Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 72


__ADS_3

Dua minggu berlalu, keluarga Aira dan Erigo berkendara di jalanan kota. Kedua bayi kembar di ikatkan pada kursi bayi dan sedang tidur pulas. Sang pengasuh bayi yang bernama Dorry berada di kursi belakang menjaga kedua bayi kembarnya.


"Wah, sudah lama sekali kita tidak bepergian." Ucap Aira seraya memperbaiki posisi duduknya dan memasang sabuk pengaman. "Tapi aku sangat senang dan bersemangat."


Erigo tersenyum, "Benar, kau sudah lama terkurung di rumah." Ucapnya lembut seraya masih berkonsentrasi pada lalu lintas. "Tapi kita tetap harus berhati-hati."


Aira mengangguk, tangannya merapikan helaian poni dan rambutnya. "Aku berharap si kembar bisa mengingat banyak momen bepergian semacam ini."


Erigo tertawa dan memandang Aira sekilas. "Mereka belum bisa mengingatnya." Ucapnya lagi.


Hari ini Aira dan Erigo membawa kedua bayi kembar mereka, Aelius dan Aeliana ke sebuah studio foto. Mereka masuk ke sebuah ruangan berlantai kayu, dengan dinding putih bersih. Ukurannya tidak terlalu besar, namun nyaman dan kedap dari kebisingan. Di studio foto ini mereka bisa mengambil foto sendiri. Hal ini sedang tren dan Aira sangat ingin mencobanya.


Aira melihat sekeliling ruangan. Terdapat semua perlengkapan yang diperlukan untuk berfoto disana sebuah kamera berada di tengah, lampu-lampu dan beberapa properti yang bisa di gunakan.


Mereka ingin membuat foto keluarga lengkap yang berisi mereka berempat. Pada awalnya Erigo mengkhawatirkan kondisi Aira yang baru melahirkan, namun setelah beberapa bulan Aira bersikeras ingin pergi hingga mereka sekarang berada di studio ini.


Sang pemilik studio datang untuk mendemonstrasikan bagaimana cara mereka mengambil foto hanya dengan menekan satu tombol yang terhubung dengan kamera. Aira dan Erigo mengagumi apa yang mereka lihat. "Canggih sekali." Bisik Aira sembari terkikik.


Setelah satu kali percobaan, sang pemilik mengatur waktu lima belas menit untuk mereka dan meninggalkan ruangan. Aira dan Erigo duduk memangku si kembar, berpose dan tersenyum. Erigo menekan tombol beberapa kali dan mereka bisa langsung melihat hasil jepretan melalui sebuah monitor di dalam ruangan.


Aira kemudian berkata. "Ayo kita keluarkan beberapa boneka." Ucapnya. Sang pengasuh dengan sigap mengambilkan dua buah boneka gajah berwarna biru dan pink dari barang bawaan Aira dan meletakkannya dekat si kembar. Mereka mengambil beberapa foto lagi.


Setelah menghabiskan waktu lima belas menit, mereka mengemasi barang-barang dan meletakkan kembali bayi mereka dalam keranjang bayi. Aelius dan Aeliana tersenyum cerah dan menendang-nendang di udara dengan bersemangat, tampaknya kilatan cahaya foto tidak mengganggu keduanya sama sekali.


"Tempat ini menyenangkan. Dari mana kau tau ada tempat seperti ini?" Tanya Erigo.


"Aku melihatnya di sosial media, dan ingin sekali mencobanya." Jawab Aira. "Kau tau, agak sedikit canggung untuk berpose di depan fotografer. Tapi di tempat ini kau bisa mengambil fotomu sendiri dan berpose sesukamu." Aira tersenyum, kemudian mengalihkan pandangan pada Dorry sang pengasuh. "Dorry, kau harus mencobanya. Datanglah kesini kapan-kapan dengan pasanganmu saat hari libur." Cetus Aira.


Dorry mengangguk semangat. Majikannya sangat perhatian padanya. "Aku akan mencobanya kapan-kapan." Ucap Dorry.


Erigo berbisik pada Aira. "Dari mana kau tau Dorry punya pasangan?"


"Aku tidak tau, tapi dia mengangguk, itu artiinya dia punya." Balas Aira menyeringai. Erigo tergelak.


"Semua orang layak punya kehidupan pribadi, sayang. Dan gadis cantik itu tidak mungkin melajang hanya karena dia seorang pengurus bayi bersertifikat. Bayi-bayi ini toh bukan bayinya." Ucap Aira lagi.


Mereka keluar ruangan dan memeriksa hasil fotonya lalu memilih yang akan mereka cetak. Dorry tampak terkagum-kagum.


