
Senyum jahil tersungging di bibir Erigo melihat istrinya berlari ke arah taman belakang sambil terkikik. Erigo bergerak di belakangnya mencoba memperkecil jarak. Ia menunggu Aira berlari beberapa langkah lagi hingga ia bisa mengatur posisi jatuh mereka, kemudian melompat ke arah Aira.
Erigo memutar badan supaya mendarat lebih dulu ke tanah. Dengan terlatih berguling beberapa kali diatas rerumputan hingga berhenti dengan Aira berada di atasnya. Satu lengannya membelit tubuh Aira, lengan yang lain membelit leher Aira untuk melindunginya. Mata Aira terbelalak. Jantungnya berdegup keras di dada Erigo.
Erigo tersenyum dan berguling satu kali untuk bertukar posisi dengan Aira. Melihat istrinya terbaring di rerumputan, dengan rambut kusut di sekitar wajahnya yang cantik memberi Erigo godaan yang hampir tak tertahankan.
Aira terengah-engah sehabis berlari hingga dadanya naik turun menyentuh Erigo. Tangannya menggenggam kuat kemeja Erigo. Keterkejutan Aira atas tindakannya sangat jelas. Sesaat Erigo berpikir bahwa Aira akan memarahi dan menceramahi betapa ceroboh tindakannya barusan, namun perlahan, tanpa di duga, tawa riang Aira merebak di udara.
Erigo menatap wajah Aira, matanya, hidungnya, lalu turun ke mulutnya yang setengah terbuka karena masih menyisakan tawa. "Aku menyuruhmu lari tuan putri. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu bahwa jika kau tertangkap__." Erigo membiarkan kata-katanya tergantung. Senyuman menghilang dari bibir Aira digantikan kilatan hasrat meluap-luap di matanya.
Setelah mengatakan itu, Erigo menunduk, menguasai bibir Aira. Bibir yang paling mempesona, menggairahkan dan paling indah yang pernah Erigo rasakan sepanjang hidupnya. Aroma Aira mendorong Erigo menjadi setengah gila. Aroma perancis mahal berbaur aroma bersih dan segar dari kulit dan rambut pengantinnya. Istrinya. Sangat sempurna.
Satu tangan Erigo bergerak dari rambut Aira, menelusuri tenggorokannya hingga bahu, lalu berhenti di paiudara Aira. Erigo mencium bibirnya dengan lapar, kemudian turun ke lehernya. Erigo mendengar namanya disebut dalam bisikan-bisikan di kejauhan.
Hanya Akal sehat yang menyelamatkan mereka berdua dari melakukan kesalahan pada malam pertama. Erigo menarik diri dengan Enggan dan berbisik parau. "Kau__" Ucapnya terengah-engah "__godaan yang sulit di tolak."
_____________________________
Aira tenggelam dalam ciuman Erigo yang panas. Erigo tidak pernah menciumnya seperti ini, begitu kuat, liar, memabukkan dan bergairah. Aira menemukan lengannya merangkul leher pria itu, menggenggam rambut di tengkuknya dan menariknya turun. Aira memiringkan kepalanya untuk menyesuaikan letak bibirnya.
Ciuman Erigo tak kunjung berhenti, namun Aira lebih menggebu-gebu. Sensasi panas bergolak jauh di dalam perut Aira mengirimkan denyut menyakitkan di tubuh paling sensitifnya membuatnya merintih dibawah desakan bibir Erigo. Aira terkesiap akan respon tubuhnya sendiri.
Erigo menyelipkan jari-jarinya di rambut Aira, perlahan membelainya turun dan menyentuhnya di tempat yang tepat untuk mengirimkan sinyal nikmat. Aira menggeliat dibawah tekanan Erigo. Pinggulnya bergerak sedikit lalu merasakan rumput kasar di bawahnya hingga perlahan kesadaran akan tempat mereka berada memanggilnya.
Aira perlahan membuka matanya ketika Erigo sedang menciumi lehernya. Ia tercekat nikmat dan berjuang keras uuntuk bersuara.
"Erigo" Panggilnya. Suaranya terdengar lirih bagi telinganya sendiri. "Erigo" Aira mengulanginya 2 kali sebelum akhirnya Erigo menarik diri.
__ADS_1
Erigo mengatakan sesuatu tentang godaan atau apapun. Aira mengerjap-ngerjapkan mata dan mencoba memusatkan perhatian pada perkataan Erigo di tengah kabut hasrat yang pekat.
***
Erigo menyelipkan sejumput rambut di telinga Aira dan mengikuti jemarinya dengan mulutnya. Ia sengaja menyentuh telinga Aira dengan bibirnya dan berbisik. "Kita harus ke kamar." Bisiknya pelan. Hawa panas merebak dari pori-pori Aira. "Kita akan melakukan ini dengan sebagaimana mestinya."
Erigo menarik Aira berdiri, membantu mengibaskan rumput yang menempel di rambut dan tubuh gadis itu. Ia tersenyum, mengaitkan jemari mereka dan membawa Aira kembali ke rumah, ke kamar tidur dengan ranjang ukuran besar.
________________________________
Aira menatap seprai lembut di atas kasurnya. Tubuhnya bergetar membayangkan apa yang akan terjadi di sana sebentar lagi. Mendadak Aira merasa perutnya melilit.
"Aira, lihat aku."
Aira menyadari dirinya memejamkan mata rapat-rapat, kemudian membukanya dan menatap Erigo. Pria itu tampak tenang dan mantap lebih dari biasanya.
