
Aira dan Erigo datang ke kediaman Zuma dan memberitahukan bahwa Erigo telah melamar Aira. Ibu dan Ayahnya sangat bahagia dan mengucapkan selamat kepada mereka berdua.
Anna sang asisten rumah tangga malah menangis tersedu-sedu saking bahagia dan terharu. Aira tertawa dan memeluknya. "Oh Anna. Trimakasih sudah bahagia untukku." Ucap Aira.
Frans Zuma berencana mengumumkan berita pertunangan Aira dan Erigo pada acara amal di akhir bulan, tetapi mereka ingin mengadakan pertemuan keluarga terlebih dahulu. Ayah dan ibu Aira ingin bertemu dengan Ayah dan ibu Erigo untuk membicarakan rencana mereka kedepan, jadi mereka harus mengatur jadwal pertemuan di akhir minggu.
____________________________________
Kedua keluarga mengatur acara makan malam di salah satu restoran yang mempunyai ruangan privat. Disana telah menunggu Aira beserta ayah dan ibunya. Aira terlihat cantik dalam balutan gaun sutra asimetris berwarna lavender yang senada dengan batu Amethyst di cincinnya dan sesuai dengan warna kulitnya yang seputih susu.
Riasannya tidak berlebihan dengan sedikit perona pipi dan sapuan lipgloss pink membuat Aira tambak seperti boneka porselen.
Tak menunggu lama, Erigo dan keluarganya juga datang. Erigo tampak gagah dalam balutan kemeja lavender dan blazer berwarna gelap, dilengkapi dengan celana panjang berpotongan pas yang membalut kaki Erigo dengan cara yang maskulin.
Aira menatap pujaan hatinya yang luar biasa tampan. Rambutnya di tata rapi dengan sedikit poni menjuntai, kelopak mata monolid idaman wanita dengan bola mata berwarna coklat terang. Kulit bersih, hidung mancung, bibir tipis dengan senyuman yang membuatnya terlihat sedikit nakal. Aira hampir meleleh melihatnya.
Keduanya tampak serasi. Namun secara mengejutkan ibu Aira terkesiap di sampingnya ketika menatap sang calon besan. Matanya tampak melebar. "Helena?" Ucapnya.
Aira memandang ibunya dengan bingung. Lalu ia mendengar suara ibu Erigo memanggil nama ibunya. "Emma?"
Mereka semua terpaku. Aira bertukar pandang dengan Erigo yang tampak sama bingungnya dengan Aira.
"Sayang, kau mengenal orangtua Erigo?" Tanya Frans, ayah Aira.
Ibunya segera menghampiri ibu Erigo. "Tentu saja. Dia temanku semasa sekolah dulu. Aku tidak salah kan? Kau Helena, benar?"
Ibu Erigo tergelak. "Benar ini aku Emma."
Kedua ibu berpelukan hangat. Tanpa di duga, ibu Aira dan ibu Erigo ternyata saling mengenal sejak masa sekolah. Keduanya berpisah ketika ibu Aira memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman.
Kedua Ayah juga di perkenalkan. Will Galeni menjabat erat Frans Zuma dan tersenyum ramah. Pembicaraan langsung terbuka tanpa adanya kecanggungan. Mereka langsung tampak akrab seperti kenalan lama.
__ADS_1
"Aku tidak pernah menyangka akan bertemu lagi denganmu terlebih dalam keadaan seperti ini. Putraku Erigo sangat mencintai putrimu Aira. Sungguh takdir yang sangat baik." Ucap ibunya Erigo.
"Erigo adalah pemuda yang sangat baik dan menyenangkan. Putriku tampak bahagia saat bersamanya. Aku sangat senang. Terlebih sekarang aku tau bahwa dia adalah anakmu. Kurasa semuanya akan berjalan lancar." Balas ibunya Aira.
Aira dan Erigo saling berpandangan di seberang meja dan tersenyum. Tidak ada yang menyangka semuanya berjalan semulus ini.
Erigo terkekeh pelan. "Sepertinya kami berdua telah tersingkir dari pembicaraan ini." Ucapnya bercanda. "Para ibu tampaknya sangat antusias." Katanya lagi dan mengundang tawa semua orang.
"Bukan hanya kalian yang tersingkir. Para ayah juga merasakan hal yang sama." Ucap ayah Erigo terkekeh.
Frans Zuma mengangguk setuju, kemudian menambahkan. "Sepertinya hanya para ibu yang akan berdiskusi. Aku akan mendukung apapun kesepakatan yang di ambil. Bukan begitu?" Tanyanya pada Ayah Erigo yang di jawab dengan anggukan dan tawa.
Makanan mereka di hidangkan. Mereka makan malam dalam suasana yang menyenangkan. Orang tua mereka sesekali memuji betapa cantiknya Aira, betapa tampannya Erigo dan betapa serasinya mereka berdua.
Kabar pertunangan Aira dan Erigo akan di umumkan saat acara amal di akhir bulan. Orang tua Erigo secara langsung di undang untuk hadir. Aira dan Erigo juga akan berada disana karna Erigo akan tampil menghibur para tamu bersama para member Summer.
Kedua keluarga menghabiskan sisa malam dengan bercengkrama mendengarkan cerita masa lalu serta berbagi kisah masa kecil Aira dan Erigo. Hingga waktunya berpamitan, mereka harus berpisah.
