
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa 4 bulan sudah usia pernikahan Farhan dan Diana.
Acara syukuran di kota kelahiran Fahan pun sudah dilaksanakan tepat saat usia pernikahan mereka 1 bulan.
Hari ini seperti biasa, Diana sudah bangun sejak pukul 05.00 WIB.
Sesudah sholat subuh langsung ke dapur menyiapkan sarapan kesukaan Farhan yaitu nasi goreng putih dengan toping iris dadar telor.
Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor Diana menyiapkan sarapan dan mencuci piring. Sementara mencuci pakaian biasanya dikerjakan sore sepulangnya dari kantor. Tugas Farhan mengepel rumah 2 hari sekali dan menyiram bunga di taman kecil depan rumah satu kali sehari.
"Mas bangun...iih susah amat sih bangunnya, udah mau jam 6 loh, cepetan bangun sholat subuh!" Diana membangunkan Farhan dimulai dari mengelus pipinya lembut kemudian mencium keningnya dan terakhir menggoyang-goyangkan badannya baru Farhan bangun.
"Ya Tuhan Di, udah terang kenapa gak bangunin dari tadi?" tanya Farhan sambil berjalan cepat ke kamar mandi yang berada di dalam kamar.
"Hhmmm kebiasaan suka nyalahin, padahal dibangunin daritadi." guman Diana kesal.
Setelah Farhan selesai wudhu, Diana masuk ke kamar mandi.
"Oek..oekk..oekk." Diana muntah-muntah di kamar mandi.
Farhan yang sudah selesai sholat berjalan ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Di, kenapa sayang?, buka pintunya!"
Tidak lama kemudian Diana keluar sudah menggunakan daster.
"Kenapa Di, sakit ya?, wajah kamu pucat banget."
" Kayaknya masuk angin mas,semalem Ac terlalu dingin. Susah tidur juga nungguin kamu sampai tengah malam belum pulang."
"Maaf ya semalem mas pulang jam 2 dini hari, ada giat operasi."
"Oekk..oekkk...oekkk" Diana munta-muntah lagi mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel dekat meja makan. Sementara Farhan membantu memijit tengkuk Diana.
"Gak usah kerja ya Di, kita ke dokter aja, wajah kamu pucat banget."
"Gak apa-apa mas nanti juga baikan, cuma masuk angin. Tolong balurin kayu putih di tengkuk aku sama punggung biar hangat."
Farhan melakukannya sambil memijat ringan leher dan punggung Diana.
"sarapan dulu yuk, seudah sarapan minum t***k an**n !" perintah Farhan
"Aduhh udah setengah 7 mas, buruan mandi sana, aku ganti baju dulu terus kita sarapan.!"
Farhan masuk kamar mandi, sementara Diana bergegas mengganti daster dengan pakain kerja tidak lupa merias wajahnya sedikit agar terlihat lebih segar.
Farhan sudah selesai mandi dan menggunakan pakaian yang sudah disiapkan Diana di atas kasur.
"kenapa sedikit banget makannya Di ?"
"Mual mas, nanti aku bekel aja ke kantor, kalau udah enakan badannya nanti dimakan ."
"Ya sudah minum obat nya !"
"Iya, mas ke kantor hari ini ?" tanya Diana.
"Ke kantor agak siangan, jam 9 an lah."
Pukul 07.40 WIB Diana sudah tiba diparkiran perusahaan diantar oleh Farhan.
__ADS_1
"Makasih ya mas." Kata Diana sambil mencium tangan suaminya.
"Makan yang bener ya Di, kalau ada apa-apa kabari mas secepatnya. Nanti sore mas jemput !" pesan Farhan sebelum Diana turun.
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tidak terburu-buru seperti biasanya. Hari ini tidak apel pagi karena semalem Farhan mengikuti kegiatan operasi sampai pukul 02.00 WIB.
"Baru jam 8, ke rumah dulu aja, cuci baju sambil ngepel. Kasian Diana kalau nanti sore pulang kerja harus nyuci baju."bathin Farhan sambil melirik jam tangannya.
Sementara di kantor Diana merasa mual terus dan agak pusing, tapi tetap memaksakan untuk melanjutkan pekerjaannya.
Pukul 12.00 WIB, mbak Ria atasan Diana menghampiri ke mejanya.
"kamu sakit Di ?, wajah kamu pucat banget." Tanya mbak Ria
"Enggak mbak, cuma masuk angin aja jadi agak mual dan pusing." Jawab Diana.
"Heii....jangan-jangan kamu hamil Di, coba inget-inget kapan terakhir datang bulan!" kata mbak Ria antusias.
