
Satu bulan berlalu.
Aira baru selesai membersihkan apartemennya karna ia berniat kembali. Ayah dan ibunya sudah memberi ijin padanya untuk menempati lagi apartemen lamanya. Tangannya penuh dengan kantong-kantong sampah besar ketika pintu depan Devano terbuka dan Kei juga ada disana. Kali ini mereka hanya berdua.
Aira tersenyum menatap keduanya. "Hai..." Katanya. "Apa proyek kolaborasinya lancar?" Tanya Aira.
Kei tersenyum dan langsung memeluk Aira. Sementara Devano mengambil kantong-kantong dari tangan Aira. "Oh.. Tidak usah, aku bisa membawanya sendiri" Tolak Aira.
Devano bersikeras mengambilnya dari tangan Aira. Mereka berjalan bertiga sambil mengobrol.
Ketika Devano berjalan mendahuli mereka untuk membuang sampah, Aira merangkul pundak Kei di sampingnya. "Apa yang kau lakukan berduaan dengannya di siang bolong? Kau nakal sekali Kei." Ucap Aira berbisik.
Kei terkikik di sampingnya. "Kami hanya makan siang dan membicarakan beberapa hal. Itu saja. Dia bahkan tidak tertarik padaku, sister." Kei mengakui.
Aira memiringkan kepalanya menatap adik sepupunya. "Kau? Bagaimana denganmu?" Tanyanya.
Kei mengalihkan pandangannya, ekspresi sedih tergambar di wajahnya tapi dengan segala kekuatan yang ada, ia memaksakan seulas senyum.
Aira menangkap getaran aneh itu. Ia mendesah "Oh Kei.. Apa yang harus ku lakukan padamu." Ucapnya lirih.
Aira mendengar dari Erigo bahwa Kei sangat menyukai Devano bahkan sejak ia memulai masa pelatihan. Tapi sepertinya Devano yang bodoh tidak menyadari itu dan menganggap Kei hanya sekedar bercanda.
Mereka harus berpisah karna Aira mau pulang begitu juga dengan Kei.
Aira memeluk Kei. "Datanglah ke rumah ayah. Ibu pasti akan senang menerimamu, dia akan memasak dengan heboh di dapur." Ucap Aira tersenyum. "Dan Airez, dia akan kembali ke Amerika beberapa hari lagi. Mari berkumpul." Ucapnya.
Kei tersenyum dan mengangguk. "Kalau begitu, katakan pada ibu aku akan datang besok dan bermain seharian," Ucap Kei ceria.
Devano tersenyum melihat keduanya. Ia memasukkan tangan ke saku celana jinsnya. "Kalau begitu berarti besok kau tidak akan mengunjungiku Kei?" Tanyanya. Ia hanya berniat bercanda, tetapi wajah Kei berubah muram. Apa yang salah? Pikir Devano. Lalu Kei tersenyum miring.
"Aku akan mencoba agar tidak terlalu sering menemuimu karna sepertinya kau merasa terbebani." Cetus Kei sinis. Ia sudah muak dan lelah.
"Kei.. " Tegur Aira yang terkejut pada respon adik sepupunya. Sepertinya Kei sudah mencapai batasannya. Aira menoleh pada Devano. Ekspresinya sama terkejutnya dengan Aira. Bedanya, Aira memahami tindakan Kei, sedangkan Devano tidak. Aira ingin sekali menyandingkannya dengan keledai untuk melihat siapa yang lebih bodoh.
Kei berbalik pada Aira, mencium pipi Aira sekilas. "Jangan lupa katakan pada ibu aku sangat menantikan pancake buatannya" Ucapnya. Lalu pergi begitu saja.
Aira menunduk dan tidak tau harus bilang apa pada Devano. Ia memaksakan senyum. "Aku minta maaf atas sikapnya" Ucap Aira. Bagaimanapun, Kei adalah adiknya.
"Tidak apa-apa." Ucap Devano.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Ucap Aira.
Devano menangkap pergelangan tangannya. "Aira, bisakah kita bicara?" Ucapnya.
________________________________________
Seorang pramusaji perempuan membawakan minuman pesanan mereka ke meja Aira dan Devano. Ia menatap kagum pada Devano, dengan malu-malu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen untuk meminta tanda tangan. Devano tersenyum ramah, ia memberikan tanda tangannya dan bahkan menyempatkan untuk berfoto.
