
"Are you happy Di?" tanya Farhan setelah mereka berada di dalam mobil.
"Alhamdulillah happy banget mas. Makasih ya udah kasih ijin ikut reuni, makasih udah traktir teman-teman Di."
"Iya sama-sama " Ucap Farhan sambil tangan kirinya nengacak lembut rambut istrinya.
Owh ya Lina sama Imel pulang sama siapa?" tanya Farhan.
"Ikut mobil Iwan."
"Eehh iya gimana nih rasanya ketemu mantan?" goda Farhan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apa sih mas, biasa aja kali. Iwan titip salam buat mas!"
"Hhhhmmm.., ngobrol apa aja sama dia?"
"Ya ngobrol macem-macem lah bareng teman-teman lain !"
"Bernostalgia dong sama dia..!" ucap Farhan datar.
Ada getar cemburu dalam suaranya meskipun sudah berusaha di tekan.
"Udah ah jangan bahas yang gak jelas." Ujar Diana.
"Kita langsung pulang atau mau kemana dulu Di ?"
"Pulang aja mas, kangen sama anak-anak."
"Anak-anak tadi sekitar jam 10 pagi dijemput Dimas, mau berenang katanya!"
"Kok gak ada yang ijin sama aku ?" tanya Diana.
"Ami tadi telepon ngabari mas, gak minta ijin sama kamu takut ganggu katanya."
"Ya udah, nanti malam kita jemput."
"Biarin aja, besok kan hari minggu Mereka berenang ke Ciater pulangnya pasti malam!"
Pukul 16.00 WIB mereka tiba di rumah.
"Aku mandi dulu mas, lengket banget badan."
"Ya udah sana mandi yang bersih biar sisa-sisa kenangan masa lalu juga ikut bersih." Goda Farhan.
"Iih lebay banget !!"
__ADS_1
Farhan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah sebelumnya menunaikan sholat ashar.
Sementara Diana yang sudah terlihat segar sedang membuat kopi di dapur untuk suaminya.
"Mas kopinya di meja depan TV yaa.!" teriak Diana.
"Iya." Jawab Farhan sambil berjalan keluar dari kamar.
Diana sedang rebahan di sofa sambil nonton acara talk show di TV.
"Capek ya Di seharian di acara reuni?"
"Capek banget, mana cuaca panas banget hari ini." Ujar Diana sambil beranjak duduk memberikan tempat untuk Farhan duduk disampingnya.
" Ya udah istirhat aja."
"Mau masak bentar lagi buat makan malam." Ujar Diana.
"Gak usah masak, anak-anak juga gak ada. Kita makan diluar saja bada sholat maghrib."
"Ok mas..makasih ya!"
"makasih buat apa?" tanya Farhan bingung.
"Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu Di. Dari awal kita kenal, aku laki-laki brengsek dengan masa lalu yang kurang baik dan dari keluarga broken home, belum lagi profesi mas yang sering dianggap negatif. Padahal bisa saja kamu memilih teman kuliah kamu, atau laki-laki lain yang lebih baik dan lebih mapan dari mas. Kamu cantik, smart, mas tahu banyak yang naksir sama kamu.!"
"Setiap orang punya masa lalu, mas sudah mapan pada saat kenal Di, udah kerja."
"Kamu support mas untuk lanjutin kuliah sampai jadi sarjana dan pada akhirnya mas bisa lulus menjadi perwira. Kamu berkorban berhenti kerja demi mengurus mas sama anak-anak. Padahal mas sangat tahu bekerja kantoran adalah impian terbesar kamu. Berbulan-bulan ditinggal pendidikan, kamu berusaha keras mengatur keuangan pada saat itu." Ucap Farhan sambil mengenggam jemari Diana.
"Itu kewajiban aku sebagai seorang istri dan ibu. Bekerja adalah impian terbesar aku pada waktu itu, ternyata ada impian terbesar lainnya yang baru aku sadari setelah lahir Maya, yaitu menjadi Istri dan ibu yang baik."
