
Satu bulan lagi Namira Putri Prasetyo akan genap berusia 17 tahun. Sekarang sudah duduk di bangku kelas 2 SMA. Secara akademis Ami termasuk siswi biasa saja, tapi bukan siswi yang tertinggal juga. Setiap semester selalu berada di urutan 10 besar. Ami siswi yang aktif dalam organisasi sekolah.
"Malam ini Farhan beserta anak dan istrinya sedang berkumpul di ruangan keluarga sambil nonton TV.
"Mbak, satu tahun lagi kamu sudah kuliah, dari sekarang harus sudah punya pilihan mau melanjutkan kuliah di mana dan memilih jurusan apa !" pesan Farhan kepada putri sulungnya.
"Kalau menurut mamah sih ambil saja Universitas di Bandung. Kak Maya juga kan mau melanjutkan SMP di pondok pesantren di Bandung. Jadi kalau ayah sama mamah nengok bisa sekalian."
"Ayah sih terserah mbak Ami, yang penting kuliah yang benar dan usahakan bisa masuk Universitas Negeri. Makanya belajar yang benar, gak usah pacaran dulu sebelum berhasil."
"Mbak mau kuliah di Bandung atau Semarang yah, ambil jurusan psikologi atau ilmu komunikasi."
" Dimana pun ayah dan mamah support, berusaha yang keras biar masuk Universitas Negeri seperti mamah dulu. Kuncinya fokus sama tujuan kita, urusan pacar atau teman dekat itu bisa nanti kalau kamu sudah berhasil.!" petuah sang ayah kepada putri sulungnya.
"Berteman boleh, tapi jangan dulu serius. Harus hati-hati memilih teman baik teman perempuan apalagi teman laki-laki. Pokoknya setiap mbak dekat dengan siapapun ayah sama mamah harus tahu dan kenal !" ucap Diana khawatir.
"Siap ayah, mamah !"
"Kaka Maya sudah yakin mau lanjutin SMP sambil pesantren?" tanya Farhan kepada putri kedua nya.
"Iya yah Insya Alloh yakin."
"Adek juga nanti mau masuk pesantren yah." celetuk Radith tidak mau kalah.
"Apapun yang menjadi cita-cita dan keinginan kalian, sejauh itu baik ayah dan mamah pasti support. Mudah-mudahan ada rejekinya, di beri kemudahan dan kelancaran oleh Alloh SWT." Ucapa Diana.
"Aamiin Ya Robbal Alamiin." Ucap Farhan dan anak-anak.
"Yah, mah bulan depan kan mbak mau ulang tahun sweet seventeen loh." Ami bicara pelan sangat hati-hati.
"Terus kenapa mbak?" tanya Diana gak sabar.
"Boleh gak mbak undang teman-teman satu kelas dan beberapa sahabat waktu SMP dulu untuk merayakan ulang tahun mbak ?, please..sekali ini saja!"
Sejenak Farhan dan Diana saling tatap. Diana memberikan kode kepada suaminya untuk menjawab keinginan putrinya.
"Boleh, tapi acara nya siang dan tempatnya di rumah saja!" jawab Farhan tegas.
"Kok di rumah sih yah?, nanti repot harus beresin kursi meja!" Ucap Ami sambil merajuk.
"Emang mau nya di mana mbak ?" tanya Diana lembut.
"Ya sudah nanti ayah bicara dulu sama mamah di mana enaknya. Yang jelas acaranya hari minggu menjelang makan siang."
"Terima kasih ya ayah, mamah." Ucap Ami sambil memeluk Ayah dan mamahnya bergantian.
"Iya sama-sama mbak. Sudah malam ajak adek-adeknya masuk kamar !" perintah Farhan.
Setelah anak-anak masuk ke kamar, Farhan dan Diana masih duduk di ruang keluarga. Berdiskusi tentang keinginan Ami untuk merayakan ulang tahun dengan mengundang teman-temannya. Juga keinginannya untuk kuliah di Semarang.
"Menurut ayah sih gak masalah kalau kita undang teman-teman Ami makan siang di cafe yang suasananya out door, biar lebih santai aja. Kalau di rumah nanti kamu repot, belum tentu ayah bisa standby di rumah pas waktunya. Tahu sendiri pekerjaan ayah tidak bisa diprediksi."
"Iya juga sih, nanti mamah bicara lagi sama Ami. Kita hunting tempat yang nyaman di dalam kota. Terus itu yah, gimana kalau nanti Ami jadi ambil kuliah di Semarang ?"
__ADS_1
"Ya gak apa-apa asal bisa masuk negeri. Ke Solo tinggal 2 jam, sekali-kali kalau weekend bisa pulang ke Solo, toh rumah bapak rumah kami bertiga. Berarti rumah Ami juga !"
"Tapi kita gak bisa ketemu tiap minggu. Kalau di Bandung kan bisa pulang tiap minggu, atau kita yang ke Bandung!"
"Sudah doakan saja yang terbaik buat anak-anak kita !" ucap Farhan menenangkan istrinya.
"Tolong bikinin dulu kopi Di !" pinta Farhan.
Diana bangun dari sofa berjalan ke meja makan membutkan kopi untuk suaminya. Sementara Farhan naik ke lantai 2 mengecek anak-anaknya.
