangnya baik, jujur dan bertanggung jawab. Bisa dikatakan dia adalah manager di pabrik batik kecil usaha keluarga Farhan. Fera bertanggung jawab di bidang keuangan, suami Fera bagian marketing yang tentu saja di support oleh Handoko. sementara Fanni membantu administrasi. Farhan pulang ke Solo 2 kali dalam setahun untuk menerima laporan dari Handoko tentang usaha ini, sekalian sama-sama melakukan audit keuangan. Jadi Fera dan Fanni setiap bulannya selain mendapat gaji karena posisinya sebagai karyawan juga mendapatkan pembagian hasil dari keuntungan usaha sebagai pemilik.
Tepat pukul 23.30 WIB Farhan tiba di Solo. Mereka langsung istirahat karena lelah sudah melakukan perjalanan selama lebih kurang 6,5 jam.
Pagi-pagi Fera sudah menyiapkan sarapan lengkap makanan khas Solo.
"Hhmm yummy...makasih ya mbak Fera sudah menyiapkan sarapan kumplit banget." Ucap Diana sambil menyendok nasi untuk suaminya.
"Sama-sama mbak Di." Jawab Fera.
Walaupun usia Diana dua tahun lebih muda darinya, Fera tetap memanggil Diana dengan sebutan mbak, karena dia adalah istri kakaknya.
"Adek mana Di ?" tanya Farhan.
__ADS_1
"Makan di gazebo halaman samping sama anak-anakku mas." Jawab Fera.
"Fanni biasa dateng jam berapa ke sini ?"tanya Diana.
"Biasanya sih jam 8 an dianter sama suaminya. Nanti suami Fanni langsung ke ruko usaha percetakannya." Jawab Fera.
" Kita berangkat undangan jam 9 ya Di. Acara resepsinya sih jam 11, tapi mas janjian sama teman-teman lainnya untuk bertemu di sana sekitar jam 10 an."
"Iya mas."
Farhan dan Diana sudah siap untuk pergi ke undangan tepat pukul 09.00 WIB.
Mereka hanya pergi berdua ke undangan karena Radith lebih memilih bermain dengan saudara-saudara sepupunya.
Farhan dan Diana sudah dalam perjalanan menuju undangan.
"Jauh gak mas tempatnya ?" tanya Diana.
"kira-kira setengah jam perjalanan kita sampai." Jawab Farhan.
Diana mencuri pandang kepada suaminya yang sedang fokus menyetir.
"Mas Farhan hari ini ganteng banget dengan kemeja batik warna soft, rambut pendek yang baru dicukur 2 hari yang lalu. Wangi maskulin yang khas menguar dari tubuhnya. Entah kenapa wajahnya terlihat ceria sekali hari ini. Apa karena mau bertemu dengan teman-teman SMA nya ?" Bathin Diana.
"Hei, kenapa menatap mas seperti itu?, ganteng ya?, awas loh nanti semakin jatuh cinta!" goda Farhan nakal.
"Hhmm geer banget, agak aneh aja melihat wajah mas hari ini!" ujar Diana.
"Wajah mas ceria banget, dari pagi kayaknya semangat sekali mau pergi ke undangan. Mau ketemu siapa sih mas ?"
"Kamu mah ada-ada saja, biasanya juga mas seperti ini."
"Beda mas, wajah ceria mata berbinar kayaknya bahagia banget. Seperti sedang jatuh cinta saja, biasanya selalu pasang muka datar dan dingin!"
"Iya mas jatuh cinta berulang kali sama kamu....Udah ah jangan merusak suasana. Mas bahagia bisa pulang kampung sama istri tercinta, ketemu sama adek-adek dan ponakan. Ditambah hari ini kamu tampil cantik sekali, gak sabar buat memperkenalkan kamu sama teman-teman mas !"
"Gombal ah, ini kali ketiga loh aku ikut acara bertemu teman-teman SMA kamu, tapi kayaknya baru kali ini melihat wajah kamu yang begitu berbinar bahagia."
