
Aira tertawa. "Kau memikirkan itu? Mmm.. Aku tidak terlalu suka pesta dengan banyak orang. Aku lebih suka pernikahan yang di hadiri orang-orang terdekat." Jawab Aira.
Erigo tersenyum. "Aku juga. Kau sudah bertemu keluarga dan orang-orang terdekatku. Di tambah para member, pasangan mereka dan orang tua mereka. Apa kau keberatan?" Tanya Erigo.
Aira menggeleng. "Aku tidak keberatan. Mereka orang-orang yang menyenangkan." Kecuali satu orang, ucap Aira dalam hati memancing kerutan di alisnya.
"Aku tidak akan mengundang Kathy." Ucap Erigo seperti bisa membaca pikiran Aira.
Aira cepat-cepat menyangkal. "Oh, aku tidak keberatan, dia sepupumu." Ucap Aira berbohong.
Erigo tertawa. "Kau tidak pintar berbohong Aira. Aku tidak akan mengundangnya. Dan jika dia nekat datang, kurasa Jun akan menendangnya lebih dulu." Erigo terkekeh. "Aku membayangkan Kathy tersungkur dengan hidung mencium tanah, entah kenapa rasanya menyenangkan." Ucap Erigo.
Aira ikut tertawa. "Kau jahat sekali." Ucap Aira meskipun ia membayangkan hal yang sama jahatnya.
"Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Erigo.
"Kurasa juga tidak terlalu banyak, keluargaku sebenarnya bukan keluarga besar. Ada beberapa kerabat dekat dan teman-teman. Itu saja." Ucap Aira. Kemudian lambat-lambat ia menambahkan. "Dan Erigo, aku tidak mau ada pers."
Aira tidak memiliki kenangan bagus tentang pers. Ia bukan seorang selebritis, Aira hanya pernah terseret karena ia menjalin hubungan dengan selebritis dan itu kenangan yang sangat buruk.
Erigo mengangguk. "Baiklah. Tidak ada pers. Aku akan memastikan tidak ada liputan dan pemberitaan. Jangan khawatirkan itu."
Makanan mereka di sajikan dan mereka makan sambil mengobrol ringan. Bahkan kejadian buruk siang tadi tidak lagi mereka pikirkan.
_____________________________
Baru tadi malam rasanya Aira mengatakan pada Erigo soal keengganannya pada pers, namun pagi ini telponnya sudah berdering beberapa kali. Kebanyakan dari mereka bertanya, apa yang terjadi padanya dan Erigo.
Sebuah berita konyol menyebar di berbagai media tentang perselingkuhan Aira dengan seorang pengusaha berinisial JY. Sebuah koran kota bahkan mencetak 3 foto dimana sebuah foto Aira sedang berjalan masuk ke gedung percetakan, lalu berikutnya foto Erigo yang tampak tergesa-gesa menaiki 2 anak tangga sekaligus, lalu foto Aira dan Erigo dengan tampilan wajah frustasi melangkah keluar dari gedung. Tampak disana Erigo seolah-olah menyeret Aira di belakangnya yang tampak kacau.
Judul-judulnya mengerikan. 'Cinta terlarang playboy terkenal', 'Mainan baru cassanova percetakan', 'Aira, gadis yang jadi rebutan para pria', 'Kisah cinta malang sang musisi'. Aira merasa kepalanya berputar. Apa yang terjadi? Bagaimana foto itu bisa ada disitu dengan momen seperti itu?
__ADS_1
Bel pintunya berbunyi, suara ketukan juga panggilan. "Aira!"
Aira terduduk di tempatnya dan tidak punya waktu untuk berpikir karena siapapun yang ada di depan pintunya pastilah sangat tidak sabar karena bel itu berbunyi berkali-kali. Devano dan Kei berdiri di depan pintu. Kei menghambur memeluknya. "Apa yang terjadi Aira?" Tanyanya khawatir.
"Erigo menelponku dan memintaku melihatmu. Dia sendiri terjebak di apartemennya karena pers sudah berkumpul disana." Ucap Devano.
Belum sempat Aira bicara, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini dari Erigo. "Apa yang terjadi Erigo?" Tanyanya bahkan Erigo belum sempat mengatakan apapun.
"Tenanglah sayang. Aku juga belum tau tapi kemungkinan besar Jimmi yang menyebabkan semua masalah ini. Aku tidak bisa kesana, untuk sementara aku meminta Devano dan Kei__"
"Mereka disini." Tukas Aira cepat.
"Itu bagus. Sekarang aku harus menelpon Airez soal tuntutan itu. Sepertinya Jimmi menyerang selangkah lebih dulu." Kata Erigo.
Aira menggigit ujung ibujarinya karena panik. "Erigo, aku tidak mau berurusan dengan pers." Ucapnya tanpa sadar merengek dengan suara bergetar. Aira sudah merasa ingin menangis. Seluruh negeri menghujatnya lagi. Aira tidak akan pernah terbiasa.
"Aku tau sayang. Maafkan aku." Ucap Erigo. Lelaki itu mengumpat pelan di ujung telpon. "Semua berita itu tidak penting Aira, yang penting adalah kau dan aku. Kita akan menghadapinya."
Aira merasa dunianya tidak lagi sama. Tidak setenang dulu ketika ia belum mengenal Erigo. Aira tidak menyesali pertemuannya dengan Erigo maupun hubungan yang mereka jalani. Hanya saja, Aira tidak terbiasa menghadapi segala kerumitan yang menyertai mereka.
Aira merasa setiap langkah dan tindakannya di sorot dan dinilai oleh orang lain yang bahkan tidak mengenalnya. Ia merasa ruang pribadinya di langgar, di hancurkan dan puing-puingnya di bagikan pada khalayak ramai. Aira merasa tidak adil.