Satu persatu kamar anak-anaknya dibuka secara perlahan. Mematikan lampu di ruangan TV lantai atas kemudian memastikan pintu area cuci setrika sudah terkunci.
Diana sudah duduk di sofa lagi ketika Farhan turun.
"Mas merokok di teras sebentar ya?, mau nemenin gak ?"
Diana mengangguk sambil membawa kopi ke teras depan.
Udara di luar agak dingin karena tadi sore hujan besar.
"Di, gak berasa ya usia pernikahan kita hampir 18 tahun." Ucap Farhan sambil menghisap dalam rokoknya.
"Iya mas, pacaran hampir 7 tahun. Lebih kurang 25 tahun kita bersama, meskipun dulu waktu pacaran sering putus nyambung." Lirih Diana sambil duduk di ayunan rotan dekat kolam ikan.
"Kamu saja yang merasa putus, mas sih gak pernah merasa putus !"
"Padahal mas yang dikit-dikit bilang putus kalau lagi berantem !"
"Itukan lagi emosi, gak dari hati !"
"Amit-amit Di, jangan sampai keluar kata-kata itu. Mas berusaha keras mengontrol ucapan kalau lagi kesal dan marah sama kamu. Makanya lebih baik mas diamkan kamu, takut salah ngomong!"
"Kamu mah emang paling kuat diemin orang dari dulu !" guman Diana.
"Sekarang kan udah lebih cair, gak kaku banget kayak dulu, benerkan ?"
"Iya-iya."
"Kamu tuh dari dulu ramah banget sama orang."
"Itu mah bawaan orok mas, gak bisa di rubah!'
"Iya sifat kamu yang itu membuat banyak laki-laki salah mengartikan!"
"Sudah ah, nanti akhirnya berantem kalau cerita-cerita masa lalu. Ada yang suka baper sama masa lalu." Ucap Diana tersenyum sambil berlari kecil masuk ke dalam.
"Diana awas ya, mau di hukum ya !" teriak Farhan sambil menyusul Diana ke kamar setelah sebelumnya mengunci pintu depan.
Di dalam kamar Diana bersembunyi dibalik selimut. Farhan menarik selimut dari tubuh Diana. Kemudian mengungkung tubuh Diana
"Mas ampun, berat ihhh !"
Farhan melepaskan kungkungannya, menggulingkan tubuhnya ke samping.
__ADS_1
"Sini, tidur di dada mas!" pinta Farhan.
Diana menggeser tubuhnya, meletakkan kepalanya di dada bidang Farhan.
"Di, 18 tahun bukan waktu sebentar kita bersama. Kamu pernah merasa bosan gak sama mas ?" tanya Farhan sambil memainkan rambut Diana.
"Mas sendiri gimana?" tanya balik Diana.
"Kamu tuh cari aman, ditanya balik nanya!"
"Bukan cari aman, pengen tahu jawaban mas dulu"
"Secara perasaan mas semakin jatuh cinta sama kamu. Kamu mengurus keperluan mas dan anak-anak dari A sampai Z . Perut mas kamu manjakan dengan masakan kamu, pakaian kerja selalu disiapkan, kebutuhan biologis mas tidak pernah kurang, kamu selalu all out di atas ranjang. Kamu wangi, menarik, smart...You are my everything!" ucap Farhan panjang lebar.
"Gombal ahhh...!" Ujar Diana.
"Really Di, ada tapinya dikit!"
"Tapi apa?" tanya Diana penasaran.
"Mas gak suka kamu cerewet, gak sabaran kalau nyuruh anak-anak. Nyerocos terus tiap pagi. Gak suka kamu terlalu ramah, gak suka kalau keluar rumah sendiri suka wangi !"
"Hahahahaa...emak-emak mah dimana-mana juga cerewet. Kalau gak suka aku cerewet cari sana yang pendiam, yang gak banyak ngomong !!"
"Serius ?, nanti kalau mas udah dapet kamu nangis, cemburu !" goda Farhan sambil menahan tawa.
"Enggak...gak akan nangis, gak akan cemburu. Tinggal nyari lagi aja yang mau terima aku apa adanya !"
"Hhmm iya sih, mas lupa kamu kan cantik, punya anak 3 aja masih langsing masih menarik. Pasti banyak laki-laki di luar sana yang senang hati menerima kamu!" ucap Farhan pelan.
"Tuh kan ada yang baper, lagian mas segala mancing-mancing ngomong yang aneh-aneh. Justru mas yang pasti gampang cari pengganti aku. Secara suami aku tuh ganteng dengan mode coolnya, mapan, karirnya bagus.
Udah ah tidur...!" ucap Diana sambil memeluk erat tubuh suaminya.
"Di, jangan mambangunkan macan tidur dong!" rajuk Farhan.
"Apa sih mas ?" tanya Diana sambil mengangkat kepalanya menatap bola mata suaminya.
Tentu saja posisi itu memudahkan Farhan ******* lembut bibir ranum Diana. Semakin lama semakin menuntut.
Diana melepas pagutan suaminya dengan pelan.
"Tidur mas udah malam, aku masih datang bulan. Maaf yaa !"
Farhan menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan menyapu hangat wajah Diana.
"Good night mas..!"
"Night Di....You are my everything, forever." Bisik Farhan di telinga Diana kemudian mengecup lembut pucuk kepala Diana.
******
Dudududududu...so sweet ya Farhan.
__ADS_1
Happy reading🤩🤩