
Aira sedang mencoba memusatkan perhatiannya pada tumpukan pakaian yang semuanya tampak bagus. Karna syuting di adakan di sebuah stasiun televisi yang menampilkan acara musik, Aira menimbang-nimbang faktor cahaya, latar panggung, back dancer dan banyak hal yang berputar di kepalanya. Ia juga harus berdiskusi bersama tim stylist Toddy dan Yansen. Ia harus memastikan semuanya sempurna.
Devano mengamati Aira sejak kedatangannya. Gadis itu tampak mempesona jika sedang bekerja. Ia suka melihat betapa praktisnya Aira. Dia tidak pernah berdandan berlebihan. Hanya berpakaian sederhana namun tetap terlihat bergaya. Mungkin itu salah satu kelebihan Aira sebagai fashion stylist.
Devano melihat Aira mendekatinya dan menyerahkan satu set pakaian padanya.
"Ku rasa ini akan cocok untukmu" Ucap Aira. "Bagaimana menurutmu?" Tanya nya lagi meminta pendapat Devano.
Devano menimbang sebentar lalu tersenyum pada Aira. "Aku menyukainya" Ucap Devano. Jujur saja Devano sebenarnya tidak perduli. Apapun yang Aira berikan padanya, ia akan menerimanya tanpa protes.
Erigo baru saja tiba. Menyapa semua orang dengan ceria dan mendekati mereka.
"Selamat pagi Aira" Erigo tersenyum.
Aira balas tersenyum "Selamat pagi juga" Ucap Aira agak salah tingkah.
Erigo lalu berpaling pada Devano "Kau sudah mengahapal seluruh gerakannya?" Tanya Erigo padanya.
Devano mengangguk "Ku rasa begitu. Tapi kadang aku melewatkan ketukan di bait ke dua"
"Ku rasa aku tau bagian mana yang kau maksud" Ucap Erigo lagi. "Aku akan memberi tanda padamu, jadi nanti perhatikan aku ya."
Erigo adalah penari utama dalam grup mereka. Gerakannya sangat indah. Selalu tepat dan bertenaga. Erigo juga terkadang ikut andil dalam membuat koreografi grup mereka. Ia juga fasih bernyanyi Rap, namun suaranya tetap indah saat menyanyikan lagu bertempo lambat. Dia punya banyak kelebihan.
Erigo berpaling pada Aira. Tersenyum menatapnya. "Kau mau makan siang dengan ku nanti?" Tanyanya terang-terangan di depan hidung Devano.
Devano menyipitkan matanya menatap Aira.
Aira sendiri terlihat gelagapan. "Aku makan siang bersama Winne" Katanya tiba-tiba menggandeng tangan Winne yang kebetulan sedang lewat. "Iya kan?" Ucapnya memandang Winne dengan tatapan membunuh.
Winne langsung dapat membaca situasi. Ia tersenyum ke arah Erigo. "Kami makan di kafetaria seberang gedung ini" Ucap Winne sengaja memberitahu.
Aira melayangkan tatapan protes dan Winne hanya tersenyum.
"Kami pergi dulu. Panggil saja aku jika kalian butuh bantuan" Ucap Aira melarikan diri.
Devano menatap kepergian Aira dengan hati yang bertanya-tanya. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara gadis itu dan sahabatnya.
___________________________________
__ADS_1
Winne meremas tangan Aira. "Apa yang terjadi? Katakan padaku" Tanyanya mendesak.
Bagus sekali. Padahal Aira sedang tak ingin membahasnya. Terlebih lagi di tempat ini.
"Nanti" Jawabnya. "Aku akan ceritakan padamu nanti" Ucapnya menyudahi pembicaraan. Dan itu adalah janji.
Winne adalah satu-satunya sahabat yang Aira miliki. Mereka sudah bersama sejak waktu yang lama. Bahkan sudah terasa seperti keluarga. Aira tidak mungkin bisa menyembunyikan apapun dari Winne. Gadis itu terlalu jeli. Perubahan sedikit saja akan memancingnya. Dan jangan coba-coba menghindarinya, ia akan mengejarmu walaupun sampai ke lubang neraka. Namun begitu, Aira sangat bersyukur ada Winne di sampingnya.
____________________________________
Aira setengah mati menghindari Erigo. Dia terlalu terang-terangan. Namun sepertinya pria itu tak akan melepaskannya dengan mudah. Ujung matanya mengikuti kemanapun Aira pergi. Aira merasakan tatapan itu sampai ke sumsum tulangnya. Ia bergidik merasakan keanehan dalam perutnya. Aira sedang berdiri di pinggir jurang. Satu langkah lagi maka ia akan segera terjatuh ke dalam pesona Erigo.
Sangat tidak mudah melupakan pertemuan terakhirnya dengan Erigo. Pria itu sudah merebut ciuman pertamanya dan memaku namanya dalam ingatan Aira. Juga rasa bibirnya.
Bibirnya? Sial. Aira memejamkan mata, menggeleng sekuat tenaga mencoba menghapus bayang-bayang Erigo dalam benaknya.