"Udah ah Di jangan bahas yang engak-enggak!"
"Boleh pinjam ponselnya mas?" pinta Diana.
"Buat apa?"
"Mau kirim pesan ke Ami. Ponsel aku gak ada quota lupa belum diisi."
Farhan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menyerahkan dengan ragu kepada Diana.
__ADS_1
Diana membuka aplikasi warna hijau di ponsel suaminya. Mencari grup teman SMA Farhan.
Di bacanya satu persatu obrolan di grup itu.
"Udah belum Di, sini ponselnya takutnya ada telepon masuk dari kantor." Pinta Farhan sambil matanya tetap fokus ke depan.
"Kenapa sih mas gelisah amat ponsel di pegang aku?" tanya Diana curiga.
"Gak gitu sayang." Ucap Farhan lembut sambil tetap fokus menyetir.
Ada obrolan yang menarik perhatian Diana di grup whatsapp teman SMA Farhan.
Hendro :
"Farhan ,kamu harus dateng ya di acara pernikahan anakku. Informasi darI Dewi, Mayang mau datang juga. Sekarang dia sudah tinggal di Solo lagi karena suaminya sudah meninggal 2 tahun lalu karena sakit."
Fajar :
"Iya bro, setelah acara undangan kita mau lanjut kumpul-kumpul di rumah makan lesehan mbok Yum, yang deket sekolah kita dulu. Sekarang rumah makannya tambah besar aja."
Dewi :
"Iya pak polisi, aku sudah telepon Mayang, katanya mau hadir. Dia belum berkenan gabung di grup. Kamu pasti penasaran dong mau lihat Mayang sekarang, yang pasti masih cantik."
Hendro :
"Dulu dari kelas 1 kamu kejar-kejar Mayang, giliran jadian pas kelas 3 kamu menduakan dia dengan Utami adek kelas kita dulu. Dasar play boy, mudah-mudahan sekarang udah insyaf gak play boy lagi. Secara istri kamu sekarang bening banget !"
"Owh rupanya Mayang yang membuat mas begitu berbinar bahagia hari ini !" Ucap Diana datar sambil menyerahkan ponsel kepada suaminya.
"Enggak Di, itu teman-teman mas bercanda aja di grup !"
Setelah perjalanan selama 30 menit, mobil mereka sudah tiba di parkiran gedung tempat pernikahan.
"Ayo turun Di."
"Mas aja, aku nunggu di mobil. Nanti kalau mau lanjut kumpul-kumpul aku pulang pake taksi online aja. Tahu gini tadi gak usah ikut, di rumah saja ngobrol sama mbak Fera dan fanni !"
"Di, tolong jangan merajuk. Kalau mas mau macem-macem gak mungkin mengajak kamu. Abaikan saja obrolan teman-teman mas, mereka cuma bercanda. Kalau benar nanti Mayang hadir mas pasti kenalin sama kamu !"
"Mas juga gak suka kan waktu baca obrolan teman-temanku di grup whatsapp team basket ?"
"Iya-iya maafkan mas ya!"
"Minta maaf untuk apa ?"
Diana keukeuh tidak mau turun dari mobil. Farhan keluar dari mobil menyesap sebatang rokok sambil bersandar di depan mobilnya.
__ADS_1
"Tidak bisa dipungkiri ada getar aneh dihati ini pada saat teman-teman membicarakan tentang sosok Mayang di grup whatsapp. Mayang cinta pertamaku yang kandas karena aku menduakannya dengan Utami. Entah kenapa dulu itu bisa terjadi, padahal aku menyukai Mayang sejak kelas 1 SMA. Utami yang waktu itu sering ke rumah menemui Fera, menggodaku untuk mendekatinya. Ah semua itu hanya cinta monyet" Bathin Farhan sambil menghembuskan asap rokok ke udara.
******