"Wah.. Semuanya bagus." Cetusnya di belakang Aira.


"Benarkah? Kurasa begitu." Ucap Aira setuju.


"Itulah makanya orang-orang harus memiliki wajah yang tampan dan cantik, agar bisa menghasilkan foto yang bagus." Kata Dorry lagi.


Aira dan Erigo tidak bisa menahan tawanya mendengar kata-kata pengasuh bayinya.


"Kau harys membeli paket kosmetik perawatan wajah untukmu Dorry."


"Tidak nyonya, aku tidak bisa menghabiskan uang untuk itu." Jawab Dorry.

__ADS_1


"Aku yang akan membayarnya. Lagipula kau kan bekerja untuk kami, jika kau merasa sungkan, kau boleh mengajak Ellie bersamamu dan membeli dari merek yang kalian suka. Kalian para gadis harus rajin merawat penampilan." Bisik Aira pada sang pengasuh.


"Oh nyonya, terimakasih banyak. Aku sangat menghargainya." Jawab Dorry senang.


Mereka keluar dari studio foto. Setelah meletakkan kedua bayi dalam kereta dorong, mereka berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Indra penciuman mereka menangkap bau yang sedap karena mereka sedang berada di depan sebuah cafe. "Wah.. Kau mencium aromanya? Aromanya enak." Kata Aira.


Erigo mengangguk. "Aku jadi lapar."


Aira menunjuk ke satu gerai makanan yang ada di depan mereka. "Aku pernah makan disana, waffle mereka sangat enak." Cetus Aira. "Oh, aku ingin makan semuanya." Ucapnya lagi sembari tertawa.


Lalu Aira melihat sebuah toko pakaian yang memajang beberapa koleksinya di teras luar toko. "Coba tebak yang mana pakaian yang aku suka sebagai gayaku?" Tanya Aira.


"Deretan nomor dua dari kiri." Jawab Erigo cepat.


"Wuah." Seru Aira membelalak tidak percaya. "Betul sekali. Itu gayaku. Bagaimana kau bisa menebaknya dengan benar begitu saja tanpa jeda?" Ucapnya sembari tertawa.


"Tentu saja aku tau." Cetus Erigo sembari tersenyum pada Aira.


"Wah.. Jika berat badanku sudah kembali normal, kita harus datang lagi kesini. Aku ingin berbelanja dan makan waffle." Aira mengedarkan pandangannya dan berseru lagi. "Lihat kedai kopi itu."


"Sekarang kita bersama Aelius dan Aeliana, tidak terlalu baik untuk mampir. Kapan-kapan kita akan datang lagi kesini berdua. Untuk sekarang, bagaimana kalau kita pulang dulu. Aku akan membuatkan makanan manis untukmu di rumah." Erigo berkata dengan percaya diri.


"Bisakah kau membuatnya terasa enak?" Tanya Aira memandang curiga pada suaminya.


"Tentu saja. Buatanku jauh lebih enak." Jawabnya.


Aira hanya tertawa. Erigo selalu berpikir dia bisa membuat segalanya, tapi sebenarnya tidak,  dia hanya berpura-pura ahli.


"Sayang, aku hanya akan mengakui kemampuan menyanyi dan menari saja dari dirimu. Biarkan orang lain yang memasak."


"Percayalah padaku." Cetus Erigo lagi.


______________________________


Setibanya dirumah mereka, Aira menggendong Aeliana yang tertidur dan meletakkannya dengan lembut di tempat tidur di kamar bayi, sementara Dorry menemani Aelius yang ingin bermain. Aira lalu kembali ke lantai bawah dan menemukan Erigo di dapur sedang mencuci tangan.


Aira memperhatikan suaminya memilih bahan makanan yang akan dibuatnya. "Sayang, kau yakin bisa membuat sesuatu yang enak?" Tanyanya lagi.


"Aku yakin. Jadi, kau beristirahatlah." Ucap Erigo.


Erigo disibukkan dengan Adonan dan beberapa sosis. Ia menggulung sosis di dalam adonan tepung, lalu menggorengnya dalam minyak panas. Kemudian ia memotong strawberry dan memasukkannya ke dalam blender, menuang susu dan memasukkan es batu.


Erigo kesulitan dengan tombol-tombol. Ketika akhirnya jarinya menekan tombol yang benar, alat itu mengeluarkan suara yang keras dan dia melompat karena terkejut.


Aira meringis dalam tawa karena melihat suaminya yang ceroboh.


