
Kei melihat jam dinding di kamarnya. Sudah menunjukkan lebih dari jam 1 malam. Kei tidak bisa memejamkan matanya. Pandangannya jatuh ke nakas di samping tempat tidurnya. Di laci nakas tersebut Kei meletakkan ponsel lamanya dalam keadaan mati. Ia menimbang-nimbang akan membukanya atau tidak.
Kei membuka laci nakas dan mengambil ponselnya. Ia duduk bersandar sambil menggenggam ponsel dan kembali memikirkan tindakannya selanjutnya. Sudah dua bulan lebih ponsel itu tidak pernah di sentuhnya. Kata-kata Aira tentang pesan-pesan Devano kembali terlintas di pikirannya membuatnya penasaran. Kei memejamkan matanya dan memutuskan untuk menyalakan ponsel di tangannya.
Tidak menunggu lama, puluhan pesan masuk dan masih belum berhenti. Ratusan pesan masuk ke nomornya. Kei dengan ragu membuka pesan itu satu demi satu.
Hatinya mencelos. Semakin dibuka, semakin sedih perasaannya. Semakin di baca, semakin deras air matanya. Devano mengiriminya banyak pesan. Di awal hanya berisi permintaan maaf dan penyesalan. Namun semakin lama, pesan dari Devano hanya berisi permohonan dan permohonan. Devano memohon untuk bertemu dengannya. Memohon untuk memberi kesempatan padanya. Memohon Kei untuk kembali padanya.
Hati Kei hangat, tapi juga dingin. Kei tidak mengerti. Sebagian hatinya merindukan Devano, sebagian lainnya takut disakiti Devano. Kei bimbang.
Dalam kebimbangan itu, ponsel Kei bergetar di genggamannya. Jantungnya berdegup kencang melihat nama yang tertera di layar. Devano.
Sejenak Kei ragu-ragu. Jika ia mengangkatnya, maka pertahanannya akan runtuh, tapi jika ia tidak mengangkatnya, ia sudah pasti akan menyesalinya.
Kei mengatupkan bibirnya. Kenapa memangnya? Pikir Kei. Kenapa jika ia mengangkatnya? Ia teramat sangat merindukan Devano, ia ingin mendengar suaranya. Sekali saja. Sekali saja lalu ia akan kembali ke kehidupan nyata.
Tepat sebelum nada panggil berakhir, Kei mengangkatnya. "Halo." Ucapnya ragu-ragu.
Ada keheningan panjang di ujung sana. Hening yang memekakkan telinga. Sejenak Kei berpikir untuk mematikan sambungan tapi ia menemukan dirinya menunggu.
"Kei.." Suara itu milik Devano. Suara yang di rindukannya. Kei tercekat, kerongkongannya kering. Lalu ia mendengarnya sekali lagi. Lirih, bergetar dan rapuh "Kei.."
Pria itu menangis. Devano menangis. Air mata Kei jatuh. Luruh sudah jiwa raganya.
___________________________________
Dengan usaha yang cukup keras, Devano akhirnya bisa mengendalikan dirinya. Ia memijit tengkuknya yang sakit lalu berkata dengan pelan. "Katakan padaku Kei, kau ada dimana?"
"Aku di rumah." Jawab Kei. Tidak ada informasi lebih.
Devano berjalan mondar-mandir dengan gelisah. "Aku sedang tidak ingin bercanda Kei. Beri tahu aku, kau ada dimana?" Tanya Devano lagi. Ia mencoba agar tidak terlalu mendesak.
"Memangnya kenapa?" Tanya Kei. "Apa kau akan datang bila ku beri tahu?"
Rahang Devano mengeras. "Aku akan datang. Aku pasti akan datang dan menyeretmu pulang." Ucap Devano.
"Kau tidak akan melakukannya." Ucap Kei datar. Jelas sekali gadis itu tidak percaya.
Devano ingin mencabik-cabik sesuatu karna gemas. "Coba saja. Coba saja Kei. Katakan padaku." Ucapnya dengan kesabaran yang di paksakan. Devano menahan diri agar tidak meledak.
"Aku di tempat yang sangat jauh Dev." Kei berucap pelan.
Oh, Devano meledak. "Katakan tepatnya Kei! Kau ada dimana? Aku pasti akan menjemputmu sekalipun harus ke neraka!! Sial Monita!! Tega sekali kau! Tega sekali kau meninggalkanku!!" Bentaknya marah.
"Kenapa kau membentakku?" Kei balik membentaknya.
"Maafkan aku." ucap Devano. Devano berusaha menenangkan dirinya dengan susah payah. Ia tidak boleh mengacau, atau Kei akan menutup telpon sialan ini dan butuh entah berapa lama baginya untuk bisa menghubungi gadis itu lagi. Akhirnya Devano berkata dengan suara pelan. "Aku merindukanmu Kei." Ucapnya sepenuh hati. "Aku hampir gila karna merindukanmu." Ucapnya lirih.
