POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 93 Kemarahan Farhan


__ADS_3

"Anakku kuliah di Jakarta, kapan-kapan aku mampir ke kantor kamu ya sekalian nengok anak di Jakarta." Ucap Mayang.


Farhan menatap ke arah istrinya sebelum menjawab, sementara Diana menunduk pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan. oleh Mayang.


"Owh iya silahkan." Akhirnya Farhan menjawab ragu.


"Dari Jakarta ke tempat kamu gak jauhkan ?" tanya Mayang lagi.


"Kira-kira 2 jam perjalanan." Ucap Farhan pelan.


"Maaf, saya permisi ke toilet !" pamit Diana tiba-tiba.


10 menit berlalu Diana belum kembali dari toilet. Farhan menyusulnnya.


Sebelum tiba ke toilet Farhan melihat istrinya sedang duduk di bangku taman yang berada di samping rumah makan.


"Di, kamu gak nyaman ya ?, kita pulang sekarang !" ajak Farhan.


Tidak ada jawaban dari Diana. Farhan menarik tangan istrinya membawanya ke dalam untuk pamit kepada teman-temannya.


Diana kembali duduk ke tempat semula. Sementara Farhan mendatangi satu persatu meja teman-temannya untuk pamit.


Pukul 15.00 WIB mobil mereka keluar dari parkiran rumah makan.


"Di, maafkan mas ya!" ucap Farhan lembut.


"Minta maaf terus dari tadi, emang salah apa sih?" tanya Diana ketus.


Farhan menarik nafas dalam, tidak tahu lagi harus bicara apa. Dia membawa mobil ke arah kota untuk membeli oleh-oleh khas kota Solo.


"Mas seneng banget Di, ternyata kamu bisa juga cemburu." Guman Farhan dalam hatinya sambil senyum-senyum sendiri.


"Aneh banget mas Farhan, bisa-bisanya senyum-senyum sendiri." Bathin Diana.


"Ayo turun, kita beli oleh-oleh dulu !" ajak Dimas.


Dengan perasaan malas, Diana mengikuti suaminya masuk ke toko pusat oleh-oleh khas Solo.


Farhan mendorong troli kemudian memasukan berbagai macam makanan kemasan dan abon sapi.


"Banyak banget mas?" tanya Diana datar.


"Gak apa-apa kan banyak juga yang harus dikasih oleh-oleh. Kak Dimas, Ami,Maya, Bi Nur, karyawan toko, tetangga." Jawab Farhan rinci.


"Anggota di kantor gak di kasih?" tanya Diana lagi.


"Ya dikasih lah, buat ngopi bareng aja di kantor!"


Sebelum maghrib mereka sudah tiba di rumah.


"Mamah lama banget sih perginya." Rajuk Radith yang menyambut kedatangan mamah dan ayahnya di teras rumah eyang kakungnya.


"Maaf ya, tadi mamah sama ayah ada keperluan. Ini mamah bawain ice cream dan aneka cake, bawa ke dalam makan bareng saudara-saudara adek !" ucap Diana sambil menyerahkan satu paper bag besar berisi ice cream dan aneka cup cake.


"Asyikk..terima kasih ya mah." Ucapnya sambil berlari masuk ke dalam.


Setelah mobil masuk garasi, Farhan langsung menuju rumahnya yang berada tepat di samping rumah bapaknya.

__ADS_1


Di atas tanah seluas lebih kurang 500 m² itu berdiri 3 bangunan. Rumah bapaknya Farhan seluas 200 m² lengkap dengan halaman depan dan samping yang cukup luas. Tempat usaha konveksi seluas 200 m² terletak di belakang . Rumah Farhan yang dibangun oleh bapaknya semenjak lulus pendidikan polisi berdiri di atas tanah 100m² berada tepat di samping rumah utama.


Sedang Fera dan Fanni sudah memilikii rumah yang berjarak sekitar 3 km dari rumah bapak. Rumah mereka berada dalam satu Cluster hanya berbeda blok.


Untuk sehari-hari Fera lebih sering menempati rumah bapaknya.


Pukul 19.00 WIB, Farhan mengajak adik-adiknya, beserta suami dan anak-anaknya makan malam di sebuah restaurant seafood langganan keluarga mereka.


"Kapan kalian mau liburan ke Jawa Barat?" tanya Diana kepada adik-adik iparnya.


"Pengen sih mbak, nanti aku rencanain sama mbak Fera." Jawab Fanni.


"Mbak tunggu ya Fan, mbak Fera !" ucap Diana.


Makanan sudah dihidangkan di meja, kemudian mereka makan dengan lahapnya.


"Ayah, boleh gak aku menginap di rumah tante Fanni ?, mau main PS sama mas Rayhan." Pamit Radith kepada ayahnya.


"Boleh, besok agak siangan ayah jemput ya !"


"Kita pulang kapan yah?" tanya si bungsu lagi.


"Besok sore bada sholat ashar."


Dalam acara makan malam ini di depan adik-adik iparnya, Diana bersikap biasa saja kepada Farhan. Padahal tadi di rumah sebelum berangkat Farhan gak ditegur sama sekali oleh Diana.


Pukul 21.00 WIB Farhan dan keluarganya sudah tiba di rumah.