Mungkin bagi Erigo adalah hal biasa ketika semua orang membicarakannya, skandal percintaannya. Tapi bagi Aira itu adalah sesuatu yang tidak bisa di terimanya. Apalagi itu adalah cerita yang sama sekali tidak benar.
Aira mencintai Erigo. Ia yakin akan bahagia bersama Erigo dan Erigo akan bahagia bersamanya. Tapi setelah ia membaca berita pagi ini, keyakinannya terguncang. Aira merasa sesak.
Ponsel Aira berbunyi lagi. Airez menghubunginya. "Airez?" Ucap Aira setelah mengangkatnya.
"Hai Aira. Erigo baru saja memakiku lagi. Kau baik-baik saja?" Ucapnya.
Jika dalam suasana lain, Aira pasti akan tertawa. Hanya saja perasaannya terlalu berkecamuk untuk mencerna segalanya sekarang. "Airez apa yang terjadi? Aku sangat bingung." Ucapnya gemetar. Lagi-lagi Aira menggigiti ujung ibujarinya.
__ADS_1
"Jangan takut sayang, semuanya akan baik-baik saja. Bajingan itu, aku akan membenamkannya ke tanah." Ucap Airez berapi-api. "Erigo dan kau akan memberikan pernyataan pada pers. Kita akan memberikan rekaman itu dan biarkan bajingan itu menjadi santapan media."
"Tapi Airez__" Aira bimbang. Isi rekaman itu terlalu menjijikkan untuk di dengarkan apalagi disebarluaskan. Aira merasa di lecehkan saat bajingan itu mengerang erotis dengan Aira berada di pangkuannya. Terlalu berlebihan untuk Aira tanggung. Terlalu memalukan. "__aku tidak bisa." Ucap Aira getir.
"Aira. Kuatlah sayang." Ucap Airez membujuk.
Aira terisak. "Ini berlebihan." Bulir-bulir airmata Aira menuruni pipinya.
Beberapa jam lalu kejadian itu bahkan sudah terlupakan oleh Aira, namun sekarang seluruh memorinya terbuka dan terancam terekspos ke dunia. Aira merasa mual kembali menyerangnya.
Airez berkata dengan sangat lembut. "Sayang, aku akan melindungimu, Erigo akan melakukan hal yang sama. Kita akan membeberkan percakapan itu dan__yah__akan memalukan. Tapi pikirkanlah, bukan kau yang akan di hujat, tapi bajingan itu. Dan orang-orangku sudah bergerak mengumpulkan bukti-bukti pelecehan dan penyimpangan yang dilakukan Jimmi Young dan akan segera melaporkannya." Ketika Aira tidak juga menjawab, Airez berkata lagi. "Kita akan membuatnya membayar pantas atas apa yang dia lakukan. Tegarlah Aira. Angkat kepalamu dan lawan dia."
"Aku akan memikirkannya Airez." Ucap Aira lemah.
"Baiklah. Kabari aku secepatnya agar kita bisa segera menyelesaikannya, oke." Ucap Airez lagi. "Dan Aira, aku menyayangimu, sister." Telponnya di tutup.
Aira menarik nafas berat dan lelah. Ia bahkan tidak sanggup mengatakan apapun pada Kei dan Devano.
__________________________
Aira meringkuk di tempat tidurnya ketika Kei masuk ke kamar. "Aku sudah bicara pada Airez dan Erigo." Katanya pelan. "Kau harus berani sister. Kau harus menunjukkan pada bajingan itu bahwa tidak ada wanita yang pantas di perlakukan semena-mena."
Aira masih enggan menjawabnya. Lalu Kei bicara lagi. "Airez bilang, orang suruhannya berhasil membujuk sekretaris pria itu untuk bersaksi." Ucapnya.
Aira memandang Kei dan duduk. "Apa maksudmu?" Aira tidak mengerti apa hubungannya sekretaris pria itu dengan situasinya saat ini.
"Sekretaris pria brengsek itu akan bersaksi untukmu Aira. Dia membawa rekaman cctv ruangan Jimmi yang memperlihatkan pria itu melecehkan karyawan wanitanya dan dirimu kemarin." ucap Kei. "Oh aku muak sekali." ucap Kei berapi-api.
"Kenapa dia mau melakukannya? Apa yang membuatnya setuju? Dia kan sekretarisnya." Aira tidak mengerti.
Kei menyibakkan rambutnya ke belakang. Menarik napas panjang sebelum menggunjingkan Belinda. "Kau tau, ternyata si Belinda itu juga sering di lecehkan. Hanya saja dia tidak bisa berhenti bekerja karena dia membutuhkan uangnya." cetus Kei. Kemudian ia melanjutkan. "Gadis itu hanya tinggal bersama ibunya yang sakit-sakitan. Lalu kudengar Airez menawari untuk membantu biaya berobat ibunya melalui ME Foundation dengan syarat ia harus menyerahkan rekaman cctv dan keluar dari pekerjaannya. Airez juga menawarinya pekerjaan di ME foundation sesuai dengan keahliannya." Kei mengangguk-angguk sendiri. "Airez keren sekali. Aku bangga jadi sepupunya." ucap Kei.
__ADS_1
Aira perlahan mencerna kata-kata yang di ucapkan Kei padanya, ia berubah cerah. Keberaniannya bangkit dari kubur. "Itu bagus sekali Kei." ucap Aira. "Aku harus menelpon Airez dan Erigo juga." Ucapnya lagi. Kabut tersingkir dari hadapannya dan Aira sudah membulatkan tekad. Ia membayangkan akan memencet bajingan macam Jimmi di antara kukunya seperti membunuh kutu.