POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 81 Ponsel Yang Tertinggal


__ADS_3

Hari ini Farhan sudah kembali ke kantor.


"Yah ini ponsel yang satunya ketinggalan, mau dibawa sama anggota atau dianterin sama mamah ?" Diana mengirim pesan kepada suaminya.


"Biarin aja, ponsel itu jarang dipake paling buat main game kalau lagi iseng. Tolong dicharge aja kayaknya mati dari kemarin!"


"Iya mas, aku mau ke toko sebentar ya, nanti pulang sekalian jemput Radith." Pamit Diana pada suaminya.


"Ok, hati-hati!"


Hari ini Farhan sibuk sekali di kantor, banyak pekerjaan yang tertunda karena ditinggal ke Anyer 2 hari.


"Kayaknya hari ini bakal pulang malam nih, nanti sore ada giat di kantor DPRD lagi.!" bathin Farhan di dalam ruangannya.


Sementara Diana sudah tiba di toko. Langsung mengecek stok barang dilanjutkan dengan memeriksa keuangan toko.


"Alhamdulillah semakin hari keuntungan toko meningkat." Gumannya dalam hati.


Pukul 14.30 Diana menjemput Radith ke sekolah, hari ini Radith pulang agak siang karena harus mengikuti les tahfidz di sekolahnya.


"Mah gak sekalian nunggu kak Maya pulang ?" tanya Radith.


Diana melirik jam dipergelangan tangannya waktu menunjukkan pukul 14.45 WIB. Sementara Maya keluar kelas pukul 15.30 setelah sholat ashar berjamaah di sekolah.


"Ya udah kita sekalian tunggu kaka, karena masih satu jam lagi kita nunggu nya sambil makan bakso dulu yuk !" Ajak Diana kepada jagoannya.


"Asyikk, adek mau beli es campur ya mah."


"Siap jagoan mamah !"


Tepat pukul 16.00 WIB mereka tiba di rumah. Diana menyuruh Maya dan Radith mandi sore dulu sebelum istirahat sambil nonton TV. Sementara Ami baru akan tiba di rumah menjelang maghrib karena sepulang sekolah ada jadwal les di sebuah tempat bimbingan belajar.


Sambil rebahan di sofa ruang keluarga, Diana iseng membuka ponsel suaminya yang sudah selesai di charge. Ponsel Farhan ataupun Diana tidak menggunakan password, tidak ada larangan bagi keduanya untuk saling tahu isi ponsel masing-masing.


"Selamat pagi mas...seneng sekali semalem bisa bertemu direstaurant Bahari Anyer, semoga lain kali bisa bertemu lagi ya." (Utami).


Degggg...


Ada pesan masuk dari Utami hari Rabu pagi pukul 06.00 WIB


"Apakah ini Utami temannya mbak Fera ?, mantannya mas Farhan ?" tanya hati Diana.


"Selamat pagi mas, kok pesannku gak di baca sih?, lagi sibuk ya ?. By the way masih dinas di kantor yang dulukan ?, next time aku mau main ke sana ya. Salam buat istri mas, masih sama Dianakan ?"


Pesan masuk lagi hari ini pukul 09.00 WIB.


"Apa maksudnya dia bertanya seperti itu?. Rupanya mereka janjian di Anyer. Jadi mas Farhan mengajak ikut ke Anyer hanya basa basi aja?, awas ya mas !" geram Diana sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ingin rasanya langsung menelepon suaminya untuk meminta penjelasan, tapi urung dilakukan.


"Nanti saja ditanya langsung kalau mas Farhan sudah di rumah !" Bathin Diana.


Pukul 19.30 Farhan belum juga pulang. Diana sudah gelisah menunggu di rumah. Dari tadi sore sudah menahan rasa kesal dan marah.


Ting...ting


Ada notifikasi pesan masuk diponsel Diana.

__ADS_1


"Di maaf ya kayaknya hari ini mas pulang agak malam, rumah dikunci aja, mas bawa kunci cadangan."


"Iya mas." Jawab Diana singkat.


"Anak-anak lagi apa ?"


"Belajar."


"Sudah makan malam semua ?"


"Sudah ."


Sementara Farhan merasa ada sesuatu dengan sikap Diana. Semua pesannya di jawab singkat oleh istrinya.


"Nanti saja ditanyakan kalau sudah di rumah." Bathin Farhan.


Pukul 23.30 Farhan baru pulang. Rumah sudah sepi dan gelap semua.


Masuk ke kamar tidak ada istrinya disana. Farhan mencari ke kamar mandi, kembali keluar lagi dari kamar menaiki tangga hendak mencari Diana di kamar anak-anaknya.


Sementara Diana pura-pura tidur ketika mendengar langkah suamimya menaiki anak tangga.


Membuka satu persatu kamar anak-anaknya ternyata Diana tidur di kamar Radith.


"Mah, bangun pindah yuk ke kamar kita." Bisik Farhan lembut sambil mencium pipi Diana.


"Apa sih mas, aku ngantuk banget. Sudah sana tidur dikamar sendiri !" jawab Diana dengan suara parau seperti orang bangun tidur.


"There is something wrong." Bathin Farhan sambil berdiri.


"Ya udah mas mandi dulu nanti pindah ya ke bawah !"


