
Aira terkejut ketika membuka pintu apartemennya dan melihat wajah Erigo dan Devano yang babak belur. Satu sudut bibirnya berdarah, lalu bengkak dan memar di seluruh wajah. Ia meraba wajah keduanya dan mengernyit. "Apa yang terjadi? Kalian habis bertengkar?" Tanyanya sambil menarik tangan keduanya untuk masuk.
Erigo terkekeh "Kami tidak bertengkar." Jawabnya. Ia melangkah menuju dapur mencari es batu untuk mengompres memar di wajahnya dan Devano.
Sedangkan Devano menghenyakkan bokongnya di sofa ruang tamu Aira. "Kami hanya berbaikan." Ucapnya ringan. "Kau punya kotak p3k? Di rumahku tidak ada." Ucap Devano lagi. Ia berusaha tertawa namun gagal ketika sudut bibirnya yang sobek tertarik dan menimbulkan sengatan perih.
Erigo melemparkan sekantong es batu pada Devano. "Omong kosong." Ucapnya lalu mengernyit merasakan sakit di bagian wajahnya. "Kau punya. Kau hanya ingin dekat-dekat dengan kekasihku." Ucapnya lagi. "Auughh sial kau Dev, ini sakit sekali."
Devano terkekeh pelan. "Binggo! Aku memang merindukanmu Aira." Ucap Devano memandang Aira lalu tersenyum jahil.
Erigo menendang kaki Devano. Keduanya meringis menahan perih di wajah masing-masing.
Aira yang sejak tadi berdiri sambil melipat tangan di dada hanya mampu menggeleng frustasi melihat kelakuan keduanya.
Aira di beritahu Winne bahwa mereka di pertemukan oleh Toddy dan Yansen untuk menyelesaikan masalah, namun Aira tidak menyangka bahwa mereka akan menyelesaikannya dengan cara berkelahi seperti dua orang berandal tengil. "Aku kesal sekali melihat kalian berdua." Ucapnya. Ia mengambil kotak p3k yang tersimpan di lemari gantung di dekat pintu ruang riasnya.
Aira meletakkan kotak di atas meja dengan kesal. "Aku duluan." Ucap Devano dan Erigo berbarengan.
Aira menyipit menatap kedua pria di depannya. "Siapa bilang aku akan merawat kalian? Lakukan sendiri!" Bentak Aira ketus. Ia berjalan ke dapur dan mencuci tangan.
Erigo menghampiri Aira lalu memeluk gadis itu dari belakang. "Maafkan aku. Jangan marah lagi. Kami sudah berbaikan, bukankah itu bagus? Iya kan? Kan? " Ucapnya konyol. Ia mengecup lembut kepala Aira yang tak mau memandangnya.
Aira melepaskan pelukan Erigo dan berjalan ke ruang tamu dengan menghentakkan kakinya. Ia membantu Devano mengoleskan salep di sudut bibirnya dan beberapa memar di wajahnya. "Lihat apa yang kalian lakukan pada wajah satu sama lain. Apa kalian anak kecil? Tidak bisakah kalian bicara selayaknya dua orang dewasa? Konyol sekali. Benar-benar konyol." Aira terus mengomel sambil menggeleng-geleng kesal.
Devano dan Erigo diam saja menerima omelan Aira.
"Bagaimana jika hidungmu patah?" Aira meradang.
"Aku memukulnya dengan penuh perhitungan agar wajahnya tidak rusak dan hidungnya tidak patah" cetus Erigo tidak tau diri.
Devano mengangguk. "Aku juga." ucapnya.
Aira memejamkan matanya dan menggeleng. "Apa kalian ingin mulai perang denganku?" cetus Aira.
Devano meringis. "Itu sakit. Pelan-pelan Aira." Pintanya.
Erigo mengangkat sudut bibir atasnya mencemooh. "Tekan saja yang kuat. Dia meninju wajahku tadi." Erigo mencoba mengadu.
Aira memutar kepalanya dan menatap galak.
