
Diana masih terlihat online, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB.
"Di, Kenapa kamu gak menghubungi masi?, kamu sedang online dengan siapa malam-malam begini ?" tanya Farhan dalam hatinya.
Beralih ke status Whatsapp Diana. Baru beberapa menit yang lalu Diana menjadikan foto-foto kebersamaan dengan teman-temannya saat reuni satu tahun lalu, foto bersama team basketnya sewaktu SMA dan kuliah menjadi status Whatsapp. Satu lagi, Diana mengganti semua foto profil sosmednya dengan fotonya sendiri tanpa Farhan dan anak-anak.
"Apa maksud kamu Diana?" guman hati Farhan sambil menyalakan mesin mobilnya.
15 menit kemudian Farhan tiba di rumah. Dengan terburu-buru dia masuk ke kamar.
Diana kaget, tidak menyangka suaminya tiba-tiba masuk ke kamar dan langsung memeluknya dari belakang. Dia sama sekali tidak mendengar suara mobil karena sedang mendengarkan lagu dari ponselnya menggunakan headset.
"Di, maafkan ya. Seharusnya tadi mas tidak pergi meninggalkan kamu. Mas hanya menghindari emosi, mas tadi pergi ke alun-alun kota!"
"Siapa yang butuh penjelasan?, mau ke alun-alun, mau janjian sama siapapun terserah!" ucap Diana sambil berusaha melepas pelukan suaminya.
Diana..please jangan seperti ini, mas bisa gila, sudah dong marahnya. Mas gak ada perasaan apa-apa sama dia. Dia hanya masa lalu, kamu lihat sendiri bagaimana sikap mas tadi siang. Barusan mas benar-benar hanya nongkrong di alun-alun, itupun di dalam mobil saja !" ucap Farhan sambil tetap memeluk Diana.
Tubuh Diana tidak lagi melakukan perlawanan. Diana hanya diam mendengar penuturan suaminya.
Farhan mengecup lembut pucuk kepala Diana.
"Sini tidur di dada mas." Bisiknya lembut ditelinga Diana sambil merentangkan tangan kirinya.
Diana membalikkan tubuhnya, kemudian merabahkan kepalanya di dada bidang Farhan.
"Ganti lagi semua foto pofil sosmed kamu, mas gak suka kamu pasang foto tanpa mas dan anak-anak. Nanti disangkanya masih single lagi !" ucap Farhan posesif.
"Iya." Jawab Diana lirih.
Farhan mengecup lembut kening istrinya. Kemudian mengangkat pelan dagu sang istri mengikis jarak yang sejak tadi siang terhalang api cemburu. Farhan ******* lembut bibir Diana yang kemudian berubah menjadi begitu menuntut.
Beberapa saat kemudian Diana melepas pagutan itu dengan lembut.
"Sudah malem, aku capek dan ngantuk banget dari tadi siang belum istirahat."
"Iya sudah, selamat tidur Di, jangan marah terus ya!" ucap Farhan sambil berdiri hendak berganti pakaian.
*******
Pukul 08.00 WIB Farhan dan Diana sudah bersiap untuk pulang ke kota tempat tinggal mereka.
"Kok pagi banget sih mas pulangnya?" tanya Fera.
"Kita mau ke Yogya dulu. Tadi subuh Ami kirim pesan minta dibelikan totte bag dan tas rajut Yogya, untuk kuliah katanya."Jawab Farhan.
"Barang yang buat toko sudah siap belum mbak ?" tanya Diana kepada Fera.
"Sudah mbak, tadi sesudah shalat subuh dipacking sama suamiku, tinggal masukin ke mobil." Jawab Fera.
"Mas buka pintu bagasi, lipat aja jok belakangnya biar koper sama kardus baju dan kardus oleh-oleh bisa masuk semua." pinta Diana kepada suaminya.
Semua sudah rapih disusun di dalam mobil oleh Farhan dan suaminya Fera.
"Kita berangkah ya Fer, jemput dulu Radith di rumah Fanni. Laporan keuangan kirim saja lewat email, nanti di cek sama Diana kalau sudah sampai rumah." Perintah Farhan kepada adiknya.
"Siap mas, hati-hati di jalan !"
__ADS_1
Sebelum masuk ke dalam mobil, Diana memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada kedua anak Fera.
"Terimakasih bude." Ucap mereka serempak.
"Sama-sama, kuliah yang benar ya. Kalau libur main ke rumah bude !"
Fera mempunyai dua orang anak, semuanya laki-laki. Begitupun Fanni mempunyai 2 anak, 1 perempuan dan 1 laki-laki
Mobil mereka meninggalkan rumah masa kecil Farhan.
"Di, kamu tuh baik banget. Mas seneng kamu perhatian sama ponakan-ponakan mas."
"Gak usah berlebihan deh, itukan hanya untuk menyenangkan hati mereka saja. Adek-adek mas bukan orang kekurangan dari usaha konveksi saja pasti mampu memberi lebih kepada anak-anaknya. Aku memberi tidak seberapa, tapi anak-anak pasti merasa senang."
