Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 28


__ADS_3

Erigo mengantar Aira pulang ke apartemennya. Setidaknya itu yang di pikirkannya. Namun tiba-tiba Erigo menyerbu ke kamarnya dan dengan kalap memasukkan semua barang-barang milik Aira ke dalam koper membuat Aira ternganga.


"Erigo, apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Aira.


Erigo terus saja memasukkan barang-barang tanpa bicara. "Bicaralah padaku!" Bentak Aira menarik lengan Erigo menghentikan gerakannya.


Erigo meradang. Ia menghempaskan pakaian Aira di tangannya dengan kasar ke tempat tidur dan meletakkan tangannya di pinggang. Matanya menyala marah membuat Aira takut. "Devano bilang, dia menyukaimu." Cetusnya.


Aira terdiam di tempatnya. Devano mengatakannya? Kenapa dia melakukannya? Untuk apa? Pikir Aira.


Erigo tertawa sinis. "Kau bahkan tidak terkejut." Ucapnya kesal.


Aira mengerjap. Ia baru memahami tindakan Erigo. "Apakah itu alasanmu melakukan semua ini sekarang?" Tanya Aira. "Lalu mau kau apakan semua barang-barang ku itu?" Aira melipat kedua tangannya di depan dada.


"Mau ku kembalikan ke rumah ayahmu dan kau pindah dari sini." Ucap Erigo marah.


Aira menggeleng. "Oh tidak. Itu tidak mungkin. Aku sudah bersusah payah membujuk orang tuaku agar bisa keluar dari rumah dan mulai mandiri lagi setelah skandal konyol itu, lalu sekarang kau tiba-tiba menyuruhku kembali ke rumah hanya karna tetanggaku menyukaiku?" Cetus Aira. "Aku tidak akan melakukannya." Ucapnya keras kepala.


Erigo menyipitkan matanya menatap Aira. "Jadi kau tetap mau tinggal disini dekat-dekat dengannya bahkan setelah kau mengetahui bahwa Devano, tetanggamu itu, menyukaimu?"


"Memangnya apa salahnya? Dia tidak pernah menggangguku." Ucap Aira tidak mau kalah.


"Aku tidak menyukainya. Aku tak ingin kau dekat-dekat dengannya." Ucap Erigo berapi-api.


"Astaga Erigo.. " Panggil Aira putus asa. "Apa kau cemburu padanya?" tanya Aira.


"Ya"


Aira terkejut mendengar kejujuran Erigo. "Kalau begitu biar ku yakinkan kau. Aku dan Devano hanya berteman. Tidak Ada alasan bagiku untuk menerima perasaannya meskipun dia bilang dia menyukaiku. Aku sudah memilihmu dan aku tidak akan berkhianat. Itu bukan gayaku." ucap Aira.


Erigo melangkah panjang ke arah Aira lalu dengan gusar memeluknya. "Aku ingin memukulnya Aira. Aku ingin sekali meninjunya." Ucap Erigo bahkan terdengar lebih putus asa.


Aira membalas pelukannya "Kau sedang cemburu, sayang." Ucapnya pelan. Ia mengusap lembut punggung Erigo. "Kau bertingkah seperti anak kecil." Ucap Aira.

__ADS_1


Erigo semakin mengeratkan pelukannya. "Aku tak mau dia merebutmu dariku" Ucap Erigo. "Membayangkannya saja sudah membuatku cemas.


"Apa aku sepotong coklat bagimu? Atau permen?"


"Tidak. Kau beraroma strawberry dan jangan mengalihkan pembicaraan." Ucap Erigo mengayun-ayunkan Aira pelan dalam pelukannya. Emosinya mereda hanya dengan memeluk kekasihnya.


Aira terkekeh. "Kau ingin menyembunyikanku seperti anak kecil ingin menyembunyikan sepotong coklat ketika mengetahui temanmu menginginkan coklat milikmu." Ucap Aira.


Erigo melepaskan pelukannya. "Aku tak bisa membiarkannya Aira. Bahkan kau mengetahuinya dan kau tetap ingin bertetangga dengannya, itu membuatku gila." Ucap Erigo. "Aku tidak akan tenang mengingat jarakmu dengannya lebih dekat dari jarakmu dengan ku."


"Percayalah padaku, aku tak mudah di goyahkan. Aku tak akan berpaling darimu." Aira melayangkan sebuah ciuman ringan di bibir Erigo.


Erigo menunduk mencium bibir Aira. Melepasnya sebentar, menemukannya lagi, melepaskannya lagi hanya untuk menemukannya kembali. "Atau kau bisa ke rumahku saja agar aku tidak khawatir." Ucapnya pelan di sela-sela pertautan bibir mereka.


"Kau memang sudah gila" Ucap Aira tertawa di bibir Erigo. Ia melingkarkan lengannya di leher Erigo.


Erigo memeluk pinggang Aira yang ramping, menariknya lebih dekat ke tubuhnya, menciumnya dengan lapar. Aira terengah-engah menghadapi serangan ciuman Erigo.


Aira berusaha mundur untuk mencari udara namun akhirnya terdesak ke dinding di belakangnya. Erigo masih saja menciuminya tanpa ampun. Ciuman-ciuman itu berubah menjadi panas yang membakar keduanya.


