
Erigo menarik Aira lebih dekat untuk menyesuaikan bibirnya dengan bibir Aira. Posisinya yang harus menunduk membuat tengkuknya terasa sedikit tidak nyaman. Erigo melepaskan pagutan bibirnya dengan enggan dan mengerang pelan.
"Aakkhhh...." Erigo memijit pelan leher belakangnya yang pegal.
Aira mengerjap menghilangkan kabut di matanya untuk menatap Erigo. "Kenapa berhenti? Apa yang terjadi?" Tanyanya. Aira menggeser duduknya sedikit menjauh agar bisa mengamati Erigo dengan lebih baik.
Erigo meringis "Maafkan aku sayang. Leher belakang ku agak tegang." Erigo menyandarkan kepalanya ke belakang.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Aira khawatir. "Aku akan mengambilkan es batu untukmu." Ucap Aira sembari beranjak ke dapur.
Aira kembali membawa kantong es dan membantu meletakkannya di belakang leher Erigo. Erigo sendiri tampak memejamkan matanya karna menahan rasa sakit.
"Apa yang terjadi dengan tengkukmu?" Tanya Aira.
Erigo menggenggam tangan Aira untuk menenangkannya. "Tidak apa-apa. Ini hal yang biasa bagi penari sepertiku. Sudah resiko pekerjaan." Ucapnya tenang sambil tersenyum.
Aira mencium tangan Erigo yang di genggamnya. "Apakah karna semua gerakan-gerakan itu?" Tanyanya.
"Mmm.. Benar sekali. Aku sudah menari sejak aku masih berusia tujuh atau delapan tahun. Lalu aku masuk pelatihan pada usia sepuluh tahun. Setelahnya aku debut dalam kumpulan penyanyi yang membawakan lagu-lagu enerjik dengan tarian di usia 14 tahun. Aku terus menari hingga sekarang. Jadi ini sudah sewajarnya." Ucap Erigo ringan seolah-olah itu hal yang lumrah.
"Sejak kapan lehermu sakit?" Aira menggigit bibirnya karna cemas.
"Sudah lama sebenarnya, hanya saja akhir-akhir ini rasa sakitnya lebih sering datang." Erigo duduk tegak sambil memegang kantong es di tangkuknya. "Jangan menatapku seperti itu. Ini tidak apa-apa sayang. Rasa sakitnya akan segera berkurang."
Aira mengambil alih kantong es dari tangan Erigo agar pria itu bisa lebih rileks. "Kau sudah melakukan pemeriksaan?" Tanyanya lagi.
"Nanti saja setelah semua tur promosi album selesai." Ucap Erigo tersenyum. Ia membelai pipi Aira. "Aku tidak suka tatapan itu Aira. Aku benar-benar baik-baik saja. Jangan khawatir."
Aira memajukan bibir bawahnya. "Tentu saja aku khawatir." Cetusnya. "Tur selesai masih lama. Aku takut kondisimu jadi semakin parah kalau tidak di obati."
Erigo mengambil kantong es dari tangan Aira dan meletakkannya di atas meja. Tidak butuh banyak kekuatan untuk mengangkat Aira yang mungil ke atas pangkuannya dan menyusupkan jari-jarinya di balik rambut Aira. Ia menciumnya lagi.
__ADS_1
Aira mendorong pelan dada Erigo dan menatapnya. "Jangan merayuku. Katakan bahwa kau akan melakukan pemeriksaan." Paksa Aira.
"Baiklah. Aku akan memeriksakannya. Puas? Sekarang cium aku." Pinta Erigo.
___________________________________
Seminggu kemudian Erigo dan Aira pergi ke rumah sakit. Sambil mengendap-endap mereka berjalan di lorong. Bagaimanapun juga bukankah akan terlihat aneh jika seseorang memergoki pasangan itu membuat janji temu dengan dokter di rumah sakit? Mereka tidak mau memancing rumor.
Keduanya masuk ke ruangan Yodde. Erigo sudah mengatur agar sahabatnya bisa membantunya menemui dokter ahli tulang tanpa menimbulkan kehebohan. Satu-satunya pria yang heboh hanya Yodde, sahabatnya.
"Wahh... Kita bertemu lagi nona manis." Ucapnya pada Aira.
Aira merona. "Oh maafkan aku, sepertinya aku tidak mengingatmu." Ucap Aira sopan. Ia merasa tidak enak hati jika melupakan seseorang.
Dokter Yodde tersenyum padanya. "Wajar saja kau tidak mengingatku. Kau demam dan pingsan waktu itu, jadi Erigo menelpon memintaku datang untuk memeriksamu pada tengah malam." Ucap Yodde. Ia mengedipkan sebelah matanya.
Aira melirik Erigo yang menganggukkan kepala padanya. "Ohh.. Benar.. Saat itu aku pingsan. Maafkan aku. Kau pasti kesulitan datang tengah malam." Ucap Aira malu.
Dokter Tex sangat ramah. Pria berkacamata dengan pembawaan santai, tenang, berkharisma dan jelas berpengetahuan. Ia menaikkan kacamatanya dengan satu jari sambil mengamati scan tulang belakang Erigo di monitor.