Diana pamit duluan ingin segera beristirahat.


Sementara Farhan minta ijin kepada Diana untuk merokok sebentar di teras rumah utama, ditemani suaminya Fera.


"Mas masuk dulu ya." Pamit Farhan kepada adik iparnya setelah menghabiskan 2 batang rokok.


"Iya mas, selamat istirahat." Ucap suaminya Fera.


Farhan masuk ke dalam kamar, tampak Diana sedang memainkan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri.


"Asyik banget Di, lagi apa ?" tanya Farhan sambil berganti pakaian.


Tidak ada jawaban dari Diana, hanya melirik sekilas kepada Farhan.


"Di, simpen dulu ponselnya!" perintah Farhan sambil duduk di tepi ranjang dekat Diana.


"Apa sih mas, mengganggu aja !" ucap Diana sambil membalikkan tubuhnya membelakangi Farhan.


"Diana, apa mau kamu ?, mas harus bagaimana?. Dari tadi sudah berulangkali minta maaf, tapi kamu bersikap seperti ini terus!" ucap Farhan dengan suara meninggi.


Diana menutup kupingnya dengan bantal. Tentu saja membuat Farhan semakin terpancing emosinya.


"Lihat mas kalau lagi diajak bicara!" Ujar Farhan sambil menarik bantal yang menutupi telinga Diana.


"Mas apa sih?, aku gak apa-apa lagi gak mau bicara aja, lagi capek !"bentak Diana.


"Owh bagus sekarang berani bentak mas ya ?" ucap Farhan dengan tatapan mata yang tajam.


Farhan berdiri, memakai lagi celana jeans yang menggantung di balik pintu kamar.

__ADS_1


Farhan keluar dari kamar menutup pintunya dengan keras.


Terdengar suara mobil keluar dari garasi.


"Daripada emosi mendingan keluar cari angin." Guman hati Farhan dibalik kemudi.


Diana menangis di dalam kamar, menyesali sikapnya kepada Farhan.


"Aku tahu, semua yang terjadi diluar kuasa mas Farhan. Tapi aku kesal, aku cemburu. Aku tidak pernah melihat mas Farhan seantusias pagi tadi !"


Sementara Farhan memarkirkan mobilnya di alun-alun kota Solo. Karena ini malam minggu walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB tetapi suasana di alun-alun masih ramai.


Mematikan mesin mobil setelah sebelumnya menurunkan kaca mobil bagian kanan hampir setengahnya. Farhan menyalakan sebatang rokok, menyesapnya dalam.


"****, kenapa Diana keras kepala sekali hari ini. Semua sikap Mayang tadi siang diluar kendaliku, aku tidak mengira Mayang seolah mengintimidasi Diana!"


Farhan menyalakan kembali rokok untuk yang kedua kalinya.


"Jujur, ada perasaan yang entah apa namanya pada saat teman-teman di grup mengatakan Mayang akan datang di acara pernikahan putrinya Hendro. Puluhan tahun lamanya, semenjak lulus SMA aku tidak pernah lagi tahu dan tidak mau tahu kabar Mayang. Bahkan aku nyaris lupa pernah ada nama Mayang di hatiku puliuhan tahun yang lalu. Hari-hari begitu indah dan penuh warna sejak mengenal sosok wanita bernama Diana Prameswari. Duniaku hanya tentang Diana, apalagi sekarang telah hadir diantara aku dan Diana anak-anak yang begitu hebat. Aku hanya penasaran Di, penasaran bagaimana kabar Mayang, ada sedikit perasaan prihatin saat mendengar suaminya sudah meninggal, hanya itu tidak lebih. !!" Monolog hati Farhan.


Farhan mengambil ponselnya, membuka apliksi hijau, terlihat Diana sedang online.


Kemudiaan beralih membuka grup whatsapp SMA nya yang sudah ada ratusan pesan belum dibaca oleh Farhan.


Ada foto-foto pertemuan tadi siang pada saat di undangan dan di rumah makan.


Kemudian banyak ucapan yang menyambut bergabungnya Mayang di grup.


Farhan tidak tertarik untuk mengomentari obrolan teman-temannya.


Ada satu foto yang menarik perhatiannya, sepertinya di ambil candid oleh Fajar.


"Sialan Fajar, foto seperti ini kenapa dikirim ke grup segala." Racau hati Farhan sambil membaca komentar teman-temannya.


Foto pada saat duduk satu meja bersama Mayang. Tampak Mayang menatap Farhan dengan mata berbinar penuh damba, diambil diam-diam oleh Fajar dan dikirim di grup.


Fajar :


"Cie cie...."


Dewi :


"Hati-hati CLBK"


Mayang :


😘🤭


Hendro:


"Gak sia-sia jauh-jauh datang ke Solo."


Farhan menghapus semua obrolan di grup itu.


"Kalau Diana sampai membacanya tambah panjang urusannya." Bathin Farhan.


Semakin yakin dengan perasaannya, sudah tidak ada sedikitpun tempat istimewa untuk wanita lain dihatinya. Tidak ada lagi getar aneh setelah melihat foto-foto itu. Fix hanya penasaran dan prihatin saja dengan keadaan Mayang. No more !"

__ADS_1


******


__ADS_2