"Iya mas tahu, tapi mas bangga sama kamu."
"Udah ah lebay banget. Mas juga baik sama keluarga kak Dimas."
Farhan hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya.
Setelah menjemput Radith mereka melanjutkan perjalanan menuju Yogya.
Pukul 11.00 WIB tiba di Yogya, langsung menuju tempat oleh-oleh khas Yogya. Diana membeli banyak makanan di sana.
"Banyak banget Di beli makananya?, kan kemarin di Solo juga sudah beli makanan."
"Mau kasih wali kelas kaka Maya sama pembimbing kamarnya. Buat temen2 kak Maya juga mau beli gantungan kunci yang lucu-lucu selain makanan." Jawab Diana.
"Bakpia kan gak bisa disimpen lama-lama Di ?" tanya Farhan sambil mendorong troli berjalan diantara lorong toko.
"Kita pulang lewat Bandung mas, mampir di pondok titip di pos securiti. Tinggal di kasih nama lengkap di tiap dus nya, besok pagi pasti sudah diterima. Kita juga mau mampir ke tempat kost Ami kan?
Setelah belanja makanan kita makan siang dulu, sholat duhur baru cari tas pesanan Ami.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 WIB. Farhan sudah bersiap melanjutkan perjalanan menuju Jawab Barat, sementara di jok belakang Radith sudah terlelap karena capek diajak muter-muter membeli oleh-oleh.
"Tidur saja Di kalau capek."
"Enggak mas, lagian gak ngantuk kok. Hati-hati bawa mobilnya kalau capek dan ngantuk istirahat dulu di rest area!"
"Siap komandan, gitu dong jangan marah terus. Capek marah-marah terus!" goda Farhan sambil mencolek dagu Diana.
"Siapa lagi yang marah, itu mah hanya perasaan mas Farhan saja!"
"Iya-iya..eeh udah diganti belum foto profil sosmednya?, mas belum cek lagi !"
"Belum, lupa...!" jawab Diana santai.
"Lupa atau sengaja, mau tebar pesona ya?!" ucap Farhan datar sambil fokus menyetir.
"Hhhmmm mulai deh !" ucap Diana merajuk sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.
"Mas kan sudah minta ganti dari semalem !"
"Lupa mas, semalem kan langsung tidur, tadi pagi sibuk siap-siap mau pulang. Ini diganti sekarang!" ujar Diana.
"Hhmmmm." Guman Farhan.
__ADS_1
"Mas, bisa gak sih santai dikit. Gak usah ribet sama hal-hal sepele."
"Sepele gimana maksud kamu ?, istri mas pasang foto profil fotonya sendiri tanpa suami dan anak-anak kamu bilang sepele?"
"Iya-iya udah, close gak usah diperpanjang !" ucap Diana.
"Kenapa semalem upload foto-foto reuni?, foto-foto team basket ?, kangen seseorang?" tanya Farhan posesif.
"Iya..kangen waktu jadi bintang lapangan, kangen disanjung penonton, kangen suasana turnament." Lirih Diana sambil senyum.
Wajah Farhan langsung berubah merah. Sementara Diana melirik Farhan dengan ekor matanya.
"Kesel ya mas, cemburu ya ?" tanya Diana dalam hati sambil tersenyum.
"Kangen apalagi ?" tanya Farhan penuh penekanan.
"Kangen sama teman-teman team basket, kangen kekompakannya..pokoknya kangen semuanya!"
Diana sengaja membuat Farhan cemburu dan kesal.
"Ke rest area dulu ya Di, sholat maghrib terus makan malam dulu !" ucap Farhan kesal.
Tiba di rest area Diana membangunkan Radith.
"Adek bangun sayang, sholat maghrib dulu terus kita makan malam." Ucap Diana sambil mengusap lembut kening putra bungsunya.
Setelah selesai sholat maghrib mereka makan malam di salah satu outlet makanan Jepang.
Sepanjang di rest area Farhan cemberut terus. Gak mau bicara kalau gak ditanya.
Itupun setiap diajak ngobrol jawabannya selalu terserah.
"Sariawan ya mas?, kok diem aja sih?" bisik Diana ditelinga Farhan sambil tersenyum.
"Apa sih Di, mas lagi capek aja!"
"Owh gitu, ya udah gantian nyupirnya ya ?"
"Gak usah." Jawab Farhan pelan.
"Ayah sama mamah kenapa sih bisik-bisik terus?" tanya Radith sambil mengunyah makanannya.
"Gak apa-apa dek." Jawab Diana sambil tersenyum.
"Senyum dong mas jangan cemberut aja." Bisik Diana lagi.
"Awas ya Di, sampai rumah mas hukum !" ucap Farhan pelan sambil melanjutkan makannya.
"Siapa takut?" tantang Diana.
"Sampai subuh dihukumnya!'
"Emang gak capek ?"
"Gak ada capek untuk masalah menghukum!" tatap Farhan sendu.
"Ayo yah jalan lagi, adek udah kenyang mau tidur lagi di mobil!"
__ADS_1
"Siap komandan." Jawab Farhan.
******