POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 55 Persiapan Pernikahan 2


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa Diana sudah menjalani 2 bulan masa training di perusahaan tempatnya bekerja. Sudah banyak pekerjaan yang berhubungan dengan HRD dikuasai oleh Diana.


Sesudah masa training Diana diberi pekerjaan khusus menangani tentang kualitas Sumber Daya Manusia, sesuai dengan latar belakang pendidikan Diana sebagai seorang sarjana Psikologi.


"Pekerjaan yang menyenangkan." Lirih Diana.


Menangani sumber daya manusia membuat Diana sering berinteraksi dengan karyawan/karyawati. Diantaranya Diana yang mengatur masa training untuk karyawan baru, mengevaluasi masa kontrak karyawan yang tentunya semua pada akhirnya akan dikoreksi oleh mbak Ria sebagai supervisornya sebelum di setujui oleh manager HRD.


Hari Jumat sore, Diana sudah merapihkan meja kerjanya, karena waktunya pulang sudah tiba.


Farhan berjanji akan menjemput Diana sore ini.


"Di, aku sudah menunggu di parkiran."


Pesan masuk di ponsel Diana.


" Ok mas, tunggu ya 5 menit lagi aku turun."


"Hai mas, lama menunggunya?" tanya Diana.


"Enggak, baru 10 menit." Jawab Farhan.


Mobil meninggalkan area parkir perusahaan.


"Mas, kita makan dulu yu."


"Mau makan dimana Di ?" tanya Farhan.


"Di Alam Indah saja mas, gak jauh kan dari sini ?"


"Ok honey..."


"Ihhh mulai deh lebaynya."


"Hahahhahaa, Diana kamu tuh aneh, apa yang salah sih dengan kata itu ?" Farhan tertawa lepas.


"Geli dengernya mas, akhir-akhir ini mas jadi gombal."


"Sama pacar sendiri boleh kan?" Farhan bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Boleh, tapi jangan terlalu sering !"


Farhan tipe laki-laki intovert terhadap orang-orang di sekitarnya.


Pada saat awal-awal mengenal Farhan, Diana sering kali merasa kesal kalau sedang berbalas pesan jawaban dari Farhan selalu singkat dan pendek.


Susah sekali diajak ngobrol kalau berada dilingkungan baru. Farhan bisa bicara banyak dengan orang yang benar-benar sudah dia kenal.


Seiring berjalannya waktu, sedikit demi sedikit sifat Farhan mulai berubah. Lebih terbuka, lebih bisa masuk ke dalam lingkungan baru, meskipun hanya sedikit perubahannya.


Dulu, tidak ada Farhan yang romantis, yang memanggil Diana dengan honey, sayang, tapi Diana tidak mempermaslahkan hal itu, karena Diana sangat merasakan begitu sayangnya Farhan pada Diana. 1 tahun terakhir ini sering sekali kata-kata sayang, honey keluar dari mulut Farhan.Sebenarnya bukan tidak suka, Diana merasa geli saja, karena kadang Farhan mengucapkan dengan wajah yang datar tanpa ekspresi.


Pukul 17.30 WIB mobil Farhan sudah tiba diparkiran rumah makan. Kemudian mereka masuk mencari tempat duduk dipojok dekat taman bunga.

__ADS_1


"Mau makan apa mas?" tanya Diana sambil membaca buku menu makanan.


"Mas mau makan ikan bakar sama cah kangkung." Jawab Farhan.


"Ok mas, aku mau ayam goreng mentega sama sapo tahu."


Diana menulis semua pesanannya ditambah dengan 2 air mineral dan 1 juice jeruk untuk dirinya.


"Mas, hari ini aku yang traktir ya." Celoteh Diana sambil menunggu pesanan.


"Wah, kayaknya ada yang baru gajihan nih." Goda Farhan.


"Mas ihh.."


"Ya udah Alhamdulillah ada yang traktir, kebetulan akhir bulan mas belum gajihan." Kembali Farhan menggoda Diana.


Pesanan sudah dihidangkan di atas meja.


"Terima kasih ya kang." Kata Diana kepada waiters yang mengantarkan pesanannya.


"Sama-sama, Pak, Bu..."


Sambil menikmati makanan di atas meja, mereka bercerita tentang kegiatan masing-masing hari ini.


"Di, tidak terasa lebih kurang 1 bulan lagi kita akan menikah." lirih Farhan.


"Iya mas, aku kadang tidak percaya sampai dititik ini, 6 tahun lebih kita pacaran, suka dan duka kita lalui, ujian datang silih berganti, Alhamdulillah kita bisa melalui bersama, kelak dalam ikatan pernikahan mungkin kita akan menghadapi masalah dan ujian yang lebih komplek, semoga kita bisa terus sama-sama berjuang." Lirih Diana nyaris tidak terdengar oleh Farhan.