Diana akhirnya mencoba mengingat kapan terakhir datang bulan sambil melihat kalender di meja kerjanya.
"Udah terlambat 1minggu." Guman Diana.
"Terlambat berapa minggu Di?" tanya mbak Ria yang masih berdiri di depan meja Diana.
"Satu minggu mbak." Jawab Diana dengan suara pelan.
"Fix hamil Di....nanti sore pulang kerja langsung ke doker aja!" perintah mbak Ria.
"Aamiin mudah-mudahan benar hamil. Iya mbak pulang kerja nanti langsung ke dokter kandungan, makasih ya mbak."
"Ayo kita makan siang dulu di kantin." Ajak mbak Ria, sementara 2 orang rekan kerja lainnya sudah duluan istirahat dan makan siang.
"Mudah-mudahan kalau makan pedas dan asam mual dan pusingnya hilang." bathin Diana.
Alhamdulillah Diana tidak merasakan bau masakan, hanya saja merasa tidak berselera makan saja.
"Kayaknya aku gak hamil, buktinya cium bau masakan di kantin gak mual banget, makan bakso juga enak-enak aja cuma gak terlalu berselera aja." lirih Diana yang masih bisa di dengar oleh mbak Ria.
"Udah abisin dulu baksonya, buat membuktikan hamil atau tidak ke dokter aja nanti sore!"
Baru saja duduk kembali di ruangannya ponsel Diana berdering.
"Assalamualaikum mas..." Diana mengangkat telepon dari suaminya.
"Waalaikumsalam, gimana masih mual gak?"
"Alhamdulillah udah gak mual banget mas" jawab Diana berbohong karena tidak mau suaminya khawatir.
"Udah makan siang ?"
"Udah makan bakso tadi di kantin."
"Kok makan bakso sih Di ?, makan yang bener yang bergizi !"
"Iya-iya, mas masih dikantor?" tanya Diana.
"Masih, lagi buat laporan sebentar lagi pulang mau istirahat. Ya udah lanjut kerjanya, mas tutup telepon nya ya."
Waktu menunjukan tepat pukul 17.00 WIB, Diana sudah merapihkan meja kerjanya.
__ADS_1
"Di pulang duluan ya mbak, mual dan pusing banget mau cepet rebahan." Pamit Diana kepada atasannya.
"Iya Di hati-hati, jangan lupa ke dokter, minta surat keterangan sakit aja untuk beberapa hari."
"Iya, makasih banyak ya mbak."
"Sama-sama Di."
Farhan sudah berada diparkiran sejak 15 menit yang lalu.
"Maaf lama ya mas." Kata Diana sambil mencium tangan suaminya.
"Gak apa-apa mas juga baru sampe."
Mobil mereka keluar dari parkiran perusahaan.
Diana menurunkan sandaran kursi nya, bersandar sambil memejamkan matanya.
"Di, wajah kamu pucat banget, masih mual ya ?"
"Iya mas, mual, pusing terus badan tuh gak enak banget rasanya."
Farhan menepikan mobilnya kembai padahal baru saja beberapa meter keluar dari kantor Diana.
"Kenapa tadi kamu bilang sudah baikan ?" tanya Farhan sambil mengelus tangan Diana lembut.
"Takut mas khawatir." jawab Diana singkat.
Farhan membawa istrinya ke dalam pelukan, memeluknya erat sekali kemudian mengecup keningnya sebelum mengurai pelukan.
"Aku suami kamu Di, apapun yg terjadi harus tahu. Sekarang kita ke dokter, tapi harus makan dulu ya!."
Farhan kembali menjalankan mobilnya.
"Makannya nanti saja mas pulang dari dokter." pinta Diana.
"Ya udah, tapi janji harus makan yang banyak ya!"
"Kita ke dokter kandungan aja mas!"
"Kamu hamil Di ?" tanya Farhan sambil mengerem mobil mendadak.
" Mas ihh, apa-apaan sih, untung aku pake safety belt !"
"Maaf sayang, mas kaget denger dokter kandungan."
"Aku udah terlambat datang bulan 1 minggu, mudah-mudahan mual-mual ini gejala hamil."
"Alhamdulillah Di, mas seneng dengernya."
"Belum pasti mas, jangan seneng dulu, makanya kita ke dokter kandungan yang praktek di Klinik Medika ya."
Dengan perasaan bahagia Farhan kembali menjalankan mobilnya.
Sambil tidak lepas menggenggam erat tangan kanan Diana, menciumi punggung tangan kanan Diana berulang kali. Sementara tangan kanannya tetap berada di atas stir mobil.
"Ya Tuhan, mudah-mudahan Diana benar-benar hamil." doa Farhan dalam hati.
.******
__ADS_1