POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 92 Mayang


__ADS_3

Mobil berwarna putih baru saja parkir tepat di samping mobil Farhan. Kemudian keluar seorang pria berperawakan agak gemuk, disusul oleh wanita menggunakan gamis berwarna navy.


"Farhan, apa kabar ?" tanya pria yang baru keluar dari mobil putih.


"Fajar...hai bro alhamdulillah kabar baik."


"Mah kenalin ini Farhan teman SMA papah, dia perwira polisi dinas di Jawa Barat. Dia juga pengusaha konveksi pakaian batik."


Farhan berjabat tangan dengan istrinya Fajar.


Sementara Diana mengamati dari dalam mobil.


"Kamu datang sendiri ?" tanya Fajar.


"Enggak, sama istri. Sebentar ya aku panggillkan dulu."


Farhan berjalan menuju


mobilnya kemudian masuk ke dalam mobil


"Di, please turun dong, kalau mau marah nanti terusin di rumah. Gak enak sama teman-teman mas. Diana yang mas kenal tidak seperti ini. Please maafkan kalau mas salah, sekarang turun dulu ya !" pinta Farhan memohon kepada Diana.


"Baiklah aku turun, tapi aku gak mau ikut kumpul-kumpul. Hanya ke undangan saja, karena mas gak ngomong dari awal mau ada acara reuni kecil !"


"Oke-oke...senyum dong !"


Akhirnya Diana turun berjalan bergandengan tangan menuju Fajar dan istrinya. Setelah saling berjabat tangan, mereka berjalan ke sebuah gazebo yang berada di samping gedung. Menurut Fajar mereka semua akan kumpul di sini baru kemudian masuk bersama-sama ke dalam gedung.


Tepat pukul 10.45 WIB teman-teman Farhan sudah hampir sekitar 20 orang yang datang. Ada yang datang sendiri, ada juga yang datang bersama pasangan masing-masing.


Belum terlihat sosok Mayang yang di sebut-sebut dalam obrolan di grup whatsapp.


Farhan bersama teman- teman dan pasangannya masing-masing mulai berjalan bergerak ke dalam gedung.


Setelah setengah jam di dalam gedung, MC memanggil semua teman-teman SMA bapak Hendro naik ke pelaminan untuk melakukan foto bersama.


"Mas tinggal sebentar ya Di."


Setelah semua berada di pelaminan, ada 2 sosok wanita yang mengundang perhatian Diana. Dia berjalan mendekat ke arah Farhan.


Dua orang wanita yang satu berambut sebahu berbadan mungil dengan wajah oriental, yang satunya lagi menggunakan gamis warna peach agak gemuk.


"Pasti salah satu dari mereka ada yang bernama Mayang." Bathin Diana.


Diana melihat dua wanita tersebut berjabat tangan dengan Farhan se belum sesi foto bersama dimulai.


"Mbak mau ikut acara di rumah makan mbok Yum?" tanya istrinya Fajar yang akhirnya aku tahu usianya 2 tahun di bawah aku.


"Belum tahu nih, saya ninggalin anak sama tantenya di rumah. Sepertinya sih mau pulang aja !" jawab Diana.


"Ikut dong mbak, saya gak ada temen nanti di sana." Pinta nya.


"Kan ada mas Fajar."


"Ah nanti dia asyik ngobrol sama teman-temannya ."


Sesi Foto bersama selesai, Farhan dan Fajar berjalan ke arah Diana.


"Ayo mah kita lanjut ke rumah makan mbok Yum." Ajak Fajar kepada istrinya.

__ADS_1


Farhan pun mengajak Diana keluar gedung menuju ke mobilnya.


"Rumah makan mbok Yum satu arah jalan pulang ke rumah kan mas?" tanya Diana setelah di dalam mobil.


"Iya, kita mampir sebentar aja ya Di ke sana !"


"Mas aja sendiri, aku pulang pake taksi online."


"Diana, please sebentar saja, gak enak kalau mas gak ikut kumpul. Nanti mereka pikir mas sombong lebih parah lagi kalau mereka mengira mas dilarang kamu !"


"Aku gak apa-apa mas, silahkan aja kalau mas mau kumpul-kumpul. Aku ngerti kok, sayang loh udah jauh-jauh ke Solo cuma sebentar bertemu teman-teman mas !"


"Tapi mas mau kamu ikut, biar gak salah faham. Nanti mas kenalin sama Dewi dan Mayang '


"Gak perlu, udah lihat orangnya tadi yang berfoto di samping mas kan ?. Yang rambutnya sebahu, cantik ya mas." Tebak Diana asal.


"Iya, tapi kan mas belum kenalin kamu kepada mereka."


"Buat apa dikenalin?, gak penting juga. Udah have fun aja mas, I'm fine !"


"Ya udah, berarti kita pulang, mas pamit di grup saja. Nanti mas ijin harus pulang cepat karena mendadak ada urusan kantor, pasti mereka maklum dengan profesi mas." Ucap Farhan datar.


Sebenarnya Diana kasihan melihat Farhan. Tapi Diana kesal karena dari awal Farhan gak ngomong mau lanjut acara kumpul-kumpul. Diana juga kesal dengan ekspresi wajah suaminya yang terlihat berbinar bahagia.


Mobil berjalan ke luar dari parkiran gedung.