__ADS_1
Erigo terkejut. "Dia manja sekali." Ucapnya pelan karna Aira menatapnya dengan garang.
Aira kembali menghadap Devano. "Lihat saja nanti aku akan menekan-nekan wajahmu sampai bonyok!" Cetus Aira yang di tujukan untuk Erigo.
Erigo mengerang mendengar ancaman Aira.
Devano bangkit dari duduknya "Kau punya makanan?" Tanyanya pada Aira yang sedang mengoleskan salep di wajah kekasihnya, Erigo.
Aira menoleh sambil mengernyit. "Kalian belum makan?" Tanyanya. "Jadi kalian hanya berkelahi tanpa makan?" Tanyanya lagi. Aira semakin kesal. "Lalu apa saja yang di lakukan leadermu itu?" Cecar Aira merujuk pada Toddy.
"Jangan menghinanya sayang, kau pernah bilang dia leader terbaik." Ucap Erigo.
"Kau juga pernah memujanya seperti dewa." Cetus Devano.
Aira menganga, ia merasa di serang dan terpojok. "Aku tidak memujanya seperti dewa. Aku hanya mengaguminya. Itu saja. Dan dia memang leader terbaik." Ucapnya mengangguk-angguk. "Tidak, bukan itu yang ingin ku katakan." Ucapnya bingung. "Kita sedang membahas apa tadi?" Tanyanya.
Erigo tertawa, begitu juga Devano. "Makanan. Kita sedang membahas makanan." Ucap Erigo memberi kecupan di puncak kepala Aira. "Sebaiknya kita pesan saja." Cetus Erigo meraih ponselnya di atas meja.
"Setidaknya kau pasti punya air dingin." Cetus Devano kemudian berlalu ke arah dapur.
___________________________________
"Kau ingin bertanya soal Kei bukan?" tebak Aira. Ia sudah merasa Devano mengekorinya sejak tadi dan pasti ingin mengatakan sesuatu.
"Kalau kau bersedia mengatakannya, aku akan berterimakasih." ucap Devano. Hanya Aira satu-satunya harapan Devano saat ini.
Aira ikut duduk di depannya. "Maafkan aku Dev. Kei tidak mengizinkan siapapun memberitahukan keberadaannya padamu. Dan aku tidak akan mengkhianatinya." ucap Aira pelan dan tegas.
"Dia membenciku." ucap Devano. "Aku memang pantas di benci." ucapnya lagi. Menyesalpun sudah tidak ada gunanya. Devano seperti orang bodoh yang melihat semut di seberang pulau namun tidak melihat gajah di pelupuk mata. Ia menarik kasar segenggam rambutnya.
Aira menarik nafas dan menghembuskannya. "Beri dia waktu Dev." ucap Aira. Aira merasa iba, tapi tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan yang di ambil Kei. Ia tidak ingin mencampurinya terlalu jauh.
Devano menggeleng. "Aku sudah terlambat Aira. Aku sudah kehilangan dia."
Aira menatap Devano. "Apa yang kau rasakan untuknya Dev?" tanya Aira. "Jika itu hanya rasa bersalah__"
"Aku merindukannya Aira." potong Devano. "Itu yang ku rasakan sekarang." ucapnya lagi. "Aku memang merasa bersalah, awalnya. Aku menganggapnya pengganggu. Tapi kepergiannya justru membuatku lebih terganggu. Aku tak bisa menemukannya dimanapun, itu membuatku gusar. Aku ingin dia selalu ada di dekatku. Egois sekali aku."
Aira tersenyum. Ia menyadari bahwa Devano juga memiliki perasaan yang sama dengan yang di rasakan Kei, hanya saja Devano memang agak terlambat menyadarinya. Sangat terlambat sebenarnya, tapi bukan berarti tidak bisa di usahakan. "Jika perasaannya padamu masih sama seperti sebelumnya, apakah kau akan memperjuangkannya Dev?" tanya Aira.
__ADS_1
Devano menatap Aira. "Bahkan jika perasaannya sudah berubah Aira, aku akan membuatnya kembali padaku apapun yang terjadi." Keyakinan berkilat-kilat di mata Devano. Ia sudah kehilangan Kei sekali, dan ia akan memastikan hal itu tidak terjadi lagi.
