
Tahun berganti begitu cepat.
Hari ini Ami puteri sulung Farhan dan Diana resmi menjadi seorang mahasiswi Fakuktas Ilmu Komunikasi di salah satu Universitas Negeri di Bandung. Satu almamater dengan mamahnya.
Tepatnya beberapa jam yang lalu hasil pengumuman tes Mandiri sudah diumumkan.
Rasa syukur tiada henti diucapkan oleh Diana, sesuai dengan doa dan harapannya Ami kuliah di kota Bandung.
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga malam ini, setelah tadi siang kabar kelulusan Ami.
"Mbak, rasanya baru kemarin merayakan sweet seventeen sekarang sudah jadi mahasiswi lagi." Ucap Diana.
"Iya mah, aku udah gede sekarang udah 18 tahun." Ujar Ami sambil tersenyum menatap ayahnya yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Terus kenapa kalau udah 18 tahun?" tanya Diana curiga.
"Hhmmmm, udah boleh pacaran ya mah ?" ucap Ami ragu.
Sontak saja tatapan ayahnya beralih dari ponsel ke putri sulungnya pada saat mendengar obrolan itu.
"Apa mbak ?" tanya ayahnya dengan ekspresi datar.
Ami menunduk memainkan ponselnya.
"Sudah mbak masuk kamar, sambil cek adek-adeknya di atas !" perintah Diana.
Ami pamit ke atas kepada ayah dan mamahnya sambil menekuk wajahnya.
"Mas, jangan terlalu keras gitu sama Ami. Dia sedang berada di fase ingin mempunyai teman dekat. Manusiawi, tinggal kita mengarahkan. Aku juga dulu kelas 2 SMA sudah punya teman dekat walaupun hanya cinta monyet. Kelas 3 SMA malah sudah pacaran sama mas!"
"Mas gak mau Ami pacaran seperti kita dulu!" Lirih Farhan dengan suara pelan.
"Kenapa?" tanya Diana sambil mengerutkan keningnya.
"Pokoknya yang tidak baik dari kita tidak boleh dialami Ami !!" ucapnya tegas.
"Tapi kita tidak bisa melawan rasa yang tumbuh secara alami pada diri Ami, fase ini memang harus dilewati. Yang harus kita lakukan mengawasi, mengarahkan dan memberi pengertian supaya kalaupun Ami punya teman dekat semuanya terkontrol dan tidak keluar jalur. Kita bisa sering mengajaknya komunikasi biar selalu terbuka. Semakin kita melarang dan menentangnya, Ami akan berontak dan tidak terkendali !"
Diana seorang sarjana psikologi tentu lebih faham dengan kondisi kejiwaan anak-anak seusia Ami.
__ADS_1
Farhan terdiam mendengar penjelasan istrinya.
"Nanti kita coba bicara lagi dari hati ke hati dengam Ami. Ada saatnya kita berperan sebagai orangtua, ada saatnya juga berperan sebagai teman." Ucap Diana lagi.
Begitulah hidup berumah tangga, kadang berada pada kondisi dimana ada perbedaan pendapat dan pandangan antara ayah dan ibu dalam menangani anak-anaknya. Hal seperti itu kadang memicu pertengkaran. Untungnya Diana mempunyai basic ilmu psikologi sehingga bisa menyikapi setiap permasalahan yang terjadi dengan bijaksana.
***
Hari ini Maya harus sudah masuk ke pondok. Maya melanjutkan SMP di sebuah pesantren modern di kota Bandung. Semua atas permintaannya sendiri tidak ada paksaan dari Diana dan Farhan.
Setelah seharian kemarin Diana dan Maya menyiapkan segala keperluan yang harus di bawa ke pondok. Akhirnya hari ini Farhan dan Diana harus melepas putri keduanya.
"Kaka Maya nanti di pondok harus bisa jaga diri, nurut sama ustadz dan ustadzah di sana. Mamah nanti nengok 2 minggu sekali, kalau ada sesuatu yang penting mbak Ami nanti bisa ke pondok juga nengok kaka. Kalian sekarang sama-sama di Bandung. Jangan cengeng harus jadi anak yang kuat dan mandiri di pondok ya !" pesan Diana kepada putri keduanya.
" Iya mah." Jawan Maya datar, percis seperti ekspresi wajah ayahnya.
Mereka sedang perjalanan menuju kota Bandung.
"Jam berapa harus sampai di pondok mah ?' tanya Farhan di balik kemudi.
"Jam 09.00 WIB santri baru sudah harus masuk ke kamarnya masing-masing merapihkan barang bawaannya. Jam 10.00 WIB berkumpul di aula untuk diberikan pengarahan.
Hari pertama keluarga masih bisa menemani anak-anaknya sampei jam 15.00 WIB. Untuk satu bulan ke depan tidak boleh ditengok dulu.' Diana menjelaskan panjang lebar.
"Mah, nanti di rumah sepi ya gak ada mbak Ami sama kak Maya." Ujar si bungsu dengan raut muka sedih.
