
Hari ini jadwal gabungan member grup Summer. Setelah hampir 2 bulan bergabung di agensi Mousent, Aira akhirnya menemukan kesempatan melihat Toddy lebih dekat. Toddy, Yansen, Devano dan Erigo. Mereka mengisi beberapa acara secara terpisah, namun sebagai grup, mereka terus membuat project2 baru. Toddy dan Yansen masing2 memiliki team stylist yang berbeda, sementara Aira ada di team Devano dan Erigo. Walaupun begitu Aira senang bisa melihat Toddy lebih dekat karna mereka berbagi ruangan yang sama.
Raka berlari masuk ke ruangan "Win, team hairstylist tidak ada yang datang. Gracia terjebak macet karna ada kecelakaan, dan Debby sedang cuti. Apa ada kenalanmu yang bisa membantu? " Seperti biasa Raka panik.
Winne menghentikan kegiatan makeupnya dan berfikir siapa yang kira2 bisa mengerjakannya. Ia teringat Aira, gadis itu multitalenta dan seleranya selalu bagus. Disaat yang sama Aira kebetulan masuk membawa setumpuk pakaian dan beberapa kotak kecil aksesoris. "Aira.. " panggil Winne.
"Iyya..?" Aira menoleh sambil meletakkan barang bawaanya.
"Bisakah kau membantuku menata rambut? Hairstylist tidak ada yang datang. Please.. kita tak punya siapapun lagi untuk dimintai tolong" Pinta Winne.
Aira ragu sejenak memikirkan makhluk rewel di depannya. Hubungan mereka sangat buruk sejak awal. Meskipun akhir2 ini Devano sudah jarang mencari masalah dengannya, tetap saja Aira sebisa mungkin ingin menghindarinya.
Tapi Aira tak bisa menolak permintaan Winne, lagipula tidak ada lagi yang bisa membantu, ia mengangguk setuju "baiklah, Aku ambil perlengkapannya dulu" Ucap Aira sambil berlalu.
Sementara itu Devano menatap Aira melalui cermin. Dia mengernyit keberatan jika Aira menyentuh rambutnya, tapi dia tidak punya pilihan lain.
Erigo yg melihat reaksi Devano sontak tertawa "jangan menyusahkannya, Vano. Kau tidak punya pilihan".
"Kapan aku menyusahkannya? " Devano membantah.
Aira kembali dengan beberapa peralatan dan berdiri dibelakang kursi Devano, sementara winne berpindah ke Erigo dan mulai merias wajahnya. Aira merasakan tatapan sinis Vano melalui cermin. Ia menarik nafas panjang dan menenangkan diri lalu menatap Vano kembali melalui cermin yang sama.
Aira berucap pelan " Aku akan menata rambutmu jika kau mengizinkannya"
"Baiklah" Jawab Vano singkat.
Aira membencinya. "Jika kau tak suka, tol... " Aira belum selesai bicara.
"Aku akan mengatakannya" Potong Vano membuat Aira kesal.
'ingin kucabut saja rambutnya' pikir Aira dalam hati.
Aira mulai menata rambut Vano dalam diam, ia sengaja menghindari mata Vano ketika melihat ke arah cermin, Aira pura2 tak tahu.
Sementara Vano terus menatap Aira tanpa sadar, melihat bagaimana jari2 mungil Aira bergerak lincah, Devano merasa pekerjaan ini cocok untuk Aira dan hasilnya, Vano menyukainya. Arah rambutnya berbeda dari penataan sebelum2nya, membuatnya tampak lebih fresh, lebih manly tapi tidak berlebihan.
Vano terlihat berbeda dan jauh lebih tampan.
Winne dan yang lainnya bertepuk tangan "good job, sister.. I love it" Ucap winne sembari melayangkan ciuman jauh yang disambut senyuman manis Aira sambil mengerutkan hidungnya dengan mata yang sengaja di sipitkan, membuatnya terlihat mungil menggemaskan.
Erigo memperhatikan Aira. Tubuhnya yang mungil dibalut sweater kebesaran, rok pendek yang sebenarnya celana, dan sepatu kets putih. Rambutnya yang panjang selalu terikat atau terjalin dengan meninggalkan beberapa poni yang menjuntai. Sementara wajahnya hanya di rias tipis. "Sekarang kau terlihat seperti adik kecil yang lucu Aira.. Jangan terlalu sering tersenyum begitu, atau kau akan di ganggu banyak lelaki haus kasih sayang di perusahaan ini" Kata Erigo disambut tawa semua orang kecuali Devano.
