Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 82


__ADS_3

Dua hari setelah pertengkarannya dengan Jun, Erigo akhirnya memutuskan untuk menemui kakaknya dan berbaikan. Ia mengajak Aira pergi ke tempat kerja Jun saat makan siang.


Saat keduanya datang, Jun memandang mereka sambil mengerutkan dahi. "Kenapa kalian kesini?" Tanya Jun yang kemudian berdiri menyambut mereka.


Erigo dan Aira duduk menghadap Jun. Erigo mengedarkan pandangan mengeliling dan tampak agak gugup.


Aira memperhatikan Erigo lalu menatap Jun dan tersenyum. "Dia datang kesini untuk minta maaf." Ucap Aira. Sedangkan Erigo hanya diam saja.


Jun menaikkan alisnya dan memandang Erigo. "Apa kau tidak punya mulut? Kau tidak bisa bicara sendiri?" Tanya Jun. Erigo hanya cemberut. Jun berpaling pada Aira. "Apa kau mewakilinya? Sebagai pengacaranya?" Tanyanya lagi sembari menahan senyum.


Aira terkekeh geli. Sembari mengibaskan rambutnya ke belakang, Aira menjawab "Benar. Aku pengacaranya sekarang. Dia bersamaku." Ucap Aira. "Apapun yang akan kau katakan, katakan di depanku." cetus Aira lagi.


"Pergi dari kantorku." cetus Jun sembari tertawa.


"Tidak bisa. Kalian harus menandatangani kesepakatan perdamaian." ucap Aira lagi.


Jun tergelak. "Konyol sekali kalian."


"Kau sudah makan?" Tanya Erigo akhirnya meskipun tak menatap kakaknya.


Jun menatap Erigo dengan garang. "Kenapa? Kau mau menyogok untuk berbaikan?" Katanya. Ketika Erigo mengangguk, Jun melanjutkan, "Kalau begitu aku mau makan di restoran biasa, kau yang bayar." Ucapnya.


Mereka berdiri lalu keluar kantor bersama untuk makan siang.


__________________________


"Kau benar-benar serius tentang Toddy?" Tanya Erigo akhirnya.


Jun memutar bolamatanya. "Kau yakin mau membicarakan ini denganku?"


"Setidaknya aku tak akan tampak bodoh jika Toddy bicara padaku." Jawab Erigo mengangkat bahunya dengan tak acuh.


Jun diam menatap adiknya. "Dia terus mengatakan ingin bicara padamu, tapi aku mencegahnya." Jun kemudian meletakkan garpu dan bersandar di kursinya, menghela nafas. "Kau tau reaksimu kemarin. Aku tak ingin kau seperti itu, bersikap konyol."

__ADS_1


"Mereka selalu bersikap konyol satu sama lain, kau tak perlu mengkhawatirkannya." Cetus Aira.


Jun memelototinya. "Kau ada di pihak siapa?" Tanyanya galak.


Aira menyeringai pada Jun. "Maafkan aku, aku akan diam." Katanya lagi.


Jun kembali menatap Erigo. "Kalau besok Toddy akhirnya memutuskan bicara padamu, jangan mencecarnya dengan pertanyaan konyol. Bersikaplah dewasa Erigo."


"Aku tau." Ucap Erigo. "Aku menyayangimu Jun. Aku mendukung kebahagiaanmu. Hanya saja, ini Toddy."


"Aku bahagia Erigo, apa itu cukup?"


"Kurasa." Erigo mengangkat bahu. Ia ragu, namun tak punya pilihan lain kecuali setuju. "Ibu akan senang jika kau menceritakan juga padanya. Kau tau ibu sangat ingin kau segera menikah." Ucap Erigo lagi.


"Jangan sampai ibu tau dari media, karena ku lihat kalian cukup tidak tau diri dan berkeliaran berdua." Cetus Erigo.


Jun melotot. "Enak saja kau. Kami berhati-hati."


__________________________


Malam harinya Erigo berbaring memeluk Aira. "Menurutmu Jun akan bisa mengatasinya? Maksudku, tekanan itu, dari media, para pembenci, caci maki di sosial media?" Tanya Erigo pada Aira.


Aira memandang wajah suaminya. Erigo jelas sekali sangat mengkhawatirkan Jun. "Jika Toddy bersikap sepertimu, melindungi Jun seperti kau melindungiku, kurasa Jun akan baik-baik saja." Jawab Aira. "Tidak hanya Toddy, kau dan aku akan ada untuk Jun."


Erigo mendesah kasar. "Kuharap Toddy benar-benar melindungi kakakku."


"Tentu saja. Mereka saling mencintai, jadi kau jangan terlalu khawatir." Aira mengecup ujung hidung Erigo.


"Ahh benar juga, aku baru ingat, apa kau bertemu Devano akhir-akhir ini?" tanya Aira mengalihkan pembicaraan.


"Kami bertemu setiap hari rabu. Jadwal radio. Kenapa memangnya? Kenapa kau menanyakan pria lain padaku?" Cecar Erigo.


Aira memukul pelan dada Erigo. "Jangan mengatakan hal-hal konyol. Aku hanya tidak bisa menghubungi Kei selama dua hari ini. Dia juga tidak membalas pesanku. Aku ingin tau apa terjadi sesuatu."

__ADS_1


"Mungkin Kei sedang ada jadwal lain yang membuatnya sibuk, sayang. Dia sedang naik daun, dan ini baru dua hari." Ucap Erigo.


"Begitukah?" Mungkin benar begitu, renung Aira. "Tapi aku tetap khawatir."


"Apa kau ibunya?" tanya Erigo.


"Bukan." Aira mendelik sebal.


"Kalau begitu hentikan itu. Devano bisa menjaganya dan mereka sudah dewasa." protes Erigo.


"Baiklah." ucap Aira menyerah. "Tapi tetap saka, bisakah kau tanyakan pada Devano jika kau bertemu dengannya?"


"Baiklah." Ucap Erigo malas. Ia menenggelamkan kepalanya dalam ceruk leher Aira dan menciuminya. "Kau harum sekali." Ucapnya.


Aira menggeliat dan berusaha bergeser, namun tangan Erigo menahan tubuhnya. "Hentikan. Itu geli." Cetus Aira.


"Benarkah?" Ucap Erigo tak perduli. Ia terus saja mengecup Aira hingga Aira terkikik kegelian.


"Tak bisakah kau ikut denganku ke Jepang? Seperti kemarin itu." tanya Erigo.


"Aku tidak bisa. Aelius dan Aeliana masih terlalu kecil untuk dibawa menonton konser. Dan jika meninggalkan mereka disini, aku akan merasa selalu khawatir. Aku tidak bisa melakukannya." ucap Aira lagi.


"Aku akan sangat merindukan kalian." Ucap erigo lagi. Ia mempererat pelukannya.


"Aku dan anak-anak juga pasti akan sangat merindukanmu. Tapi ini hanya beberapa hari." Aira tersenyum. "Sepertinya dietmu tidak berhasil." ucapnya lagi.


Erigo terkekeh. "Aku senang bisa menyalahkan Airez dalam hal ini." ucap Erigo. "Gara-gara dia." cetus Erigo. Kemudian ia teringat sesuatu lagi. "Aku akan mengacaukan diet seseorang." ucapnya.


"Diet siapa yang akan kau hancurkan?" tanya Aira.


"Toddy." Jawab Erigo mantap. "Aku akan menghancurkan dietnya." Erigo kemudian terkekeh gembira.


_________________________

__ADS_1


__ADS_2