POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 70 I love You


__ADS_3

Hari Sabtu pagi, Diana sudah bangun sejak pukul 04.30 WIB. Setelah sholat subuh langsung menuju dapur untuk membuat sarapan dan mencuci piring.


Sementara sepulangnya dari mushola Farhan langsung menyiram bunga di depan, dilanjutkan mengepel.


Setelah selesai semua pekerjaannya Farhan bersiap untuk lari pagi.


"Aku olah raga sebentar." Pamit Farhan dengan suara dingin dan wajah datarnya.


"Iya..hati-hati mas !" jawab Diana sambil menata sarapan di meja makan.


Satu jam kemudian Farhan sudah kembali dari olah raganya.


"Sarapan atau mandi dulu mas?" tanya Diana.


Tidak ada jawaban dari suaminya. Farhan masuk ke kamar.


30 menit kemudian keluar sudah rapih dan wangi dengan pakain kerjanya.


"Sarapan dulu mas.!" ajak Diana yang dari tadi sudah menunggu sambil menonton berita di TV.


"Aku sarapan di kantin kantor saja, lagi pengen makan soto !" jawabnya sambil menggunakan kaos kaki di ruang tamu.


Diana mendekat kepada suaminya dan duduk tepat disampingnya.


"Mas, maaf kalau semalam Di salah bicara, jangan ngambek terus dong. Gak ada maksud menyinggung perasaan kamu!"


Diana terus berbicara kepada suaminya walaupun tidak direspon.


"Aku berangkat dulu, jam berapa mau ke rumah mama?, pake aja mobil takutnya Ami minta jalan-jalan. Aku ke kantor pake motor !" Ucap Farhan sambil berdiri.


Diana berlari masuk ke kamar sambil menahann isak tangisnya.


Tidak suka diperlakukan seperti ini oleh suaminya.


Farhan keluar dari rumah dan langsung berangkat ke kantor. Tidak memperdulikan Diana yang menangis di dalam kamar. Amarah masih menyelimuti hatinya karena tersinggung dengan ucapan Diana.


Tiba di kantor keadaan ruangannya masih sepi, karena ini week end yang berada dikantor hanya mereka yang sedang piket saja.


Sambil menunggu rekan satu unitnya, Farhan menyesap sebatang rokok sambil duduk dibangku taman kecil depan ruangan in**l.


"Apa aku terlalu berlebihan menyikapi obrolan semalem?" tanya Farhan dalam hatinya.


Sebagai suami dan laki-laki Farhan merasa tersinggung pada saat Diana mengatakan "bantu-bantu mas".


"Selama ini aku berusaha memenuhi semuanya. Aku gak pernah menyuruh dia bekerja, bahkan aku melarang gajinya digunakan untuk apapun!" guman hatinya sambil menyalakan lagi sebatang rokok.


3 rekan satu timnya sudah tiba di kantor. Farhan dan teman-temannya mulai duduk dimejanya masing-masing. Ada yang mengecek laporan-laporan, ada yang menindak lanjuti perintah atasannya. Untungnya hari ini tidak ada kegiatan yang membutuhkan pengamanan ataupun pengecekan. Piket hari ini cukup stanby di kantor.


"Mudah-mudahan sampai besok pagi keadaan kondusif." bathin Farhan.


"Dre, pesen sarapan ke kantin!"


"Tumben lo gak sarapan di rumah?" tanya Andre.


"Udah buruan gak usah banyak tanya !"

__ADS_1


"Lo aja sana makan dulu di kantin, gue udah sarapan di rumah. Bini gue tadi bikin sup ayam kampung."


"Yang udah punya bini sombong amat ." Goda Farhan.


Andre teman satu kantor sekaligus teman yang paling dekat dengannya sudah menikah 2 tahun lalu dan sudah mempunyai anak yang baru berusia 10 bulan.


"Bro, muka lo kusut banget, lagi ada masalah ya sama bini?" tanya Andre.


"Sotoy lo ahh..gue ke kantin dulu!" pamit Farhan.


"Woii ati-ati, bini lo cantik, smart lagi kalau dianggurin nanti diembat orang." Teriak Andre.


Pada saat Farhan sarapan di kantin ada bunyi notifikas pesan di ponselnya.


My lovely wife, begitu Farhan menamai kontak istrinya.


"Mas, sekali lagi maaf ya. Sekarang Di mau jemput Ami di rumah mamah pake gojek. Di mau ajak ami ke Bandung, mau nginap di Bandung satu malam ini, biar mas tenang gak ada yang ganggu. Dari rumah mamah langsung ke travel berangkat ke Bandung yang jam 11."


Farhan reflek melirik jam ditangannya. Masih pukul 09.30 WIB.