"Sekarang Devano terlihat lebih baik, aku berterimakasih padamu adik kecil" Ucap Toddy yang sedari tadi hanya mengamati rekan2nya. "Namamu Aira?" Tanyanya ramah.
Aira benar2 terpesona. Toddy tampan sekali. "Iya... Aku Aira" Ucap Aira tersenyum senang.
Winne menyela "dia itu penggemar terbesarmu" Ucap winne pada Toddy.
"Benarkah? Lalu kenapa tidak menyapa sejak awal?" Tanya Toddy.
"Aku tak mau mengganggu karna semua orang sibuk bekerja" Jawab Aira
"Tinggallah lebih lama setelah syuting selesai, aku akan mentraktirmu dan team untuk makan malam" Ajak Toddy. Toddy selalu baik pada semua orang.
__ADS_1
"Aku setuju. Kau sudah lama tidak mentraktir kami semua" Jawab Erigo memandang Toddy kemudian beralih pada Aira
"Dan Aira, buat aku lebih tampan dari dia" Erigo mengangkat telunjuknya ke arah Devano lalu mengedip pada Aira melalui cermin.
Devano dan Erigo selalu memulai persaingan kekanak2an. Tidak ada yang tersinggung karna mereka sudah seperti saudara.
Setelah selesai menata rambut Erigo, dan membantu mereka berpakaian, Aira pergi ke ruang rias dan mengambil beberapa kotak aksesoris yang dibawanya. Memakaikan beberapa gelang dan cincin pada Erigo yang terlihat tampan. Setelahnya Erigo keluar meninggalkan Aira dan Devano.
"Aku tak mau pakai cincin sebanyak itu" Ucap devano tiba-tiba ketika melihat aira mengeluarkan 3 cincin dari kotak.
Aira menggigit ujung lidahnya menahan umpatan dalam hati. 'sial..padahal aku belum bilang apa2' pikir Aira. Aira tidak ingin bertengkar. "Aku mengeluarkannya agar kau bisa memilih salah satunya" Ucap Aira malas.
"Aku tak menyukainya" Jawab Devano memperhatikan reaksi Aira.
Aira mendongak menatap pria tinggi yang amat sangat rewel di depannya ini "Kau hanya ingin bertengkar denganku kan?"
'Binggo' Devano menjaga ekspresinya tetap datar. "Kata siapa?" ucap Devano menyebalkan.
Aira menunduk menekan amarahnya. "Ini tidak banyak, hanya 1, jika tidak, jarimu akan terlihat sangat kosong" Aira masih berusaha membujuk Devano.
"Beri aku gelang" Vano masih keras kepala.
"Tentu saja ada gelang, tapi cincin juga perlu.." Aira mulai lelah membujuk Devano "Lihat, tanganmu polos sekali" Ucap Aira sembil memegang tangan Vano.
Sejenak Devano terdiam. "Aira.. "
"Apa!?" sembur Aira kesal. Aira mendongak menatapnya, tanpa sadar ia melangkah mundur karna jarak mereka yang terlalu dekat membuatnya terkejut.
'apa ini? dia terlihat tampan. Ada apa denganku' ucap Aira dalam hati.
Devano hampir tertawa melihat ekspresi Aira. "Apa aku semenakutkan itu? Kenapa dia terkejut dan mundur? Aku baru saja akan menyetujui 1 cincin, dan dia bilang tidak usah.. Dasar plinplan" Devano bicara sendiri.
'Kenapa kulitnya sangat pucat? Tapi bibirnya merah' pikir Devano.
Dia memiringkan kepalanya 'apa yang ku pikirkan?' Ucapnya dalam hati.
_________________________________________
Makan malam mereka berakhir pukul 23.30. Semua orang berterimakasih pada Toddy dan mulai pamit pulang satu persatu. Aira sangat lelah dan mengantuk. Ia ingin pulang, mandi dan tidur. "Aira, tempat tinggalmu arah kemana?" Tanya Toddy.
"Kesana.. " Aira menunjuk arah tanpa berfikir.
"Ohh... Kalian searah.." ucap Erigo menatap Aira dan Devano.
"Benarkah? Kalau begitu antarkan dia pulang" Toddy menyuruh Devano.
