POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 69 Maafkan Aku....


__ADS_3

Namira tengah bersiap pergi sekolah. Usianya sekarang 4 tahun 5 bulan, sudah sekolah di TK kelas A.


Setiap pagi berangkat ke sekolah di antar ayah atau mamahnya, kadang kala diantar oleh keduanya.


Pukul 09.30 WIB Mang Ujang atau bi Nur akan menjemput Namira ke sekolah kemudian dibawa pulang ke rumah mamahnya Diana.


Beberapa bulan sesudah Ami sekolah, Diana dinyatakan hamil lagi.


Tentu saja Farhan dan Diana menyambut bahagia kehamilan kedua ini.


"Mudah-mudahan adeknya Ami ini laki-laki ya mas." Ucap Diana ketika pulang kontrol dari dokter kandungan.


"Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting ibu dan janin nya sehat semua." Jawab Farhan sambil fokus menyetir.


Pukul 20.00 WIB mereka sudah tiba di rumah. Malam ini Ami menginap di rumah neneknya, besok siang Diana akan menyusul karena besok hari sabtu Diana libur kerja.


"Aku mandi dulu ya mas, gerah banget!"


"Iya, mas di teras ya mau merokok dulu."


Diana keluar dari kamar sudah dalam keadaan segar, menggunakan daster pakaian rumahan yang sangat digemari ibu-ibu.


"Mas, mandi dulu udah malem terus sholat isya. Baju gantinya udah disiapin di atas kasur ya."


"Siap nyonya..." Goda Farhan sambil memeluk Diana dari belakang.


"Iih sana mandi, bau tahu..!"


"Bau yang dirindukan ya Di."


"Kata siapa?" tanya Diana ketus.


"Buktinya kalau mau tidur suka nyium-nyium ketek mas!"


"Ya itu mah beda, kan mas nya udah mandi, udah wangi."


"Hahahhaaha....ngaku aja bau tapi suka kan?" goda Farhan sambil berlari kecil masuk ke kamar.


"Iih dasar, nyebelin." rutuk Diana.


Diana sedang duduk di sofa depan TV sambil menikmati segelas susu ibu hamil.


Farhan yang sudah wangi keluar dari kamar, kemudian duduk diatas karpet tepat dibawah Diana yang berada di sofa.


"Adek sayang, jangan rewel ya di perut mamah, kasian mamahnya capek harus ngurus ayah, ngurus, mbak Ami, harus kerja juga." Ucap Farhan sambil mengelus lembut perut istrinya


"Iya Ayah, adek gak akan rewel. Tapi ayah harus janji jangan nakal, jang-."


"Jangan tebar pesona." Potong Farhan sudah sangat hafal apa yang akan dikatakan oleh istrinya.


Akhirnya mereka tertawa bersama sambil saling menatap.


"Kita video call mbak Ami yuk mas!" ajak Diana.


"Udah tidur belum ?, ini udah jam 9 loh Di."


"Coba aja dulu mas." Kata Diana sambil mengambil ponselnya.


Semenjak Diana hamil anak kedua, mereka membiasakan memanggil Ami dengan sebutan mbak.


"Assalamualaikum Di.."

__ADS_1


"Walaikumsalam, mamah sehat?" tanya Diana.


"Alhamdulillah sehat..mau ngomong sama Ami ya?"


"Iya mah, udah tidur belum?"


"Belum, lagi main nih depan TV. Mbak Ami, ini mamah sama ayah telepon."


"Hai sayang, lagi apa?"


"Mamah, ayah...aku lagi main salon-salonan sama teh Ina."Jawab Ami dengan suara khas anak kecil.


"Gak boleh nakal ya di rumah nenek, jangan tidur terlalu malam." Kata Farhan.


"Siap Ayah." Jawab Ami gemes.


"Udah ah aku mau main lagi, jangan ganggu !" pintanya,kemudian menghilang di depan layar.


"Mah titip Ami ya, besok Di ke sana agak siangan. Di mau nginep di rumah mamah, besok mas Farhan piket."


"Iya Di tenang aja, Ami baik kok gak rewel. Makannya juga pinter."


"Makasih ya mah, Di tutup video callnya ya...assalamualaikum."


Mata Diana berkaca-kaca setelah mengakhiri video call dengan Ami dan mamahnya.


Farhan yang sekarang duduk disampingnya merasa heran dengan sikap istrinya.


"Hei..kenapa kok sedih gitu ?"


"Gak apa-apa."Jawab Diana singkat.


Farhan melingkarkan tangan kananya di bahu Diana, memeluk istri tercintanya dan membawa kepala Diana bersandar di dadanya.


"Kasian Ami, kalau punya adik takutnya aku gak bisa maksimal memberikan waktu untuknya."


"Ami udah semakin besar, udah waktunya punya adik. Ada mas, ada mamah yang bantu ngurus Ami. Ada mang Ujang, bi Nur dan Ina. Ami tidak akan kesepian, apalagi sekarang udah mulai sekolah."


"Takut Ami jadi jauh sama aku kalau adiknya sudah lahir."


"Gak usah berpikiran macem-macem. Kita pasti bisa menjadi orangtua yang hebat buat anak-anak. Mengalir saja gak usah dibuat susah."