Aira tersenyum. "Akan ku lihat apa yang bisa ku lakukan. Bersabarlah." ucapnya menenangkan Devano.
"Itu janji yang sangat besar sayang." cetus Erigo yang sudah duduk di samping Devano. "Kei mungkin tidak ingin kembali setelah semua yang di katakan si bodoh menyebalkan ini." Erigo bersikap skeptis.
Aira mengangguk. "Tapi kita tidak pernah tau isi hati orang lain sayang. Kei terikat padanya sejak remaja dan tidak semudah itu perasaannya akan hilang. Kita hanya perlu mengingatkannya dan sedikit memberi dorongan."
ucap Aira. "Ku rasa aku bisa mengusahakan sesuatu. setidaknya kita bisa mencobanya." ucap Aira.
"Trimakasih Aira. Kau sangat baik." ucap Devano.
___________________________________
Waktu menunjukkan pukul 11 pagi. Devano bermalas-malasan di rumahnya. Ia tidak punya jadwal kegiatan apapun yang mengharuskannya keluar hari ini.
Dua bulan berlalu tanpa kabar dari Kei. Aira juga tidak mengatakan apa-apa. Ucapan salam perpisahan Kei yang pahit menghantam Devano setiap malam. Kei bener-benar pergi meninggalkannya tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan ataupun minta maaf.
Waktu berlalu berjam-jam lamanya, Devano mengumpat pelan. Sial!! Pikirnya dalam hati. Ia tidak pernah merencanakan kejadian seperti ini. Ia tidak pernah berfikir bahwa kehilangan Kei akan mempengaruhi dirinya sebesar ini.
Hidupnya terasa rumit. Ia duduk sendirian di sofa ruang tamunya dan memandang berkeliling. Kei pernah disini, di ruang tamunya, di dapurnya, bernyanyi, tertawa, makan siang dan makan malam bersamanya. Devano tidak bisa mengenyahkan pikiran-pikirannya.
Bayangan Kei berlari menghampirinya, tersenyum padanya, menggandeng tangannya, segalanya membuatnya semakin merindukan gadis itu.
Seketika bayangan Kei yang terluka menyusup di benaknya. Kilatan sakit hati dan kecewa yang terpancar di matanya membuat Devano gila. Ia ingin menghapusnya. Rasa bersalahnya semakin dalam menyiksanya.
Devano mengerang mengingat betapa bodohnya dia, betapa kasar kata-katanya tentang Kei. "Dimana kau Kei?" Ucapnya lirih. Devano sungguh menyesalinya.
Ia mengambil ponselnya. Menimbang-nimbang tindakannya. Ia ingin sekali lagi mencoba. Meskipun pada akhirnya tetap sama dan ponsel Kei tetap tidak bisa di hubungi, ia akan menelen kecewanya sekali lagi saja. Sebagian dirinya masih tetap berharap.
Ia menekan tombol panggilan dan menunggu. Menunggu yang seakan tiada akhirnya lalu sekatika matanya membulat. Nada panggilan terdengar. Ponsel Kei aktif kembali. Jantung Devano berdetak penuh harap dalam penantian tak berujung.
Cklek. "Halo."
Devano menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya kering. Suara Kei. Suara Kei yang di rindukannya. Ia yakin. Devano merasa seolah sebuah tangan meremas jantungnya. Ia kesulitan untuk bicara.
Hening yang lama, Kei tidak menutup panggilannya sedangkan Devano berjuang menemukan suaranya yang tercekat emosinya sendiri. "Kei.. " Ucapnya pelan dan lirih.
Pertahanan dirinya perlahan runtuh. Ia teramat sangat merindukan gadis itu hingga sampai pada tahap menyesakkan. "Kei.. " Ucapnya lagi dengan suara bergetar. Setitik Air mata jatuh di pipi Devano. Air mata pertamanya untuk seorang gadis.
__ADS_1