Aira memiringkan kepalanya. "Sedikit." Aira mengakuinya. Kemudian bulumatanya terangkat menatap Erigo. Tangannya bermain-main di kerah kemeja suaminya. "Tapi aku mungkin bisa di bujuk, asal kau berjanji akan berhati-hati." Ucapnya lagi.
Erigo tersenyum. "Aku akan sangat berhati-hati." Erigo menunduk perlahan mencium Aira dengan gerakan lembut yang semakin dalam. Lidahnya menyapu bibir Aira hingga terbuka. Jemari Erigo diselipkan di belakang tengkuk Aira sementara tangan lain membelainya.
Lidah mereka membelit satu sama lain. Lengan Aira melingkari leher Erigo. Rintihan lirih keluar dari mulutnya, sarat akan rasa mendamba. Erigo melepaskan pagutan bibirnya kemudian menggendong tubuh mungil Aira ke atas tempat tidur dan membaringkannya.
Erigo berbaring di samping Aira bertumpu pada satu sikunya. Satu kakinya berada di antara kedua paha Aira. Pria itu mencium bibir Aira lagi kemudian pelan-pelan ciumannya turun ke ceruk lehernya. Aira gelisah akibat ciuman-ciuman itu. Pinggulnya bergerak, punggungnya melenting dan kepalanya mendongak memberi ruang bagi Erigo di lehernya, pria itu menggigit ceruk antara leher dan bahu Aira menyebabkan gadis itu terpekik lirih dan Erigo tersenyum atas responnya.
Kini Erigo berada di atas Aira. Ia masih terus menciumi leher istrinya. Satu tangannya sibuk membelai, kemudian jemari tangan yang lain mulai membuka satu persatu kancing baju Aira sampai ke bawah. Erigo menyibak pakaian Aira mulai dari bahunya. Pakaian dalam hitam berenda menyambut Erigo dari balik dress merah yang Aira kenakan. Tangannya menyusuri lekuk paiudara Aira yang indah bulat sempurna. Erigo bisa merasakan puncaknya menegang dibalik kain penutupnya yang tipis.
Aira terkesiap ketika merasakan dinginnya telapak tangan Erigo di kulitnya yang setengah terbuka. Seketika ia merona menyadari ketelanjangannya. Rambutnya tergerai kusut dengan wajah memerah dan bibir bengkak akibat ciuman Erigo, namun rasa mendamba dalam dirinya begitu kuat meminta pelampiasan dan menuntut untuk dipuaskan. Satu bagian dibawah sana berdenyut meminta, namun Aira terlalu malu untuk mengatakannya.
__ADS_1
Erigo mulai menanggalkan pakaiannya sendiri. Aira memperhatikannya dan mulai menggigiti ujung ibujarinya lagi pertanda ia mulai resah mendapati pemandangan paling menggoda iman yang pernah dilihatnya. Tubuh atas Erigo sangat mempesona, otot perutnya menarik perhatian kaum hawa. Tubuh bagian bawahnya tampak luarbiasa. Menjanjikan kenikmatan dunia.
Erigo membantu Aira melepaskan semua pakaian dan penutup terakhirnya. Mereka berdua sama-sama tidak tertutupi. Pria itu tersenyum memandangi keindahan tubuh istrinya yang tak bercela. Lekukan tubuhnya elok, berisi di bagian-bagian yang tepat.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Aira.
"Kau juga pasti akan tersenyum jika menikmati pemandangan seperti ini, sayang." Katanya. "Brazilian wax cocok untukmu." Tepat setelah mengucapkannya, Erigo menyapukan ringan jemarinya disana membuat Aira terkesiap dan erangan lirih terlepas dari tenggorokannya.
Aira menutup mulutnya dengan tangan seakan tidak percaya pada suaranya berusan. "Erigo. Apa yang kau lakukan?" Tanyanya.
"Mencintaimu" Jawab Erigo.
Lelaki itu mulai menciuminya kali ini dari bawah ke atas, setiap jengkal tubuhnya. Setiap titik yang disentuh jemarinya, selalu di ikuti oleh bibirnya. Aira merasa hampir gila ketika jemari dan bibir suaminya berada di bagian dalam pahanya, lalu naik ke perutnya.
Ketika Erigo kembali naik ke atas tubuhnya, mencium bibirnya dan tersenyum, ketampanannya dan kelembutannya memanjakan Aira. Perlahan suaminya membelai paiudaranya lalu menciuminya. Erigo menjilat salah satu puncaknya, lalu tangan lain membelai dan memainkan puncak lainnya. Aira begitu mabuk, begitu menginginkan Erigo. Jemarinya mencengkram bantal. "Erigo cepatlah." Ucapnya memohon.
"Tidak sayang. Aku ingin kau menikmatinya." Erigo terus membelainya, menciumnya, menyesap puncaknya bergantian, lalu satu tangannya turun membelai denyutan dibawah Aira tanpa melepaskan isapan di puncak paiudaranya.
Aira merasakan denyutan perih itu tiba-tiba meledak di bawahnya. Ia mengerang tertahan namun udara terdorong dari paru-parunya melepaskan segala yang sejak tadi di tahannya. Punggungnya melengkung kebelakang, tubuhnya bergetar nikmat dan Aira bingung.
Aira menggeleng. "Tidak. Tidak mungkin seperti ini." Ucapnya sembari merintih akibat sisa-sisa pelepasan. "Apa sudah selesai? Begitu saja? Kenapa?" Tanyanya.
'Oh, Tuhan, tidak mungkin.' Pikir Aira.
Erigo tersenyum padanya, mencium bibirnya, membelai tubuhnya. "Belum sayang. Itu baru awalnya." Ucapnya parau.
Oh, yeah. Sekarang baru Aira takut.
__ADS_1