Sebelum kembali menyusul ke atas, Farhan mengecek ponselnya yang tadi siang tertinggal di rumah.


"Si***n nih cewek, rupanya pesan ini yang membuat Diana bersikap dingin!" geram Farhan dalam hatinya.


"Di, sayang pindah yuk ?" ajak Farhan lagi sesudah berada di kamar Radith sambil menciumi wajah Diana.


"Apaan sih mas, ganggu aja. Aku ngantuk banget, mau tidur sama Radith !"


"Ok, kalau kamu gak mau pindah mas kerasin ngomongnya biar Radith bangun!" ancam Farhan yang ternyata ampuh.


Mereka sudah berada di kamar, Diana tidur membelakangi Suaminya.


"Kenapa sih kok udah malam begini malah marah-marah?, gak kangen sama mas?" Rayu Farhan sambil memeluk Diana dari belakang.


Wangi shampo vanila menguar dari rambut Diana. Membuat Farhan terus menciumi kepala istrinya.


"Mas, lepas ah gerah dipeluk-peluk gini ?" Diana berusaha melepas pelukan suaminya, tapi tenaga Farhan yang lebih besar membuat dia semakin terkungkung dalam pelukan itu.


"Kita bicara baik-baik baru mas lepaskan."


"Bicara apa sih?, aku ngantuk banget !"


Farhan membalikkan tubuh istrinya dengan paksa, menyimpan kepala Diana di dada bidangnya. Wangi maskulin menguar dari tubuh laki-laki yang memeluknya.


Perlahan suara isak tangis terdengar oleh Farhan. Dikecup kening istrinya dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau ada apa-apa dibicarakan, jangan ditahan sendiri. Lihat mata mas dan dengarkan penjelasan mas biar kamu tidak berprasangka buruk !"


"Demi Tuhan mas tidak sengaja bertemu dia ketika sedang makan malam dengan pak Andi. Tidak ada interaksi lebih pada saat bertemu, hanya ngobrol beberapa menit, itupun mas cuekin dia. Kalau gak percaya besok tanyain sama pak Andi ya !"


"Kenapa mas ngasih nomor telepon?" tanya Diana dibalik isak tangisnya.


"Pada saat itu dia minta nomor telepon di depan temannya dan pak Andi. Kalau mas gak ngasih kayaknya sombong banget, dan itu akan mempermalukan dia di depan orang lain. Mas perkenalkan dia kepada pak Andi sebagai teman Fera dari Solo. Bahkan mas menyuruh pak Andi yang memberikan nomor telepon mas sama Dia!"


"Really ?" tanya Diana.


"Really sayang, sini lihat mata mas. Adakah kebohongan?"


Diana mengangkat kepalanya berusaha mencari kejujuran dimata suaminya.


Posisi yang memudahkan Farhan untuk mengecup bibir ranum Diana, ********** lembut tapi sangat menuntut.


"Mas ihhh, aku gak bisa nafas !" Ucap Diana sambil melepas pagutan suaminya.


"Makanya jangan marah terus, capek tahu!. Udah mas blokir nomornya !"


"Apa maksud dia menanyakan masih sama Diana !"


"I don't know honey, forget it and trust me ok !"


"Mas, sebenarnya aku gak mau membatasi kamu berteman dengan siapapun, berkomunikasi dengan siapapun. Apalagi pekerjaan mas yang sering berhubungan denga banyak orang, tapi aku gak suka cara dia berkomunikasi sama mas, kesannya menggoda gitu!"


"Iya mas juga mengerti, makanya mas blokir."


"Coba kalau dia bicara layaknya sebagai teman, sebagai saudara satu kampung yang sopan dan tidak berkesan menggoda. Aku pasti welcome !"


"Iya sudah, selesai ya. Stop ngambeknya!"


"Dia belum nikah mas ?, aneh aja tiba-tiba dia hadir lagi setelah belasan tahun." Diana belum mau menyudahi obrolannya.


"Tidak tahu dan tidak mau tahu!!"


"Kalian janjian di Anyer?, jangan-jangan sudah lama sering komunikasi. Aku aja yang bego baru tahu sekarang!" lirih Diana sambil kembali membalikkan tubuhnya membelakangi Farhan.


Telepon pak Andi sekarang ya, biar kamu percaya bahwa pak Andi yang ngasih nomor telepon mas sama dia kemarin !"


Farhan mengambil ponselnya dari nakas.


"Mas ih apa-apaan sih mau telepon pak Andi segala. Malu tahu lagian ini udah dini hari!"


"Biar kamu percaya !"


"Iya-ya aku percaya, maafin aku ya. Udah kita tidur !"


"Enak aja tidur, udah marah-marah, udah berburuk sangka sama suaminya gak boleh tidur dulu !" perintah Farhan serius memasang wajah datarnya.


"Apa sih mas, aku kan udah percaya, udah minta maaf juga?"


"Mas belum maafin, harus dihukum dulu, satu kali aja hukumannya!" goda Farhan nakal.


Diana Faham sekali maksud suaminya.


"Besok lagi ya hukumannya, sekarang kita tidur!"

__ADS_1


Farhan tidak menyerah, akhirnya Diana menyerah dihukum suaminya sampai waktu menunjukkan pukul 03.00 WIB.


******


__ADS_2