Hidangan kedua Erigo hampir selesai, ketika ia bergerak ingin mematikan blendernya, sikunya tidak sengaja menyenggol kotak susu dan membuatnya jatuh ke lantai. Susu itu tumpah, sementara Erigo membeku.


"Erigo.. " Ucap Aira lirih. Sungguh membuat frustasi melihat kekacauan di dapur saat ini.

__ADS_1


Sementara Erigo dengan linglung mencari pel, Aira berkata, "Sayang, Kurasa ada yang gosong."


Benar saja, roti sosis yang di gorengnya tadi gosong, sekarang Erigo harus mengulang kembali prosesnya dari awal.


Aira memeluk pinggang Erigo dari belakang dan berkata dengan lembut, "Erigo, sementara kau memasak, bolehkah aku naik ke atas dan beristirahat?"


Erigo tersedak. "Kupikir kau ingin menawarkan bantuan." Ucapnya sembari terkekeh.


"Aku tidak sanggup melihat semua proses menyakitkan ini." Ucap Aira sembari terkikik geli. "Sebaiknya aku ke atas."


Erigo memutar tubuhnya dan balas memeluk Aira. "Baiklah. Naiklah ke atas, aku akan memanggilmu jika sudah selesai." Erigo melayangkan kecupan di puncak kepala Aira.


Sementara Aira naik ke atas, Erigo kembali berkonsentrasi pada masakannya. Ia menggoreng kembali roti sosisnya hingga coklat keemasan, mengangkat dan meniriskannya, meletakkannya di piring tahan panas, menaburkan jagung manis pipil dan keju leleh di atasnya, kemudian memasukkannya ke dalam microwave beberapa menit, mengeluarkannya, dan menghiasnya dengan saus pedas.


Ia menyalin smoothie strawberry ke dalam gelas berkaki dan menghiasnya dengan krim kocok dan potongan buah strawberry di atasnya.


Erigo juga membuat pancake vanilla dan minuman dari melon. Ia menghabiskan dua jam tiga puluh menit untuk membuat hidangan manis pencetus sakit gigi di dapur.


Aira turun setelah Erigo memanggilnya dan terpesona melihat hidangan di atas meja. "Wah.. Cantik sekali." Puji Aira. "Aku harus memotretnya."


Aira mengeluarkan ponselnya dan memotret makanan di meja. Ia akan pamer pada teman-temannya.


"Duduk dan cobalah." Undang Erigo. Wajahnya tampak lelah. Sepertinya memasak sudah mengambil sepuluh tahun hidupnya. "Ini peperangan yang baru saja ku menangkan." Cetusnya asal. Membuat Aira tertawa geli.


Smoothie nya enak. Aira mengangguk-angguk menikmatinya. Lalu Aira mencoba roti sosisnya, lalu pancake, dan terakhir minuman melonnya.


"Wah.. Kau bekerja sangat keras. Ini semua enak." Puji Aira.


"Kurasa aku bisa sering membuatkan ini untukmu." Kata Erigo, lalu menambahkan "mungkin sekali setahun." Ucapnya yakin.


Wajah Aira yang baru saja tersenyum cerah, dengan cepat menjadi muram. "Seharusnya aku tidak bereaksi secepat itu." Katanya dan tertawa.


Erigo tertawa menatap Aira. "Apa ada lagi yang kau inginkan? Kau tidak bisa sering keluar rumah belakangan ini." Tanya Erigo sembari mengunyah.


"Aku ingin berkencan bersama ibu, aku ingin menyetir dan bepergian." Aira tersenyum lalu melanjutkan. "Sejak aku hamil dan melahirkan, aku lebih sering tinggal di rumah, jadi aku juga ingin berkumpul bersama teman-teman. Aku ingin berdandan dan berfoto." Aira terkekeh dan mengerutkan hidungnya.


"Mmm.. Ku rasa aku bisa tinggal menjaga bayi-bayi sementara kau bepergian." Ucap Erigo.


"Benarkah?" Tanya Aira curiga. Terkadang Erigo hanya asal bicara.


"Bisa saja, di akhir pekan." Jawab Erigo ringan. "Lalu apa lagi yang kau inginkan?"


"Mmm.. Aku ingin menonton film yang banyak pria tampannya." Ucapnya sembari menggigit sendok.


Erigo mengangguk-angguk maklum. "Pria tampan ya? Apa judulnya?"


"Semacam film erotis." Ucap Aira lambat-lambat.


Erigo mencampakkan sendoknya. "Mau mati?" Sergahnya kemudian.

__ADS_1


Aira tersentak tertawa terbahak-bahak melihat respon suaminya.


__ADS_2