
Lima bulan kemudian.
"Ini mimpi buruk." Aira memejamkan mata sambil menarik napas selagi Winne menarik bagian belakang gaunnya. "Sebaiknya aku segera terbangun."
"Semua akan baik-baik saja, Maretha." Suara Winne terdengar sangat tenang, namun Aira sama sekali tidak tertipu terutama ketika ia memberanikan diri membuka mata dan menatap pantulan dirinya di cermin.
"Aku tampak mengerikan." Aira merengek memandang cermin. Gaun pengiring pengantin berwarna coklat muda yang indah itu seharusnya tampak cantik alih-alih terlihat seperti jahitannya akan robek sewaktu-waktu.
"Semua akan baik-baik saja." Winne berkata lagi kali ini dengan keyakinan yang lebih sedikit.
Ini sangat menyedihkan, sungguh. Aira merasa ingin menangis karena bencana gaun ini, dan ia sedang mencoba mencari-cari alasan. Aira mengibas-ngibaskan tangannya dan menjadi sangat risau karena bagian dadanya yang biasanya tidak mencolok, kini menyembul di tepian atas gaunnya.
"Cobalah untuk tenang, aku masih harus memasang ristleting gaunmu." Aira dapat merasakan tangan Winne yang gemetar. "Tarik napasmu dan tahan."
Aira melakukan seperti yang dikatakan Winne namun restleting sialan itu sepertinya tetap menolak untuk bekerjasama.
"Gaun ini tidak membuatmu tampak gemuk." Winne mencoba menenangkan Aira. "Warnanya sangat menarik. Kau akan tampak hebat." Winne masih berusaha. "Kurasa kau tampak menakjubkan, begitu rambutmu di tata, dan kau memakai sepatu hak tinggi. Kau hanya perlu mengurangi sedikit berat badan. Seharusnya kau tampak__" Winne tak jadi melanjutkan kata-katanya karena Aira memandanginya seolah mengumpat dari matanya.
"Jadi pada dasarnya kau mengatakan aku tampak gemuk?"
Winne meringis. "Mungkin kau bisa mencoba korset." Usul Winne lagi. Ia mendongak dengan tampang bersalah.
Kei yang sejak tadi berdiri mengamati Aira tampak menimbang-nimbang. "Begini, kita semua sedang tertekan. Tapi kau tampak cantik dan gaun ini__pas sekali." Ucapnya mengangguk dengan berat hati. "Hanya sedikit__ketat." Lanjutnya. Dan Aira mengerang frustasi.
"Jika aku mengenakan gaun ini, aku tidak akan bisa makan di pesta Airez. Dan jika gaunku robek, itu akan menjadi bencana."
Kei bergidik ngeri membayangkan hal itu. "Kita harus membuka jahitannya lagi. Sedikit jahitan di bagian dada dan pinggang." Kei ikut-ikutan meringis sekarang. "Kau harus bekerja lebih keras di gym." Katanya.
"Aku sudah sangat rajin berolahraga." Ucap Aira.
Winne memandangnya skeptis. "Maretha, aku bahkan hampir tidak bisa menutup ristletingnya. Gaun ini akan robek dan Zora akan membunuhmu kalau dia sampai tau."
__ADS_1
Aira mulai menggigiti ujung ibu jarinya lagi di saat kritis. Pernikahan Airez dan Zora tinggal dua minggu lagi. Apa yang bisa dilakukannya untuk menurunkan berat badan dalam dua minggu?
Aira panik karena nyaris tidak bisa masuk ke dalam gaunnya. Ini bukan gaun biasa, ini gaun pengiring pengantin. Terlebih lagi ini gaun pengiring pengantin Zora, calon kakak iparnya. Aira harus mulai melakukan diet.
"Cobalah untuk rileks." Ucap Kei. "Jika kau melakukan diet ketat dan benar-benar menjalankannya__yah, mungkin kau bisa menurunkan banyak dalam satu minggu pertama." Ucapnya mengangkat bahu.
"Aku tak akan melakukan diet ketat." Aira langsung menggeleng-geleng. "Tidak akan bertahan lama. Saat gelisah, aku selalu ingin makan. Dan pernikahan ini membuatku gelisah, ditambah gaun yang kekecilan__ oh Tuhan, kenapa aku tidak disiplin berdiet?" Aira mengerang lagi.
Setiap pagi Aira menahan godaan untuk tidur lebih lama dan memaksa kakinya yang malas untuk melangkah cepat di treadmill. Aira selalu meminta menu sehat kaya serat pada Polly. Jika beruntung, tindakan itu akan memberi sedikit pengaruh pada bobot tubuhnya.
Sekarang pukul delapan pagi. Mungkin bukan waktu terbaik untuk introspeksi diri.
Tapi Aira duduk di dapur, memandang tanpa minat ke arah piring berisi roti panggang dengan selai strawberry yang di siapkan pengurus rumahnya pagi ini. Air mata perlahan bergulir di pipinya.
Ia dan Erigo bertengkar untuk pertama kalinya. Mungkin tidak seratus persen bertengkar. Aira hanya bangun dengan suasana hati yang buruk. Ia tidak tau apa penyebabnya. Akhir-akhir ini Aira merasa kacau dan tidak karuan. Perutnya mual, tubuhnya lelah, selera makannya menghilang hingga ia menjadi sangat perasa dan mudah tersinggung. Ditambah tekanan tentang hari pernikahan kakaknya yang tinggal enam hari lagi.