"Terima kasih ya Di, sekarang mas berada dititik ini semua karena support kamu !"
"Sama-sama. Jadi inget ya mas pada saat kamu baru dilantik perwira, kita LDR an karena kamu ditugaskan di Polres kabupaten sebelah, meskipun seminggu 2 kali masih bisa pulang. Waktu itu Ami dan Maya masih kecil. Sampai aku hamil Radith pun kita masih LDR an. Alhamdulillah menjelang kelahiran Radith kamu dipindahkan lagi ke Polres kota ini sampai sekarang."
"Iya Di, makanya mas gak akan pernah melupakan perjuangan dan pengorbanan kamu !"
"Seandainya kamu tahu Di, begitu banyak godaan wanita di sekitar aku. Dari yang sembunyi-sembunyi sampai terang-terangan datang ke kantor, ada yang menelepon dan mengirim pesan. Semua gak pernah aku tanggapi aku gak mau menyakiti hati kamu dan anak-anak. Sampai aku dapat julukan dari teman-teman satu angkatan dan teman di kantor sebagai suami takut istri. Padahal kamu bukan tipe istri galak, bukan tipe istri yang posesif." Lirih hati Farhan yang tentu saja tidak terdengar oleh Diana.
"Hai mas kok malah melamun sih?, mandi sana bentar lagi adzan maghrib." Perintah Diana.
"Siapa yang melamun orang lagi nonton TV." Farhan berdiri hendak masuk ke kamar. Tiba-tiba membungkuk lagi mengecup singkat bibir ranum Diana.
Pukul 17. 55 WIB, adzan maghrib berkumandang dari mushola. Farhan sudah siap dengan sarung dan baju kokonya.
__ADS_1
"Mas ke mushola dulu, kalau sudah selesai sholat langsung siap-siap ya kita makan malam di luar!"
"Siap mas !" Jawab Diana.
Mereka sudah berada diperjalanan mencari tempat untuk makan malam.
"Mau makan apa mas?"
"Terserah kamu aja."
"Kita makan maranggi aja yuk, udah lama banget rasanya aku gak makan maranggi."
"Ok, di tempat biasa ya?" tanya Farhan.
"Iya mas di maranggi bu Ema aja biasa."
Bunyi notifikasi diponsel Diana
"Mah, kita baru mau keluar daerah Ciater tadi sholat maghrib dulu. Sekarang mau makan malam langsung pulang." Diana membaca pesan yang dikirim Ami anak sulungnya.
"Ok hati-hati ya mbak, nanti dijemput ke rumah om Dimas, kabari kalau sudah sampai." Diana membalas pesan dari putri sulungnya.
"Gak usah di jemput mah, kita mau nginep di rumah om Dimas, besok siang aja jemputnya!"
"Ya udah, salam buat Om Dimas sama tante Raniya buat Rafa juga ya. Jaga adek-adeknya !"
Dimas sampai sekarang hanya mempunyai satu anak laki-laki, Rafa Namanya duduk di kelas 2 SMA. Selisih 2 tahun umurnya dengan Ami.
"Anak-anak mau menginap di rumah kak Dimas, besok minta dijemput agak siangan."
"Yesss.... kita bisa begadang sampai subuh ya Di, mumpung gak ada anak-anak." Goda Farhan.
"Apaan sih mas, ada anak-anak juga sering begadang." Rajuk Diana.
"Beda dong konsep begadangnya." Kata Farhan sambil fokus menyetir.
"Beda gimana sih mas ?"
"Kalau gak ada anak-anak begadangnya bisa beberapa ronde. Di ruang tamu, di ruang tengah, di meja makan dan terakhir di kamar. Secara sekarang kita mau makan maranggi kambing." Ucap Farhan sambil tersenyum menatap Diana sekilas.
"Mesum banget nih si mr.Posesif !" Ledek Diana.
Mereka telah sampai di rumah makan sate maranggi. Diana langsung memesan 30 tusuk maranggi dan satu porsi sop kaki kambing kesukaan Farhan.
*******
__ADS_1