
Farhan dan Diana masuk ke dalam restaurant sambil bergandengan tangan.
"Mas Farhan!" Ada suara yang memanggilnya, Farhan dan Diana reflek mengikuti arah suara.
Utami berjalan menghampiri Farhan dan Diana yang baru saja masuk ke dalam restaurant.
"Hai mbak, apa kabar ?, sudah lama menunggu mas Farhan ya ?" tanyanya sambil menjabat tangan Utami dan temannya.
"engg-gakk, baru 10 menitan di sini." jawab Utami gugup.
"Owh ya Utami gabung yuk di meja kami, anak-anak sudah booking tempat di luar pinggir kolam renang." Ajak Farhan.
Dengan langkah gontai Utami berjalan mengikuti Farhan dan Diana dari belakang.
"Si***an Mas Farhan membawa anak dan istrinya." Rutuk Utami dalam hati.
"Anak-anak kenalkan ini tante Utami temannya tante Fera, kebetulan tadi mamah ketemu di dalam."
Satu persatu anak-anaknya menyalami Utami dan temannya.
Farhan memanggil waiters meminta menggabungkan meja disebelahnya supaya Utami dan temannya bisa bergabung.
"Sudah pesan makanan mbak?" tanya Diana kepada Ami.
"Sudah mah, kita pesan cemilan sama minuman saja."
"Mas mau pesan apa?" tanya Diana manja.
"Cemilannya samain saja sama kamu, ditambah kopi biasa aja!"
"Mbak Utami dan mbak Dian, silahkan mau memesan apa ?" tanya Diana sambil menyerahkan buku menu.
Semua pesanan sudah dihidangkan di meja, anak-anak keliatan senang sekali di ajak makan di sini.
"Tante Utami tinggal dimana?" tanya Ami.
"Tante tinggal di Bandung, tapi besok mau ke Jakarta jadi mampir di kota ini, kangen sama marangginya." Jawab Utami.
Sementara Diana dan Farhan terus saja memperlihatkan adegan romantis di depan Utami.
"Mas Farhan laki-laki dingin ternyata begitu hangat kepada anak dan istrinya. Aku pikir polisi tuh nakal, genit dan gampang di goda !" bathin Utami kesal.
"Mbak Utami, maaf ya kami harus segera pulang sudah malam. Barangkali mau mampir dulu ke rumah besok sebelum ke Jakarta?, Ini nomor ponsel saya kalau besok mau mampir kabari aja!" Ucap Diana sambil memberikan kertas kecil bertuliskan nomor telepon Diana.
"Terimakasih Diana, bye anak-anak!" ucap Utami sambil memerina secuil kertas.
"Bye tante....ditunggu di rumah ya." Ucap Ami.
Keluarga Farhan berjalan keluar dari restaurant sambil bersenda gurau.
__ADS_1
"Keluarga bahagia, Diana semakin cantik walaupun sudah mempunyai 3 anak. Mas Farhan juga semakin matang, mapan dan ganteng, kenapa sih mas dulu kita harus putus?, padahal aku gak punya salah apa-apa. Alasan kamu waktu itu karena sudah kelas 3 mau fokus belajar dan persiapan tes masuk polisi." Guman Utami dalam hati sambil menatap kepergian keluarga Farhan.
Di usia nya ke 44, Utami sudah menjadi single parent dengan satu orang anak laki-laki berusia 11 tahun. Anaknya sekarang tinggal di Jakarta bersama mantan suaminya. Perceraian dengan mantannya dikarenakan perselingkuhan Utami dengan rekan kerjanya.
Dalam perjalanan Diana yang duduk dibelakang sedang bersenda gurau dengan Maya dan Radith. Sementara Ami yang duduk di samping ayahnya bertanya penasaran tentang sosok Utami.
"Yah, tante Utami sahabatnya tante Fera ya?, kok bisa kebetulan sekali bertemu di sini ?" tanya Ami merasa curiga, karena tidak biasanya sang mamah mengumbar kemesraan di tempat umum meskipun masih dalam batas wajar.
"Iya mbak sahabatnya tante Fera waktu SMA." Jawab Farhan.
"Mbak gak suka cara berpakaiannya yang terlalu terbuka dan cara dia menatap ayah, pantesan aja mamah nempel terus sama ayah, abis tante Utami curi-curi pandang terus sama ayah." Ucap Ami.
"Dulu sih setahu ayah waktu tante Utami masih SMA dan sering main sama tante Fera orangnya sederhana, lugu dan pendiam. Gak tahu kenapa sekarang menjadi seperti itu. Waktu bisa merubah segalanya mbak." Ujar Farhan.
"Tante Utami mantan pacar ayah ya ?" tanya Ami tiba-tiba.
"Apaan sih mbak, ada-ada aja, beneran temannya tante Fera!" Jawab Farhan datar sambil fokus menyetir.
Sementara di belakang Diana menguping obrolan anak sulung dan suaminya tanpa berkomentar sedikitpun.
