
Aira dan Erigo mengunjungi rumah mertuanya, membawa kedua bayi dan pengasuhnya, Dorry. Sementara bayi-bayi itu sedang tertidur di kamar bekas kamar Erigo sebelumnya, mereka duduk mengobrol di ruang tamu sembari menikmati acara keluarga di televisi. Aira, Erigo dan Jun duduk bersila di karpet, sementar ibu dan ayah mertuanya duduk di sofa ruang tamu.
Sepiring buah-buahan yang sudah di kupas disediakan di atas meja, Aira menancapkan garpunya pada sepotong apel dan mendengar ibu mertuanya bicara. "Aku senang kalian kemari. Aku merindukan cucu-cucuku."
Setudaknya sudag seminggu sejak terakhir kali ibu mertuanya datang kerumah. Bayi-bayi itu sudah berumur hampir 3 bulan sekarang, dan lebih sering terjaga daripada tidur.
Erigo memandang ibunya "Tentu saja. Kami akan sering membawa mereka kesini, jadi ibu tidak perlu bersusah payah untuk datang. Istirahat saja dirumah."
Jun menimpali. "Benar. Ibu harus banyak istirahat karena kondisimu. Si kembar biar mereka yang bawa kemari."
Erigo mendadak teringat bahwa beberapa hari yang lalu, ayahnya menelpon untuk memberi tahu bahwa ibunya sedang menjalani pemeriksaan rutin untuk penyakitnya. "Benar. Bagaimana kesehatanmu? Bukankan kemarin ayah dan ibu pergi ke rumah sakit untuk diperiksa? Apa hasilnya?" Tanya Erigo penasaran.
Ayahnya menjawab. "Kondisi ibumu masih sama, fungsi paru-parunya juga masih sama seperti sebelumnya, tidak ada peningkatan ataupun penurunan."
Aira memberikan sepotong apel pada ayah mertuanya. "Trimakasih." Gumamnya.
"Oh. Bukannya itu baik?" Cetus Erigo. Setidaknya kondisi ibunya tidak mengalami penurunan.
Ayah Erigo mengangguk. "Benar, itu artinya ibu kalian menjaga kondisinya dengan baik." Pria tua itu tersenyum memandang istrinya.
Aira dan Erigo mengangguk. "Oh syukurlah ibu. Lalu apa lagi kata dokter?" Tanya Aira.
Ayah mertuanya menyerahkan garpu pada Aira. "Mereka menyuruh kami pergi ke ruang terapi. Ibumu di suruh berjalan selama beberapa menit. Setelah mereka memeriksa oksigennya, itu turun."
Sejenak mereka semua terkejut. Aira belum menangkap maksud dari kata-kata ayah mertuanya. "Apa artinya itu?"
Jun berkata pada Aira. "Itu artinya ibu kekurangan oksigen."
Aira terkejut dan memandang suaminya. Wajah Erigo tampak sedih dan cemas. "Oh ibu. Aku sungguh berharap kau baik-baik saja." Aira mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan ibu mertuanya yang tersenyum.
__ADS_1
Ibu mertuanya menepuk-nepuk pelan tangan Aira. "Aku baik-baik saja, selama aku meminum obatku dan menjaga kondisiku. Aku masih berharap bisa berumur panjang."
Jun memandang ibunya. "Tentu saja. Ibu akan sehat dan berumur panjang." Ucapnya ceria.
Ibu mertuanya memandang Jun seraya berkata. "Tapi kita tidak tau rencana yang Tuhan siapkan. Kringinanku hanya satu, kau menikah. Menikah dan punya anak, itu adalah hal terbaik yang ku inginkan sebelum aku dipanggil menghadap tuhan."
Tidak hanya Jun, Aira dan Erigo pun terkejut. Ibu mertuanya tiba-tiba membelokkan topik pembicaraan mereka. Erigo terkekeh pelan. "Astaga ibu mulai lagi."
Jun menganga memandang ibunya. "Ibu bicara apa? Kenapa mengatakan hal itu sekarang?" Cetusnya. Wajahnya berubah cemberut.
Ibu mertuanya memandang Jun dan Aira melihat sikap keras kepala yang tidak pernah di lihatnya ada dalam diri ibu mertuanya itu. "Kau sudah cukup umur untuk menikah, Jun. Bahkan adikmu saja sudah menikah. Aku ingin punya cucu dan melihat mereka tumbuh."
Jun melemparkan tatapan kesal ke arah Erigo, Erigo meringis dan bergumam. "Maaf."
Melihat kedua kakak beradik ini, Aira tiba-tiba merasa gugup.