"Tidak Dev. Kau hanya merasa bersalah." Kei menyangkalnya.
Devano mengangguk. "Benar. Itu benar. Aku memang merasa bersalah. Jadi kumohon. Ku mohon Kei. Katakan padaku kemana aku harus pergi jika ingin menemuimu?" Devano memelas.
__ADS_1
"Untuk apa Dev?" Tanya Kei. "Jika kau ingin minta maaf, ku beri tahu, aku sudah memaafkanmu. Jadi lupakan saja dan jalani hidupmu." Ucap Kei lembut.
"Kei.. Kumohon. Sekali saja. Ijinkan aku menemuimu, sekali saja. Aku hanya butuh satu kali kesempatan Kei. Setelah itu aku tak akan memaksamu. Kau boleh pergi sesukamu, tapi kumohon." Devano putus asa.
Keheningan panjang menyeruak. Devano nyaris meninju sesuatu ketika Kei bicara lagi.
"New York." katanya pelan.
Devano menghembuskan nafas lega. "Trimakasih. Kirimkan alamatnya padaku Kei. Aku akan tiba disana secepat yang aku bisa." Ucapnya.
_______________________________
Disinilah Devano. New York. Hawa dingin dan jetlag tidak bisa menghalanginya untuk menemui Kei. Setelah menutup telpon Kei kemarin, ia mengemas pakaiannya seperti orang gila dan mencari penerbangan tercepat yang bisa ia dapatkan.
Saat ini Devano mempersiapkan diri untuk menghadapi peperangan yang sengit. Karna kemungkinan besar Kei akan menolaknya mentah-mentah. Atau bahkan jika Kei meludahinya, ia hanya akan menerimanya. Tapi ia bertekad tidak akan pulang jika tidak bersama Kei.
Cinta sudah membuatku gila. Keluh Devano dalam hati. Butuh beberapa saat bagi Devano untuk memahami kata-katanya sendiri, lalu ia mengerang. "Ya Tuhan aku memang idiot" Ucapnya yang baru menyadari perasaannya untuk Kei.
Aira menyambutnya di depan pintu dan tersenyum. "Kau datang? Lebih cepat dari yang ku perkirakan." Ucapnya memeluk Devano. "Masuklah. Diluar sangat dingin."
Devano melihat berkeliling di ruang tamu. Banyak pigura tergantung di dinding dan beberapa di pajang di atas meja. Wajah Kei terpampang sejak ia masih kecil hingga remaja. Beberapa ketika Kei memenangkan penghargaan. Lalu beberapa lagi foto Kei yang terlihat dewasa. Benar, Kei sudah dewasa. Tolol sekali aku baru menyadarinya, pikir Devano pahit.
Seorang wanita paruh baya turun bersama Aira. Dengan wajah yang ramah menyapa Devano. Dan seorang lagi laki-laki yang tampak berwibawa. Pastilah Ibu dan Ayahnya Kei. Devano menyapa dengan sopan dan memperkenalkan diri.
"Dia Devano, dan ini bibi dan pamanku, orangtua Kei. Panggil saja Aunty zhu dan Uncle Matt. Ucap Aira." Lalu berpaling. "Aunty.. Ingat kemarin kita bicara soal Kei? Kau menanyakan masalahnya?"
"Oh benar sayang, aku ingat." Ucap bibinya.
"Aku menemukan sumbernya dan membawanya kesini." Ucap Aira sambil menunjuk Devano. Ia tertawa melihat wajah Devano berubah merah padam.
"Aku akan menjelaskannya, jadi bisakah kita ke ruang baca dan membiarkan mereka bicara dan menyelesaikan masalah?" Ucap Aira menaikkan alisnya dan tersenyum menuntun bibi dan pamannya ke ruangan lain. "Owh Dev. Kei akan segera turun." Ucapnya dari balik punggung. "Good luck." Serunya sebelum berbelok.
_____________________________
Devano nyaris pingsan melihat Kei turun dengan kepala berwarna kuning terang. Pemberontakan macam apa ini? Pikir Devano. Tapi ia berusaha mengendalikan diri dan fokus pada tujuannya.
Kei terlihat gugup dan setengah tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Devano benar-benar datang. Pria itu berdiri menjulang di ruang tamu ibunya, menatap kepalanya__rambutnya__yang di cat pirang dengan tatapan yang sulit di terjemahkan. Kei berusaha untuk tidak menggoyangkan kepalanya agar tidak menarik perhatian tapi ia gagal dengan menyentuh gugup sejumput rambut dan menyelipkannya ke belakang telinga.
