Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 10


__ADS_3

Mouse Entertainment pukul 10 pagi. Aira baru saja memasuki ruang staff yang biasanya ceria, namun hari ini suasananya sedikit suram. Winne duduk melipat tangannya dan terlihat kesal. Aira mendekati Raka "Apa yang terjadi?" Bisiknya.


"Winne sedang kesal pada hairstylist kita" Jawab Raka berbisik.


"Kenapa?" Tanyanya lagi.


"Dari gosip yang kudengar, mereka sering terlambat, bahkan tidak datang pada saat dibutuhkan" Bisik Raka.


"Benarkah?" Tanya Aira penasaran.


"Mmm.. Kau tau? Saat kau menggantikan mereka beberapa bulan yang lalu, sebenarnya mereka sedang berlibur dan berbohong tentang alasannya. Winne mengetahuinya dari sosial media salah satu rekannya yang juga berlibur ketempat yang sama" Bisik Raka lagi.


Aira membelalak "Benarkah? Itu keterlaluan" Ucap Aira.


"Benar sekali. Dan Winne memecat mereka berdua" Kata Raka.


Aira mengangguk-angguk setuju. "Aahh.. Itu keputusan yang bagus" Ucapnya.


Raka mengernyit menatapnya. "Bagus katamu? Itu artinya pekerjaanmu akan bertambah" Raka mengingatkan.


Aira tercengang "Aku? Kenapa aku?" Tanya Aira bingung.


Raka membisikkan ke telinga Aira "Winne sedang menatapmu".


Aira akhirnya mengerti maksud kata-kata Raka. Ia terdiam dan bahkan tak berani melihat ke arah Winne sekarang. 'Aaahhh sial... Kenapa aku yang jadi tumbal? ' rutuk Aira dalam hati.


Kesimpulannya Aira harus merangkap sebagai fashion stylist dan hairstylist. Aira berucap dalam hati 'tidak apa-apa. Aku bisa melakukannya... Aku suka melakukannya'.


Sementara Winne kembali tersenyum cerah setelah menerima persetujuan Aira. Aira benar-benar tak bisa menolak permintaan sahabatnya.


"Sebaiknya kau menaikkan gajiku" Ucap Aira manis.


Hari ini jadwal untuk Devano melakulan syuting MV lagu solo nya. Banyak hal yang di siapkan dan banyak orang yang terlibat. Devano terlihat tampan seperti biasanya. Melakukan gerakan-gerakan keren bersama tim dancer. Lagunya juga bagus. Semua orang bersenang-senang. Meskipun pekerjaan Aira jadi lebih banyak, ia tetap menikmati proses syutingnya dari sore sampai malam.


Aira beberapa kali harus merapikan dan menata ulang rambut Devano yang berantakan karna terus begerak.


"Pekerjaanmu bertambah banyak Aira?" Tanya Devano saat rambutnya sedang di tata.


Aira mengenang pertemuan pertamanya dengan Devano saat mulai bekerja. "Mmm.. Kau sudah dengar beritanya? Aku adalah hairstylist baru mu, perkenalkan namaku Aira, tolong jangan galak-galak padaku" Ucap Aira mengejek sambil terus melakukan pekerjaannya.

__ADS_1


Devano terkekeh. "Sukurlah itu kau" Kata Devano. "Aku jadi bisa menghemat energi ku dan tidak marah-marah pada orang baru" Ucapnya membuat Aira tertawa.


"Kau memperlakukanku dengan buruk Devano. Aku bahkan nyaris membencimu karna selalu mencari masalah denganku" Kenang Aira. Semua orang disini mengetahuinya.


Devano meringis "Aku sangat menyesal Aira, andaikan waktu bisa diputar" Ucap Devano.


Aira menaikkan alisnya "Ku rasa akan sama saja mengingat itu adalah sifatmu" Ucap Aira tersenyum.


Aira menyelesaikan pekerjaannya "Sudah selesai." Ucapnya.


Devano berdiri "ini pengambilan gambar terakhir. Kau akan menungguku kan?" Tanya Devano.


Aira menggaruk belakang telinganya tidak yakin maksud dari pertanyaan Devano. "Tentu saja aku menunggumu sampai selesai. Aku harus mengumpulkan banyak barang" Jawab Aira mengangguk.


"Bagus.. Aku tidak akan lama" ucap Devano dan segera berlalu.


Aira memiringkan kepalanya 'apa maksudnya itu?' Pikir Aira. Jika Devano mengajak Aira pulang bersama-sama lagi, Ia sungguh kehabisan alasan untuk menolaknya. Aira berdoa semoga itu tidak terjadi.


Tak lama setelahnya Devano menyelesaikan syutingnya. Ia mengucapkan terimakasih pada semua orang yang sudah bekerja keras untuknya dan berjalan ke arah Aira yang sedang menyusun barang-barang bawaannya di lokasi.


