
Farhan dan Diana sudah berada di Klinik Medika.
"Antrian berapa mas?" tanya Diana setelah Farhan selesai daftar.
"Antrian ke 10, sebentar lagi sekarang udah no 7 yang masuk." jawab Farhan.
Dianna duduk sambil bergelayut di tangan Farhan dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
Rasa mual dan pusing ditambah asupan makanan yang sedikit membuat badannya lemas.
"Dimakan permennya, biar gak terlalu mual." perintah Farhan.
"Ini lagi ngemut permen."
"Ya udah sabar sebentar lagi dipanggil masuk." ucap Farhan sambil mengelus lembut kepala Diana.
"Mas, kalau misalnya aku gak hamil jangan kecewa ya!" lirih Diana sambil tetap menyandarkan kepalanya di bahu Farhan.
"Ya gak apa-apa sayang kita baru nikah 4 bulan masih banyak waktu. Udah gak usah banyak pikiran macam-macam."
"Tapi kalau misalnya beneran hamil masih bisa sering-sering olah raga gak ya ?" goda Farhan.
"Apaan sih mas, mesum aja!"
"Mesum apa ih, olah raga kan bagus untuk kesehatan." jawab Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tahu ah..!" Diana merajuk melepaskan pelukannya di tangan Farhan berbarengan dengan namanya yang dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan praktek dokter kandungan.
"Selamat malam...silahkan duduk bapak,ibu. Sapa dokter wanita cantik yang kira-kira berumur 50 tahunan.
"Selamat malam dok." jawab Diana dan Farhan.
"Sepertinya masih pengantin baru ya, aura nya masih terlihat." Goda dokter.
"Pengantin baru yang sudah basi dok." Jawab Diana sambil tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu bu ?." tanya dokter lagi.
Diana menceritakan keluhan yang sudah dirasakan selama dua hari ini, tidak lupa juga diceritakan tentang datang bulan yang sudah terlambat 1 minggu.
" Baik bu Diana, saya periksa dulu ya. Silahkan berbaring ya bu."
Diana beranjak dari duduknya menuju tempat pemeriksaan, diikuti oleh Farhan yang terus menggemgam erat jemari Diana pada saat di periksa.
Dokter melakukan USG untuk memastikan hamil atau tidaknya sang pasien.
"Baik pa, bisa lihat di monitor, sudah terlihat ada kantung janin, karena baru berusia 4 minggu jadi baru terlihat titik saja di dalam kantung janinnya."
"Jadi istri saya positif hamil dok?" tanya Farhan dengan suara yang gugup.
" Betul pak, usianya baru 4 minggu. Selamat ya Pak, bu !" ucap dokter.
"Alhamdulillah, terima kasih ya dok." Ucap Farhan.
Mereka duduk kembali dihadapan doktet, menunggu resep yang sedang di buat.
"Ini resep untuk vitamin dan anti mual. Dijaga ya kehamilanya, jangan sampai stress dan banyak pikiran.Istirahat yang cukup, dbantu minum susu ibu hamil ya."
"Terima kasih dok." Ucap Farhan dan Diana kompak.
"Baik, ada yang mau ditanyakan?" ucap ibu dokter.
"Hhm maaf dok, maaf banget..." Farhan bicara terbata-bata.
"Gimana pak?"
"Pada saat hamil, bagaima masalah hubungan suami istri?" Farhan bertanya sambil menahan malu.
"Mas ihhh..." lirih Diana sambil mencubit pelan paha suaminya.
"Tidak ada masalah selama kehamilannya tidak ada keluhan. Tentu saja dilakukan dengan lebih hati-hati dan jangan terlalu sering ya pak." Jawab dokter sambil tersenyum.
"Siap dok, terimakasih banyak." jawab Farhan.
Sementara wajah Diana memerah menahan malu.
Dokter faham dengan kondisi Diana.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bu, bagus bapaknya bertanya seperti itu, biar bisa berhati-hati."
"Iya dok terimakasih." Kata Diana sambil pamit keluar ruangan dokter.
Diana dan Farhan sudah berada di dalam mobil, setelah sebelumnya menebus obat dulu.
Tiba-tiba Farhan memeluk Diana.
"Terimakasih ya Di, mas bahagia banget dengan kehamilan kamu."
"Sama-sama mas" Diana balas memeluk Diana dengan erat.
Meraka melerai pelukan, kemudian mengecup singkat bibir
Diana.
"Kita makan dulu ya Di."
"Dibungkus aja ya mas, kita makan di rumah mamah, sambil ngabarin mamah berita bahagia ini."
"Ok...mau beli apa?"
"Mau makan sate sama sop mas."
Pulu 20.00 WIB mereka tiba di rumah mamahnya Diana.
Mang Ujang berlari dari arah paviliun meihat mobil Farhan berhenti di depan pagar.
"Mau dimasukin mas mobilnya?" tanya mang Ujang.
"Gak usah mang, parkir diluar saja." jawab Farhan.
"Mamah udah tidur belum?' tanya Diana kepada mang Ujang sambil berjalan masuk ke halaman rumah.
"Belum neng, lagi nonton TV sama istri dan anak mang Ujang."
"Assalamualaikum mah." Ucap Diana sambil membuka pintu depan.
"Waalaikumsalam...Diana, sama siapa sayang malem-malem begini?"
"Sama mas Farhan mah." Kata Diana sambil mencium takjim tangan mamahnya, diikuti oleh Farhan yang sudah berada di belakang Diana sambil menenteng makanan yang tadi dibeli.
"Kalian aja yang makan, mamah sudah makan tadi sebelum maghrib."