Winne menangkup kepala Aira sambil berbisik. "Jangan kehilangan fokus mu Aira. Syuting akan berakhir jadi bencana jika kepalamu terlepas dan menggelinding ke tengah set." ucap Winne.
"Dan asal kau tau, Pria-pria itu tampak seperti akan menelan mu hidup-hidup. Bertahanlah!" Winne terkikik.
Aira tak bisa tertawa. Situasi yang dihadapinya amat sangat tidak lucu baginya. "Jangan menggodaku, kau gadis jahat" Ucapnya. "Bawa aku lari. Sembunyikan aku dari mereka." Pinta Aira.
Aira benar-benar ingin lari dan bersembunyi kalau bisa.
Toddy lebih dulu tersenyum dan menyapa mereka "Hai.." Ucapnya singkat.
Aira berdeham melegakan tenggorokannya yang kering bagai kemarau padang pasir. "Hai Toddy" Ucap Aira parau.
"Aku ingin mengajak kalian bergabung makan siang" Ucapnya lagi. "Kalian mau kan?" Tanyanya menatap Aira dan Winne bergantian.
Toddy sangat manis, sungguh. Tapi di belakangnya ada tiga pria lain, dimana dua di antaranya tampak menakutkan. Yang satu menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan. Yang satu lagi menatapnya dengan intensitas yang mampu membakar jantungnya sampai hangus.
Winne meremas tangan Aira kuat-kuat dan menjawab "Bagaimana ya? Kami mau makan berdua saja karna ada yang harus kami bicarakan. Aku sungguh minta maaf Toddy" Ucap Winne tersenyum semanis madu beruang.
Lagi-lagi Aira bersyukur ada Winne disampingnya. Trimakasih Tuhan, Winne menyelamatkannya.
"Kau menghindariku!" Ucap seseorang dengan nada menuduh yang tajam.
Aira terkejut, sejenak ia mengira kata-kata itu di arahkan kepadanya. Aira baru akan membuka mulut ketika mendengar Winne yang menjawab.
__ADS_1
"Tepat sekali!" Ucapnya sama tajamnya. Matanya lurus memandang... Memandang siapa? Batin Aira mencari-cari sumber suara.
Ternyata itu suara Yansen.
Ada keheningan menyeruak di antara mereka ketika tiba-tiba semua orang terdiam.
Mereka memandang Winne, lalu memandang Yansen, dan kembali ke Winne lagi dengan tatapan sama bingungnya dengan Aira.
Yansen sendiri menatap Winne lekat dengan kilatan berapi-api di matanya.
Tak kalah garang, mata Winne sendiri memancarkan ribuan jarum penuh kebencian pada Yansen.
Aira menganga, matanya mengerjap karna pusing. Ia tak mengerti apa yang terjadi di sini. Baginya Yansen adalah seseorang yang tidak banyak bicara. Namun melihat sorot kemarahan di matanya membuat Aira bertanya-tanya dengan ngeri, apa yang sudah dilakukan sahabatnya pada pria itu. Winne meremas tangannya sedari tadi dan kini mulai terasa sakit.
Toddy berdeham. "Kurasa kita harus makan siang di tempat terpisah" Ucapnya bijaksana. "Aku tak tau apa yang terjadi di antara kalian, tapi ku mohon selesaikanlah baik-baik setelah ini"
Aira memaksakan senyuman hambar. "Kurasa begitu" ucapnya setuju. Ia menarik paksa tangan Winne dan membawanya ke kafetaria.
____________________________________
Aira membawa nampan berisi minuman dingin di tangannya lalu memberikan salah satunya pada Winne. "Minumlah" Ucapnya.
Winne menyesap minumannya tanpa bicara. Aira membiarkan Winne menenangkan diri. Dia terlihat hampir menangis.
Aira tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya, atau bagaimana sebenarnya hubungan Winne dan Yansen. Winne bukanlah gadis yang lemah setau Aira. Tapi melihatnya runtuh seperti ini, Aira yakin sesuatu telah terjadi.
Selagi menunggu makanan mereka datang, Aira mengambil tangan Winne di seberang meja dan menggenggamnya.
"Kau mau bicara padaku? Aku akan mendengarkanmu" Ucap Aira lembut.
Winne menutup matanya menahan air mata. Ia menggeleng. "Nanti" Ucapnya lemah. "Aku akan ceritakan padamu nanti" Ucapnya dengan nada sedih.
Aira mengangguk. "Baiklah. Aku mengerti" Ucap Aira sambil menepuk-nepuk tangan sahabatnya mencoba menenangkan. "Aku ingin kau menginap di rumahku malam ini sampai akhir minggu. Apa kau mau?" Tanya Aira lagi.
Winne mengangguk sebagai jawaban.
Winne selalu ada untuknya, dan sekarang pun Aira tak akan membiarkan sahabatnya sendirian.
Aira mendesah. Ternyata bukan hanya Aira yang merasakan penderitaan di sini. Sahabatnya sepertinya juga sedang terluka. Mereka menyantap makan siang dalam kebisuan dan tanpa selera.
__ADS_1