"Iya mas sama-sama. Terima kasih juga sudah sabar menghadapi sikap dan sifat aku, semoga kita bisa terus saling melengkapi, menghargai dan mengerti."


"Aamiiin.." kata Diana dan Farhan serentak.


"Persiapan sudah beres semua kan Di?, undangan sudah dicetak?" tanya Farhan.


"Persiapan sudah 90%, tinggal ambil undangan dipercetakan minggu depan, seminggu sebelum hari H akan dibagikan. "


"Undangan digital sudah siap?" tanya Farhan lagi.


"Sudah mas, tinggal di share nanti seminggu sebelum hari H."


Diana dan Farhan membuat undangan digital untuk tamu undangan yang tinggal diluar kota.


"Souvenir bagaimana Di ?"


"Sudah dikirim sama suplier, mudah-mudahan lusa juga sudah sampai."


"Bismillah ya Di, semoga semuanya dilancarkan dan dimudahkan..aamiin."


Farhan dan Diana sudah melaksanakan nikah kantor 1 minggu yang lalu. Orang tua Farhan sengaja datang dari Solo untuk menghadiri acara tersebut. Waktu itu Diana hanya ijin setengah hari kepada perusahaan, alhamdulillah manager HRD juga mempermudah Diana meminta ijin.


"Ayo pulang, udah kenyang," ajak Farhan.


"Kamu gak dengar sudah adzan maghrib ya mas ?'"

__ADS_1


"Owh iya, sholat dulu disini aja ya Di, baru kita pulang."


"Ya iya lah mas."


"Sekalian pesan makanan buat mamah saja, selesai sholat tinggal ambil dan bayar."


"Mamah gak ada di rumah, tadi sepulang dari sekolah pulang ke kampung halaman mamah untuk memberi kabar keluarga besar tentang acara pernikahan kita. Mungkin minggu sore baru pulang lagi, karena sekalian mampir ke kampung halaman papah."


"Berangkat sama siapa?"


"Sama tante Rina dan suaminya, anak tante Rina juga ikut, sekalian jalan-jalan katanya."


"Seharusnya sih mamah berangkat diantar sama kita Di, sekalian mas silaturahmi dengan keluarga besar mamah dan papah."


"Aku juga sudah bilang sama mamah, besok diantar sama Di dan Mas Farhan, tapi mamah menolak, katanya kasihan kamu capek, hari seninnya harus kerja, mas Farhan juga belum tentu bisa libur sabtu dan minggu begitu kata mamah."


"Aku kan bisa minta ijin Di."


"Sudah gak apa-apa mas, mau nya mamah seperti itu."


"Ya sudah...ayo bayar dulu, terus kita sholat."


Mereka sudah berada di dalam mobil.


"Ke asrama bentar ya Di, mas mau bawa sisa baju-baju mas dan sepatu-sepatu mas buat dipindahkan ke rumah cluster, sesudah menikah kita tinggal di rumah Cluster ya?"


"Iya lah mas, aku akan ikut dimanapun mas tinggal."


"Mamah gak keberatan di tinggal sendiri di rumah ?" tanya Farhan.


"Insya Alloh enggak mas, kita masih berada dalam satu kota, bisa sesering mungkin menengok mamah, alhamdulillah ada mang Ujang dan keluarganya yang menemani mamah di rumah. Kita juga bisa sering-sering menginap di rumah mamah, apalagi kalau mas piket malam Di akan tidur di rumah mamah."


"Iya Di..."


Waktu menunjukan pukul 19.15 WIB.


Setelah mampir diasrama, mereka akhirnya tiba di rumah cluster.


"Mas, maaf ya aku gak bisa rapihin baju-baju mas sekarang, besok hari sabtukan aku libur, aku janji besok kesini lagi agak siangan untuk merapihkan baju-baju mas."


"Gak usah Di, nanti mas yang rapihin, cuma sedikit, besok kalau kesini Jam 2 an saja, sorenya kita nonton ada film bagus di bioskop, atau nanti mas jemput ke rumah sepulangnya dari kantor."


"Aku kesini aja bada duhur rapihin dulu baju-baju mas sekalian beresin rumah, pulang dari kantor bisa langsung jalan ke bioskop."


"Ya udah kalau emang kamu gak cape, atau ajak saja istrinya mang Ujang untuk bantuin kamu beres-beres rumah, nanti sekalian jalan ke bioskop kita anterin dulu ke rumah, nanti jangan lupa kasih uang buat jajan anaknya."


"Good idea mas, sekalian saja ajak sama mang Ujangnya, biar rapihin rumah sedikit-sedikit, taman di depan juga perlu di rapihin."


"Ok Di mas setuju, diatur saja waktunya, harus agak pagi berarti. Bawa kunci saja satu, takutnya mas di kantor lama."


*****


"

__ADS_1


__ADS_2