"Kan ada ayah sama mamah. Adek harus nurut sama mamah dan ayah, gak boleh nakal ya." Pesan Maya kepada adek bungsunya.
"Iya kak."
"Yah, sebelum pulang jadikan cari tempat kost buat mbak?" tanya Ami.
"Jadi mbak, kost di tempat mamah dulu aja. Lokasinya strategis, dekat ke kampus, lingkungannya juga bagus." Ucap Farhan.
"Iya mbak, mamah kenal sama pemiliknya mudah-mudahan masih ada kamar yang kosong. Mulai kuliah bulan apa ?"
"Awal bulan Agustus mah, masih 2 bulanan lagi !" jawab Ami.
Tepat pukul 08.30 mereka tiba di pesantren Maya. Diana dam Ami mengantar Maya sampai ke kamarnya, membantu membereskan barang bawaanya.
__ADS_1
Setelah beres mereka kembali ke ruang tunggu yang di sediakan untuk orang tua santri sambil menunggu pengumuman untuk berkumpul di aula. Mereka duduk di pojok ruangan tunggu bergabung dengan ayahnya dan Radith.
"Mah, ayah, mbak, adek...doakan kaka betah di sini ya, maafkan kalau selama ini kaka suka ngerepotin mamah dan ayah, maafkan kalau suka membuat kesal. Doakan kaka jadi anak yang sholehah, doakan bisa istiqomah hafalan qurannya. Mamah dan ayah, mbak Ami juga adek harus sehat semuanya. Harus bisa melihat kaka di wisuda tahfidz quran, kelak di surga kaka akan memasang mahkota di kepala mamah dan ayah." Maya berkata sambil matanya berkaca-kaca.
Diana memeluk erat putri keduanya sambil meneteskan air mata yang tidak bisa di tahan. Farhan berusah menahan buliran air mata agar tidak jatuh dengan berpura-pura menatap ponsel. Ami turut memeluk adeknya, begitupun Radith memeluk kakanya dengan mata yang berembun.
"Kaka, anak mamah dan ayah yang hebat, yang mandiri. Mamah akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kaka, mbak Ami juga Adek. Masuk pesantren adalah pilihan kaka, mamah bangga dan bahagia atas pilihan kaka ini. Baik-baik di pondok ya, kaka harus sehat, harus kuat dan harus bahagia. Kita semua sayang sama kaka, kita akan sangat merasa kehilangan kaka."
Akhirnya tangis Maya anakku tidak bisa dibendung. Isak tangisnya menyayat pilu hati Diana.
"Maafkan mamah kalau selama ini suka cerewet, suka agak keras sama kaka."
"Kelak kaka akan merindukan cerewetnya mamah. Kaka akan merindukan teriakan mamah membangunkan kaka sholat subuh. I love you mah.!" bisik Maya ditelinga Diana.
"I love you too Kaka sayang."
Maya melepas pelukan dengan mamahnya. Beralih kepada mbaknya.
"Mbak, titip mamah ya. Mbak kan bisa sering komunikasi dan bertemu mamah. Aku gak bisa sesering mbak komunikasi sama mamah dan ayah karena gak boleh bawa ponsel. Maafkan Maya ya mbak !"
"Iya...maafkan mbak juga ya. Nanti seminggu sekali mbak yang nengok ke sini !"
Maya beralih memeluk ayahnya
"Ayah maafkan kaka, ayah harus sehat jangan terlalu capek kerjanya. Ayah dan mamah harus melihat anak-anaknya berhasil. Jangan suka berantem sama mamah ya !" Pesan Maya kepada cinta pertamanya.
"Sama-sama kak, maafkan ayah. Belajar yang bener dan fokus. Ayah pasti kangen sama kaka, Insya Alloh kita semua sehat. Ayah pasti akan jaga mamah dengan baik!" Farhan memeluk erat putri keduanya sambil tetap berusaha menahan air matanya.
Maya putri kedua Farhan dan Diana adalah sosok yang pendiam tapi sangat peduli. Dia mandiri, dewasa dan konsisten dengan setiap keinginannya.
Terdengar pengumuman dari pengeras suara. Santriwati diminta berkumpul di aula A. Orang tua tetap bisa menunggu di ruangan ini karena bada sholat duhur berjamaah masih bisa menemui anak-anaknya sampai pukul 15.00 WIB..
Farhan beserta anak dan istrinya lebih memilih jalan-jalan berkeliling di sekitar pondok pesantren, sambil menunggu waktu dhuhur.
"Mah, kok adek gak liat anak laki-laki yang pesantren di sini ?" tanya Radith.
"Kalau putra, tempatnya sekitar 1 km dar tempat putri. Jadi terpisah asramanya, mesjidnya dan sekolahnya. Mereka sudah masuk pondok dari hari Sabtu kemarin. Hari minggu ini giliran santri putri yang masuk pondok." Diana men jelaskan dengan detail kepada anak bungsunya.
" Owh gitu mah, adek juga nanti mau pesantren di sini ya mah." pintanya.
__ADS_1
"Siap bos." Jawab Diana sambil melanjutkan jalan-jalanya di sekitar pondok.
******