Devano mendesis. "Kau apakan kepalamu Kei?" Tanyanya tanpa bisa di tahan. Sungguh mencolok, sungguh menarik perhatian. Meskipun itu cocok untuknya, pikir Devano.
Kei mundur mengikuti nalurinya. "Aku tidak tau kau akan datang." Ucap Kei gugup.
"Kalaupun kau tau, memangnya apa yang akan kau lakukan pada bulu jagung itu?" Cecar Devano tanpa bisa menahan lidahnya.
Kei menganga defensif. "Bulu jagung katamu? Maafkan aku tuan sempurna, ini warna madu asal kau tau. Dan ku ingatkan padamu, bukan itu tujuanmu datang kesini." Ucap Kei sengit.
Devano menggertakkan giginya. Ia menatap Kei lama. "Itu benar. Itu bukan tujuanku kesini." Ucapnya pelan.
"Lalu apa maumu?" Kei bertanya dengan tidak ramah.
"Apapun yang kau mau aku lakukan, aku akan melakukannya. Aku bisa berlutut jika kau mau." ucap Devano. "Kau masih marah padaku kei?" tanya Devano.
__ADS_1
"Aku membencimu." Ucap Kei datar.
"Aku menerimanya. Aku memang pantas di benci. Kau boleh memaki atau memukulku kalau kau mau."
Kei menggesekkan kakinya di karpet. "Aira bilang Erigo sudah melakukannya untukku." Ucapnya menunduk.
"Benar, aku kalah telak." Ucap Devano melangkah menyeberangi ruangan ke arah Kei.
"Kau bohong. Aira bilang kalian sama-sama babak belur." Ucapnya lagi. Kei menyadari Devano yang mendekat pelan ke arahnya.
"Tapi dia di obati oleh kekasihnya. Sedangkan aku, tidak ada yang merawatku." Ucap Devano menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kei.
"Kau bisa ke rumah sakit." Ucap Kei lagi.
"Aku tidak mau disentuh orang asing." Ucap Devano.
"Kalau begitu tidak ada yang bisa kukatakan lagi." Ucap Kei.
"Lihat aku Kei, kemarin hidungku patah." Ucap Devano berbohong.
Berhasil. Kei mengangkat wajahnya dan mengamati hidung devano. Ketika ia tidak menemukan apapun, Kei menatap mata Devano untuk protes. Ketika mata mereka bertemu, semua kata-kata Kei menghilang bagai debu.
Kei cepat-cepat mengalihkan pandangannya. "Apa yang sedang kau coba lakukan?" Tanya Kei gusar.
"Aku mencoba membujukmu." Devano tidak akan mundur.
"Jangan." Kei berusaha menjauh. "Pulanglah Dev."
"Aku tidak mau." Ucap Devano. "Bahkan jika kau mengusirku, aku akan berkemah tepat di depan pintu sialan itu dan menunggu sampai kau memutuskan untuk ikut bersamaku" Devano menunjuk.
"Aku tidak mau kembali." Ucap Kei keras kepala.
"Oh aku melihatnya. Kau tampak sangat membenciku sampai tak mau menatapku. Kau ingin sekali meludahiku Bukan begitu?" Cecar Devano.
Kei gelisah di tempatnya. "Aku tidak begitu." Ucapnya pelan.
Devano melembut. "Kalau begitu maukah kau menatapku?"
Kei menggeleng. "Aku tidak bisa."
"Tidak bisa atau tidak mau?" Tanya Devano.
Kei hampir menangis. Ia tidak mau Devano melihatnya menangis. "Maafkan aku Dev." Suaranya bergetar. "Aku sudah memutuskan untuk melupakan semuanya."
"Aku tak mau kau melupakanku Kei." Devano melihat kesedihan di wajah Kei. "Apa aku benar-benar sudah kehilangan dirimu?" Ucapnya.
Devano melihat Kei terusik oleh kata-katanya. Ia memutuskan untuk mendesak Kei lebih jauh. "Jika begitu, tatap aku dan katakan padaku bahwa kau tak menginginkanku lagi." Ucap Devano.
Kei merasa sesak. Air matanya mendesak untuk keluar. Ia berusaha menahannya, tapi malah keluar menjadi isakan. Tangisnya pecah. Terisak-isak menahan kepedihan hatinya. Kei berusaha melangkah pergi tapi Devano menariknya. Membawanya ke dalam dekapan pria itu.
Devano memeluknya. "Lihat? Kau masih menginginkanku Kei, sebesar aku menginginkanmu." ucap Devano.
__ADS_1
"Aku terlambat menyadarinya, untuk itu aku akan memohon maaf padamu seumur hidupku." Devano mengusap pelan punggung Kei. Menenangkannya.
Kei menyadari bahwa ia tidak bisa melipakan Devano. Ia ingin bersamanya. Ini adalah tempatnya. Devano adalah dunianya.