"Sudah selesai?" Tanya Aira begitu melihat Devano berlari ke arahnya.


Oh tidak lagi. Aira menutup matanya sejenak, menghentikan kegiatannya dan berdiri pelan-pelan menghadap Devano. Ia menggigit bibirnya sambil berfikir dan matanya menyapu seluruh lokasi yang berisi banyak orang.


Dengan sekali lihat saja Devano sudah bisa menebak apa yang akan Aira katakan padanya. "Kau berencana menolakku lagi, benar kan?"


Aira menunduk, ia tiba-tiba merasa bersalah. Ia sudah berulang kali menolak ajakan Devano. "Bukan begitu" Jawabnya pelan.


Devano harus tahu alasan di balik tindakannya. Bukan karna ia tak menyukai Devano. Tapi karna keadaan sekarang sangat tidak tepat baginya untuk terlihat bersama seorang gadis didepan umum. Harusnya dia berterimakasih pada Aira karna sudah menyelamatkan citranya.


Tapi Devano terlihat mulai tidak sabar "Lalu kenapa lagi?" Ucapnya ketus.


Aira ingin sekali menjelaskannya, namun tidak menemukan kata-kata yang tepat. "Ada banyak orang.. " Aira belum sempat menyelesaikan kalimatnya namun dari sorot mata Devano Aira bisa tahu bahwa dia tidak menerima alasan apapun.


Devano pergi begitu saja meninggalkan Aira yang belum selesai bicara.


Aira terdiam ditempatnya. Merasa sesak luar biasa. Aira ingin sekali mengejar dan meninju Devano dan memberi penjelasan panjang lebar, tapi tidak dilakukannya. Ia harus bijaksana membaca situasi.


Aira tidak enak hati sepanjang jalan pulang. Devano terlihat sangat marah. Dan Aira tidak tau harus berbuat apa. Segalanya menjadi rumit antara dirinya dan Devano.

__ADS_1


Hal terakhir yang di inginkan Aira saat ini adalah berhadapan dengan Devano dan temperamennya. Namun di sanalah dia. Devano bersandar di dinding samping pintu apartemennya, tampak gelisah dan cemas ketika melihatnya.


Aira menggertakkan gigi kuat-kuat, menahan diri untuk tidak berbicara.


Devano menegapkan tubuhnya sembari memberengut. "Kau sudah pulang?" Tanya Devano basa basi.


'Tentu saja aku sudah pulang, dasar kau bodoh' maki Aira dalam hati. Ia kemudian mengangguk.


"Bisa kita bicara? Tentang kejadian tadi" Ucap Devano.


Aira tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. "Kau tampaknya sangat marah padaku tadi" sindirnya.


Devano menatap Aira dengan gundah. Apakah ia sudah bersikap berlebihan? "Tidak juga.. Aku hanya kecewa padamu" Jawab Devano.


Aira mendongak "itu sama saja".


Devano melipat tangannya didepan dada. "Kenapa kau terus menolakku Aira?"


"Ada banyak orang disana" Jawab Aira.


"Kenapa memangnya?" Devano jengah. "Kau mau saja pergi bersama Erigo tapi tidak bersamaku?" ucapnya tajam.


Kata-kata Devano menyinggung perasaan Aira. Ia merasa dijadikan objek persaingan kekanak-kanakan Devano dan Erigo. "Apa kalian sedang bermain-main denganku?" Aira meledak.


Aira melipat kedua tangannya meniru Devano. Ia lelah menghadapi emosi pria di depannya. "Apakah kalian sedang mengumpulkan poin disini? Satu untuk Erigo, nol untuk Devano, begitu? Ini menyenangkan untukmu?" Ucap Aira berapi api.


Devano nyaris tersedak ludahnya sendiri. Aira benar-benar sudah salah paham. "Kau tau bukan itu maksudku." Ia menurunkan tangannya dan melangkah mendekati Aira.


"Jangan bicara lagi padaku" Sembur Aira kemudian berbalik ingin masuk kerumahnya namun Devano menahannya. "Jangan menghalangiku! Minggir". Aira meradang.


Devano menghalangi pintu dengan tubuhnya. "Aku tidak bermain apapun dengan siapapun. Apa kau sungguh tak mengerti maksudku?" Ucap Devano lembut. "Kendalikan dirimu Aira. Coba dengarkan aku dulu" Devano berusaha menenangkan Aira.


Wajah Aira memerah. Tangannya dingin dan kebas. Ia sakit hati.


Sakit hati karna Devano tidak mau mendengarkannya.


Sakit hati karna Devano menuduhnya.


Devano merasa bersalah atas kata-katanya. "Maafkan aku Aira. Aku hanya merasa cemburu" ucapnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2