Aira tersenyum. Devano adalah orang yang sangat ramah.
__ADS_1
Devano menatap Aira. "Bagaimana kabarmu?" Tanyanya.
"Aku baik-baik saja." Ucap Aira tersenyum. "Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Aira sembari menyesap minumannya.
Ekspresi Devano berubah serius. "Aku tidak bisa melupakanmu Aira." Ucapnya tiba-tiba. Pelan dan tenang.
Aira terdiam. Pernyataan itu tidak di duganya. Ia menggigit bibirnya seraya meletakkan gelas di atas meja. "Aku sangat menyesal Devano. Tapi kau tau sendiri kalau aku menjalin hubungan dengan Erigo." Ucap Aira.
"Aku tau. Tapi aku tak bisa menghentikan perasaanku" Ucap Devano lagi.
"Kau harus melupakanku dan mulai mencari cintamu sendiri Dev." Ucap Aira.
"Aku tak mau." ucapnya keras kepala. "Cobalah berkencan denganku Aira. Sekali saja." Devano memohon.
Aira menggeleng. "Kau tidak serius dengan perkataanmu Dev. Itu ide yang sangat gila dan amat sangat tidak bertanggung jawab." ucap Aira.
Devano menggertakkan giginya. "Persetan dengan tanggung jawab Aira. Aku hanya ingin bersamamu dan aku sangat serius." ucap Devano. Ia menekan suaranya, menjaga nadanya agar tidak menarik perhatian orang di sekitar mereka yang sebenarnya berjarak agak jauh.
Aira membelalak. "Kau sudah gila Dev. Sadarlah. Erigo bahkan sudah seperti keluargamu sendiri."
Devano menundukkan kepalanya frustasi. "Apa yang membuatnya lebih baik dariku? Katakanlah." ucap Devano lagi.
Aira membasahi bibirnya. "Kau sangat baik Dev, aku tidak meragukannya. Tapi tolong hentikan sampai disini sebelum kau menyesali perkataanmu." cetus Aira.
Devano mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Aira gemas melihatnya. "Devano, sebenarnya aku tak ingin ikut campur dalam kehidupan percintaan orang lain. Tapi, mungkinkah kau tidak menyadari atau bahkan mengabaikan perasaan seseorang selama ini?" Ucap Aira.
Aira bersandar. Dia memang bodoh, pikir Aira. "Aku tidak mengabaikanmu Dev. Hentikan itu. Kau benar-benar tidak menyadarinya bukan? Aku bicara soal Kei."
"Kei?" Tanya Devano bingung.
"Tentu saja Kei, siapa lagi? Dia menyukaimu." Cecar Aira.
Devano tertawa. "Apa Erigo yang bilang padamu? Asal kau tau, Kei selalu begitu sejak dia masih remaja Aira."
"Dan kau pikir dia hanya bermain-main bukan?" Tanya Aira sinis. "Gadis itu sudah dewasa Devano, dia bukan lagi remaja seperti yang kau pikirkan. Dan dari apa yang ku lihat, dia masih memiliki perasaan yang sama untukmu."
Devano menggeleng. "Aku tidak melihatnya seperti itu." ucapnya.
Aira mulai kehilangan kesabarannya. "Aku sudah mengatakannya padamu, sebaiknya kau pikirkan itu. Jangan mengabaikannya Dev." ucap Aira.
"Asal kau tau saja, jika dia membawa perasaan remajanya hingga ia dewasa, bukankah itu berarti ia tulus mencintaimu?"
Devano terdiam. Ia tidak ingin peduli tapi kata-kata Aira ada benarnya. "Kei sudah dewasa." ucapnya lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Aira menyunggingkan senyum miring. "Tepat sekali Dev. Remaja yang kau maksud itu sudah berubah menjadi wanita dewasa dengan perasaan masa remajanya yang sudah ia bawa selama ini." Cetus Aira. "Sadarlah Dev, gadis itu sudah di ambang batasannya. Terlambat selangkah saja, kau akan kehilangan dia."