"Tunggu dulu di rumah, mas jalan pulang." pesan balasan dikirim ke ponsel Diana.


Farhan panik, tidak menyangka Diana akan berani menghindarinya dengan pergi ke Bandung. Dia berlari masuk ke dalam ruangannya.


"Dre, sorry banget gue ijin ya mau nganter bini dulu, paling telat jam 7 malam dah di kantor lagi, giliran deh nanti malan lo bisa ngelonin bini di rumah!"


"Kebiasaan kalau piket weekend suka kabur!"


"Sorry banget urgent, bini gue lagi ngambek."


"Ya udah hati-hati...awas nanti malem jam 7 teng udah di kantor !!"


"Siap...!"


Satu unit terdiri 5 orang, 1 orang kanit, Farhan, Andre dan 2 orang lagi yang masih junior.


Sementara hari ini kanit nya Farhan sedang ijin keluar kota ada keperluan keluarga.


Pukul 09.50 Farhan tiba di rumah berbarengan dengan Diana yang sedang mengunci pintu pagar. Sementara ojek online sudah menunggu depan rumah.


Farhan memarkirkan motornya, kemudian mengeluarkan uang 50 rb untuk ojek online.


"Maaf kang gak jadi ya perginya." Ucap Farhan sambil menyerahkan satu lembar uang 50 rb an.


Driver gojekpun pergi setelah mengucapkan terima kasih.


"Mas, apa-apaan sih?" Diana kaget tiba-tiba Farhan pulang. Dia belum sempat membaca balasan pesan yang dikirim oleh Farhan.


"Masuk dulu, mas nyimpen motor. Kita jemput Ami pake mobil, langsung pergi ke Bandung ajak Ami jalan-jalan!"


"Mas, kamu kan lagi kerja. Aku pergi pake travel saja, besok siang mas jemput."


Mereka sudah berada di dalam rumah. Farhan mengganti baju sementara Diana menunggu di ruang tengah.


"Kalau pergi berdua mau nginap dimana?" tanya Farhan datar.

__ADS_1


"Cari penginapan yang murah aja."


"Janjian sama siapa?, gak usah bawa Ami kalau janjian sama orang!" cibir Farhan.


"Mas..apa-apaan sih?, serendah itu kamu menilaiku!"


Diana menangis di sofa, kemudian berlari masuk ke kamar Ami, membanting pintu dengan keras.


"****...!!, kenapa aku gak bisa menahan diri!" rutuk Farhan sambil mengacak kasar rambutnya.


Dibiarkannya Diana menangis di kamar Ami. Farhan mengambil sebatang rokok dan menghisapnya dalam seolah ingin menelan rasa bersalahnya kepada Diana. Kini dia yang sudah menyinggung perasaan istrinya.


Akhirnya Farhan masuk ke kamar Ami. Menghampiri Diana yang menangis di atas tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan bantal.


"Di, maaf ya, dari semalem mas menahan untuk tidak banyak bicara, karena mas tahu kalau lagi emosi kata-kata yang keluar dari mulut mas susah di kontrol. Maafkan, mas salah !"


Farhan mengambil bantal yang digunakan Diana untuk menutup wajahnya. Kemudian berbaring disamping Diana, memeluk erat tubuh istrinya.


Diana menangis semakin kencang di dada Farhan.


"Maafkan Di juga ya mas, udah menyinggung perasaan mas."


""Sstttt..udah lupakan. Ayo cuci muka kita jemput Ami, terus ke Bandung. Tapi gak bisa nginap ya, malam mas harus piket gantian sama Andre."


"Udah siang mas, besok aja kita berangkat agak pagi. Atau minggu depan saja!"


"Beneran gak mau berangkat hari ini ?" tanya Farhan lagi.


"Ya udah ganti bajunya, telepon mamah bilang kamu ke sana nanti sore."


"Kok sore mas?, kan mas juga mau ke kantor lagi sekarang."


"Sore aja mas ke kantor, udah terlanjur ijin sama Andre."


"Ganti baju dulu, nyalain Ac kamarnya.!"


Diana berjalan ke arah kamar, Farhan mengikuti dari belakang.


"Ngapain sih mas ngikutin ke kamar.?"


"Mau liat yang ganti baju.!" goda Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.


Farhan memeluk Diana dari belakang tepat di depan meja rias pada saat Diana sedang melepas kancing kemejanya.


Mencium lembut bahu putih Diana dan kemudain membalikkan tubuh istrinya.


Tidak ada jarak antara mereka


"I Love You Di." Bisik Farhan di telinga Diana"


"I love You too mas."


Bibir Farhan menyapu lembut bibir Diana, ********** lembut dan hangat.


*****

__ADS_1


__ADS_2