POSESIF VS BUCIN

POSESIF VS BUCIN
BAB 82 Jangan Marah Di...


__ADS_3

Dua minggu berlalu setelah pulang dari Anyer.


Hari Jumat setelah selesai sholat Jumat di mesjid dekat rumah, Farhan kembali ke kantor.


Baru sekitar 15 menit masuk ke ruangannya ada yang mengetuk pintu.


"Masuk...!" perintah Farhan.


"Ijin komandan ada tamu dari setengah jam yang lalu sudah menunggu di taman belakang."


"Hari ini saya tidak ada janji dengan siapapun, urusan pekerjaan bisa di arahkan ke kanit yang bersangkutan !" ucap Farhan kepada anggotanya.


"Ijin komandan sudah diarahkan seperti itu, tapi mau langsung ketemu komandan !"


"Ok suruh tunggu di ruang tamu aja, nanti saya keluar !" perintah Farhan kepada anak buahnya.


"Siap komandan , ijin kembali ke ruangan !"


Setengah jam kemudian Farhan baru keluar.


Alangkah kagetnya


ketika tiba di ruang tamu melihat dua orang wanita yang sedang duduk. Farhan langsung menguasai diri dengan berusaha tenang.


"Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Farhan.


"Mas apa kabar ?" tanya salah seorang dari tamunya.


"Alhamdulillah kabar baik, bagaimana ada yang bisa saya bantu ?" Farhan mengulang kembali pertanyaannya.


"Mas, gak usah kaku seperti itu dong!" ucap tamunya.


"Mohon maaf, saya sedang sibuk. Sebentar lagi harus keluar kantor !"


"Maaf kalau mengganggu, kalau begitu nanti malam bisa kan bertemu untuk makan malam. Aku menginap di hotel Happy kebetulan ada urusan ke Jakarta besok, transit dulu dikota ini sengaja ingin menemui mas Farhan. Karena mas blokir nomor teleponku jadi gak bisa memberi kabar dulu !"


"Saya usahakan datang, tapi tidak bisa janji ya!"


"Ok terimakasih mas. Aku tunggu di restauran Hotel Happy pukul 19.30 WIB."


Dua wanita itu pamit, katanya mau makan siang di salah satu rumah makan maranggi yang terkenal di kota ini.


"Tuhan itu wanita benar-benar nekad banget." Bathin Farhan.


Disisi lain dia adalah teman Fera, teman satu kampung halaman. Tapi cari dia bersilaturahmi sangat tidak beradab.


"Kalau Diana tahu dia datang ke kantor, bisa perang dunia." Guman Farhan dalam hati.


Akhirnya Farhan memutuskan untuk bicara jujur tentang kedatangan Utami siang ini ke kantor. Kalaupun harus memenuhi undangan makan malam dari Utami, Farhan harus berangkat dengan Diana.


Tepat pukul 17.50 WIB bersamaan dengan kumandang adzan maghrib, Farhan tiba di rumah.


Setelah selesai solat maghrib, Farhan mengajak Diana bicara di kamarnya. Mereka duduk di sofa yang berada di kamar. Farhan Menceritakan tentang kedatangan Utami dan undangan makan malam dari Utami.


Diana diam saja tidak menanggapi apa yang dibicarakan oleh suaminya.


"Kamu marah Di ?, padahal mas sudah berusaha bicara jujur sama kamu!"

__ADS_1


"Silahkan aja kalau mas mau pergi makan malam sama dia." Ucap Diana datar sambil berdiri hendak keluar kamar.


Farhan menarik tangan Diana, membawanya duduk kembali.


"Mas hanya menceritakan, bukan berarti mas mau pergi menghadiri undangan makan malam dari dia !" Ucap Farhan lembut.


"Sudahlah mas, aku mau menyiapkan makan makan malam dulu."


"Mbak, kaka, adek..ayok turun nak kita makan malam dulu !" teriak Diana kepada anak-anaknya yang masih berada di lantai 2.


Satu persatu anak-anaknya turun.


"Sudah ngaji semua ?" tanya Diana.


"Sudah mah." Jawab mereka kompak.


"Mbak Ami panggil ayah di kamar !"


Pukul 18.40 mereka makan bersama.


"Setelah selesai makan ke atas lagi langsung sholat Isya, karena besok hari libur kalian boleh nonton TV atau main game setelah sholat isya dan ngaji, tapi jangan terlalu malam ya!" perintah Farhan kepada anak-anaknya.


Sebagai anak yang sudah remaja, Ami melihat ada sesuatu antara ayah dan mamahnya. Selama makan malam bersama tidak ada obrolan antara ayah dan mamahnya.


"Pasti ayah lagi posesif sama mamah, dasar bucin." Bathin Ami tersenyum kecil sambil berjalan menaiki tangga.