_______________________________________
__ADS_1
Aira punya janji keluar makan malam bersama Erigo. Kali ini mereka tidak akan membeli makanan pinggir jalan dan makan di mobil lagi. Untuk pertama kalinya mereka akan berkencan dengan normal. Ia sudah memesan tempat di restoran H. Restoran favorit keluarga Aira.
Aira memilih mengenakan dress mauve tanpa lengan dengan hiasan pita kecil berwarna maroon. Ia memoles riasan tipis di wajahnya dan menggerai rambutnya yang di tata bergelombang. Sedangkan Erigo mengenakan kemeja berwarna senada, celana panjang dan menata rambutnya dengan rapi. Mereka tampak serasi.
Ketika memasuki restoran menuju meja yang dipesan, langkah kaki Aira terhenti. Ia melihat Airez di salah satu meja restoran tsb duduk memunggunginya. Tidak sulit mengenalinya karna posturnya yang familiar.
Di depannya duduk seorang gadis cantik berkacamata yang menatapnya dengan pancaran kekaguman yang tak bisa di sembunyikan. Aira bisa melihatnya dengan jelas bahkan di balik kacamata itu. Gadis itu memuja Airez, kakaknya.
Aira melangkah pelan sambil menggandeng Erigo di sampingnya lalu berhenti di tempat keduanya. Aira melemparkan senyum manis pada gadis diseberang Airez dan menyapa.
"Hai.. " Ucapnya ramah.
Airez terlonjak hingga berdiri. Matanya terbelalak melihat Aira. "Hai Airez.. " Sapa Aira. Ia tersenyum membesarkan matanya memberi kode pada Airez agar mengenalkan gadis yang bersamanya.
Airez gelagapan. Sementara gadis di depannya ikut berdiri dengan ekspresi bingung.
"Owh.. Perkenalkan, ini adik perempuanku Aira. Aira, ini Zora___direktur__cabang__Mouse__ent." Ucap Airez bingung dengan nada di tarik-tarik.
Aira mengangguk pelan-pelan mengikuti kata-kata Airez yang terpatah-patah. Ia menahan tawanya. Kakaknya benar-benar salah tingkah.
"Oh.. Selamat malam ibu" Ucap Zora formal.
Aira melambaikan tangan di depan wajahnya. "Jangan panggil ibu, panggil Aira saja. Aku adiknya." Ucapnya ramah. "Dan ini Erigo, kurasa kalian sudah saling kenal" Ucap aira lagi.
"Hai bu Zora" Ucap Erigo.
"Kita tidak sedang bekerja. Zora saja." Ucap Zora tersenyum.
Kemudian Aira melempar pandangan penuh arti pada Airez.
Airez tampak gugup. "Kalian mau makan?" Tanyanya kikuk.
"Tentu saja. Ku pikir ini restoran." Ucap Aira. Ia berusaha menahan tawanya yang hampir meledak.
"Kalian mau bergabung?" Ucap Zora tersenyum.
Aira melambaikan tangannya. "Tidak.Tidak perlu. Kami sudah memesan tempat di belakang sana" Ucap Aira menunjuk.
Erigo merangkul pinggang Aira. "Sampai kapan kau akan menggoda kakakmu? Aku sudah lapar." Ucapnya sambil tersenyum.
Kemudian Aira tidak sengaja bertatapan dengan Zora. Lalu tawa keduanya meledak begitu saja.
"Ya Tuhan. Kenapa aku merasa geli." Ucap Zora di sela tawanya.
Aira menjangkau tangan Zora. "Kurasa aku akan cocok denganmu, Zora. Baik-baiklah pada Airez, dan kumohon, kasihanilah pria ini." Ucap Aira dan keduanya terkikik.
Airez memberi tanda dengan tangannya agar Erigo membawa kekasihnya pergi. Erigo menarik pinggang Aira lagi "Ayolah sayang. Biarkan mereka makan dengan tenang." Ucapnya pelan. Erigo sendiri menahan senyumnya di depan Airez.
"Baiklah. Nikmati kencan kalian. Sampai ketemu lagi Zora." Ucap Aira kemudian meninggalkan meja mereka.
__ADS_1
Erigo terkekeh setelah berbelok di lorong. Sementara Aira membenamkan wajahnya di dada Erigo untuk meredam suara tawanya.