"Gak mah, kita makan bareng. Gak apa-apa mamah makan sate dan sop nya jangan pake nasi."
Akhirnya semua berkumpul di meja makan termasuk mang Ujang dan anak istrinya karena di paksa oleh Diana.
"Banyak banget makanannya Di?" tanya mamah setelah mereka duduk di meja makan.
Setelah selesai makan Diana menahan semuanya untuk tetap duduk di meja makan.
"Ada apa sih Di?, kok mamah jadi deg-degan."
Farhan hanya tersenyum melihat ulah istrinya.
Diana mengeluarkan amplop dari tasnya.
" Ini mah coba dibuka."
"Apa ini Di ?" tanya mamah heran.
"Buka aja mah, cepet !"
Mamah Diana membuka amplop itu dengan pelan, Mang Ujang dan anak istrinya ikut menyaksikan dengan perasaan deg-degan.
"Di...beneran ini ?, kamu hamil nak ?" tanya mamah gak percaya sambil terus melihat foto USG ditangannya .
"Iya mah.."
"Alhamdulillah...terimakasih Ya Alloh." Ucap mamah Diana sambil memeluk Diana dan Farhan bergantian.
"Doakan ya mah, semoga kehamilan Diana lancar, sehat Diana dan janinnya.aamiin."
"Aamiin..." ucap mamah, mang Ujang dan istrinya serempak.
"Pasti sayang, tanpa dimintapun mamah akan selalu mendoakan anak-anak mamah, apalagi sekarang kamu lagu hamil. Sehat-sehat ya Di, makan yang benar dan bergizi, minum vitamin dan susu ibu hamil jangan lupa."
__ADS_1
"Iya mah, makasih ya." Kata Diaba sambil kembali memeluk mamahnya.
"Tinggal disini saja selama hamil ya Di biar ada yang ngurus" Pinta mamah.
"Terima kasih mah, Di di rumah Cluster aja, kalau mas Farhan piket nanti Di akan menginap disini."
"Ya udah terserah kamu, yang penting jaga kehamilannya jangan terlalu capek"
"Iya mah, selama ini juga kerjaan Di sehari-hari cuma menyiapkan sarapan. Cuci baju jugakan pakai mesin cucu. Mengepel dan menyiram bunga mas Farhan yang mengerjakan. Pulang kerja kalau lagi gak males masak buat makan malam, tapi seringnya juga beli."
"Iya..nanti mamah yang kirim makanan buat makan malam kalian ya, tinggal ngomong aja mau dimasakin apa, sebelum maghrib nanti dianter mang Ujang."
"Gak usah mah, sesekali aja nanti Di dan mas Farhan makan malam disini."
"Ya udah...Mas Farhan titip Diana ya. Kabari mamah kalau ada apa-apa."
"Siap mah..Farhan mau minta tolong mah, kalau Farhan lagi gak bisa antar jemput Diana bisakan minta tolong mang Ujang?" tanya Diana kepada mamah mertuanya.
"Boleh banget mas, jangan sampe Diana bawa motor sendiri.!"
"Terimakasih ya mah, maaf pekerjan Farhan kadang sulit di prediksi waktunya."
"Mamah ngerti mas, nanti komunukasi aja langsung dengan mang Ujang ya.!" perintah mamah.
"Baik mah."
"Kuliahnya lancar mas? " tanya mamah lagi.
""Alhamduliah lancar mah, sudah 2 bulan berjalan. Kuliahnya online karena Farhan ambil kuliah di Universitas terbuka. Insya Alloh hanya 3 semester aja, karena Farhan hanya meneruskan saja mah."
"Semoga berjalan lancar semuanya ya..aamiin." Ucap mamahnya Diana.
Waktu menunjukan pukul 21.30 WIB. Diana dan Farhan pamit pulang. Sebetulnya Diana 2 hari ke depan tidak kerja karena diberi
surat istirahat oleh dokter, tapi Diana mau istirahat di rumah saja.
Pukul 22.30 Diana dan Farhan sudah berada diatas tempat tidur.
Setelah sebelumnya mandi dan berganti pakaian.
Diana tidur dalam pelukan Farhan.
"Mas, sekarang aku hamil nanti pasti jadi gendut!." Diana merajuk
"Emang kenapa kalau gendut?"
"Nanti mas gak sayang lagi sama Di!."
"Sssttt..jangan berpikiran yang macem-macem. Mau gendut mau kurus mas tetep sayang sama kamu."
Farhan mengelus lembut perut Diana.
"Sehat-sehat ya sayang diperut mamah."
"Iya papah, papah juga harus sehat, jagain mamahnya. Gak boleh nakal, gak boleh tebar pesona terus." Jawan Diana menirukan suara anak kecil.
"Itu mah curhatan mamah nya" Kata Farhan sambil tertawa lepas.
"Awas aja kalau nakal, kalau tebar pesona."
"Siapa sih Di yang suka tebar pesona, jangan aneh-aneh ah!"
Kini posisi mereka berhadapan, wajah mereka hampir tidak berjarak.
"Masih mual gak?" tanya Farhan sambil mengelus lembut pipi Diana.
"Enggak mas, kan udah makan obat."
"Olah raga bentar ya?, hadiah buat mas" pinta Farhan dengan tatapana berkabut gairah.
"Hadiag buat apa?, gak lagi ulang tahun kan? "
"Hadiah udah bisa buat kamu hamil." Jawab Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Emang aku biisa nolak ya?" goda Diana.
'Yess berarti boleh ya?, mas janji pelan-pelan!"
__ADS_1
Farhan mengecup lembut kening Diana, berpindah kepipinya, turun ke leher jenjang Diana dan akhirnya ******* lembut bibir Diana.
*******