Aira salah tingkah. Ia tak boleh ketahuan. "Ahh.. Hahaha.. Sepertinya aku lelah sampai salah menunjuk arah, rumahku ke arah sana. Aku akan pulang bersama winne" Aira menunjuk ke arah lain dan menggandeng Winne.
Winne ikut salah tingkah dan hanya bisa tersenyum dan mengangguk. "Apa yang kau lakukan?" bisik Winne sambil pura-pura tertawa.
Aira melotot "Aku butuh bantuanmu" bisik Aira juga pura-pura tertawa.
Devano menghembuskan nafas keras hingga memancing pandangan semua orang.
__ADS_1
Ia kemudian maju menyambar tangan Aira "kami pulang ke arah sini" Ucapnya dan langsung menarik Aira yang tergagap berpamitan dalam keadaan bingung.
Mereka berbelok dipersimpangan dan Aira hanya mengikuti Devano. Kepalanya sibuk berfikir mencari alasan untuk kabur. Tanpa sadar mereka sampai di apartemen tempat mereka tinggal. Devano terus menarik tangan Aira menuju lift. Aira bingung dan menghentikan langkahnya.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku kesini?" Tanya Aira melepaskan tangannya dari genggaman Devano.
"Apa aku menarikmu?" Tanya Devano bingung menggosok belakang kepalanya. Ia tidak merasa menarik Aira dengan paksa. Gadis itu bahkan melangkah beriringan disampingnya.
Sebenarnya kaki Aira hanya mengikuti arah kerumahnya karna dia lelah dan pikirannya kosong.
Aira menatap Devano, Devano menatap Aira. Mereka sama2 terdiam.
Tring..
Pintu lift terbuka.
"Masuklah.. " Ucap Devano dengan nada lelah.
"Aku.. " Aira mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Tapi Devano menarik tangannya memasuki lift, dan menekan lantai 7.
"Jangan berkeliaran di luar sambil menungguku pulang duluan.. Itu berbahaya" Ucap Devano datar.
Aira terkejut. 'apa aku ketahuan?' pikir Aira. Aira menatap Devano bingung. "Aku tidak berkeliaran seperti katamu" bantahnya.
"Benarkah? Lalu apa namanya? " Devano menaikkan alisnya.
"Kau melihatku? " Tanya Aira penasaran.
"Kau dan topi pet merah muda mu terlalu mencolok" Jawab Devano.
Tring..
Mereka sampai di lantai 7
"Kapan kau menyadarinya? " Tanya Aira sembari menuju rumah mereka.
"Beberapa minggu lalu, aku melihat gadis mungil berkeliaran di lobby menggunakan topi pet merah muda milik tetangga baruku. Lalu beberapa kali lagi aku melihat orang yang sama berkeliaran di sekitar mini market, taman bermain, bahkan di pos sekuriti. Dan topi aneh itu menjulur dari tas mu saat di studio XMC" Devano merincinya "kenapa kau melakukannya? “ tanya Devano.
Mereka berdiri berseberangan di depan pintu rumah masing2.
Aira menjawab dengan suara pelan " Karna kau sepertinya membenciku sejak awal, dan aku tak mau kau terganggu oleh keberadaanku. Kau tau, kau sangat rewel".
Devano mengernyit, kepalanya sakit menghadapi Aira. "Aku tak pernah membencimu Aira. Aku hanya sulit beradaptasi dengan orang baru, semua orang pasti sudah memberitahumu" Ucap Devano pelan. "Gara2 kau Aku terus merasa bersalah jika pulang lebih malam karna kupikir kau akan menunggu diluar sendirian.. Seharusnya kau masuk saja, kenapa harus memperdulikanku? “
"Sekarang kau menyalahkanku? Kau sendiri sangat menakutkan sampai-sampai aku tidak berani berpapasan denganmu" cetus Aira kesal.
"Aku takut kau akan menganggapku aneh, atau penguntit dan lagi aku harus bekerja untukmu, bagaimana kita akan melihat satu sama lain jika sejak awal kau tau aku tetanggamu? Itu akan canggung sekali" Jawab Aira sambil tertunduk.
" Mulai sekarang kau bisa pulang dan pergi sesukamu. Jangan membuat orang lain khawatir" Ucap Devano lalu berbalik dan masuk ke rumahnya meninggalkan Aira yang bingung.
Disatu sisi Aira terkejut, namun di sisi lain Aira bersyukur. Setidaknya ia tak perlu lagi bersembunyi dari Devano. Ia bebas pergi dan pulang tanpa khawatir.
__ADS_1