" Iya, makasih supportnya. Mas selalu memberi kekuatan buat Di, mas baik banget. Maafkan Di ya belum bisa menjadi istri yang baik!"


"Ssttt...ngomong apa sih?." tanya Farhan sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibir Diana.


Dikecupnya kepala Diana, Kemudian Diana mengangkat kepalanya dari dada Farhan.


"Tidur yuk mas!" ajak Diana.


"Sebentar ini film lagi seru banget sambil ngabisin dulu kopi, itu susu kamu juga belum habis."


Farhan pindah duduknya dari sofa ke karpet.


"Sini tidur aja di sofa, nanti mas pindahin ke kamar."


Akhirnya Diana tiduran di sofa, farhan melanjutkan nonton film di TV sambil mengelus lembut perut Diana.


"Mas, anak kita ini perkiraan lahir bulan Juni tahun depan. Masih 7 bulan lagi sih."


"Berarti sama dengan bulan lahirnya Ami ya ?"

__ADS_1


"Owh iya ya mas, jadi tepat 5 tahun jaraknya."


"Kamu harus sehat, jangan banyak pikiran."


"Iya sayang...udah mas dielusnya, sini geser duduknya." pinta Diana kepada suaminya.


Farhan bergeser duduknya tepat berada di depan dada Diana yang sedang tiduran di sofa.


"Bahaya kalau udah dekat-dekat sini mah, bisa-bisa kamu gak jadi tidur." Goda Farhan sambil menatap mata sendu Diana.


"Apa sih mas, orang cuma mau cium bau badan kamu aja, permintaan orok !"


"Tadi katanya bau....!"


"Iyalah, tadi kan belum mandi udah pasti bau."


"Kamu tuh yaa, bisa aja." Farhan mencubit hidung Diana.


"Mas aku mau ngomong serius."


"Emang dari tadi obrolan kita gak serius ya?" ucap Farhan menggoda Diana sambil matanya terus tertuju ke layar TV.


"Mas ih, lihat sini dong!"


"Hhmmm...ada apa sih ?"


Mata mereka saling menatap, kemudian Diana mengalungkan tangannya ke leher Farhan yang tepat ada di depannya.


"Bagaimana kalau aku berhenti kerja ?" tanya Diana yang sukses membuat Farhan kaget.


"Kenapa..?" tanya Farhan.


"Aku mau kerja dari rumah saja, sambil mengurus anak-anak. Tapi walaupun di rumah aku ingin punya usaha, biar bisa bantu-bantu mas. Ami sudah mulai sekolah dan sebentar lagi mau punya adek, pastinya lebih banyak biaya yang dibutuhkan."


"Terserah saja, kalau mas menyuruh berhenti kerja takutnya Di berpikir mas posesif, gak support istri. Sejauh kamu bisa membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan mas gak masalah. Yang penting kamu bahagia dan gak capek. Kalaupun kamu memutuskan mau berhenti ya mas seneng-seneng aja, Insya Alloh mas mampu memenuhi semua kebutuhan rumah tangga, kebutuhan kamu dan anak-anak !!"


Sebagai kepala keluarga ada ego yang tersentil dan rasa yang terusik dari obrolan ini.


"Mas, kok ngomongnya gitu sih. Selama ini juga semua mas yang memenuhi kebutuhan rumah tangga, bahkan uang gaji Di gak pernah dipake apa-apa. Maaf kalau Di salah bicara."


"Gak ada yang salah Di...ya udah dipikirkan saja baik-baik. Bicarakan juga dengan mamah."


"Kenapa harus bicara sama mamah?, kan sekarang Di sudah punya suami, punya imam!"


"Setidaknya bertukar pikiran dengannya. Mamah sudah menyekolahkan kamu sampai jadi sarjana, gak ada salahnya minta pendapatnya sebagai bentuk menghargai dan menghormati mamah. Pokoknya mas support apa yang menjadi keputusan kamu!"


Kalimat yang keluar dari mulut Farhan terasa dingin dan penuh penekanan.


"Iya...kalaupun mau resign paling nanti sesudah melahirkan."


"Iya diatur saja gimana baiknya, yang penting apapun keputusanya bukan atas permintaan mas. Secara pribadi mas seneng kalau kamu ingin lebih fokus mengurus anak-anak. Tapi kalau kamu merasa, dengan berhenti kerja takut kekurangan, takut gak bisa shoping, gak bisa ke salon, silahkan dipikirkan lagi. Maaf mas belum bisa membahagiakan kamu !"


"Mas..kok gitu sih, sekali lagi maaf kalau Di salah bicara !"


"Gak ada yang salah, wajar kalau kamu ingin membantu suami. Maafkan mas belum bisa memberikan kehidupan yang layak buat kalian.... Ayo tidur udah malam !!" Ajak Farhan sambil berjalan menuju kamar.


Diana bangun dari sofa berjalan mengikuti Farhan masuk ke kamar.


Tidak ada pelukan seperti biasa dari Farhan setelah mereka berada di atas tempat tidur. Farhan tidur membelakangi Diana.


"Mas, apakah aku salah bicara?" bathin Diana sambil menatap punggung Farhan.

__ADS_1


*****


__ADS_2