Pagi hari ini ia mengomeli Erigo, mencecarnya tentang beberapa hal yang dilakukan Erigo yang membuatnya kesal akhir-akhir ini. Sebenarnya hal-hal yang yidak penting. Hanya saia Aira tidak tahan dan mengomeli suaminya.
Seorang pengurus rumahnya kemungkinan besar mengadu pada Erigo di studio hingga suaminya itu sekarang berderap dengan heboh masuk ke dapur.
"Sudah merasa lebih baik sekarang?" Tanyanya pelan sambil menuang secangkir kopi.
Semerbak bau kopi membuat Aira mual lagi.
Aira hanya menggumam tidak jelas tanpa benar-benar bicara sesuatu. Ia tidak tau harus berkata apa.
Erigo duduk didekat Aira. "Aku minta maaf jika sudah melakukan sesuatu yang membuatmu marah." Ucapnya sambil menyentuh pipi Aira dengan punggung jari telunjuknya.
Aira menatap Erigo. "Kau tidak pergi meninggalkanku?" Tanyanya.
"Kenapa juga aku harus meninggalkanmu? Aku yang rugi." Jawab Erigo sambil tersenyum.
__ADS_1
Aira tiba-tiba menangis. "Aku pikir kau akan pergi meninggalkanku setelah aku mengomelimu, dan aku menjadi sangat gemuk."
"Butuh lebih dari sekedar omelan untuk membuatku pergi, sayang, dan kau tidak gemuk." Erigo mengulurkan tangannya menggenggam jemari Aira. "Sejujurnya, selama ini aku penasaran kenapa kau tidak pernah marah padaku dan selalu memaklumiku." Erigo memamerkan cengiran jahil saat menggoda Aira.
"Kau boleh marah jika kau tidak suka sesuatu yang ku lakukan Aira. Kita akan bertengkar, lalu berbaikan, lalu bertengkar lagi, kemudian berkompromi. Setelah kau meledak tadi pagi, aku sadar harus meninggalkanmu sebentar agar amarahmu mereda dan kita bisa membicarakannya." Erigo memandang Aira dengan sorot penuh pengertian.
"Kurasa aku terlalu tertekan karena ingin menurunkan berat badan. Awalnya aku merasa lelah dan kelaparan, lalu tiba-tiba saja aku tidak berselera makan." Aira mulai menangis lagi. "Aku tak tau apa yang terjadi, aku mudah uring-uringan akhir-akhir ini."
"Siapapun akan tertekan jika berusaha tidak menjadi diri mereka sendiri. Kau sangat cantik Aira. Kau hanya perlu membawa gaun itu ke tukang jahit dan melonggarkannya sedikit tanpa harus membuat tubuhmu menderita karena diet." Ucap Erigo. "Dan kau istriku, Aira. Sebanyak apapun kau mengomel, aku akan tetap bertahan di sisimu, karena aku mencintaimu."
Aira tiba-tiba merasa mual lagi. "Aku akan muntah." Katanya sambil mendorong mundur kursinya, melepaskan tangan dari genggaman Erigo dan berdiri menuju wastafel lagi.
Erigo kemudian dengan sabar membopong Aira ke kamar tidur mereka dan membaringkannya di atas tempat tidur. Menarik selimut menutupi Aira dan berkata, "Aku akan meminta Polly menyiapkan bubur agar kau bisa makan." Erigo menyapu sejumput rambut dari kening Aira. "Aku akan kembali dan menemanimu."
_____________________________
Erigo turun menuju dapur dan menemukan Polly sang pengurus rumah sedang membereskan sisa-sisa sarapan yang bahkan tidak di sentuh Aira.
"Polly, bisakah kau membuatkan bubur yang enak untuk Aira? Kurasa dia sedang kurang sehat."
Polly tersenyum ramah menatap Erigo. "Tuan Erigo, kukira nyonya Aira tidak enak badan karena di sebabkan hal lain."
"Hal lain? Misalnya?" Erigo terlihat sedikit bingung.
Polly tersenyum lagi. "Aku sudah memiliki tiga anak tuan, dan aku sangat mengenali gejala yang nyonya alami. Nyonya merasa tidak sehat. Mual, kadang-kadang pusing, dengan selera makan yang turun-naik. Kurasa nyonya Aira mendapatkan gejala-gejala itu karena dia sedang hamil."
Sementara Erigo menganga, Polly bersorak riang. "Oh aku sudah menantikan hal seperti ini." Ucapnya. "Telponlah dokter dan coba periksakan. Sementara aku akan membuatkan makanan enak untuk nyonya."
Erigo memandang Polly dengan serius, merasa sedikit bingung dan berusaha mencerna kata-kata wanita paruh baya tersebut. Pemahaman tampak di mata Erigo. Ia menatap kalender di dinding dan menyadari bahwa istrinya sudah terlambat datang bulan selama paling tidak dua atau tiga minggu. Kemungkinan besar Aira juga tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memikirkan pernikahan Airez.
Erigo tidak membuang waktu, ia berderap menaiki tangga menuju kamar tidur tempat ia meninggalkan Aira.
__ADS_1