Di meja makan tinggal Farhan dan Diana berdua.


Diana membereskan piring-piring kotor membawanya ke dapur. Sementara Farhan tetap duduk sambil terus memperhatikan istrinya.


Diana menurut, duduk lagi di kursi meja makan samping suaminya.


Diraihnya jemari Diana yang berada di atas meja makan, di elusnya dengan lembut.


"Lihat mata mas, kamu masih marah ?, jadi maunya mas berbohong gitu biar kamu happy ?"


Diana memalingkan wajahnya, menghindari tatapan mata Farhan.


"Aku gak marah, terimakasih sudah bicara jujur. Karena aku percaya sama mas silahkan saja kalau mau pergi makan malam.!" Ujar Diana dengan ekspresi datar.


"Di, jangan begini, wajah kamu gak bisa bohong. Mas harus bagaimana?, kedatangan dia ke kota ini bukan kehendak mas. Dia datang ke kantorpun mas gak tahu, gak ada komunikasi sama sekali antara aku dan dia !"


"Ya sudah sholat Isya dulu, terus siap-siap pergi ke hotel Happy. Kasiankan dia nunggu, anggap saja kamu datang memenuhi undangannya karena dia sahabat mbak Fera!"


"Sudah mas bilang, gak akan kesana. Mas hanya menceritakan kedatangan dia di kota ini !" ucap Farhan datar dengan kalimat yang penuh penekanan.


"Maaf mas aku mau sholat Isya dulu ." Pamit Diana.


Farhan merasa serba salah, jujur salah apalagi kalau bohong. Setelah Diana masuk ke kamar, Farhan berjalan menuju teras rumah, kemudian menyalakan sebatang rokok menyesapnya dalam.


"Hhmmm...kayaknya aku harus ajak Diana dan anak-anak bertemu Utami. Biar dia tahu bagaimana bahagianya aku memiliki Diana dan anak-anak !"


Farhan menaiki tangga menuju kamar anak-anaknya yang ternyata sedang berkumpul di depan TV lantai 2.


"Udah pada sholat?" tanya Farhan


"Udah yah !" jawab mereka kompak.

__ADS_1


"Ganti baju semua, ayah mau ngajak ngopi di restaurant hotel Happy."


"Really yah ?" tanya Ami bahagia.


"Really...semua ganti baju gak pake lama. Ayah sholat isya dulu langsung siap-siap sama mamah !"


Di dalam kamar Diana sedang rebahan di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Mah, ganti baju anak-anak ngajak jalan !" Perintah Farhan.


"Kemana ?, silahkan aja mas sama anak-anak !" ucap Diana.


"Sejak kapan kamu gak peduli sama anak-anak ?" tanya Farhan dengan suara yang menahan kesal kepada Diana.


Setelah sholat Farhan berganti pakaian. Kemudian Radith masuk ke kamar.


"Ayah kita udah siap....kok mamah masih tiduran sih?, cepat dong mah keburu malam.!" ajak Radith sambil berjalan keluar kamar.


"Kamu mau anak-anak kecewa ?, baiklah mas pergi sama anak-anak ya !"


"Tunggu aku ganti baju!"


"Gitu dong, dandan yang cantik ya. Gak pake lama, mas nunggu di teras sama anak-anak !"


Mobil yang dibawa Farhan melaju menuju hotel Happy.


"Mau ngopi dimana? kok arahnya ke sini ?" tanya Diana.


"Kita mau ke restaurant hotel Happy mah !" jawab Ami santai.


"Mamah gak mau ngopi di sana mbak, cari tempat lain saja !"


"Ya mamah, makanannya enak-enak loh." Jawab Maya.


Sementaraa Farhan tersenyum tipis melihat Diana yang kesal.


Tiba di hotel Farhan menurunkan anak-anak di depan lobi hotel.


" Mbak, masuk duluan sama adek-adek, cari tempat duduk yang nyaman langsung aja pesan makanan. Ayah sama mamah cari parkiran dulu!"


Akhirnya Farhan mendapat tempat parkir agak jauh dari lobi.


"Apa maksud mas ngajak ke sini ?, katanya gak mau menemui dia ?" Ucap Diana ketus.


Mereka masih berada di dalam mobil walaupun mobil sudah diparkir.


"Di, kita harus memperlihatkan kepada dia bahwa kita bahagia. Biar dia gak bersikap seenaknya seperti ini. Kalau kita gak menemuinya, seterusnya akan seperti ini !"


Diana diam sambil berpikir sejenak, benar juga apa yang dikatakan suaminya


""Ayok turun mas !" ajak Diana.


"Senyum dong, jangan cemberut terus !"


Farhan yakin Utami sudah berada di restauran karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.15. WIB.


*****

__ADS_1


__ADS_2