Erigo mengerang pelan saat tubuh Aira gemetar dalam pelukannya. Bibirnya menjelajah menyesap manisnya bibir Aira. Ciumannya perlahan-lahan turun semakin ke bawah. Kepala Aira tersentak ke belakang memberi ruang pada Erigo. Panas membakar tubuh keduanya. Erigo membenamkan wajahnya di ceruk leher milik Aira menyesapnya pelan lalu menggigitnya membuat gadis itu memekik tertahan antara geli dan nikmat.


Erigo terkekeh mendengar respon tak terduga dari Aira. Ia melonggarkan pelukannya memberi ruang pada Aira untuk memahami sensasi ciuman yang ditimbulkan Erigo. Gairah menyala-nyala di mata keduanya.


Erigo tak ingin menghentikannya namun pekikan Aira menyadarkannya bahwa ia tidak boleh melewati batas. Ia berusaha keras menemukan kendali dirinya lagi.


Aira membelalak ke arah Erigo sambil memegang bekas gigitan Erigo di lehernya. Napasnya tidak teratur, tubuhnya masih gemetar. Ia melangkah ke depan cermin dan memeriksanya. Ada bekas kemerahan tertinggal disana. Ia berbalik dan meninju pelan lengan Erigo. "Apa kau vampir? Ada apa denganmu? Kenapa kau melakukannya?" Tanya Aira sambil tertawa mencoba menenangkan diri dari badai gairah yang di timbulkan kekasihnya. "Apakah ini bisa di hilangkan?" Tanyanya.


Erigo menarik Aira ke dalam pelukannya. "Apakah seharusnya aku membuatnya lebih kebawah agar tidak kelihatan?" ucapnya asal. Erigo tertawa melihat mata Aira membulat.


Aira bergidik. Ia tak berani membayangkannya. Ia mendorong dada Erigo dan melepaskan diri. "Oh aku bahkan tak berani bertanya." ucapnya.


Erigo meraihnya. Mencium keras bibir Aira lalu melepaskannya dengan bunyi kecupan yang membuat Aira menganga.

__ADS_1


________________________________


"Aku harus bicara pada Kei. Aku tidak bisa tidak khawatir padanya." Ucap Aira setelah mereka selesai makan malam.


Aira duduk bersandar pada dada Erigo sedangkan lengan pria itu merengkuh tubuhnya.


Erigo menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga Aira. "Aku merasa bersalah padanya." Ucap Erigo. "Aku tidak tau bahwa dia berdiri di situ dan mendengarkan percakapan kami."


Aira menggeleng. "Itu bukan salahmu. Ku rasa sebenarnya Kei sudah tau bahwa Devano tidak tertarik padanya. Dia bilang sendiri padaku." Aira duduk tegak tiba-tiba teringat perkataan Kei yang ingin pergi ke Amerika.


"Kau kenapa?" Tanya Erigo.


"Aku harus memastikan sesuatu" Ucapnya. Ia melangkah ke meja dapur tempat ia meninggalkan ponselnya. Dengan cepat ia menekan nomor kakak laki-lakinya.


Aira kembali duduk disamping Erigo sambil menunggu Airez mengangkat panggilannya. Erigo bermain-main dengan rambut Aira, melilitkannya di antara jemarinya. Tepat ketika Erigo akan mencium tengkuk Aira, gadis itu terduduk tegak. "Airez!" Ucapnya.


Erigo menghembuskan nafas dan bersandar di sofa dengan frustasi, sedangkan Aira menatapnya dan menyunggingkan senyum jahil.


"Airez, apa Kei menelponmu?" Tanya Aira dan mengaktifkan speaker ponselnya agar Erigo bisa ikut mendengarkan.


"Mmm.. Tadi siang. Kenapa?" Jawab Airez malas-malasan.


"Apa dia bilang sesuatu padamu? Atau meminta sesuatu?" Tanya Aira penasaran.


"Mmm.. Dia minta satu tiket untuknya. Dia bilang akan ikut denganku untuk berlibur beberapa hari dan mengunjungi aunty Zhu." Ucap Airez.


"Apa dia juga memesan tiket pulang?" Tanya Aira lagi. Erigo menarik pinggang Aira mendekat padanya, lalu dengan satu tarikan dengan mudah mengangkat Aira yang mungil ke atas pangkuannya.


"Tidak. Tidak ada. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Airez. Ia mendengar suara Aira yang terkikik pelan. "Kau sedang bersama seseorang? Apa Erigo ada disampingmu?" cecar Airez dengan nada curiga. "Katakan padanya untuk menjauhkan tangannya dari tubuhmu atau aku akan mengulitinya hidup-hidup." Ucapnya tajam.


Aira menganga tidak percaya. Sedangkan Erigo tertawa terbahak-bahak. "Tenanglah Airez, aku akan menjaga adikmu dengan nyawaku sebagai taruhannya." Ucapnya.


"Itu bagus. Sudah ya. Aku sedang sibuk." Cetus Airez dan memutuskan sambungan.

__ADS_1


Aira memukul pundak Erigo. "Berani-beraninya kau bersuara."


Erigo tertawa. "Aku adalah seorang pria sayang, aku tak akan bersembunyi ataupun melarikan diri." Ucapnya. "Sudah kemarilah, cium aku."


__ADS_2