Farhan fokus dibalik kemudi dengan wajah datar. Rona bahagia diwajahnya yang tadi pagi begitu jelas terlihat, sekarang tidak nampak lagi.


"Mas, anterin aja dulu aku pulang, nanti mas nyusul ke rumah makan mbok Yum. Beneran aku gak apa-apa." Ucap Diana sambil mengelus lembut paha suaminya.


"Gak Di, kita pulang aja. Mas gak mau ada masalah dengan kamu. Bertemu teman-teman di gedung saja sudah cukup." Lirih Farhan sambil mengecup punggung tangan Diana.


"Mau kamu apa sih Di ?, mas sudah berusaha menghargai kamu, mas sudah membuat keputusan untuk kebaikan kita. Tujuan utama mas ke Solo kan hanya untuk undangan dan cek koveksi !" ucap Farhan dengan suara agak tinggi.


"Fine mas, aku ikut ke sana!"


Farhan menarik nafas mendengar keputusan istrinya.


"Gak usah, kita pulang saja ?"


"Ok, kalau kita gak ke sana, sore ini aku sama Radith pulang pakai bis. Turunkan aku di sini sekarang !" Ucap Diana penuh penekanan.


"Apa-apaan sih Di, kenapa kita jadi berantem. Mas gak masalah gak ikut kumpul-kumpul, kita bisa ajak Radith jalan-jalan nanti sore !" Ucap Farhan lembut menetralisir keadaan.


"Aku mau turun di sini, tolong berhenti mas !" perintah Diana.


Farhan menepikan mobilnya dengan keadaan pintu yang tetap terkunci.


"Diana, ada apa dengan kamu?, gak biasanya bersikap keras kepala seperti ini."


"Aku mau turun mas !"


Farhan memeluk istrinya.


"Maafkan kalau mas salah, mas gak bicara dari awal mau ada acara reuni kecil. Mas gak jujur tentang sosok Mayang yang pernah ada di masa lalu mas. Percayalah bukan maksud mas berbohong. Mas pikir reuni kecil bagian dari pertemuan sesudah acara undangan jadi gak perlu bicarapun pasti mas akan membawa kamu. Sedangkan Mayang hanya masa lalu cinta monyet masa SMA."


"Ya sudah kita ke sana sekarang, atau turunkan aku di sini !"


Farhan akhirnya mengalah.

__ADS_1


"Ok, kita ke sana sekarang. Senyum dong !"


Mereka tiba di rumah makan mbok Yum pukul 13.00 WIB, sebelum masuk ke dalam Farhan dan Diana melaksanakan dulu sholat duhur di Musholla kecil yang berada di samping rumah makan.


"Sory banget telat, tadi mampir dulu beli pesanan anak-anak."


Farhan dan Diana kompak menangkupkan kedua tangan di depan dada sebagai tanda permohonan maaf kepada teman-temannya.


Keduanya bergabung duduk di meja Fajar dan istrinya yang kebetulan masih kosong.


Sementara di sebrang sana ada sepasang mata yang menatap Farhan dan Diana dengan sorot mata iri.


"Woii, sampe gak berkedip gitu. Lihat hantu ya ?" tanya Dewi kepada Mayang.


"Istrinya Farhan cantik banget, Aku pikir Farhan datang sendiri." Ucap Mayang berbisik kepada Dewi.


"Tadi kita datang ke gedung terlambat, jadi gak bertemu dengan istrinya Farhan." jawab Dewi.


"Kok dia tambah ganteng dan matang ya wi?" guman Mayang pelan.


"Woii inget udah punya bini!"


Diana melihat sekilas Mayang yang sedang menatap suaminya dari sebrang sana. Tatapan penuh damba.


"Kita ke sana yuk wi, kenalan sama istrinya Farhan." Ajak mayang kepada Dewi.


"Yakin?"


"Yakin lah, kenapa enggak ?" Jawab Mayang.


Wanita berwajah oriental itu berdiri dan berjalan anggun menuju meja Farhan, Dewi mengekor dari belakang.


"Hai Farhan, boleh gabung di sini kan?" tanya Mayang sambil menggeser kursi dari meja sebelah.


"Owh silahkan !" ucap Farhan.


Dewi melakukan hal yang sama dengan Mayang menggeser kursi dari meja sebelah.


"Kenalkan ini Diana istri saya. Di, ini Mayang dan Dewi."


Mereka saling berjabat tangan diikuti oleh istrinya Fajar.


"Pak polisi satu ini tambah gagah aja, gantengnya gak berubah dari jaman SMA." Puji Mayang sambil menatap Farhan.


"Polisi sekaligus pengusaha konveksi udah jelas gagah dan mapan." Timpal Dewi.


"Maaf ya mbak Diana, becanda." Ucap Mayang kemudian.


"Gak apa-apa mbak, santai saja."


Kopi dan juice mangga pesanan Farhan dan Diana akhirnya datang.


"Farhan tuh dari dulu suka banget kopi hitam mbak." Ucap Mayang lagi.


"Owh gitu ya mbak." jawab Diana.


Farhan merasa jengah dengan sikap Mayang yang berkesan mengintimidasi Diana. Untung saja Diana adalah wanita yang smart yang tidak mudah terpancing oleh lawan bicaranya. Tapi Farhan menangkap ketidaknyamanan dari gestur tubuh Diana.


*******

__ADS_1


__ADS_2