Dokter itu menggeleng tidak puas pada pengamatannya dan memandang Yodde yang ikut mengamati monitor di sampingnya. Aira menggenggam tangan Erigo karna cemas namun Erigo hanya tersenyum.
"Anda pernah melakukan pemeriksaan sebelum ini?" Tanya sang dokter kepada Erigo.
Erigo memiringkan kepalanya sambil berfikir. "Tidak pernah. Tapi aku sudah di ingatkan masalah tulang belakang sekitar beberapa tahun lalau di acara televisi yang mengundang tenaga kesehatan. Dia bilang, penyanyi dan penari sepertiku sangat rawan mengalaminya."
Dokter Tex melepaskan kacamatanya dan menaruhnya hati-hati di atas meja. "Itu benar. Banyak artis penyanyi dan penari yang datang dengan masalah yang sama. Sebenarnya ini masalah yang umum di lingkungan pekerjaan sepertimu. Hanya saja, kondisinya datang dengan tingkatan yang berbeda-beda."
Erigo berusaha tertawa. "Lalu kondisiku ada di tingkatan yang mana?"
"Baiklah. Secara umum ini di sebut 'spinal stenosis'. Kondisinya berupa penyempitan tulang belakang yang menyebabkan tekanan pada syaraf. Keadaan ini menyebabkan syaraf tulang belakang keluar dari posisi semula." Jelas dokter Tex. Ia melanjutkan. "Kondisi ini juga bisa disebabkan beberapa penyakit, untuk kasusmu aku melihat adanya 'herniasi bantalan tulang belakang'." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Apa itu dokter?" Tanya Aira penasaran.
"Begini, seiring usiamu bertambah, bantalan tulang belakangmu juga ikut menjadi lemah. Jika itu terjadi, bantalan tulang belakang dapat menonjol dan menekan syaraf tadi. Kondisi ini umum terjadi jika kau sudah tua. Namun di usiamu sekarang, satu-satunya penyebab yang mungkin adalah karna gerakan-gerakan yang kau lakukan saat menari." Ucap sang dokter.
"Apakah berbahaya?" Tanya Aira.
"Tidak mungkin. Jangan berkata seperti itu." Ucap Erigo meremas pelan jemari Aira untuk menenangkannya.
Dokter Tex tersenyum hangat ke arah mereka berdua. "Kau tidak perlu khawatir. Kondisi Erigo tidak seserius itu. Kita masih bisa mengatasinya." Ucap sang dokter menenangkan. "Ada banyak cara untuk mengatasinya. Pertama dengan obat-obatan untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit. Kedua, kau bisa mengompresnya baik dingin jika sakit sesekali ataupun panas jika sakitnya menetap. Lalu yang ketiga, Kau bisa mengikuti terapi fisik untuk mengurangi tekanan pada syaraf. Aku akan memberikan rekomendasi." Ucapnya lagi.
"Itu saja?" Tanya Aira tanpa bisa menyembunyikan rasa curiganya.
Dokter Tex terkekeh bersama Yodde. "Kau wanita yang cerdas miss Aira. Cara lainnya adalah dengan operasi. Tetapi tindakan ini hanya di ambil jika ketiga terapi di atas tidak membuahkan hasil."
Erigo dan Aira menghembuskan nafas lega.
"Kita akan mengatasinya perlahan. Untuk saat ini, aku akan memberimu obat penghilang rasa sakit agar kau lebih nyaman beraktifitas." Kata dokter Tex lagi. Ia mengenakan kembali kacamatanya, menulis resep dan beberapa catatan lalu memberikannya pada perawat.
Dokter Tex kembali menatap Aira dan Erigo. "Kau harus meminum obatnya dengan teratur, dan jangan lupa mengompres jika sakit. Aku juga sudah memberikan rekomendasi untuk terapi. Kau hanya perlu menghubungi untuk mengatur kapan kau bisa. Kita akan melihat bagaimana perkembangannya bulan depan. Aku harap kau tidak akan perlu di operasi."
"Kami juga mengharapkan hal yang sama dokter. Trimakasih." Ucap Erigo. Mereka berdiri dan berpamitan.
Yodde mengantar keduanya sampai ke parkir. "Berhati-hatilah menyetir. Hubungi aku lagi jika terjadi sesuatu, oke." Ucapnya.
"Baiklah. Trimakasih atas bantuanmu kawan. Sampai jumpa." Ucap Erigo.
Aira melambai dan tersenyum. "Semoga harimu menyenangkan." Ucapnya.
Mereka berkendara memasuki jalan raya. Erigo melirik Aira dan tersenyum. "Kau dengar kan? Ini tidak apa-apa. Jadi berhentilah khawatir." Ucapnya.
Aira menggeleng. "Kau boleh menari sesukamu Erigo, tapi kesehatanmu tetap yang paling penting." Ucapnya lagi.
__ADS_1
"Baiklah. Aku mengerti. Sekarang tersenyumlah. Aku akan mengajakmu jalan-jalan." Ucap Erigo lalu memacu mobilnya ke arah pantai. Pantai di musim dingin.