Erigo menatap Aira dan memujinya. "Kau sangat cantik Aira." Erigo baru memiliki kesempatan memuji Aira setelah mereka berduaan
"Trimakasih" Jawab Aira tersenyum. "Kau juga sangat tampan." balasnya.
Erigo tersenyum melepas blazernya dan di letakkan di sandaran tangan. Ia membuka dua kancing teratas kemejanya. "Kau sudah memberi tahu Winne dan Kei?" Tanya Erigo sembari duduk bersandar di sofa.
Aira duduk di sebelahnya, melepaskan anting-anting dan meletakkannya di atas meja. "Aku belum bilang apa-apa. Aku berencana mengatakannya besok, aku sudah mengajak mereka berkumpul." Aira tersenyum dan memeluk pinggang Erigo. "Mereka pasti terkejut." Ucap Aira.
Aira menengadah menatap Erigo. "Kau belum memberi tahu para member?" Tanyanya.
Erigo mengangkat bahu. "Kami belum sempat bertemu." Ia terkekeh. "Toddy akan sedih. Karna dia member tertua, tapi masih belum punya pasangan."
Aira tertawa. "Jangan menjahilinya. Suatu saat dia juga akan menemukan seseorang yang cocok dengannya." Aira terduduk tegak karena mengingat sesuatu, lalu bersandar lagi secepat duduknya, kemudian melupakannya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Erigo bingung karna tindakannya.
Aira memasang wajah sedih. "Aku teringat ingin mengenalkannya pada seseorang. Lalu aku sadar, aku tak punya siapapun untuk ku perkenalkan." Katanya konyol.
Erigo tergelak. "Kalau begitu, tidak ada yang bisa kita lakukan untuknya selain melihatnya bertambah tua sayang." Ucapan Erigo membuat Aira tertawa.
Erigo memperbaiki posisi duduknya. "Acara amal itu, bagaimana persiapannya? Kau tampaknya jadi lebih sibuk belakangan ini." tangannya mengelus kulit Aira yang lembut.
Aira menarik nafas berat. "Persiapannya sudah 70 persen, tapi karna aku baru sekali ini menanganinya, jadi aku agak bingung. Untungnya ada banyak staf berpengalaman yang membantuku dan aku sering berdiskusi dengan Airez."
Aira tidak pernah terlibat dalam penyelenggaraan acara apapun dibawah naungan Mouse Entertainment. Ia tidak tau sesibuk apa nanti dan belum bisa membayangkannya. Ia hanya melakukan apa yang di instruksikan Airez dan rajin bertanya padanya agar mempermudah pekerjaannya.
"Kau pasti akan melakukannya dengan baik. Percaya diri lah." Ucap Erigo menyemangati. Ia mengecup pipi Aira sekilas.
"Tentu saja. Aku pasti bisa." Ucap Aira bersemangat. "Aku sudah mendata para penampil dan sudah menerima daftar donatur juga, ternyata banyak sekali." Ucapnya.
Erigo tertawa. "Benar, banyak sekali setiap tahun. Salah satunya Jimmi Young." Kata Erigo.
"Jimmi Young?" Aira mencoba mengingat daftarnya. "Ku rasa aku membacanya di suatu tempat. Kau mengenalnya?" Tanya Aira.
"Teman sekolah yang tidak terlalu menyenangkan." Ucap Erigo. Wajahnya berubah muram. "Sepertinya aku akan bertemu lagi dengannya tahun ini." Erigo tersenyum masam.
Aira bisa merasakan keengganan tersirat dari kata-kata Erigo, mungkin bukan hal yang baik untuk di ceritakan, tetapi Aira tetap merasa penasaran dan akhirnya bertanya dengan mata menyipit. "Ada yang terjadi antara kau dengan dia?"
Erigo sepertinya tidak terusik oleh pertanyaan Aira karena pria itu bercerita dengan enteng. "Aku tidak tau sejak kapan dia mulai merasa aku adalah saingan yang harus di kalahkannya bahkan sejak kami duduk di bangku sekolah. Jimmi selalu berambisi untuk mengalahkanku. Baik dalam nilai-nilai akademis, olah raga, hingga teman wanita." Erigo menarik nafas dalam dan menghembuskannya sambil tertawa."Dia selalu berusaha merebut apa saja yang aku punya, termasuk kekasih. Kecuali Moza." ucapnya menambahkan.
Aira memiringkan kepalanya dan tidak tahan untuk bertanya. "Moza tidak tertarik padanya?" tanya Aira. Matanya membulat sedikit tidak percaya karena Moza biasanya mengejar orang-orang seperti Jimmi.
Erigo tertawa terbahak-bahak. "Bukan Moza yang tidak tertarik, tapi Jimmi yang tidak tertarik pada Moza. Kurasa dia sudah tau bagaimana tabiat Moza dan berpikir ulang sebelum mengejarnya." kata Erigo.
Erigo melanjutkan. "Aku hanya tidak habis pikir. Jimmi adalah anak orang kaya, dia punya segalanya. Nilainya tidak jelek, dan banyak yang ingin menjadi temannya. Tapi dia tidak suka padaku yang miskin. Kau tau, aku memulai debutku saat masih sekolah dan itu entah kenapa membuatnya lebih membenciku."
__ADS_1
Erigo menatap Aira dengan sorot posesif. "Aku akan memperingatkanmu sekarang. Aku punya firasat bahwa dia akan mencoba mendekati tunanganku." Ucapnya menyipitkan mata.