Ami sangat mengidolakan ayahnya sebagai laki-laki setia dan bertanggung jawab. Ayahnya laki-laki tegas dan sedikit kaku tetapi sangat menyayangi keluarga. Stylenya yang cool, santai tapi berpenampilan trendi membuat Ami semakin mengidolakan ayahnya.
 Sementara sang mamah wanita cantik natural yang tidak pernah menggunakan makeup secara berlebihan dengan stylenya yang simple. Wanita smart, pintar berbisnis dan mengurus rumah tangga, humble, pinter bergaul, hanya agak cerewet , gak sabaran kalau menyuruh sesuatu. Satu lagi agak perhitungan masalah keuangan.
Pukul 22.30.WIB mereka tiba di rumah.
Anak-anak langsung naik ke lantai 2 masuk ke kamarnya masing-masing.
"Iya mamah cerewet ." jawab Radith.
"Adek...gak boleh gitu." Ucap Maya tegas.
Sementara Diana hanya bisa menahan nafas mendengar jawaban Radith.
Dari ketiga anaknya, hanya Maya yang mempunyai sifat seperti Ayahnya. Maya lebih pendiam, tegas, susah berbaur dengan lingkungan baru dan susah senyum tapi sangat perhatian. Sementara sifat Ami dan Radith lebih mirip Diana. Rame, ramah, extovert.
Diana sudah berada di dalam kamar, sementara Farhan sedang merokok di teras setelah sebelumnya mengunci pagar.
Baru saja hendak masuk ke kamar mandi, ada pesan masuk ke ponselnya.
"Siapa sih malam-malam begini masih mengirim pesan." guman Diana dalam hati sambil mengambil ponsel dalam tas nya.
"Without undeweare😘"
Pesan singkat dari suaminya yang masih berada di teras.
"No, I'm sleepy!"
"Tidak ada penolakan honey, harus dihukum karena tadi marah-marah terus !"
__ADS_1
"Sekarangkan udah gak marah, jadi gak ada hukuman!, udah ah mau bersih-bersih dulu !"
Farhan masuk ke rumah, mengunci pintu depan, naik ke lantai dua mengecek anak-anaknya di kamar. Memastikan mereka sudah tidur tidak ada yang masih bermain ponsel.
"Aman, semua sudah tidur." guman Farhan sambil menuruni tangga.
Ceklek.. Diana pura-pura tidur ketika mendengar suara pintu kamarnya dibuka.
"Hhhmmmm, ada yang pura-pura tidur kayaknya." Ucap Farhan sambil menghampiri istrinya ke tempat tidur, kemudian menarik selimut yang dipakai istrinya.
"Mas ihh dingin tahu..sana ah bersih-bersih dulu, bau rokok!"
"Ok..tunggu bentar ya just five minutes!" ujar Farhan sambil tersenyum menggoda.
Setelah segar dan berganti pakaian Farhan merebahkan tubuhnya disamping Diana yang tidur membelakanginya.
"Mas suka posisi tidur kamu seperti ini."
"Kenapa ?" tanya Diana.
"Lebih leluasa aja.!" ucap Farhan sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Mas ih, mesum aja. Udah ah tidur besok katanya harus ke kantor ?"
"Apa hubungannya harus tidur sekarang sama ke kantor besok?, biasanya juga begadang sampai jam 3 dinihari tetap aja sholat subuh terus ke kantor !" goda Farhan pura-pura tidak mengerti.
"Mas ihh...!" Diana membalilkkan tubuhnya dengan kesal.
"Kenapa?, mas kan gak berbuat apa-apa cuma meluk aja!"
"Boleh meluk tapi tangannya diem !!"
"Hahaha...ya udah sini." Farhan membawa kepala Diana ke dadanya, mengecup lembut kening istrinya sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Good night mas..." Ucap Diana sambil mengecup singkat bibir suaminya.
"Night Di, sesudah sholat subuh ya jangan nolak !" goda Farhan.
Diana mencubit perut suaminya
Beberapa menit kemudian dengkuran halus Diana terdengar oleh Farhan.
"Kamu tuh lucu Di, ngangenin kadang juga nyebelin kalau udah cerewet dan suka marah-marah gak jelas." Lirih Farhan.
Kantuk belum saja datang, tangan kanannya mengambil ponsel Diana di atas nakas dengan maksud melihat jam. Entah kenapa tiba-tiba menjadi ingin membuka aplikasi whatsapp diponsel Diana.
Tidak ada chat yang aneh di aplikasi ini. Hanya saja Farhan tertarik untuk membuka chat di WA grup team basket yang sudah ratusan chat tapi belum dibuka oleh Diana.
Tidak ada rahasia diantara mereka. Jadi tidak akan menjadi masalah kalau Farhan membaca chat di grup itu. Dibacanya satu persatu obrolan teman-teman Diana di grup, sampai pada suatu obrolan membuat wajah Farhan memerah dan rahangnya mengeras. Di screen shoot obrolan tersebut dan dikirim ke ponselnya.
__ADS_1
*****