Ibu mertuanya masih memandang ke arah Jun. "Entah apa kau belum menemukan orang yang tepat, atau kau memang tidak berpacaran, aku tidak pernah tau." Ibu mertuanya menggelengkan kepala.
Aira hanya terdiam tidak merespon karena takut membuat kesalahan. Aira merasa bingung dan tertekan di antara pertentangan ibu dan anak ini.
Erigo melihat ekspresi Aira yang salah tingkah dan ekspresi Jun yang mulai kesal. Ia memutuskan untuk menengahi dengan candaan jahil. "Aku juga penasaran ingin melihat keponakanku." Ucapnya lalu terkekeh geli ketika melihat tangan Jun terangkat seakan ingin memukulnya.
Jun melotot. "Apa katamu?" Mereka semua tertawa karena lelucon Erigo. "Apa yang kau bicarakan dasar sinting." Gumam Jun kesal.
"Kau harus berusaha Jun. Berusaha untuk mendapatkan rekan yang baik." Lanjut ibu mertuanya, di pandangnya mata Jun dengan tatapan menyelidik.
Jun hanya menggeleng dan menghindari tatapan mentelidik ibunya. "Aku akan bertemu pasanganku secara alami."
"Itu susah jika kau jelek." Erigo menyela sebelum keduanya sempat bicara lagi.
__ADS_1
"Apa?" Jun melayangkan pandangan ke arah Erigo dan menatapnya dengan mata membelalak, namun ia tertawa. "Aira, kendalikan suamimu, atau aku yang melakukannya." Ucap Jun seraya melayangkan pandangan pada Aira yang hanya mampu tersenyum.
Ayah mertuanya ikut bicara. "Kau masih seperti anak kecil bagiku. Apa kau sudah dewasa untuk menikah?" Ucapnya sambil lalu.
Kata-kata itu memancing ibu mertuanya mendelik marah.
Jun tertawa riang. "Ayahku memang menyayangiku." Cetusnya.
"Kau hanya tidak mau melepaskannya." Kata ibu mertuanya pada sang suami dengan tatapan menuduh.
Erigo terkekeh pelan. "Ayah memang punya pemikiran yang berbeda."
"Kurasa semua ayah begitu." Cetus ayah mertuanya. "Ayah Aira, aku tak mengerti mengapa dia memberikan putrinya yang berharga pada anak nakal macam Erigo." Ucapnya terkekeh dan memancing tawa semua orang.
Ayah mertuanya melanjutkan, "Tapi aku bersyukur kau sekarang menjadi putri di keluarga kami." Ucapnya lembut seraya memandang Aira.
"Benar." Ibu mertuanya sepakat. "Ayah orang lain juga akan bersyukur jika kau menjadi putri mereka seperti Aira." Cetusnya lagi masih di tujukan kepada Jun.
"Ibu. Hentikan itu." Jun mulai kesal dan menghembuskan nafas frustasi.
Erigo merasa situasinya mulai berbahaya dan akan menimbulkan konflik antara ibunya dan jun. Jadi dia mengusulkan untuk makan.
Bahkan di meja makan ibunya masih membicarakan soal pernikahan hingga Jun tidak bisa makan dengan nyaman.
Jun meletakkan sumpitnya dan memegang dadanya, ia berpura-pura tersedak. "Aku jadi tidak bisa makan." Cetusnya sambil pura-pura batuk. "Ibu makan saja, jangan membicarakanku. Aku sudah bilang aku akan bertemu dengan pasanganku secara alami." Kata jun lagi, kemudian ia menunjuk adik-adiknya. "Aira dan erigo, mereka juga begitu." Protesnya. "Kecuali orangnya seperti artis Zinu, aku bersedia menerimanya secara tidak wajar." Ucap Jun santai. Semua orang di meja makan tertawa. Zinu adalah aktor paling tampan yang pernah ada. Muda dan kaya, tentu saja. Tapi sulit di gapai.
Aira tersenyum dan berkata, "Kau pasti memiliki kriteria tertentu untuk pria idaman. Jun, seperti apa pria idealmu?" Aira bertanya dengan penuh minat.
Erigo memgangguk mendukung pertanyaan Aira. "Coba sebutkan satu, dari kalangan artis. Mungkin yang ku kenal."
__ADS_1
Jun tertawa geli. "Ini konyol. Untuk apa kita membahasnya. Sudahlah, aku mau ke kamar melihat si kembar." Jun meletakkan sendoknya, mengelap tangannya dengan serbet kemudian berlalu dari ruang makan menuju ke kamar si kembar.